Suka-duka Memulai Rawat Gabung (Rooming-in) di PKSC – Jakarta

Pengertian Rawat Gabung

Selama belum ada Rawat Gabung (RG) kita mengenal Rawat Pisah (RP). Ibu dan anak tidur di ruang yang berbeda. Hanya pada jam tertentu untuk menyusu, bayi diantar kepada ibunya sekitar 20 – 30 menit. Sebelum dan sesudah menyusu bayi ditimbang dulu, bila timbangan tidak naik sesuai dengan kebutuhan bayi, otomatis ditambah dengan susu formula pakai botol dan dot. Hal ini membuat bayi malas untuk mengisap pada buah dada ibu karena bayi harus kerja lebih keras. Akibatnya pada waktu menyusu bayi sering kali malah tidur. Demikian seterusnya sehingga produksi ASI semakin berkurang karena tidak ada rangsangan. Pada malam hari biasanya bayi tidak disusui. Kalau menangis, diberi susu formula maka buah dada juga sering bengkak dan panas. Hal ini menambah problem tersendiri. Lama kelamaan ibu jadi yakin bahwa ASI-nya tidak mencukupi, maka memberi susu formula dengan segala akibat yang kurang menguntungkan daripada pemberian ASI.

Tahun 1978 Perdhaki bersama The United Nations Children’s Fund (UNICEF) dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melaksanakan seminar memperkenalkan RG. Direksi PKSC menugaskan saya, Sr. Arnolfine Simamora, CB, untuk mengikuti seminar itu yang diadakan di Auditorium Pelayanan Kesehatan Sint Carolus (PKSC). Dari berbagai negara UNICEF memperlihatkan foto – foto balita yang kekurangan gizi terutama karena kurang pengertian akan usaha – usaha untuk memperbanyak produksi ASI. Foto – foto itu sangat memilukan hatiku, sehingga saya berniat untuk memulai RG. Ditambah lagi dengan penelitian yang dilakukan YLKI bahwa dari Sembilan merk susu bayi yang beredar, hanya dua merk yang bebas hama. Tentunya hama – hama itu membuat bayi mudah mencret.

Setelah selesai Seminar, saya membuat ringkasan dan menghadap Direksi PKSC dengan usul – usul untuk memulai rawat gabung. Direksi sangat mendukung dan meminta untuk membuat perencanaan yang lebih konkret dan membuat daftar alat – alat dan perubahan ruangan yang dibutuhkan.

Tahap – Tahap Memulai RG
1. Sosialisasi pengertian dan cara kerja RG kepada para bidan dan seluruh karyawan di bagian kebidanan karyawan serta siswa bidan.
2. Membuat daftar alat – alat yang dibutuhkan terutama alat – alat untuk mandi dan kebersihan bayi sehari – hari, harus sesuai dengan jumlah bayi yang dirawat.
3. Memesan boks bayi agar sesuai dengan prinsip RG ibu. Untuk ini dihubungi Pertukangan Desa Putra milik Bruder – Bruder Budi Mulia. Tingginya harus sama dengan tempat tidur ibu serta dindingnya transparan agar ibu selalu bisa memandang bayinya. Di bawah kasur bayi terdapat popok dan alat – alat kebersihan untuk bayi. Pada bagian terbawah boks ada tempat untuk ember lain bertutup untuk popok kotor, dan tempat lain untuk sampah – sampah kotor. Jadi boks bayi dibuat tiga tingkat.
Persiapan ini membutuhkan waktu selama satu tahun. Kami memulai RG setelah hampir semua bertekad untuk mensukseskan RG.

TANTANGAN YANG DIHADAPI DAN CARA MENGATASINYA
Setelah mulai tahap – tahap dan perubahan cara kerja muncul beberapa masalah dan kekhawatiran :
1. Bayi bisa hilang terutama pada waktu jam tamu, atau ketularan penyakit. Untuk mengatasi ini maka dalam ruangan dibuat kamar bayi kecil dengan dinding yang transparan, sehingga pada waktu tamu, bayi – bayi dimasukkan dalam ruangan ini.
2. Juga perlengkapan – perlengkapan bayi bisa hilang atau terbawa oleh ibu. Untuk mengatasi hal ini ditentukan jumlah popok yang disediakan di boks bayi selalu sama dan bila karyawan mengambil popok yang kotor dari ember, harus langsung menambah popok bersih sesuai dengan jumlah popok yang kotor. Dengan demikian, selalu bisa diawasi apakah ada popok yang hilang.
3. Berbagai keluhan lain, terutama karena harus menyesuaikan diri dengan cara kerja baru. Sikap yang sulit berubah dari cara kerja yang sudah nyaman, kepada cara kerja baru dapat melemahkan motivasi untuk menyukseskan RG. Untuk mengatasi ini saya berusaha sering berada di ruangan untuk membantu dan memberi dukungan kepada mereka.
4. Kadang – kadang, saya sendiri pun ragu – ragu apakah RG akan berhasil, tetapi karena adanya dukungan dari pelbagai pihak, kami merasa dikuatkan :
a. Dari dr. Utami Sp. A, yang terus mendorong dan memberi semangat.
b. Kunjungan dari Perdhaki, UNICEF dan beberapa wakil dari manca negara memberi dorongan dan saran untuk memperbaiki hal – hal yang masih belum terpikirkan. Misalnya, penanggalan yang tergantung di kamar ibu dengan gambar bayi montok sambil memeluk kaleng susu formula, harus disingkirkan sebab hal itu bisa menimbulkan persepsi yang salah.
5. Beberapa kali, saya mendapat telpon dari orang yang tidak dikenal, mengancam bahwa saya akan mendapat kecelakaan bila masih terus melaksanakan usaha RG. Pada permulaan saya takut juga sehingga tidak berani pergi sendirian. Tapi setelah saya renungkan, saya yakin bahwa telpon itu adalah dari salah satu perusahaan susu formula yang merasa akan dirugikan apabila RG berhasil. Maka untuk menghadapi telpon berikutnya, saya sudah siap dalam hati, “Siapa takut”. Keesokan harinya saya mendapat telpon lagi dan saya menjawab, “Anda pasti dari salah satu perusahaan susu formula. Bila terjadi apa – apa dengan saya, kami akan mengusut dari perusahaan mana asalnya telepon ini”. Rupanya jawaban ini sangat efektif. Setelah itu, tidak pernah ada lagi telepon ancaman tersebut.

TUJUAN RAWAT GABUNG
RG bertujuan untuk penggalakan ASI. Agar berhasil perlu didukung oleh usaha – usaha lainnya, yang telah dimulai sejak perawatan pre – natal, selama nifas dan dilanjutkan di bagian Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada penimbangan bayi.
1. Perawatan pra – natal
a. Pada perawatan pra – natal, diberikan kursus tentang gizi seimbang untuk ibu hamil.
b. Perawatan buah dada, terutama kebersihan sekitar areola mammae dan putting susu agar terbentuk dan kenyal, sehingga tidak mudah lecet bila diisap bayi.
c. Senam kehamilan, yang tujuannya terutama untuk latihan pernafasan dan agar otot – otot pinggul tidak kaku.
2. Di kamar bersalin
Ibu dan bayi segera dibersihkan, kemudian bayi segera menyusu. Sangat mengagumkan ternyata bayi sangat cekatan, langsung pandai menghisap. Dengan adanya isapan bayi, rangsangan diteruskan ke hypophyse sehingga mengeluarkan oxitocyn yang merangsang kontraksi uterus, dengan demikian pendarahan berkurang.
3. Di ruang perawatan : RG
a. Dianjurkan agar ibu menyusui setiap kali bayi membutuhkan.
b. Bagi ibu yang melahirkan anak pertama, masih perlu bantuan dan bimbingan.
c. Hari kedua dilakukan perawatan buah dada (breast – care), untuk merangsang keluarnya ASI dan mencegah pembengkakan buah dada.
d. Senam post – partum dimulai pada hari kedua, untuk membantu kontraksi uterus dan melemaskan otot – otot dasar panggul.
e. Ibu belajar merawat bayinya, sehingga pada waktu pulang sudah terlatih.
f. Bila bayi haus, ibu bisa memberikan air putih dengan sendok agar pada waktu menyusui berikutnya bayi akan menghisap lebih kuat.
4. Tindak lanjut KIA
Setelah ibu pulang, setiap kali datang ke KIA untuk menimbang bayi, motivasi pemberian ASI tetap dilanjutkan. Sering ibu merasa ASI-nya kurang, bila bayinya sering menangis. Sering bayi menangis karena haus, bukan karena lapar terutama di daerah panas seperti di Jakarta. Dengan memberi minum air putih sudah cukup. Selama berat badan bayi naik sesuai dengan perkembangan bayi, berarti ASI masih cukup dan tidak perlu ditambah dengan susu formula. Sesudah bayi berumur 6 bulan sudah diberi makanan padat, dengan sendirinya kebutuhan ASI berkurang.

KEUNTUNGAN RAWAT GABUNG
Colostrum (Air Susu Jolong) yang sudah ada sejak kehamilan tua, mengandung protein tinggi dan antibodi yang sangat dibutuhkan bayi. Warnanya agak keabu – abuan dan encer, sehingga dulu ada anggapan bahwa colostrum adalah air susu yang masih kotor dan belum boleh diberikan pada bayi. Penjelasan tentang hal ini diberikan kepada ibu – ibu pada waktu pemeriksaan kehamilan, sekaligus memberikan kursus tentang perawatan buah dada. Colostrum keluar pada hari pertama dan kedua.
1. Umumnya pada hari ketiga dan keempat air susu sudah melimpah bahkan ada yang bisa jadi donor ASI bagi bayi prematur yang ibunya sudah pulang.
2. Karena menyusui sejak hari pertama, buah dada ibu jarang sampai keras dan bengkak. Sedang pada RP hal ini sering menyebabkan masalah, terkadang sampai suhu badan ibu panas dan bayi sulit menghisap karena kerasnya buah dada.
3. Pada RG bayi disusui setiap kali dia membutuhkan, tidak diatur dengan jadwal waktu. Hal ini dimungkinkan karena bayi berada di samping ibunya. Semakin sering bayi menghisap, produksi ASI semakin lancar karena isapan bayi merangsang hypophyse untuk mengeluarkan prolactin yang merangsang kelenjar – kelenjar susu (yang banyaknya 15 – 20 kelenjar) untuk memproduksi susu dan sekaligus menghambat follicle stimulating hormone (FSH), sehingga tidak terjadi ovulasi. Prinsip ini dipakai untuk mempopulerkan ASI eksklusif dan juga keluarga berencana alamiah metode ovulasi Billings (KBA MOB). Selanjutnya berkembang ide Taman Penitipan Anak (TPA), agar ibu bisa memberi ASI sampai 4 – 6 bulan. Karena selama ibu memberi ASI eksklusif tidak akan terjadi ovulasi. Perusahaan yang mempekerjakan banyak wanita masa usia subur diharapkan mempunyai TPA, agar mereka bisa memberikan ASI eksklusif pada bayinya.
4. Ibu – ibu langsung belajar merawat bayinya pada waktu mandi dan perawatan sehari – hari, sehingga pada waktu pulang sudah tidak canggung merawat bayinya walaupun baru melahirkan anak yang pertama.
5. Pengeluran darah pada masa nifas lebih sedikit karena setiap kali bayi menyusu uterus berkontraksi dan uterus lebih cepat mengecil.
6. Kamar bayi untuk bayi – bayi yang lahir dan tidak memenuhi syarat untuk RG, diharapkan tetap berdampingan dengan ruang perawatan ibu agar ibu dapat mendengar tangisan bayinya. Tangisan bayi dapat merangsang hypophyse untuk merangsang produksi ASI maka terjadi proses seperti isapan bayi dan air susu akan keluar tanpa dihisap.

Biara Carolus Jakarta, 29-7- 2010
Sr. Arnolfine Simamora, CB

Penutup
Demikian antara lain yang dikisahkan Sr. Arnolfine Simamora, CB mengenai pengalaman beliau mengawali Rawat Gabung dan KBA MOB di PKSC Jakarta. Beliau pula yang memperkenalkan pastoral care pertama kali pada rapat paripurna anggota Perdhaki 1978 di Klender, Jakarta. Pengalaman ini ditulis atas permintaan Sr. Ros Isti, CB selaku Direktur Keperawatan PKSC untuk Carolus. Oleh Sr. Arnolfine pengalaman ini dibagikan juga kepada para pembaca Buletin Perdhaki dengan mengirimkannya kepada Redaksi. **els

TB Sebagai Penyakit Gawat Darurat Global, Dapat Disembuhkan!

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. TB ditularkan melalui udara melalui percikan dahak penderita. Bila tidak diobati, penderita TB akan meninggal dalam waktu 2 tahun. Namun penderita TB dapat disembuhkan dengan minum obat secara lengkap dan teratur.
India, Cina dan Indonesia berkontribusi lebih dari 50% dari seluruh kasus TB di seluruh dunia, di mana Indonesia menempati peringkat ketiga setelah India dan Cina. Diperkirakan 95% penderita TB berada di negara-negara yang sedang berkembang. Dengan munculnya epidemi HIV/AIDS di dunia jumlah penderita TB akan meningkat.
Sekalipun dunia telah memiliki obat ampuh yang dapat menyembuhkan TB setengah abad yang lalu, namun hingga kini masih ada banyak penderita TB baru di dunia setiap tahun dengan satu kematian setiap 10 detik. Maka pada tahun 1992, WHO menyatakan TB sebagai penyakit gawat darurat global. Menghadapi situasi ini, WHO menerapkan strategis DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse atau pengobatan jangka pendek dengan pengawasan lansung) yang dapat menyembuhkan 95% dari semua penderita. Keberhasilan luar biasa tersebut dicapai di semua negara yang menggunakan strategi DOTS, bahkan juga di negara dengan keadaan sosial ekonomi paling rendah.

STRATEGI DOTS
Strategi DOTS terdiri dari unsur-unsur :
1. Komitmen politis (komitmen pimpinan)
2. Penegakan diagnosis dengan pemeriksaan mikroskop dahak penderita
3. Obat tersedia secara berkesinambungan
4. Pengobatan dan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO)
5. Pencatatan dan pelaporan untuk mempermudah pemantauan dan pembinaan

RS St. Carolus merupakan rumah sakit umum yang berdiri pada tahun 1919 dan melayani pasien tanpa membedakan ras, suku, agama ataupun kedudukan sosial. Sejak tahun tujuhpuluhan RS St. Carolus membuka diri bagi mereka yang tinggal jauh dari rumah sakit. Pelayanan kesehatan RS St. Carolus tidak hanya dibatasi oleh dinding rumah sakit (sistem pelayanan intramural) melainkan beralih ke pelayanan ekstramural (atau sebagai outreach), yang manghadirkan pelayanan ke arah masyarakat jauh dan terpencil. Pelayanan ekstramural diselenggarakan oleh lima Balai Kesehatan Masyarakat yang tersebar di berbagai wilayah di kota besar Jakarta yaitu di Paseban, Cijantung, Klender, Tanjung Priok dan Cengkareng. Sejak itu pula namanya diubah menjadi Pelayanan Kesehatan St. Carolus (PK St. Carolus).
Sebagai sumbangsih dan bentuk kepedulian PK St. Carolus terhadap masyarakat yang miskin dan menderita, khususnya bagi penderita TB, sejak tanggal 1 September 1983 dilaksanakan Program TB St. Carolus yang diintegrasikan di ke-5 Balai Kesehatan Masyarakat (Balkesmas) di Jakarta. Tujuannya agar penderita TB yang mayoritas datang dari golongan ekonomi lemah dapat dilayani secara optimal (dengan cara “jemput bola”). Dalam menanggapi ajakan Menteri Kesehatan RI untuk memerangi TB dalam Gerdunas TB, tanggal 24 Maret 2001 Direksi membentuk Tim DOTS Tuberkulosis PK St. Carolus untuk melaksanakan program TB dengan strategi DOTS di rumah sakit. Dengan demikian program TB diperluas ke pasien rumah sakit (rawat jalan dan rawat inap).
Dari Balkesmas para pelaksana program mengunjungi penderita yang tak datang untuk kontrol/ berobat. Guna mencegah penderita lalai berobat, yang merupakan risiko terjadinya MDR-TB (Multi Drug Resistant TB), para pelaksana program sigap mencari (dan harus menemukan!) penderita. Tidak jarang pengunjung rumah berjuang keras kalau tempat tinggal penderita jauh atau alamat rumah tak jelas bahkan salah! Tidak ada penderita lalai berobat yang tak dapat ditemukan pengunjung rumah!

PROGRAM TB ST. CAROLUS
Program TB St. Carolus terdiri dari suatu konsep yang meliputi :
1. Penemuan penderita (case finding),
2. Pengobatan
3. Pendampingan penderita sampai sembuh
4. Pelaporan dan evaluasi program
Karena Program TB St. Carolus mendapat bantuan obat dan bahan pemeriksaan laboratorium dari Departemen Kesehatan RI, maka untuk pemeriksaan langsung dahak dan obat program pasien tidak membayar.

PANCA GEMALA PROGRAM TB ST. CAROLUS
Keberhasilan Program TB St. Carolus diperoleh melalui penerapan dan penghayatan dari butir-butir yang disebut sebagai Panca Gemala Program TB St. Carolus, yang terdiri dari: Pelestarian program, pelibatan keluarga, pendekatan holistik, penanganan komprehensif dan manusiawi.

ANGKA KESEMBUHAN
Angka kesembuhan penderita pada awal-awal pelaksanaan program sampai tahun 1990 berkisar 70 – 80%. Pada tahun-tahun berikutnya keberhasilan program meningkat dengan angka kesembuhan lebih dari 80%. Keberhasilan ini dicapai hanya dengan penekanan pada pengobatan yang lengkap dan teratur.

PENGALAMAN PASIEN
Mitos mengatakan bahwa penderita TB perlu dirawat di sanatorium, diisolasi, tidak boleh bekerja dan perlu banyak makan makanan bergizi. Beberapa pasien menceritakan pengalaman mereka bahwa mereka dapat sembuh tanpa perlu istirahat, ataupun tambahan makanan bergizi. AJS, 32 th, yang sering keringatan, batuk-batuk berdarah, sesak, lemah dan capek, didiagnosis sebagai pleural effusion (cairan di rongga pleura) karena TB. Hanya dengan berobat teratur selama 6 bulan ia sembuh dan dapat bekerja lagi. Sedangkan Ny. Yu, 37 th, sedianya akan dioperasi karena menderita TB tulang belakang. Tetapi setelah berobat di PK St. Carolus dan minum obat teratur, ia sembuh total tanpa operasi dan dapat berjalan lagi dengan normal. Pengalaman pasien-pasien ini dapat didengar langsung dari ybs. pada acara Talkshow di PK St. Carolus Sabtu, 24 April 2010 dengan tema “Menjaring TB semakin dini dan rinci, TB sembuh semakin pasti.”

Jakarta, 12 April 2010
Press Release
Panitia Peringatan Hari TB Sedunia MMX
PK St. Carolus