Pelatihan Tatalaksana TB Strategi DOTS Bagi Pengelola Program TB di FASYANKES Anggota PW Keuskupan Agung Medan & Keuskupan Sibolga

Pelatihan Tatalaksana TB Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) bagi Pengelola Program TB di Fasyankes (Fasilitas Pelayanan Kesehatan), merupakan kegiatan terakhir Program TB Perdhaki di Keuskupan Agung Medan (KAM) & Keuskupan Sibolga tahun 2014.
Pelatihan ini merupakan lanjutan atau mata rantai dari kegiatan-kegiatan sebelumya yaitu Advokasi bagi Keuskupan, Sosialisasi bagi Toga-Toma, Workshop bagi Kader Level Paroki, dan Penyuluhan bagi Kader Level masyarakat/Stasi.
Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 3 – 7 November 2014, bertempat di Hotel Antares-Jl. Sisingamangaraja No. 84, Medan, dengan jumlah peserta sebanyak 21 orang Pengelola Fasyankes anggota Perdhaki Wilayah Keuskupan Agung Medan dan Keuskupan Sibolga termasuk Pulau Nias.
Fasyankes yang diundang adalah : KAM : (BP St Theresia Parlilitan, BP/RB St Yoseph Dolok Sanggul, BP/RB St Lusia Lintong Nihuta, BP/RB St Maria Palipi, BP/RB St Martina Sidikalang, BP San Damiano-Tigabinanga, RS St Elisabeth 2 org). Keusk. Sibolga : (BP/RB St Mikael, BP St Bernadeth-Pakkat, BP/RB Nirmala-Si Pea Pea, BP/RB Fatima-Tumba Jae, BP/RB St Maria-Posniroha, BP/RB Serasi-Pinangsori, BP/RB St Melania-Sarudik, BP St Lukas-Aek Tolang, BP St Rafael-Pulau Tello Nias, BP Tabita-Nias, BP/RB St Anna-Idanogawo Nias, RS Stella Maris-Teluk Dalam 2 org).
Pelatihan difasilitasi oleh tiga orang Fasilitator Nasional yaitu dr U.T.Hutagalung, dr Sri Indra Susilo dan dr Elias Siahaan.

Pelatihan dibuka oleh Bpk Sukarni,SKM,MKes mewakili Ibu Kadinkes Prov. Sumut. Dalam sambutannya beliau menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Perdhaki yang telah menyelenggarakan Pelatihan ini bagi Fasyankes anggotanya dengan bantuan dana dari GF Komponen TB, dimana sebelumnya Pemerintah hanya bisa mengikutsertakan satu atau dua orang saja dari mereka karena keterbatasan dana. Diharapkan setelah Pelatihan Klinik-klinik swasta mampu melayani masyarakat berdampak TB sesuai dengan standard, sehingga dapat membantu meningkatkan angka penemuan orang terduga TB, meningkatkan angka keberhasilan pengobatan dan menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat TB serta mengurangi dampak TB-MDR (Multi Drug Resistant).
Pada kesempatan yang sama hadir pula Ketua Perdhaki Wilayah Medan (dr Maria Christina,MARS) yang dalam sambutannya mengucapkan terima kasih karena Wilayahnya terpilih untuk menjadi tempat Pelatihan, terima kasih atas kerjasama yang baik dan menyatakan siap untuk membantu kelancaran kegiatan.

Selama 5 hari efektif peserta dibagi dalam tiga kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 7 orang dan difasilitasi seorang Fasilitator. Fasilitator sangat aktif dan semangat dalam menjelaskan materi sesuai Modul, dan menanggapi setiap pertanyaan peserta dengan gaya dan caranya yang unik, sehingga peserta tidak pernah merasa mengantuk ataupun bosan.
Dalam penilaian akhirnya peserta merasa sangat puas karena Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi mereka, mereka lebih percaya diri dalam menghadapi pasien/orang terduga TB.
Begitu pula menurut penilaian para Fasilitator, bahwa Pelatihan ini berjalan dengan baik, semua peserta sehat, tertib, tidak ada yang mengantuk dan Pelatihan ini berhasil, terbukti dengan kenaikan nilai Post Test yang sangat signifikan dibandingkan dengan nilai Pre Test.

Dalam kesan dan pesannya dr U.T. Hutagalung mewakili Fasilitator menyampaikan bahwa sudah merupakan tradisi pada setiap Pelatihan hari ini 7 November 2014 beliau menobatkan dan meresmikan bertambahnya 21 orang anggota Tim Pengendalian TB di Prov. Sumut yang setara dengan para dokter dan tenaga kesehatan yang sudah ada di daerah. Beliau juga akan melaporkan hal tsb. kepada Dinas Kesehatan Prov. Sumut.

Sr Xaveria,Haloho,FCJM mewakili peserta menyampaikan ucapan terima kasih kepada Perdhaki Pusat, PW Medan dan Fasilitator atas terselenggaranya Pelatihan ini karena mendapatkan penyegaran. Fasilitator sangat berhasil dalam memberikan materi, meskipun cukup pusing karena materi yang cukup padat.
Setelah itu peserta diberikan Sertifikat dan para Fasilitator diberikan Piagam Penghargaan.

Pelatihan ditutup oleh Ka. PW Medan, yang berharap peserta bekerja keras dan sungguh-sungguh menerapkan ilmunya dan yakin peserta akan berhasil dilihat dari nilai Post Test yang tinggi.

Foto : Peserta serius mengerjakan soal Post Test.
tatalaksana

Hari TB Sedunia Tahun 2012

HARI TB SEDUNIA TAHUN 2012

Latar Belakang
Sejak tahun 1993 World Health Organization (WHO) – organisasi kesehatan sedunia – menyatakan bahwa tuberkulosis (TB) merupakan kegawatdaruratan global bagi kemanusiaan. Walaupun terdapat strategi kesehatan masyarakat yang paling efektif dalam penanggulangan TB, yaitu dengan strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS), beban penyakit TB masih tinggi. Saat ini Indonesia sudah menempati peringkat yang lebih baik yaitu peringkat kelima untuk penyakit TB di dunia.
Berbagai permasalahan yang ditemui dalam penanggulangan TB, baik dari segi klinis maupun program menyebabkan perlunya penyebaran informasi di kalangan medis dan paramedis secara lebih luas. Peringatan Hari TB Sedunia Tahun 2012 mengusung tema “Bersatu Menuju Indonesia Bebas TB” dengan tujuan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk dapat mengendalikan Tuberkulosis sehingga Indonesia terbebas dari penyakit ini. Dalam rangka menyambut World TB Day (Hari TB Sedunia) pada tanggal 24 Maret 2012 ini, Kementerian Kesehatan RI dengan beberapa organisasi kesehatan bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan mitra lainnya, menyelenggarakan acara sebagai berikut :

1. Lomba Poster dengan tema “Towards a World Free of TB” dan topiknya adalah :
-Kesehatan Masyarakat dan Pemberdayaan Komunitas,
-Penelitian Biomedis dan Ilmu Dasar
-Pengalaman Klinis Lapangan.
Poster-poster yang dibuat oleh para peserta tersebut dipresentasikan pada acara Simposium Nasional tanggal 31 Maret 2012 untuk menentukan pemenangnya.

2. Simposium Nasional: pada hari Sabtu tanggal 31 Maret 2012, pk. 08.00-17.00, bertempat di Gedung Menara 165, Kav. I, Jl. Letjen. TB Simatupang 12430.

Tujuan Umum: tersebarnya informasi dan pengetahuan terkini mengenai TB di kalangan medis, awam, dan lembaga swadaya masyarakat di Indonesia

Tujuan Khusus: tersosialisasinya informasi mengenai program TB Care, DOTS, DOTS Plus, dan International Standard of TB Care (ISTC)

3. Fun Bike dan Jalan Sehat TB, yang diselenggarakan pada hari Minggu, 1 April 2012 pk. 07.30-10.00, dilanjutkan dengan acara hiburan dan Door Prize, sampai pk. 12.00.

Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk membangkitkan kesadaran pada tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat Indonesia, bahwa TB sampai saat ini masih merupakan masalah epidemik di seluruh dunia. Di samping itu juga untuk membangkitkan kesadaran masyarakat bahwa perlu upaya bersama dari berbagai pihak di Indonesia baik itu dari legislatif, eksekutif, yudikatif, sektor swasta, masyarakat, dan media, secara terarah, terukur, terkoordinasi dan berkesinambungan mengatasi masalah TB di Indonesia sehingga target eliminasi total dapat tercapai.

Partisipasi Perdhaki
Perdhaki sebagai salah satu sub-recipeint (SR) SubDirektorat TB KemenKes, ikut berpartisipasi dalam memeriahkan dan menyukseskan acara tersebut melalui Fun Bike dan Jalan Sehat. Untuk Fun Bike, kami mengajak teman-teman Komunitas Sepeda Carolus-Paseban sebanyak 82 orang dan untuk jalan sehat diikuti oleh 34 orang anggota keluarga besar Perdhaki. Seluruh peserta Fun Bike dan jalan Sehat diperkirakan sekitar 8.000 orang yang terdiri dari bapak/ibu, tua/muda, remaja dan anak-anak dengan semangat dan ceria menikmati suasana gembira dan begitu menyenangkan, sehingga untuk peserta jalan sehat dari Monas sampai Bundaran HI dan kembali ke Monas yang berjarak kurang lebih 7 Km, tidak terasa sudah kembali lagi ke Monas. Sedangkan peserta Fun Bike dari Monas sampai ke Ratu Plaza kembali ke Monas., dengan jarak kira-kira 14 Km.
Secara keseluruhan semua acara berlangsung dengan baik. Khususnya untuk Acara Fun Bike dan Jalan Sehat, diawali dengan sambutan dan pelepasan balon oleh Menko Kesra, Bp. Agung Laksono, didampingi Dirjen Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE), Kepala Subdirektorat TB, drg. Dyah Erti Mustikawati, MPH, dan Koordinator non-government organization (NGO), drg. Devi Yuliastanti.
Acara Fun Bike dan Jalan Sehat dimeriahkan/dihibur oleh Ondel-Ondel, Tanjidor, Calung, Band, Lawak Bolot, dan kawan-kawan, serta akrobat sepeda polygon. Acara hiburan diselingi dengan pembagian door prize antara lain berupa 2 buah Motor Honda sebagai hadiah utama, 10 buah sepeda Polygon, TV, dispenser, handphone, magic com, dan barang elektronik lainnya. Namun saying, tak satu pun hadiah jatuh ke tangan keluarga Perdhaki dan Carolus.
Agar acara lebih meriah lagi, selama hiburan berlangsung, pembawa acara menyampaikan pesan-pesan dan mengajukan pertanyaan pertanyaan seputar TB, antara lain apa itu penyakit TB, penyebabnya, gejalanya, pengobatannya, apakah bisa sembuh, bagaimana pencegahan, dll, kepada peserta yang dapat menjawab diberikan hadiah hiburan. Juga menghimbau peserta apabila ada yang menderita sakit batuk-batuk berdahak, 2 minggu atau lebih, segera berobat ke Pelayanan Kesehatan terdekat (RS, Puskesmas, BP), akan dilakukan pemeriksaan dahak dan bila positif menderita TB akan diberikan pengobatan gratis sampai sembuh.
Acara hiburan dan door prize yang menarik ini membuat sebagian besar peserta bertahan menyaksikan sampai acara selesai pk. 12.00, meskipun harus menahan teriknya panas matahari siang.
Penutup
Demikianlah serangkaian acara untuk memeriahkan Hari TB Sedunia Tahun 2012 ini. Semoga pesan-pesan yang disampaikan kepada peserta baik pada waktu Simposium maupun saat hiburan setelah Fun Bike dan jalan sehat, dapat membuat masyarakat lebih paham dan peduli lagi pada penyakit TB, sehingga harapan Indonesia bebas TB dapat tercapai. (JF)

Keluarga besar PERDHAKI – peserta jalan sehat HTBS 2012

Keluarga besar PERDHAKI peserta jalan sehat HTBS 2012 sedang diwawancarai Metro TV

Peserta Fun Bike

KUSTA: INDONESIA PERINGKAT KE – 3

Setelah India dan Brasilia, Indonesia menempati urutan ketiga dalam endemi kusta di dunia. Pada tahun 2010, dilaporkan 17.012 kasus baru dan 1.822 (10,71%) di antaranya ditemukan dalam keadaan cacat tingkat II (cacat yang tampak). Selanjutnya 1.904 kasus (11,2%) adalah anak-anak. Keadaan ini menunjukkan penularan penyakit kusta masih ada di masyarakat dan keterlambatan penemuan kasus masih terjadi. (dari Wikipedia).

Kenali kusta
Penyakit kusta adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae) yang menyerang kulit, syaraf tepi dan jaringan tubuh lainnya. Terdapat dua jenis penyakit kusta: kusta kering atau pausi basiler dan kusta basah, atau multi basiler.

Gejala penyakit kusta
Gejala awal: Kelainan kulit berupa bercak putih seperti panu atau pun bercak kemerahan yang kurang rasa atau pun mati rasa, tidak ditumbuhi bulu, tidak mengeluarkan keringat, tidak gatal dan tidak sakit, sehingga penderita seringkali tidak merasa terganggu.
Gejala lanjut: Ditandai dengan adanya KECACATAN pada:
-mata tidak bisa menutup, bahkan sampai buta;
-mati rasa pada telapak tangan,
-jari-jari tangan kiting, memendek (absorbsi) dan putus-putus (mutilasi),
-lunglai,
-mati rasa pada telapak kaki,
-jari-jari kaki kiting, memendek dan putus-putus,
-semper.
Cacat kusta terjadi karena kuman kusta yang menyerang syaraf pada penderita yang terlambat ditemukan dan terlambat diobati.

Bukan disebabkan oleh
Kusta disebabkan oleh kuman kusta, bukan disebabkan oleh: kutukan, keturunan, dosa, guna-guna, makanan. Anggapan yang salah di masyarakat menyebabkan keterlambatan berobat ke pelayanan kesehatan, sehingga terjadi kecacatan.

Penularan
Penyakit kusta hanya mengenai seseorang yang kondisi /kekebalan tubuhnya lemah dan kontak yang lama dengan penderita kusta tipe basah yang tidak diobati. Penularan dapat terjadi melalui pernafasan dalam waktu yang lama. Oleh karena itu penderita kusta tidak perlu ditakuti atau dikucilkan.

Pencegahan
Imunisasi BCG pada bayi membantu mengurangi kemungkinan terkena kusta. Segera berobat ke Puskesmas bila mengalami kelainan kulit berupa bercak mati rasa. Cacat kusta dapat dicegah dengan minum obat dan periksa ke Puskesmas secara teratur.

Pengobatan penyakit kusta
Obat untuk menyembuhkan penyakit kusta dikemas dalam blister (keping) yang disebut multi drug therapy (MDT). Untuk jenis kusta basah obat harus diminum selama 12 bulan, sedangkan untuk jenis kusta kering obat harus diminum setiap hari selama enam bulan. Obat kusta dapat diperoleh gratis di Puskesmas. Penyakit kusta dapat disembuhkan tanpa cacat bila penderita minum obat secara teratur sesuai aturan dan petunjuk dari petugas kesehatan. **els

Sumber: Liflet ‘Kenali Penyakit Kusta Sejak Awal’ berlogo Bakti Husada.

Pedoman Praktis Pengendalian Penyakit Menular

PEDOMAN PRAKTIS DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT MENULAR
Oleh : DR. Lukman Hakim
(Pensiunan Pegawai Negeri Sipil Kementerian Kesehatan RI, yang saat ini bertugas sebagai Koordinator Project Management Unit Global Fund Komponen Malaria Kementerian Kesehatan RI)

1. Penyakit Bersumber Binatang :
a. Malaria :
1) Penderita : kalau seseorang dengan gejala demam yang diperkirakan 2 minggu yang lalu pergi sampai malam atau menginap di daerah endemis malaria (Atau diberikan pertanyaan, yang bersangkutan kira-kira 2 minggu ini pergi atau menginap di mana ? Kalau diperkirakan dari endemis malaria) ? dibawa ke sarana pelayanan kesehatan atau petugas kesehatan ? selanjutnya oleh petugas kesehatan diambil dan diperiksa sediaan darahnya (dengan mikroskop atau Rapid Diagnostic Test) kalau ada Plasmodium sp di dalam darahnya ? kalau dinyatakan positif diberi Obati Anti Malaria (OAM).
2) Pengendalian vektor :
a) Untuk daerah endemis malaria dengan geografis pantai : kalau hujan mulai turun ? lagon atau muara sungai yang ada diukur salinitasnya dengan refraktometer (untuk petugas) ? kalau tidak ada refraktometer, petugas atau masyarakat dapat dengan mengamati munculnya lumut sutera atau lumut perut ayam (kemungkinan dapat ditemukan Jentik Anopheles sundaicus atau Anopheles subpictus) ? tindakan selanjutnya adalah membuka pasir yang memisahkan lagon atau muara sungai dengan laut, agar air laut masuk kedalam lagon atau muara sungai ? salinitas meningkat dengan tanda lumut sutera atau lumut perut ayam mati dengan tanda menghitam ? akibatnya jentik Anopheles sundaicus atau Anopheles subpictus akan mati.
b) Untuk daerah endemis malaria dengan geografis perbukitan : kalau hujan sudah mulai berkurang ? sumber air untuk keperluan sehari-hari yang berada di lembah-lembah (kemungkinan menjadi Tempat Perkembang Biakan Anopheles maculatus) ? diupayakan untuk mengambil dan memanfaatkan air untuk MCK (Mandi Cuci Kakus) pada siang hari (setelah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam).
b. Demam Berdarah Dengue :
1) Penderita : untuk di daerah endemis Demam Berdarah Dengue khususnya pada saat selesai liburan sekolah kalau ada seseorang dengan gejala demam mendadak ? dilakukan tourniquete test ? kalau keluar bintik-bintik merah di lengan ? kemungkinan suspect Demam Berdarah Dengue ? dibawa ke sarana pelayanan kesehatan atau petugas kesehatan.
2) Pengendalian vektor :
a) Kota dengan sumber air minum perusahaan air minum daerah (PDAM): pada awal musim kemarau, hujan sudah mulai kurang ? debit PDAM mulai turun dan masyarakat mulai menampung air ? penyuluhan dan kegiatan pemantauan jentik mulai ditingkatkan ? sosialisasi pemberantasan sarang nyamuk (PSN) atau distribusi larvasida (abate atau altosid) oleh petugas kesehatan perlu ditingkatkan.
b) Penduduk yang memenuhi kebutuhan airnya dari sumber lain : pada awal musim hujan ? masyarakat mulai menampung air hujan ? penyuluhan dan kegiatan pemantauan jentik mulai ditingkatkan ? sosialisasi PSN atau distribusi larvasida (abate atau altosid) oleh petugas kesehatan perlu ditingkatkan.
c. Rabies :
1) Penderita : setiap seseorang digigit anjing (karena anjingnya diprovokasi maupun tidak diprovokasi) ? dilakukan cuci luka dengan sabun/detergen dengan air mengalir (untuk menghilangkan virus yang masuk lewat luka yang akan larut dengan sabun/detergen) ? selanjutnya dibawa ke sarana pelayanan kesehatan/petugas kesehatan untuk diberikan Vaksin Anti Rabies (VAR) atau dengan Serum Anti rabies (SAR) sesuai indikasi yang mendukungnya.
2) Pengendalian vektor : semua anjing yang ada pemiliknya untuk divaksinasi anti rabies.
2. Penyakit Menular Langsung :
a. TB Paru :
Penderita : setiap seseorang menderita batuk dan sudah lebih 2 minggu ? datang ke sarana pelayanan kesehatan/petugas kesehatan ? agar memeriksakan sputum nya sebanyak 3 kali (sputum saat di depan petugas, sputum pada pagi hari saat bangun tidur, sputum sekali lagi saat di depan petugas) ? yang positif TB Paru ? diobati sesuai indikasinya dengan Obat Anti Tuberkulosis (OAT).
b. Diare :
Penderita : setiap seseorang buang air besar dengan frekuensi lebih dari biasanya dengan konsistensi lebih encer dari biasanya ? agar minum Oralit atau Larutan Garam Gula untuk mencegah dehidrasi ? kalau tidak ada perbaikan atau menjadi semakin parah ? agar datang ke sarana pelayanan kesehatan atau petugas kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
c. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (Pnemonia) :
Penderita : setiap balita batuk pilek dengan nafas cepat ? seorang ibu dapat menghitung nafasnya, untuk anak balita (1 – <5 tahun) nafas cepat apabila > 40 kali/menit, untuk bayi umur 2 – <12 bulan nafas cepat apabila > 50 kali/menit, dan untuk bayi < 2 bulan nafas cepat apabila > 60 kali/menit , atau nafas sesak apabila ada tarikan dinding iga ? kalau ada indikasi tersebut maka seorang ibu harus segera membawa ke sarana pelayanan kesehatan atau petugas kesehatan untuk penanganan lebih lanjut.
d. Kusta :
Penderita : untuk daerah endemis kusta ? setiap seseorang dengan kelainan kulit ? di-test anaesthesi/hypo anaesthesi ? kalau positif anaesthesi/hypo anaesthesi ? ada indikasi suspect kusta ? segera datang ke sarana pelayanan kesehatan atau petugas kesehatan untuk penanganan lebih lanjut.

Jakarta, September 2011.

MONEV Program (Monitoring & Evaluation) TB PERDHAKI

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara ketiga terbesar dalam kontribusi penderita tuberkulosis (TB) dunia sesudah India dan Cina. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan kerja keras dari semua pengelola program penanggulangan TB di semua sektor. Penanggung jawab utama terlaksananya Program TB adalah Pemerintah. Namun disadari bahwa tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, termasuk lembaga swadaya masyarakat /LSM maka pencapaian target sulit tercapai.
Pada pertengahan tahun 2003 Indonesia mendapat bantuan dana dari Global Fund (Lembaga Donor Dunia). Sejak saat itu program penanggulangan TB dapat berkembang. Perdhaki kala itu pun mendapat sebagian dana bantuan untuk penanggulangan TB. Kegiatan dikembangkan untuk wilayah Kabupaten Sumba Barat yaitu di RS Karitas dan satelit–satelitnya, sebanyak 6 unit pelayanan kesehatan (UPK).
Pada tahun 2006, Perdhaki meluaskan cakupan ke Kabupaten (Kab.) Flores Timur, Kabupaten Lembata dan Kabupaten Belu dan TTU.
Tahun 2009 berkembang ke Perdhaki Wilayah (Wil.) Ruteng yang meliputi Kab. Manggarai Barat dan Kab. Manggarai; Perdhaki Wil. Ende yang meliputi Kab. Ngada, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Ende dan Kabipaten Sikka. Juga ke Perdhaki Wil. Amboina yang meliputi Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tenggara, Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) dan Kab. Kepulauan (Kep.) Aru.
Pada Bulan Agustus dan September 2009 yang lalu Pengelola UPK telah mengikuti Pelatihan Manajemen Penanggulangan TB strategi directly observed treatment shortcourse (DOTS). Pelatihan di laksanakan di 3 lokasi. Bulan Oktober, November dan Januari ’10, sebanyak 28 petugas Laboratorium telah mengikuti Pelatihan pemeriksaaan dahak mikroskopis. Dilaksanakan di dua lokasi. Kedua macam pelatihan tersebut difasilitasi oleh Fasilitator dari Provinsi dan WHO.
Untuk memantau kontribusi UPK kepada Program Penanggulangan TB maka perlu melaksanakan monitoring dan evaluasi (MONEV). MONEV merupakan salah satu fungsi manajeman untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program. Monitoring /pemantauan dilaksanakan secara berkala dan terus menerus agar segera dapat mendeteksi apabila ditemukan masalah dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan, supaya dapat secepatnya dilakukan perbaikan. Dengan monev dapat dinilai sejauh mana tujuan dan target yang telah ditetapkan sebelumnya dicapai.
Dalam mengukur keberhasilan tersebut diperlukan indikator. Dalam penanggulangan TB indikatornya antara lain adalah case detection rate (CDR), pelaksanaan pencatatan dan pelaporan dengan pengisian formulir yang sudah standar (TB 01 s/d TB 12). Pelaksana program yang akan dipantau adalah UPK peserta program TB Perdhaki Wilayah Atambua, Ruteng, Ende, Amboina dan Larantuka.

TUJUAN
1 Umum
Memonitor pelaksanaan validasi data serta pemutakhiran informasi, ketenagaan maupun logistik.

2 Khusus
• Memonitor dan mengevaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan UPK selama ini (pasca pelatihan), guna mendukung pelaksanaan program TB sesuai dengan tujuan pelatihan.
• Terjadinya jejaring antara UPK /LSM dengan Puskesmas / Dinas Kesehatan (Dinkes).
• Terseragamnya sistem pelaporan dan pencatatan program dengan mempergunakan formulir yang standar sehingga memudahkan membuat rekap data di Kabupaten masing-masing.

OUT PUT
1 Rekap laporan program TB ( TB01 – TB06 ) lengkap dan valid.
2 Data ketenagaan, logistik untuk TB dan kebutuhan UPK mengenai hak dan kewajiban dipenuhi.

PESERTA MONEV: pengelola UPK dan petugas laboratorium (Lab) UPK
1 Perdhaki Wilayah (PW) Atambua
2 Perdhaki Wilayah Ruteng
3 Perdhaki Wilayah Ende
4 Perdhaki Wilayah Amboina
5 Perdhaki Wilayah Larantuka.

METODE
1 Setiap peserta hendaknya membawa form TB yang telah diisi
2 Setiap peserta mempresentasikan kegiatan yang dilaksanakan di UPK masing-masing dan menyampaikan kendala yang dihadapi.
3 Menyampaikan keadaan logistik untuk TB.
4 Penjelasan oleh Wakil Supervisor (Wasor) /Dinkes Kabupaten masing-masing mengenai pencatatan dan pelaporan yang standar.

scan0001

Tempat & Waktu Pelaksanaan

KESIMPULAN
Dari hasil monitoring di kelima Perdhaki Wilayah tersebut dapat disimpulkan beberapa hal. Misalnya mengenai UPK:
1.sebagian petugas UPK belum sepenuhnya memahami perannya sebagai pengelola UPK dalam penanggulangan TB strategi DOTS (misalnya Kab. TTU);
2.UPK meskipun sudah menjaring suspek TB tetapi sebagian belum mencatat dengan tertib (misalnya Kab.TTU, Belu);
3.target menemukan BTA (+) tidak sepenuhnya tercapai, ada yang hanya 50% (misalnya Kab. Belu). Meskipun ada pula UPK yang telah bekerja sangat baik (misalnya RS Hative, Ambon, RS Hati Kudus, Langgur) sampai-sampai mengadakan obat anti TB (OAT) sendiri karena dari Dinas kadang-kadang terlambat. Bahkan mempunyai paguyuban mantan penderita TB (RS Hative, Ambon);
4. sumber daya manusia dan fasilitas sudah memadai namun petugas belum proaktif (misalnya BP St. Rafael, Watubala, Sikka);
5.Petugas yang sudah dilatih dipindahkan sedangkan petugas pengganti belum pernah ikut pelatihan (misalnya Kab. Flores Timur).

Kesimpulan mengenai Dinas Kesehatan setempat antara lain:
1.Dinas memberi UPK penomoran sebagai peserta resmi penanggulangan TB strategi DOTS pada saat monitoring dan menetapkan UPK yang sudah mempunyai fasilitas (ruang lab dan mikroskop) dan ketenagaan (petugas lab dan petugas yang sudah dilatih untuk program program TB strategi DOTS) untuk menjadi PPM (Puskesmas pelaksana mandiri). Sedangkan yang belum menjadi PS (Puskesmas satelit), yang menjaring suspek, bahan difiksasi kemudian dikirimkan ke PPM atau Puskesmas rujukan mikroskopis);
2.Dinas sudah membuka kesempatan untuk bekerja sama dengan UPK tetapi UPK belum memanfaatkan tawaran ini secara optimal (misalnya RS Fatima Saumlaki). Di lain pihak sebagian UPK sudah menjalin kerja sama sangat baik dengan Dinas (misalnya RS Hative, Ambon dan RS Hati Kudus, Langgur);
3.Dinas ketiadaan biaya operasional untuk mengunjungi UPK swasta sehingga tidak dapat memberikan bimbingan teknis/ koordinasi (misalnya Kab. Manggarai, Flores Timur, Ende);
4. Wasor belum ikut pelatihan manajemen penanggulangan Tb strategi DOTS sehingga tidak memahami permasalahan pada pihak swasta dalam penanggulangan TB (misalnya Kab. Lembata).

World TB Day, 24 Maret 2010

Peringatan Hari TB (tuberkulosis) Sedunia yang jatuh pada tanggal 24 Maret 2010 di Jakarta diisii dengan kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan RI dengan menyelenggarakan Seminar Sehari dan Stand Pameran. Adapun tema dari Seminar sehari tersebut adalah “ Tingkatkan Inovasi, Percepat Aksi Melawan Tuberkulosis! “
Stand pameran tersebut diiisi oleh beberapa institusi pemerintah dan swasta serta LSM. Peserta pameran tersebut antara lain : Promkes Depkes RI; KNCV; PT. Jamsostek; PP Aisyiyah; FKM UI; PPTI Pusat; Family Health International; PDPI/IDI; Yanmedik Spesialistik Depkes RI (Subdit RS Khusus); Perdhaki, World Vision Indonesia; Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta; RSPAD, PT Kimia Farma, PT Phapros, PT Indo Farma.

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis) yang ditemukan oleh Robert Koch pada tahun 1882. Sebagian besar kuman TB menyerang paru-paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lainnya. TB bukanlah penyakit keturunan atau penyakit akibat kutukan. Gejala penyakit TB antara lain batuk berdahak ? 2-3 minggu, batuk berdarah, sesak nafas dan nyeri pada dada, nafsu makan berkurang, berat badan menurun atau menjadi kurus, demam tidak terlalu tinggi, keringat di malam hari meskipun tidak beraktifitas.

Masalah TB di Indonesia merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Dalam waktu 1 tahun, 1 orang penderita TB dapat menularkan penyakitnya pada 10 sampai 15 orang di sekitarnya. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita TB ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina. Hal yang mempengaruhi meningkatnya jumlah penderita TB di Indonesia antara lain :
• kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat
• kegagalan dari program TB akibat dari :
– tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan
– tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat, penemuan kasus/diagnosis yang tidak standar, obat tidak terjamin penyediaannya, tidak ada pemantauan, pencatatan dan pelaporan yang standar, dan lain lain)
– infrastruktur kesehatan yang tidak memadai
• dampak pandemi HIV
• berkembangnya MDR (Multi Drug Resistance)

Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD (International Union Against TB and Lung Diseases) telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif. Penerapan strategi DOTS secara baik, disamping secara cepat menekan penularan, juga mencegah berkembangnya MDR. Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien serta prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB sehingga terjadi penurunan insidens TB di masyarakat. Ada 5 komponen kunci strategi DOTS :
1. komitmen politis dengan pendanaan yang meningkat dan berkesinambungan;
2. penemuan kasus melalui pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya;
3. tatalaksana pengobatan standar melalui supervisi dan pengawasan;
4. sistem manajemen logistik obat yang bermutu dan efektif;
5. sistem monitoring dan evaluasi termasuk penilaian dampak dan kinerja program.

Target program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan penderita baru TB BTA (batang tahan asam) positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85% dari semua penderita tersebut serta mempertahankannya. Dengan demikian diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990, dan mencapai target millenium development goals (MDGs) pada tahun 2015. Dalam pencapaian target yang telah ditetapkan tersebut diperlukan juga 7 strategi utama pengendalian TB yang meliputi :
Ekspansi “Quality DOTS”
1. Perluasan dan peningkatan pelayanan DOTS yang berkualitas
2. Menghadapi tantangan baru, TB-HIV, MDR-TB
3. Melibatkan seluruh penyelia pelayanan
4. Melibatkan penderita & masyarakat
Didukung dengan Penguatan Sistem Kesehatan
5. Penguatan kebijakan & kepemilikan daerah
6. Kontribusi terhadap sistem pelayanan kesehatan
7. Penelitian operasional
Upaya-upaya terobosan yang diambil dalam penanggulangan TB yakni :
o Penguatan Gerdunas TB untuk memperkuat extended response
o Pengembangan Rencana Strategis Pengendalian TB berbasis bukti dan fakta
o Pengembangan fasilitas layanan TB di RS, DPS (Dokter Praktek Swasta) dan UPK (unit pelayanan kesehatan) lainnya
o Penguatan kapasitas manajemen dan teknis program pada semua tingkatan
o Penguatan dan pengembangan sistem informasi / surveilans
o Pengembangan kolaborasi TB – HIV, MDR – TB
o Penguatan sistem distribusi logistik
o Peningkatan advokasi dan kemitraan
o Peningkatan advokasi komunikasi mobilisasi sosial
o Perencanaan dan dukungan dana yang memadai (APBN:anggaran pendapatan dan belanja negara, APBD: anggaran pendapatan dan belanja daerah dan donor)

Pembicara dari Aisyiyah Dr. Atikah M.Zaki, MARS mengatakan bahwa pada tahun 2000, strategi DOTS dilaksanakan secara nasional di seluruh UPK terutama Puskesmas yang diintegrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar sehingga dalam kebijakan dunia melalui MDGs, pada tahun 2015 diharapkan 50% penderita TBC dapat disembuhkan. Maka untuk tujuan tersebut, keterlibatan semua sektor baik pemerintah maupun swasta, civil society, juga keterlibatan stake holders harus ditingkatkan termasuk di dalamnya LSM, FBO (faith based organization), organisasi profesi (termasuk Aisyiyah, PPTI (Perkumpulan Penanggulangan TB Indonesia, dan lain lain)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sr. Margaretha FSGM bersama MenKes, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih,MPH, DR.PH.

Permasalahan TB merupakan suatu beban dan tantangan yang kompleks sehingga diperlukan suatu terobosan dan penguatan dari manajemen program (komitmen, respons dan keterpaduan dari perencanaan-perencanaan, pelaksanaan, penilaian) dan layanan melalui upaya penggerakan partisipasi masyarakat dengan didukung oleh petugas yang sudah dipersiapkan dan diberi pelatihan-pelatihan khusus serta terjalinnya kerjasama dari semua sektor yang terlibat. Tulus ikhlas dan bertujuan hanya untuk kebaikan masyarakat banyak merupakan motivasi kerja yang perlu dikembangkan. (In)

Mari Bertekad Bersama, Bertarget Bersama Untuk Penanggulangan TB karena ini adalah Tugas dan Tanggung Jawab Bersama.

TB Sebagai Penyakit Gawat Darurat Global, Dapat Disembuhkan!

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. TB ditularkan melalui udara melalui percikan dahak penderita. Bila tidak diobati, penderita TB akan meninggal dalam waktu 2 tahun. Namun penderita TB dapat disembuhkan dengan minum obat secara lengkap dan teratur.
India, Cina dan Indonesia berkontribusi lebih dari 50% dari seluruh kasus TB di seluruh dunia, di mana Indonesia menempati peringkat ketiga setelah India dan Cina. Diperkirakan 95% penderita TB berada di negara-negara yang sedang berkembang. Dengan munculnya epidemi HIV/AIDS di dunia jumlah penderita TB akan meningkat.
Sekalipun dunia telah memiliki obat ampuh yang dapat menyembuhkan TB setengah abad yang lalu, namun hingga kini masih ada banyak penderita TB baru di dunia setiap tahun dengan satu kematian setiap 10 detik. Maka pada tahun 1992, WHO menyatakan TB sebagai penyakit gawat darurat global. Menghadapi situasi ini, WHO menerapkan strategis DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse atau pengobatan jangka pendek dengan pengawasan lansung) yang dapat menyembuhkan 95% dari semua penderita. Keberhasilan luar biasa tersebut dicapai di semua negara yang menggunakan strategi DOTS, bahkan juga di negara dengan keadaan sosial ekonomi paling rendah.

STRATEGI DOTS
Strategi DOTS terdiri dari unsur-unsur :
1. Komitmen politis (komitmen pimpinan)
2. Penegakan diagnosis dengan pemeriksaan mikroskop dahak penderita
3. Obat tersedia secara berkesinambungan
4. Pengobatan dan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO)
5. Pencatatan dan pelaporan untuk mempermudah pemantauan dan pembinaan

RS St. Carolus merupakan rumah sakit umum yang berdiri pada tahun 1919 dan melayani pasien tanpa membedakan ras, suku, agama ataupun kedudukan sosial. Sejak tahun tujuhpuluhan RS St. Carolus membuka diri bagi mereka yang tinggal jauh dari rumah sakit. Pelayanan kesehatan RS St. Carolus tidak hanya dibatasi oleh dinding rumah sakit (sistem pelayanan intramural) melainkan beralih ke pelayanan ekstramural (atau sebagai outreach), yang manghadirkan pelayanan ke arah masyarakat jauh dan terpencil. Pelayanan ekstramural diselenggarakan oleh lima Balai Kesehatan Masyarakat yang tersebar di berbagai wilayah di kota besar Jakarta yaitu di Paseban, Cijantung, Klender, Tanjung Priok dan Cengkareng. Sejak itu pula namanya diubah menjadi Pelayanan Kesehatan St. Carolus (PK St. Carolus).
Sebagai sumbangsih dan bentuk kepedulian PK St. Carolus terhadap masyarakat yang miskin dan menderita, khususnya bagi penderita TB, sejak tanggal 1 September 1983 dilaksanakan Program TB St. Carolus yang diintegrasikan di ke-5 Balai Kesehatan Masyarakat (Balkesmas) di Jakarta. Tujuannya agar penderita TB yang mayoritas datang dari golongan ekonomi lemah dapat dilayani secara optimal (dengan cara “jemput bola”). Dalam menanggapi ajakan Menteri Kesehatan RI untuk memerangi TB dalam Gerdunas TB, tanggal 24 Maret 2001 Direksi membentuk Tim DOTS Tuberkulosis PK St. Carolus untuk melaksanakan program TB dengan strategi DOTS di rumah sakit. Dengan demikian program TB diperluas ke pasien rumah sakit (rawat jalan dan rawat inap).
Dari Balkesmas para pelaksana program mengunjungi penderita yang tak datang untuk kontrol/ berobat. Guna mencegah penderita lalai berobat, yang merupakan risiko terjadinya MDR-TB (Multi Drug Resistant TB), para pelaksana program sigap mencari (dan harus menemukan!) penderita. Tidak jarang pengunjung rumah berjuang keras kalau tempat tinggal penderita jauh atau alamat rumah tak jelas bahkan salah! Tidak ada penderita lalai berobat yang tak dapat ditemukan pengunjung rumah!

PROGRAM TB ST. CAROLUS
Program TB St. Carolus terdiri dari suatu konsep yang meliputi :
1. Penemuan penderita (case finding),
2. Pengobatan
3. Pendampingan penderita sampai sembuh
4. Pelaporan dan evaluasi program
Karena Program TB St. Carolus mendapat bantuan obat dan bahan pemeriksaan laboratorium dari Departemen Kesehatan RI, maka untuk pemeriksaan langsung dahak dan obat program pasien tidak membayar.

PANCA GEMALA PROGRAM TB ST. CAROLUS
Keberhasilan Program TB St. Carolus diperoleh melalui penerapan dan penghayatan dari butir-butir yang disebut sebagai Panca Gemala Program TB St. Carolus, yang terdiri dari: Pelestarian program, pelibatan keluarga, pendekatan holistik, penanganan komprehensif dan manusiawi.

ANGKA KESEMBUHAN
Angka kesembuhan penderita pada awal-awal pelaksanaan program sampai tahun 1990 berkisar 70 – 80%. Pada tahun-tahun berikutnya keberhasilan program meningkat dengan angka kesembuhan lebih dari 80%. Keberhasilan ini dicapai hanya dengan penekanan pada pengobatan yang lengkap dan teratur.

PENGALAMAN PASIEN
Mitos mengatakan bahwa penderita TB perlu dirawat di sanatorium, diisolasi, tidak boleh bekerja dan perlu banyak makan makanan bergizi. Beberapa pasien menceritakan pengalaman mereka bahwa mereka dapat sembuh tanpa perlu istirahat, ataupun tambahan makanan bergizi. AJS, 32 th, yang sering keringatan, batuk-batuk berdarah, sesak, lemah dan capek, didiagnosis sebagai pleural effusion (cairan di rongga pleura) karena TB. Hanya dengan berobat teratur selama 6 bulan ia sembuh dan dapat bekerja lagi. Sedangkan Ny. Yu, 37 th, sedianya akan dioperasi karena menderita TB tulang belakang. Tetapi setelah berobat di PK St. Carolus dan minum obat teratur, ia sembuh total tanpa operasi dan dapat berjalan lagi dengan normal. Pengalaman pasien-pasien ini dapat didengar langsung dari ybs. pada acara Talkshow di PK St. Carolus Sabtu, 24 April 2010 dengan tema “Menjaring TB semakin dini dan rinci, TB sembuh semakin pasti.”

Jakarta, 12 April 2010
Press Release
Panitia Peringatan Hari TB Sedunia MMX
PK St. Carolus