Sejarah

SEJARAH PEMBENTUKAN PERDHAKI

P e n g a n t a r :

Berikut ini adalah kutipan laporan kegiatan dari Sr. Tilde van Mook, MMS. Dari laporan ini secara kronologis kita yang tidak terlibat dalam pembentukan PERDHAKI dapat mengikutinya dengan baik, Sr. Tilde pada tahun1971 adalah tenaga purnawaktu Biro Medis yang kemudian ikut aktif sebagai Bendahara/Sekretaris Panitia Persiapan Konggres
Medis dan setelah PERDHAKI lahir masih sempat membantu sebagai Sekretaris Badan Pengurus I (Pertama).

1. Dalam bulan Agustus 1969, pada waktu konggres gabungan religius dilangsungkan di Bandung, ditarik perhatian kepada satu hal yaitu : bahwa diantara mereka yang bekerja disalah satu usaha medis, baik kuratif maupun preventif, tidak terdapat komunikasi/koordinasi/kerjasama apapun juga. Oleh karena itu mereka usulkan mengadakan suatu konggres medis gabungan religius, sebagai kesempatan untuk bertemu satu sama lain dan membahas hal-hal penting berhubung dengan pekerjaan dibidang medis itu.

2. Biro karya suatu seksi dari badan yang diberi mandat untuk melaksanakan keputusan-keputusan Konggar itu diminta bantuan untuk mengadakan konggres itu. Biro tersebut oleh karena tidak merasa kompeten dibidang medis itu, cari beberapa biarawati untuk membantu membentuk suatu Panitia Persiapan Konggres Medis, kelompok Suster-suster tadi disebut “Panitia Sementara”. Pada tanggal 23 Agustus 1970 “Panitia Persiapan Konggres Medis Gabungan Religius” dibentuk yang terdiri dari atas biarawati-biarawati lima konggregasi yang bekerja dilapangan medis, ditambahkan dengan satu penasehat dari “Biro Karya” tersebut.

3. Pada tanggal 16 Oktober 1970 diadakan suatu rapat khusus oleh Panitia Persiapan Konggres tersebut dimana diundang Father J.Tong, SJ, Presiden dari “The Catholic Hospital Association of India” untuk memberi suatu ringkasan mengenai pekerjaan/susunan Association itu di India. Pada rapat itu diambil resolusi sebagai berikut:

a. Akan diminta pada MAWI supaya sebagian dari KWI dapat disediakan untuk bagian assosiasi medis/paramedis itu.
b. Father Tong mengusulkan supaya seorang dibebaskan dari tugasnya supaya dapat kerja untuk biro medis dan persiapan konggres sebagai full-timer (Sr.Tilde van Mook).

4. Pada tanggal 8 Desember 1970 panitia persiapan konggres terima surat keputusan dari MAWI yang berbunyi :
Atas nama Konferensi para Uskup dengan ini diberitahukan bahwa permohonan Suster Panitia Konggres Medis mendapat tanggapan positif dari Sidang MAWI. Untuk jelasnya kami kemukakan saja isi keputusan sebagai berikut :

a. Supaya usaha karyawan-karyawan medis dengan konggres dan pelaksanaan selanjutnya berdiri autonom tetapi Konferensi related (dalam hubungan tetap dengan konferensi para Uskup).
b. Tugas-tugas dibidang medis yang sampai sekarang dikerjakan oleh KWI bagian Umum untuk selanjutnya diambil alih oleh Sekretariat Panitia Konggres Medis dan karenanya dapat diberikan tempat (ruangan) di KWI dengan catatan : tenaga dan biaya diusahakan sendiri.

Demikianlah Keputusan dari Sidang MAWI dan semoga Suster dapat memanfaatkan keputusan tersebut.

Hormat kami,

t.t.d.

P.S. Hardjosoemarto, MSC.
Sek. Jen. Konf.

5. Dalam bulan Pebruari 1971 panitia persiapan konggres medis mengirimkan suatu angket kesegala rumah-rumah sakit/rumah-rumah bersalin/poliklinik-poliklinik untuk mendapat inventarisasi pekerjaan medis dikalangan Katolik di seluruh Indonesia dan bahan-bahan lain yang boleh jadi pokok pembahasan dikonggres. Dalam rapat panitia 25 April 1971 ditetapkan bahwa juga kaum awam diminta ikut serta dalam konggres medis tersebut.
Mengenai suatu konggres ekumenis, dari permulaan dianggap bahwa hal ini masih sedikit prematur, berhubung kami belum pernah berkumpul dalam kelompok Katolik sendiri, tetapi dalam rapat terakhir pada tanggal 24 Oktober 1971 kemungkinannya dipertimbangkan lagi secara positif. Hal ini masih terbuka sekarang.

6. Pada tanggal 15 Juni 1971 Sek.Jen. Pater P.S. Hardjosoemarto mengirim circulair mengenai pendirian “Biro Medis” di KWI ke segala rumah-rumah sakit/rumah-rumah bersalin/poliklinik-poliklinik se-Indonesia.

7. Pada waktu 1 Juli 1971 Sr. Tilde van Mook mulai bekerja sebagai full timer untuk Biro Medis dan persiapan Konggres.
KWI belum dapat memberikan suatu ruangan berhubung perubahan gedung KWI pada waktu itu belum selesai. Setelah mencari informasi mengenai keuangan yang tersedia untuk mulai pekerjaan ini, nyata bahwa oleh “Biro Karya” dipinjamkan sejumlah uang Rp. 50.000,- yang akan harus dikembalikan dalam waktu satu tahun. Pada waktu itu diadakan pembicaraan dengan Sek.Jen. Konferensi Keuskupan Pater Hardjo, mengenai keuangan itu diajukan supaya Biro Medis mengirim satu circulair untuk minta sokongan pada segala rumah-rumah sakit/rumah-rumah bersalin demi Biro Medis itu dapat mulai berfungsi. Mengenai pekerjaan diusulkan untuk mulai dengan inventarisasi pekerjaan medis di kalangan Katolik diseluruh Indonesia sebab tidak dapat data-data tepat.
Untuk inventarisasi tersebut Sr. Tilde sudah meninjau Kalimantan dan Sumatera dan lain itu secara tertulis, sudah diminta informasi kepada Sekretaris-sekretaris Keuskupan-keuskupan se-Indonesia dan pada Kepala-kepala Biarawati-biarawati yang bekerja dilapangan medis.

8. Dalam rapat tanggal 24 Oktober 1971 juga diputuskan supaya untuk mempermudah dan mempercepatkan pekerjaan persiapan konggres, dibentuklah suatu panitia baru yang anggotanya bertempat tinggal di Jakarta. Juga ditetapkan dalam rapat tersebut supaya diminta orang awam, bukan religius yang kompeten ikut serta dalam panitia baru ini bersama dengan beberapa Suster.
Panitia baru yang dibentuk sesudah rapat tadi terdiri dari :

K e t u a : dr. A. Mariono
Wakil Ketua : Sr. Gildarda Joosten
Sekretaris/Bendahara : Sr. Tilde van Mook
A n g g o t a : dr. Sriati da Costa
Sr.dr. Wonga, FMM
K.B.P. Sahelangi SH.
dr. Eddy Katimansah
Sr. Wilfrida Verkooyen
Sr. Jacobi Soelaksmi
Sr.dr. Regis Oei

9. Pada akhir Nopember, panitia baru mulai berkumpul dan memutuskan bahwa konggres, dengan maksud tujuan dari panitia lama akan diadakan dalam bulan Juli 1972 di Wisma Samadi Klender.
Segala urusan berhubung dengan konggres ini dibicarakan dan pekerjaan dibagikan diantara anggota-anggota panitia tersebut. Nama “Konggres” dirubah menjadi “Rapat Kerja Kesehatan Katolik” ke I seluruh Indonesia. Segala unit-unit kesehatan di seluruh Indonesia diundang ikut serta. Melalui “Sedos” (Perkumpulan ibu-ibu General Konggregasi-konggregasi yang bekerja di Missie) di Roma, panitia minta bantuan kepada “Misereor”. Akhir bulan Juni y.b.l. diterima kepastian dari Misereor bahwa bantuan ini diberikan.

10. Pada tanggal 16 Juli peserta-peserta tiba di Wisma Samadi, diantara mereka 3 observer dari DGI dan juga Father James Tong SJ., Executive Director of the Catholic Hospital Association in India yang kami mengundang sebagai “consultant” untuk Rakerkeskat ke I ini. Panitia sangat menghargai inisiatif dari CRS untuk membayar biaya pulang pergi ke India Father J. Tong.SJ.
109 banyak peserta ikut Rakerkeskat pertama ini ditambah dengan 14 peninjau-peninjau. Rapat berlangsung selama 6 hari dengan hasil dibentuknya suatu organisasi dengan nama “Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia”, nama singkat ialah “PERDHAKI”.
Semua unit-unit kesehatan di seluruh Indonesia dapat menjadi anggota dari persatuan ini.

11. Maksud tujuan organisasi ini ialah :
1. Persatuan ini berlandaskan Pancasila dan UUD 1945
2. Persatuan ini bertujuan :
a. Meningkatkan kesehatan masyarakat dengan pelayanan dan koordinasi kepada para anggotanya
b. Meningkatkan, mewujudkan dan memperhatikan terutama segi-segi spiritual, moral, kesehatan, perawatan, pendidikan dan sosial.

Usaha :
1. Melaksanakan koordinasi dan meningkatkan kerjasama antara anggota.
2. Merintis dan memelihara kerjasama dengan pemerintah dan semua badan-badan yang bertujuan sama.
3. Memberi pelayanan-pelayanan antara lain penerangan-penerangan, baik kedalam maupun keluar, alat-alat atau obat-obat, tenaga kerja, meningkatkan pendidikan dan lain-lain (dari Anggaran Dasar).

………………………………………………………………………………………………………………………
Sr.Tilde van Mook, MMS.

Iklan