Rencana Kebutuhan Obat (surat dari PERSI Pusat)

logopersiYth.
Para Ketua Asosiasi RS Seprofesi

Sebagai kelanjutan Diskusi Panel JKN ke VI dengan topik “Harapan – Kenyataan dalam Solusi Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Era JKN”.

Salah satu yang signifikan dan dapat menyelesaikan secara komprehensif permasalahan Pengelolaan Perbekalan Farmasi yaitu perlu dibuat perencanaan obat yang baik (sesuai kebutuhan) dan tersedia saat yang tepat.
Perencanaan obat yang baik akan menghilangkan atau memperkecil gap antara jumlah yang direncanakan/tersedia dipasaran dengan jumlah kebutuhan, sehingga peluang pemalsuan diperkecil. Oleh karena itu, Kami minta seluruh Pimpinan/Direktur Utama rumah sakit di Indonesia dapat menyusun, membuat, dan menyampaikan Rencana Kebutuhan Obat tahun 2017 di masing-masing rumah sakit yang dipimpinnya.

Mengingat pentingnya Rencana Kebutuhan Obat ini, maka kami sangat berharap perencanaan dimaksud dapat segera disampaikan kepada kami paling lambat tanggal 25 Oktober 2016.

Terima kasih

Rangkuman Hasil Rapat Paripurna Anggota

Rapat Paripurna Anggota (RPA) PERDHAKI yang berlangsung dari tanggal 28 – 31 Juli 2016, dihadiri oleh 315 peserta mewakili PERDHAKI Wilayah, keuskupan, perwakilan tarekat, manager Unit Kesehatan dari Rumah Sakit dan Klinik/BP didampingi PERDHAKI Pusat. Sesuai tema “Peningkatan Kapasitas Dinamis Karya Kesehatan PERDHAKI Dalam Membangun Kesehatan Masyarakat” dilaksanakan masukan sebagai berikut:
1. Pesan Mgr. Ign Suharyo untuk mensyukuri bahwa berkarya di bidang kesehatan merupakan karya agung Tuhan Maha Pengasih.
2. Paparan Etika Profesi Kedokteran oleh Dr.dr. Robert Ganda Sentana, MS
3. Tantangan Faskes dan Karya Kesehatan PERDHAKI dalan era JKN disampaikan oleh Sr. Felisia Fau, SCMM dari RS Stella Maris Nias dan Romo Feri Deidhae
4. Pengalaman sukses karya kesehatan PERDHAKI dalam memenuhi persyaratan regulasi pemerintah tentang faskes dan JKN disampaikan oleh drg. Adrian Setiawan dari Klinik Pratama St. Carolus Paseban, Jakarta, dr. Thomas Soharto, M.Kes dari RS Stella Maris, Makassar dan dr. Melly Hua – RS Bhaktiwara dari Pangkal Pinang.
5. Kebijakan pengembangan Pelayanan kesehatan disampaikan oleh Dr. Bambang Wibowo Sp.OG (K) MARS
6. Kebijakan Pelayanan Pengembangan Kesehatan, Regulasi akreditasi RS disampaikan oleh DR. Dr. Sutoto Cokro, Ketua eksekutif KARS, sedangkan Regulasi akreditasi puskesmas/klinik disampaikan oleh Dr. I Nyoman Kandun, MPH, Ketua Komite Akreditasi FKTP
7. Perlindungan Hukum bagi Tenaga Kesehatan disampaikan oleh Prof Herkutanto,SpF, SH dan Penanganan Lapangan Terkait Vaksin Palsu disampaikan oleh dr. Antonius Yudianto, MARS
8. Sidang-sidang organisasi
1. Penetapan Ketua, wakil ketua dan sekretaris sidang organisasi dengan moderator Drs. Yos Gustama. Terpilih Rm Feri Deidhae sebagai ketua, Sr. Sisilia, CB sebagai wakil ketua dan dr. Miriam Maengkong sebagai sekretaris.
2. Laporan Pertanggung jawaban Badan Pengurus Pusat PERDHAKI oleh DR. Dr. Widyastuti W. MSc (PH), dengan moderator Rm Feri Deidhae
3. Hasil-hasil diskusi 4, masing-masing tentang Anggaran Dasar, pembahasan topik faskes Primer, Pembehasan topik faskes rujukan tipe B/C dan tipe D
4. Hasil diskusi kelompok tentang pembahasan penyempurnaan Anggaran Dasar.
5. Pemilihan Badan Pengurus 2016- 2020
9. Pandangan peserta pada sidang pleno RPA 31 Juli 2016.
Setelah menyimak dan membahas masukan sidang diatas, maka sidang pleno RPA 31 Juli 2016 mencapai kesepakatan bersama atas hal-hal berikut :
1. Bahwa setiap insan yang berkarya dibidang kesehatan bersyukur mendapat anugrah untuk meneruskan karya agung penyelamatan Yesus Kristus
2. Dalam melaksanakan karya agung Kristus dalam bidang kesehatan tersebut, tenaga kesehatan menerapkan etika profesi, menghormati hak dan kawajiban pasien dan menjalankan hak dan kewajibannya dengan setia, bermarmanfaat dan bertanggungjawab
3. Tantangan yang dihadapi karya kesehatan PERDHAKI dalam Era JKN umumnya berupa keterbatasan SDM dan komunikasi Faskes dan BPJS yang kurang responsif.
4. Pengalaman sukses karya kesehatan PERDHAKI yang perlu diteruskan dengan adaptasi adalah:
– Komitmen bersama antara Fasyankes (Klinik dan RS) dengan BPJS dan dukungan Kemkes/ Dinkes dalam penyelenggaraan JKN
– Beberapa strategi operasional untuk dapat berkontribusi dalam JKN antara lain Faskes rujukan membent yakni uk jejaring dengan Faskes primer.
– Faskes primer selayaknya berkonsultasi dalam meningkatkan pemenuhan persyaratan dan sertifikasi tenaga, perijinan dan akreditasi Askes
1. Kebijakan pemerintah dibidang kesehatan mencakup tiga program kelompok yaitu paradigma sehat, penguatan sistem dan struktur pelayanan kesehatan, sera penyelenggaraan pelayanan kesehatan dasar nasional. Dalam pelayanan kesehatan nasional Kemkes sebagai regulator bekerja sama dengan BPJS sebagai pengelola pembiayaan dan kemitraan JKN dan Faskes sebagai pembeli pelayanan yang harus kompeten diharapkan pelayanan kesehatan JKN akan semakin baik kedepannya. Hal-hal yang belum sempurna harus harus diusahakan bersama oleh para peserta JKN sendiri.
2. Akreditasi Askes terdiri atas akreditasi RS yang dikelola oleh KARS dibawah pimpinan DR. Dr. Sutoto Cokro, M.Kes dan akreditasi FKTP oleh komite akreditas FKTP dibawah pimpinan dr. I. Nyoman Kandau, MPH.
3. Musibah vaksin palsu menjadi pengalaman belajar bagi Fasyanke untuk mengikuti standar praktek yang baik/ good practices dalam pelayanan pasien maupun dalam pengadaan obat alkes dan vaksin. Bila terjadi ancaman dan tindakan emosional masyarakat, perlindungan hukum terhadap Nakes dan kelangsungan pelayanan kesehatan dapat dilakukan dengan komunikasi hubungan dokter- pasien penuh pengertian terhadap masyarakat dan kerjasama pihak keamanan serta pembenahan internal untuk memperbaiki kelemahan dan prosedur kerja serta memperbaiki hubungan dengan masyarakat.
4. Proses siidang organisasi yang berjalan optimal berhasil menetapkan ketua, wakil ketua dan sekretaris sidang terpilih yang kemudian memimpin :
a. Laporan pertanggungjawaban badan pengurus 2012- 2016 untuk kemudian menyatakan penerimaan sidang pleno terhadap laporan tersebut.
b. Pembahasan hasil disko tentang klinik dan RS tipe D, C dan B yang menekankan peningkatan jejaring komunikasi internal dan eksternal unit kesehatan dengan fasilitasi olleh PERDHAKI Pusat dan wilayah, terkait aspek regulasi Nakes, Faskes dan relasi dengan Kemkes/ Dinkes dan BPJS
c. Pembahasan AD dengan masukan penyempurnaan redaksional guna diproses finalisasinya oleh badan pengurus 2016-2020 bersama ahli hukum dan notaris dilanjutkan dengan pengesahan dalam waktu secepat-cepatnya.
d. Penetapan sidang tentang langkah-langkah pemilihan badan pengurus 2016-2020 dengan hasil berikut dengan penekanan tindak lanjut penyempurnaan organisasi dan AD secepatnya.
Pada pemilihan tersebut terpilih :
Ketua : Dr. Wasista Budi Waluyo, MHA
Wakil : Dr. Albert Hendarta, MPH
Anggota 1 : Dr. Roy Tjiong
Anggota 2 : Sr. Valentina CB

5. Risalah persidangan pleno dan kelompok dalam RPA menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkuman RPA ini
Jakarta, 31 Juli 2016

Aksi Gizi 10 Mei 2015

Mari dukung Aksi Gizi yang akan diadakan tanggal 10 Mei 2015 di Parkir Timur Monas yang diselenggarakan oleh Wahana Visi Indonesia

1000 hari pertama adalah masa penting dimana anak sejak di kandungan hingga usia 2 tahun perlu mendapatkan asupan gizi yang seimbang guna menunjang tumbuh kembang anak.

Info ini mengajak masyarakat untuk dapat hadir dalam kampanye tersebut. Apabila tidak bisa hadir maka dukungan dapat diberikan dengan cara foto bersama-sama teman dengan menunjukkan 10 jari yang menandakan kita mendukung 1000 hari pertama kehidupan.
Foto 10 jari dapat dikirimkan melalui email ini: [email protected] / [email protected] s.d. 15 Mei 2015

Terima kasih atas doa dan dukungannya. Semoga semakin banyak anak-anak Indonesia yang dapat melampaui 1000 hari pertama kehidupan dengan sehat.

Pelatihan Tatalaksana TB Strategi DOTS Bagi Pengelola Program TB di FASYANKES Anggota PW Keuskupan Agung Medan & Keuskupan Sibolga

Pelatihan Tatalaksana TB Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) bagi Pengelola Program TB di Fasyankes (Fasilitas Pelayanan Kesehatan), merupakan kegiatan terakhir Program TB Perdhaki di Keuskupan Agung Medan (KAM) & Keuskupan Sibolga tahun 2014.
Pelatihan ini merupakan lanjutan atau mata rantai dari kegiatan-kegiatan sebelumya yaitu Advokasi bagi Keuskupan, Sosialisasi bagi Toga-Toma, Workshop bagi Kader Level Paroki, dan Penyuluhan bagi Kader Level masyarakat/Stasi.
Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 3 – 7 November 2014, bertempat di Hotel Antares-Jl. Sisingamangaraja No. 84, Medan, dengan jumlah peserta sebanyak 21 orang Pengelola Fasyankes anggota Perdhaki Wilayah Keuskupan Agung Medan dan Keuskupan Sibolga termasuk Pulau Nias.
Fasyankes yang diundang adalah : KAM : (BP St Theresia Parlilitan, BP/RB St Yoseph Dolok Sanggul, BP/RB St Lusia Lintong Nihuta, BP/RB St Maria Palipi, BP/RB St Martina Sidikalang, BP San Damiano-Tigabinanga, RS St Elisabeth 2 org). Keusk. Sibolga : (BP/RB St Mikael, BP St Bernadeth-Pakkat, BP/RB Nirmala-Si Pea Pea, BP/RB Fatima-Tumba Jae, BP/RB St Maria-Posniroha, BP/RB Serasi-Pinangsori, BP/RB St Melania-Sarudik, BP St Lukas-Aek Tolang, BP St Rafael-Pulau Tello Nias, BP Tabita-Nias, BP/RB St Anna-Idanogawo Nias, RS Stella Maris-Teluk Dalam 2 org).
Pelatihan difasilitasi oleh tiga orang Fasilitator Nasional yaitu dr U.T.Hutagalung, dr Sri Indra Susilo dan dr Elias Siahaan.

Pelatihan dibuka oleh Bpk Sukarni,SKM,MKes mewakili Ibu Kadinkes Prov. Sumut. Dalam sambutannya beliau menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Perdhaki yang telah menyelenggarakan Pelatihan ini bagi Fasyankes anggotanya dengan bantuan dana dari GF Komponen TB, dimana sebelumnya Pemerintah hanya bisa mengikutsertakan satu atau dua orang saja dari mereka karena keterbatasan dana. Diharapkan setelah Pelatihan Klinik-klinik swasta mampu melayani masyarakat berdampak TB sesuai dengan standard, sehingga dapat membantu meningkatkan angka penemuan orang terduga TB, meningkatkan angka keberhasilan pengobatan dan menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat TB serta mengurangi dampak TB-MDR (Multi Drug Resistant).
Pada kesempatan yang sama hadir pula Ketua Perdhaki Wilayah Medan (dr Maria Christina,MARS) yang dalam sambutannya mengucapkan terima kasih karena Wilayahnya terpilih untuk menjadi tempat Pelatihan, terima kasih atas kerjasama yang baik dan menyatakan siap untuk membantu kelancaran kegiatan.

Selama 5 hari efektif peserta dibagi dalam tiga kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 7 orang dan difasilitasi seorang Fasilitator. Fasilitator sangat aktif dan semangat dalam menjelaskan materi sesuai Modul, dan menanggapi setiap pertanyaan peserta dengan gaya dan caranya yang unik, sehingga peserta tidak pernah merasa mengantuk ataupun bosan.
Dalam penilaian akhirnya peserta merasa sangat puas karena Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi mereka, mereka lebih percaya diri dalam menghadapi pasien/orang terduga TB.
Begitu pula menurut penilaian para Fasilitator, bahwa Pelatihan ini berjalan dengan baik, semua peserta sehat, tertib, tidak ada yang mengantuk dan Pelatihan ini berhasil, terbukti dengan kenaikan nilai Post Test yang sangat signifikan dibandingkan dengan nilai Pre Test.

Dalam kesan dan pesannya dr U.T. Hutagalung mewakili Fasilitator menyampaikan bahwa sudah merupakan tradisi pada setiap Pelatihan hari ini 7 November 2014 beliau menobatkan dan meresmikan bertambahnya 21 orang anggota Tim Pengendalian TB di Prov. Sumut yang setara dengan para dokter dan tenaga kesehatan yang sudah ada di daerah. Beliau juga akan melaporkan hal tsb. kepada Dinas Kesehatan Prov. Sumut.

Sr Xaveria,Haloho,FCJM mewakili peserta menyampaikan ucapan terima kasih kepada Perdhaki Pusat, PW Medan dan Fasilitator atas terselenggaranya Pelatihan ini karena mendapatkan penyegaran. Fasilitator sangat berhasil dalam memberikan materi, meskipun cukup pusing karena materi yang cukup padat.
Setelah itu peserta diberikan Sertifikat dan para Fasilitator diberikan Piagam Penghargaan.

Pelatihan ditutup oleh Ka. PW Medan, yang berharap peserta bekerja keras dan sungguh-sungguh menerapkan ilmunya dan yakin peserta akan berhasil dilihat dari nilai Post Test yang tinggi.

Foto : Peserta serius mengerjakan soal Post Test.
tatalaksana

Gerakan Pro-life

Sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi pergaulan remaja di wilayah Kupang dan sekitarnya, RS Carolus Borromeus Kupang menggelar seminar singkat tentang pergaulan remaja yang sehat, secara khusus tentang bahaya  penggunaan narkoba di kalangan remaja.

Seminar ini sebagai bagian dari Gerakan Pro Life yang mendasari visi misi RS. Kerjasama yang baik dengan media lokal membantu RS mensosialisasikan isu ini ke masyarakat luas dalam bentuk berita di koran lokal. Ini juga dapat menjadi bentuk pemasaran sosial RS yang membuat masyarakat semakin mengenal RS dan visi misinya.

berita-daerah-prolife

Lingkungan Sehat, Jantung Sehat

Demikian topik yang diangkat dalam seminar sehari memperingati World Heart Day (WHD) atau Hari Jantung Sedunia 2014 yang seyogyanya diperingati setiap tanggal 29 September. Seminar yang diselenggarakan di Ruang Siwabessy, Kemenkes RI, Jakarta merupakan salah satu upaya dari Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular sosialisasi Permenkes No. 30 tahun 2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan GGL serta Pesan Kesehatan Untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji.

Dalam setiap kesempatan, Kementerian Kesehatan RI melalui “speaker”nya selalu mendorong masyarakat untuk semakin berdaya, mengubah perilaku hidup untuk menjadi lebih sehat. Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin berolah fisik, Diet yang sehat dan kalori yang seimbang, Istirahat yang cukup dan Kelola hidup untuk lebih baik. CERDIK adalah slogan yang perlu diingat agar hidup lebih berkualitas. Sebagai salah satu pembicara yaitu dr. Isman Firdaus, SpJP (K), FIHA, FESC, FAPSIC menyampaikan pengalamannya sebagai dokter otopsi bahwa “Jarang ada kematian yang disebabkan karena rokok tetapi lebih karena pola hidup”.

Banyak orang di kota besar, lebih tepatnya adalah pekerja kantoran tidak sempat melakukan olah fisik karena padatnya waktu dimana mereka harus berangkat pagi-pagi menuju tempat kerja dan kembali pulang sudah malam. Sebaris kalimat bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat hampir terlupakan oleh mereka yang sibuk. Namun tidak demikian bagi dr. Isman. Sebagai seorang dokter yang cukup mempunyai motivasi terhadap diri sendiri maka dr. Isman melakukan aktivitas fisik setiap pagi dengan bersepeda dari rumah menuju stasiun kereta terdekat untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju tempat tugas di RS. Harapan Kita.

Perubahan zaman yang semakin modern dan praktis tentu mengubah juga tatanan kehidupan masyarakat dimana mereka tinggal. Paparan polusi tinggi juga membuat oksidan dalam tubuh sangat tinggi sehingga terjadiah penyempitan pembuluh darah. Penderita penyakit jantung dimasa kini tidak lagi hanya tertuju pada mereka yang berusia lanjut tetapi semua orang dan semua usia bisa terkena resiko penyakit jantung. Sebagai penyakit yang mematikan maka harus diwaspadai dengan cermat. Masyarakat dapat menambah informasi dan kepedulian serta kepeduliannya menjaga kesehatan merupakan upaya pencegahan penyakit jantung sejak dini, perlindungan diri terhadap risiko penyakit kronis. Dipaparkan bahwa penyakit jantung koroner mempunyai gejala seperti nyeri dada seelah kiri, sesak nafas, mudah lelah, denyut jantung tak beratur. Seorang yang sudah berumur lebih dari 40 tahun sebaiknya memeriksakan kesehatan jantungnya.

Tindakan awal yang perlu dilakukan bila seseorang terkena serangan jantung adalah dibaringkan dengan setengah duduk, diberikan aspirin sembari dikunyah-kunyak, jangan diajak ngobrol dan jangan beri apapun untuk dimakan atau diminum.

Kementerian Kesehatan menggaungkan pesan penting untuk kesehatan. Masyarakat diminta untuk waspada dalam mengkonsumsi gula, garam dan lemak. Batas maksimal dalam mengkonsumsi gula 50 gram atau sekitar 4 sdm sehari, konsumsi garam maksimal 2.000 mg atau kurang dari 1 sdt sehari dan konsumsi lemak maksimal 67 gram atau sekitar 4 sdm sehari. Mereka dengan faktor resiko kolesterol tinggi, kadar gula tinggi dan perokok jelas lebih mudah terkena penyakit jantung pada populasi lebih muda dari 40 tahun ke bawah. Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SH, MSi, SpF(K) mengatakan dalam beberapa penelitian jelas faktor makanan, selain rokok dapat memicu penyakit jantung.

Waspada dan berhati-hatilah dalam mengkonsumsi makanan kemasan atau olahan. Perhatikan dan cermati label produknya, informasi kadaluarsa dan nilai gizi produk makanan dalam kemasan. Label informasi produk kemasan diperlukan oleh masyarakat agar lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi gula, garam dan lemak dalam makanan. Hal itu diatur dalam Permenkes No. 30 Tahun 2013 tentang Pencantuman Informasi kandungan gula, garam dan lemak serta pesan pengingat resiko kesehatan pada kemasan produk pangan olahan dan siap saji. Pesan yang langsung dicantumkan dalam kemasan diharapkan memberikan penginat kepada masyarakat untuk terus memantau konsumsi gula, garam dan lemak mereka. Manage : live, enjoy, play, join. (ndr)

Uniknya Menghadiri Peringatan “Hari Schizoprenia” Sedunia

Hari Kamis tgl 9 Oktober yang lalu, saya diutus mewakili PERDHAKI / KWI untuk menghadiri peringatan Hari Schizoprenia Sedunia. Awalnya saya segan untuk menghadiri acara itu. Karena taat pada Pimpinan dan muncul pikiran, mungkin ada manfaatnya bagi saya, maka saya berangkat ke acara tersebut.

Saya tiba di Auditorium Dr Siwabessy Gedung Prof Suyudi, tepat saat Bapak Kepala Panitia membuka acara tersebut,
Ruangan yang berkapasitas 500 – an orang itu telah dipadati oleh peserta. Diantara para peserta ada yang datang dari luar Jakarta, dari Surabaya, Bandung, Jawa Tengah dan lain-lain.

Acara yang menarik adalah : kesaksian dari 5 orang yang “pernah” mengidap schizophrenia. Mereka ini adalah :
1. Drg Endang Murniati Saroso, 59 th. Drg Endang mulai menderita schizophreniasejak thn 1978, Awal terkena schizophrenia adalah di tahun ke 4. Dengan dukungan dari keluarga dan pengobatan yang rutine drg Endang mampu menyelesaikan kuliah Kedokteran Gigi di Universitas Trisakti. Bahkan dia juga bisa praktek sebagai dokter gigi. Hanya sejak tahun 2008, dia memilih pensiun dari pekerjaan sebagai dokter gigi.
Pesan drg Endang adalah, obat harus rutin di minum, dengan dosis yang semakin mengecil.

2. Ash Xyle, 40 thn. Pria India yang menikah dengan wanita Indonesia ini mengidap schizoprenia sejak tahun 2009. Dia aktip bergabung di Yayasan Sosial untuk kesehatan Jiwa di HOPE XChange yang berbasis di Amerika Serikat.
Pria Lulusan Universitas of Mumbai ini mampu melakukan pekerjaannya dengan baik, asal diberikan instruksi yang jelas dan terarah.
Dia berpesan : Bagi penderita schizoprenia yang dibutuhkan adalah, sapaan : Apa kabar? Apa yang bisa di bantu? Dukungan keluarga sangat dibutuhkan.
Jangan melecehkan penderita schzoprenia ya.

3. Titin Sulastini 32 th
Ibu ini adalah seorang kader masyarakat bagi kesehatan jiwa. Dia mempunyai moto :
K M S = Kartu Menuju Surga. Kader tidak dibayar. Maka dengan ber semboyan KMS dia bisa dengan rela menyusur kampung mengunjungi penderita schizoprenia.
Ibu Titin mengatakan, bahwa kita tidak perlu takut dengan orang Schizoprenia. Dan bila menemukan penderita Schizoprenia di jalan dia akan merujuknya ke Puskesmas.

4. Bagus Utomo, 41 th. Dia adalah pendiri dan sekaligus Koordinator KPSI. ( Komunitas peduli Schizoprenia Indonesia) atau Indonesian Community Care for Schizoprenia. yang beralamat di Kel Bali Mester, Jakarta Timur.
Bagus pernah mendapat penghargaan Internatioan : Dari Amerika dan Jerman Barat Dan Bagus menerima award itu juga di luar negeri. (lupa namanya )
Dia mengajak orang dengan schizoprenia untuk bergabung dengan KPSI. Atau setidaknya keluarganya mau mengunjungi KPSI, agar bisa berbagi cerita dan bisa saling memberikan dukungan bagi para penderita.
Pesan Mas Bagus, hendaknya jangan melecehkan mereka dengan menyebutkan “GILA“. Apa bedanya gila schizoprenia dengan gila harta, gila pangkat, saya ter-gila gila lho dengan kamu……..

5. Bapak Toha. 45 th
Bapak Toha bekerja di Dinas Sosial. Pak Toha berpesan apabila bertemu dengan penderita Schizoprenia yang berkeliaran di jalan, hendaknya dibawa ke Puskesmas. Karena semakin dini yang bersangkutan diobati semakin mudah untuk disembuhkan. Hendaknya masyarakat menerima mereka dengan penuh kasih sayang, jangan mendiskriminasikan dan mengejek, hal ini akan menambah stigma.

Pada akhir seminar para peserta (hadirin) sambil mengepalkan tinju meneriakkan bahwa kami akan peduli orang dengan schizoprenia. (MM)