Pertemuan Persiapan Unit Anggota PERDHAKI Wilayah Maluku Untuk Menjadi Provider JKN

LAPORAN PELAKSANAAN PERTEMUAN PERSIAPAN UNIT ANGGOTA PERDHAKI WILAYAH MALUKU MENJADI PROVIDER JKN

  1. LATAR BELAKANG :

Penerapan sistem ini mewajibkan semua Unit Kesehatan di Indonesia untuk mengikuti ketentuan Nasional tentang standar Akreditasi Unit Kesehatan sesuai dengan klasifikasinya. Tahun 2015, pemerintah telah membantu untuk membuat pelatihan SDM dan penyiapan infrastruktur pelayanan kesehatan di semua jenjang unit pelayanan kesehatan, baik RS maupun FKTP. Tahun 2016 merupakan batas akhir semua unit kesehatan untuk mengadakan akreditasi unit kesehatan.

Dalam konteks itu, Perdhaki Wilayah Maluku merasa terpanggil untuk ikut menyiapkan Unit-Unit Kesehatan anggota Perdhaki, teristimewa yang sekarang berstatus Balai Pengobatan dan Rumah Bersalin untuk segera berjuang menyesuaikan diri dengan tuntutan FKTP yakni: KLINIK. Menjadi klinik tentu membutuhkan sejumlah persyaratan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.

Perdhaki Wilayah meminta kesediaan dari Perdhaki Pusat dalam memfasilitasi serta mendampingi pelaksanaan tersebut.

2. PESERTA

Peserta dari pertemuan terdiri dari :

  • Pemilik/ Pimpinan Tarekat : 2 peserta
  • Utusan RS: 4 peserta
  • Utusan BP/ RB : 4 peserta
  • Perdhaki Wilayah : 4 peserta

3. WAKTU PELAKSANAAN

Pelaksanaan dilaksanakan pada tanggal 3 s/d 5 November 2016, di Hotel Amaris – Ambon

4. PROSES PERTEMUAN

Agenda pertemuan di dalam Pertemuan Perdhaki Wilayah :

  • Assesment Kendala dari Unit Anggota Perdhaki Wilayah
  • Materi dari Dinas Kesehatan Propinsi Maluku : Kebijakan Penyelenggaraan Dan Perizinan untuk Klinik Pratama
  • Materi dari BPJS Kesehatan Propinsi Maluku : Persyaratan FKTP untuk menjadi Provider JKN
  • Rencana Tindak Lanjut

5. KENDALA di FASILITAS KESEHATAN

  • Keterbatasan SDM baik dokter maupun, Apoteker yang ada di Unit Anggota.
  • Pada Juli 2014 – Juli 2016 di Kecamatan Kei Besar Tengah Kabupaten Maluku Tenggara (baik itu di Puskesmas maupun Faskes Swasta) tidak ada dokter sehingga pelayanan kesehatan tidak dilakukan oleh tenaga medis. Sehingga menjadi kesulitan dari pada klinik untuk mencoba menjadi provider
  • Keterampilan daripada Nakes yang perlu ditingkatkan dengan mengikuti pelatihan.
  • Beberapa fasilitas kesehatan masih belum kesulitan untuk Ijin Operasional dan juga sarana dan Prasarana
  • Pengolahan Limbah yang dilakukan oleh Faskes masih harus dilakukan pembenahan seperti UKL – UPL bagi Klinik Rawat Inap dan IPAL bagi RS
  • Ketersediaan dari pada Sarana dan Prasarana

6. RENCANA TINDAK LANJUT

  • Perdhaki Wilayah dan Unit melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan baik Propinsi dan Kabupaten/ Kotamadya untuk meminta tenaga Dokter.
  • Pemilik/Tarekat berkenan untuk bersedia mencari tenaga Dokter yang sudah memiliki SIP dan juga di Para medis dan nantinya akan ditempatkan di kliniknya.
  • Perdhaki Wilayah mendampingi unit untuk memproses Ijin Operasinal bagi unit yang belum memiliki
  • Bagi Unit yang masih kesulitan dalam kejelasan kepemilikan akan dibantu untuk melakukan pendekatan kepada pemilik, khususnya dalam administrasi. Misal membantu RS Fatima bekerjasama dengan Yayasan St Lukas dalam memproses Ijin Operasional untuk dapat memberi pelayanan kesehatan
  • Perdhaki Wilayah akan membantu mencari konsultan dalam proses Pengolahan limbah. Menyadari pengolahan limbah membutuhkan biaya yang mahal sekali.
  • Unit akan menyiapkan SDM sesuai dengan persayaratan dengan berdiskusi dengan Pimpinan Tarekat
  • Perdhaki Wilayah membantu dalam memfasilitasi beasiswa bagi mahasiswa yang dikirimkan oleh Unit

7. Usulan kepada Perdhaki Pusat

  • Membantu Perdhaki Wilayah dalam meningkatkan pelatihan berupa pelatihan bagi paramedik seperti APN, Rekam Medis, PPI dll
  • Perdhaki Pusat membantu mencarikan dana dan konsultan dalam Pengolahan Limbah baik itu di RS maupun Klinik
  • Memberikan beasiswa bagi utusan dari Unit

(Medawati Silalahi)

Workshop Advokasi Dasar Untuk Kanker

WORKSHOP ADVOKASI DASAR UNTUK KANKER

 1. Latarbelakang

Indonesia telah melalui 2 tahun pertama pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Program JKN merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan merupakan bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan  dasar hidupnya yang layak. Pada pelaksanaan JKN melibatkan banyak sekali pihak baik Pemerintah selaku penentu kebijakan, BPJS  Kesehatan selaku pelaksana, Badan Penyelenggara Pengadaan Obat, Rumah Sakit, Farmasi, Pabrik obat, dan masih banyak lagi pihak yang terkait. Sarana dan prasarana kesehatan terus menerus diupayakan perbaikannya. Sumber daya manusia dalam hal ini adalah tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, apoteker, juga merupakan salah satu aspek yang perlu diberikan perhatian lebih baik dari sisi jumlah, tingkat kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk dapat menangani pasien dengan baik, dan sebaran yang merata di seluruh kepulauan Indonesia. Aspek pembiayaan atau dana yang tersedia dalam pelaksanaan JKN tentunya juga harus mendukung seluruh kegiatan.

Kompleksitas dari pelaksanaan sistem kesehatan JKN ini menyebabkan banyak sekali isu terkait implementasi di lapangan dari aspek Kebijakan, aspek kepesertaan, aspek pelayanan kesehatan maupun aspek fasilitas kesehatan.

Sehubungan dengan isu-isu tersebut maka dalam rangka peningkatan kapasitas tenaga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Organisasi Pasien terkait pelaksanaan JKN, Kementerian Kesehatan RI bekerjasama dengan Yayasan Kusuma Buana dan PT Roche Indonesia mengundang Perdhaki ikut dalam Workshop Advokasi Dasar, yang diselenggarakan pada tanggal 23 November 2016.

Advokasi merupakan pendekatan atau suatu upaya untuk mempengaruhi kebijakan publik melalui bermacam-macam bentuk komunikasi persuasif. (JHU,1999)

  1. Tujuan

Tujuan utama pelaksanaan kegiatan Workshop advokasi kesehatan adalah meningkatnya dukungan kebijakan serta anggaran dan sumber daya lainnya untuk program kesehatan, baik dari aspek promotif, preventif, maupun kuratif dan rehabilitatif.

Melalui penyelenggaraan workshop ini diharapkan para anggota organisasi LSM dapat melakukan kegiatan advokasi di bidang kesehatan dengan baik kepada sasaran, dan melalui mitra yang tepat, di tingkat kabupaten/kota, maupun provinsi.

  1. Beberapa hal yang menjadi kendala dalam pelaksanaan JKN :
  • Kurangnya Kebijakan-kebijakan yang mendukung kelancaran implementasi
  • Terbatasnya ketersediaan obat-obatan yang dibutuhkan pasien
  • Fasilitas kesehatan yang terbatas, baik untuk penegakan diagnosa, maupun untuk pengobatan. Kebanyakan RS berada di kota-kota besar menyebabkan sulitnya pasien di daerah utnuk berobat
  • Jumlah dokter dan tenaga kesehatan lain yang terbatas, terutama di daerah (rural).
  1. Materi Workshop
  • Implementasi Layanan Kesehatan pada sistem JKN
  • Implementasi layanan Kesehatan bagi pasien kanker di era JKN
  • Hak-hak pasien terhadap akses pengobatan
  • Konsep dasar Advokasi (Perencanaan & Strategi)
  • Kemitraan dalam upaya advokasi
  1. Hasil Identifikasi masalah dalam Diskusi Kelompok
  • Banyak penderita yang datang ke pelayanan kesehatan setelah stadium lanjut.
  • Obat – obatan yang terbatas, dimana tidak semua obat – obat Kanker dicover BPJS
  • Terbatasnya fasilitas kesehatan (RS ) yang menangani pasien Kanker
  • Antrian yang panjang dalam penanganan penyakit seperti untuk pelaksanaan kemotherapy dan radiasi membuat pasien harus menunggu lama
  • Tenaga kesehatan untuk melayani pasien terbatas
  • Minimnya upaya preventif dan promotif

Pada kesempatan itu pula masing-masing Organisasi dibuatkan roll-banner yang berisi informasi tentang penjelasan singkat organisasi, Visi-Misi, cakupan, fokus kegiatan,dll dan kami sertakan fotonya pada tulisan ini. (MS & JF)

Kunjungan Monitoring Beasiswa

KUNJUNGAN MONITORING BEASISWA

Permasalahan tenaga kesehatan di Indonesia saat ini masih menjadi isu yang hangat, terlebih di daerah yang sulit terjangkau. Salah satu hal yang menjadi kendalanya adalah akses transportasi dan komunikasi sehingga minat tenaga kesehatan untuk bekerja di daerah terpencil semakin kurang diminati, sedangkan kebutuhan tenaga kesehatan di daerah pelosok sudah mendesak dan secara kuantitas juga harus ditingkatkan.

Untuk membantu memperkecil permasalahan itu maka ada upaya bagi unit kesehatan anggota PERDHAKI memberikan kesempatan bagi staffnya dengan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Didukung ketersediaan dana maka PERDHAKI memberikan beasiswa bagi unit yang mengajukan permohonan beasiswa bagi staffnya untuk pendidikan di bidang yang terkait dengan kesehatan. Kelak sesudah menyelesaikan pendidikan maka akan ditempatkan pada posisi yang lowong di lokasi unit kerja yang membutuhkan. Secara khusus untuk wilayah Indonesia Timur.

Beberapa wisudawan yang telah menyelesaikan pendidikan, diantaranya berasal dari unit kerja di Merauke dan Kupang. Saat ini sudah menempati posisi yang memang membutuhkan orang dengan pendidikan yang tepat. Agar tujuan pemberian beasiswa berjalan dengan baik dan berjalan lancar maka dilakukan kunjungan monitoring ke beberapa tempat. Pada bulan Oktober 2016 kunjungan monitoring mengarah ke Maluku.

Persinggahan pertama menuju kota Ambon menemui Ketua Perdhaki Wilayah Maluku yaitu Rm. Simon Matruty, PR. Bersama beliau, kami mengunjungi Pimpinan Tarekat PBHK dan  TMM. Juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke Politeknik Kesehatan Kemenkes Maluku di Ambon, sangat beruntung karena Bpk. Hairudin Rasako, S.KM., M.Kes. Rasako sedang berada ditempat dan menerima kedatangan kami. Secara umum disampaikan bahwa beasiswa diberikan kepada unit anggota PERDHAKI dibutuhkan dukungan bagi mahasiswa yang sedang study di Poltekkes Kemenkes Maluku.

Perjalanan dilanjutkan ke Langgur untuk singgah ke RS. Hati Kudus dan Poltekkes Kemenkes Maluku Program Study Keperawatan di Tual. Selain itu juga sempat bertemu dengan Sr. Sara Heatubun PBHK dan Sr. Ida Jeujanan, TMM. Perbincangan lebih fokus kepada kemajuan mahasiswa yang mendapat beasiswa dan kelancaran administrasi.

Nampak ada beberapa kendala yang perlu didiskusikan bersama antara lain masalah komunikasi yang tidak lancar/terhambat sehingga menimbulkan administrasi pembayaran uang kuliah yang tertunda.  Hasil study yang tidak segera keluar juga menjadikan hambatan dalam pelaporan. Banyak hal yang perlu menjadi perhatian dan pembelajaran di masa yang akan datang seperti pemilihan/penunjukan calon mahasiswa dan lembaga pendidikan yang dituju. Untuk terjalinnya kerjasama dan hasil yang baik maka diupayakan pengambilan keputusan yang terbaik atas dasar kesepakatan. (ndr)

Pelatihan Pengendalian dan Pencegahan Infeksi

Pelatihan Pengendalian dan Pencegahan Infeksi

  1. LATAR BELAKANG

Infeksi terkait pelayanan kesehatan atau Healthcare Associated Infections /HAIs merupakan masalah serius bagi Rumah Sakit/Klinik karena dapat menghambat proses penyembuhan dan pemulihan pasien, memperpanjang hari rawat yang berakibat sangat membebani Runah Sakit/Klinik maupun pasien. Rumah Sakit/Klinik sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan tidak saja memberikan pelayanan kuratif dan rehabilitatit tetapi juga memberikan pelayanan preventif dan promotif.

Oleh karena itu harus selalu ada upaya pencegahan atau upaya meminimalkan timbulnya kejadian infeksi di rumah sakit/Klinik. Guna keberhasilan pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) rumah sakit/Klinik, maka diperlukan karyawan yang kompeten dan terampil serta memahami konsep dasar PPI. Menyadari hal tersebut maka Tim Pencegahan dan Pengendalian Infeksi RS St. Carolus Borromeus secara proaktif berupaya untuk meningkatkan pengetahuan karyawan yang ada di rumah sakit/Iilinik. Pelatihan tenhng PPI telah diprogramkan untuk meningkatkan profesionalisme karyawan yang ada di Rumah Sakit St. Carolus Borromeus Kupang, dap diharapkan dapat dirkuti oleh tenaga-tenaga fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) lainnya yang memerlukan.

2. Tujuan :

Tujuan umum

Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang upaya pencegatran dan pengendalian infeksi di trnit-unit pelayanan kesehatan Katolik.

Tujuan Khusus

  • Mampu melaksanakan kewaspadaan isolasi di unit-unit pelayanan kesehatan Katolik.
  • Mampu melalukan surveilans di uqit-unit pelayanankesehatan Katolik.
  • Marnpu meningkatkan pengetahuan tentang PPI melalui pendidikan dan pelatihan diunit-unit pelayanan kesehatan Katolik.
  • Mampu melakukan bundle HAIs di unit-unit pelayanan kesehatan Katolik.
  • Mampu me,nerapkan pemakaian antibiotika yang rasional di unit-unit pelayanan kesehatan Katolik.

3. PESERTA

Sebanyak 53 orang mengikuti pelatihan PPI Dasar yang diadakan selama tiga hari ini. Terdiri dari :

  • 8 orang adalah dokter,
  • I orang dokter gigi,
  • 30 orang perawat,
  • 3 orang bidan
  • I orang apoteker
  • I orang rekam medis (RMIK)
  • I orang tenaga kesehatan masyarakat (SKM)
  • I orang analis medis
  • 7 orang dengan latar belakang lainnya (teknik, akuntansi, dll)

4. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN :

Waktu Pelaksanaan : 27 s/d 29 Oktober 2016

Tempat Pelaksanaan : Rumah Reffeat SSPS Kupang

5. MATERI PELATIHAN

  • Kebijakan Kemkes dalam PPI
  • Konsep dasarHAls danprogram PPI
  • Konsep patient safety di pelayanan kesehaan
  • Konsep dasar kewaspadaan isolasi
  • Pemberian antibiotika rasional
  • Mikrobiologi dasar
  • Perlindungan petugas kesehatan
  • Kebersihan tangan
  • Penggunaan APD
  • Pernbrosesan alat kesehatan
  • Manajemen linen & laundry di RS
  • Manajernen lingkungan nrmah sakit
  • PPI HAIs IADP
  • PPI HAIs ISK
  • PPI HAIs VAP
  • PPI HAIs IDO
  • Surveilans HAIs
  • Peran dan fungsi IPCN
  • Persiapan komite dalam akreditasi PPI

6. METODE

  • Pre Test dan post test
  • Presentasi, tanya jawab dan diskusi
  • Praktik tapangan di ruangan RS
  • Presentasi hasil kunjungan

7. NARASUMBER

  • Ronald kwanto, SpPD-IQTI
  • Azi,za Ariyani, Sp.PK.
  • Costy Pandjaitan, CVRN., SKM., MARS., Ph.D.

8. OUTPUT

  • Menurunkan angka infeksi di Rumah Sakit/Klinik
  • Meningkatkan kemampuan melaksanakan PPI dan surveilans
  • Menunrnkan LOS, Meningkatkan BOR.
  • Meningkatkan pendapatan Rumah Sakit dan Klinik
  • Meningkatkan kepuasan Pasien & Masyarakat akan layanan yang bermutu.

Dilaporkan oleh : Panitia Pelaksana Pelatihan PPI Kupang

Pelatihan Perawatan, Dukungan & Pengobatan (PDP) atau Care, Support & Treatment (CST)

Pelatihan Perawatan, Dukungan & Pengobatan (PDP)

Atau Care, Support & Treatment (CST) Pasien HIV/AIDS

RS Anggota PERDHAKI Wilayah KEUSKUPAN di NTT

 foto-hiv

Latar belakang

Program HIV/AIDS Perdhaki telah melaksanakan serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan HIV/AIDS yaitu mulai dari Kegiatan Sosialisasi Penanggulangan  HIV/AIDS kepada Pimpinan Tarekat dan Pimpinan Unit Pelayanan Kesehatan  (UPK) Anggota Perdhaki di Keuskupan NTT, kemudian disusul dengan kegiatan Pelatihan PITC (Provider Initiating Test  & Counselling) bagi Tenaga Kesehatan UPK, Sosialisasi Penanggulangan HIV/AIDS kepada Orang Muda Katolik di Kevikepan Ende, Pelatihan Recording & Reporting HIV/AIDS dengan metode online (RR SIHA) dan Sosialisasi Penanggulangan HIV/AIDS bagi para Tokoh Agama di Keuskupan Atambua.

Sebagai Tindak Lanjut dari Kegiatan Pelatihan PITC dan Pelatihan RR SIHA  bagi Tenaga Kesehatan UPK, maka Perdhaki bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi melibatkan 5 RS Anggota Perdhaki Wilayah Keuskupan NTT yaitu RS ST Rafael-Cancar, RS St Antonius-Jopu, RS St Elisabeth-Lela, RS St Gabriel-Kewapante, RS Marianum-Halilulik, Atambua untuk ikut dalam Pelatihan CST tersebut.

 

Tujuan

Kelima RS ini akan menjadi RS Rujukan bagi Pasien HIV/AIDS dari Klinik/BP didekatnya dan masyarakat di wilayah Parokinya masing-masing.  Pelayanan yang diberikan mulai dari pemeriksaan/test HIV, memberikan Konseling VCT dan memberikan pengobatan dengan Anti Retro Viral/ARV Terapi, bekerjasama dengan Dinas Kesehatan setempat (RSUD / Puskesmas).

Sehubungan dengan hal tersebut diatas maka ke lima RS telah mengirimkan Tenaga Kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, Farmasi untuk mengikuti Pelatihan CST, yang diselenggarakan oleh KPA Provinsi & KPA Kabupaten Maumere, pada tanggal 17-21 Oktober 2016 di Hotel Sylvia Maumere.

Tentunya masing-masing peserta mempunyai pengalaman yang sama dan mungkin ada pula yang  lebih berkesan selama mengikuti Pelatihan tersebut.

Untuk itu kami meminta masing-masing RS menulis pengalaman mereka selama Pelatihan tersebut.

Berikut ini kami sajikan tulisan para peserta Pelatihan dari masing-masing RS (4 RS Anggota Perdhaki Wilayah Keuskupan NTT)

I. St. Gabriel, Kewapante

A. Latar Belakang

Penggunaan obat antiretroviral (ARV) hanya untuk menekan jumlah virus dalam darah, meskipun belum mampu menyembuhkan HIV secara menyeluruh.Therapi ARV menurunkan angka kematian dan kesakitan, meningkatkan kualitas hidup ODHA, dan meningkatkan harapan masyarakat, sehingga HIV/AIDS diterima sebagai penyakit yang dapat dikendalikan dan tidak dianggap sebagai penyakit yang menakutkan.

Terdapat banyak survei yang menunjukan bahwa kebutuhan utama dari ODHA adalah pengobatan, dan untuk menjaga efektifitasnya, obat ARV harus dikonsumsi secara terus menerus (seumur hidup) dan diperoleh secara Cuma-Cuma, namun banyak berdampak pada hidup dalam hal kepatuhan dan resistensi, serta efek samping.

Beberapa ahli menganggap bahwa bila lupa minum obat lebih dari dua kali dalam sebulan maka virus HIV akan resisten terhadap obat ARV yang kita pakai, sehingga menjadi tidak efekif. Efek samping ARV merupakan salah satu faktor penghambat kepatuhan minum obat, seperti mual, muntah, diare, dan/atau sakit kepala yang berat, sehingga membuat banyak ODHA yang putus obat.

Dengan adanya masalah-masalah tersebut dituntut adanya penguatan dan pengembangan layanan kesehatan terkait HIV/AIDS termasuk layanan CST (Care, Support and Treatment), sehingga dapat menumbuhkan kesadaran dan rasa percaya diri bagi ODHA.

B. Tujuan

Tujuan pelatihan perawatan, dukungan, dan pengobatan

  • Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan klinis dalam memberikan pelayanan kepada ODHA secara komprehensif dan berkesinambungan.
  • Mengoptimalkan hasil pengobatan dan pencegahan, serta mengurangi resiko penularan terhadap ODHA
  • Mampu menganalisa dampak HIV/AIDS terhadap keluarga, lingkungan dan masyarakat serta penanganan
  • Mampu melakukan Asuhan Keperawatan bagi ODHA
  • Membina hubungan saling percaya dan memberikan kenyamanan bagi ODHA

C. Materi

Materi Dasar

  • Epidemiologi dan Kebijakan Nasional Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia.
  • Layanan Komprehensif Berkesinambungan
  • Sexual Orientation, Gender Identity, Expression and Body (SOGIEB), Stigma dan Diskriminasi

Materi Inti untuk Dokter

  • Konseling dan Tes HIV (KT HIV)
  • Patogenesis dan Patofisiologis HIV/AIDS
  • Tatalaksana HIV/AIDS
  • Strategi Testing (Test Algoritm)
  • Pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) & PP
  • Koinfeksi TB-HIV & provilaksis INH
  • Infeksi Oportunistik dan pengobatannya
  • Efek samping Obat ARV &Tatalaksananya
  • Interaksi Obat ARV
  • Monitoring klinis dan Laboratorium ARV
  • Prevention of Mother-to Child Transmission (PMTCT) & HIV Anak (MTBP & MTBS)
  • Penatalaksanaan IRIS

Materi Inti untuk Perawat

  • Konseling dan Tes HIV (KT HIV)
  • Patogenesis dan patofisiologis HIV/AIDS
  • Informasi dasar HIV/AIDS dan Stadium Klinis
  • Asuhan Keperawatan bagi ODHA
  • Kewaspadaan universal dan profilaksis paska pajanan
  • Pengertian, klasifikasi ARV, adherence dan resistensi pada ART
  • Perawatan berbasis masyarakat dan perawatan berbasis rumah
  • Dukungan Gizi bagi ODHA

Materi Inti untuk Petugas Farmasi

  • Informasi dasar HIV/AIDS dan stadium klinis
  • Konseling dan tes HIV (KT HIV)
  • Penggolongan dan mekanisme kerja ARV
  • Konsep dasar ART & 4S
  • Pengkajian dan pelayanan resep ARV
  • Pengelolaan ARV (Management Logistik)
  • Efek samping Obat ARV, Infeksi Oportunistik, dan PIMS
  • Laporan

D. Narasumber/ Fasililtator

  • Husein Pancratius R
  • Theresia Sarlyn Ralo, MPH
  • Asep Purnama, Sp.PD
  • Adrian Rusli, Sp.P
  • Maria Magdalena Osta
  • Yenny Tju, S.Si, Apt.
  • Setyawati, S.Kep.,Ns

E. Peserta

No.

 

Asal Kabupaten& Rumah Sakit Peserta
Dokter Perawat Farmasi
1. Kab. Manggarai Barat,

RSUD Komodo

1 1 1
2. Kab. Manggarai,

RS. St. Rafael cancar

1 1 1
3. Kab. Manggarai Timur,

Puskesmas Borong

1 1 1
4. Kab. Ngada,

RSUD Bajawa

1 1

 

5. Kab. Nagekeo,

Puskesmas Danga

1 1 1
6. Kab. Ende,

RSUD Ende

RS St Antonius-Jopu

1

 

1

 

1

 

1

 

 

7.

Kab. Sikka,

RSUD. TC. Hillers

1
RSU. St. Gabriel Kewapante 1 1 1
RS. St. Elisabeth Lela 1 1
Puskesmas Waipare 1 1 1
8. Kab. Flores Timur,

RSUD. Larantuka

1
9. Kab. Lembata,

RSUD. Lewoleba

1 1 1
10. Kab. Alor,

RSUD. Kalabahi

1 1 1
11. Kab. Belu,

RS. Marianum

1 1 1
Total 13 12 12

 

F. Tempat dan Waktu

Tempat : Hotel Silvia – Maumere, Kab. Sikka

Waktu   : Tanggal 17 – 21 Oktober 2016

G. Pembiayaan

Biaya pelatihan bersumber dari APBD Provinsi NTT Tahun Anggaran 2016 untuk pos Hibah Sekretariat KPA Provinsi NTT.

H. Penutup

  1. Harapan
  • Semoga dengan kegiatan peltihan CST (Care, Support & Treatment) ini, dapat memberikan dampak positif bagi ODHA dan lebih mudah mengetahui status HIV mereka, sehingga dengan penuh kesadaran dan kesukarelaan untuk mencari dan mendapatkan layanan dalam hal pencegahan, pengobatan, perawatan dan dukungan terkait HIV dan terlindung dari stigma, diskriminasi dan kekerasan.
  • Membuka layanan VCT (voluntery conseling and testing) dan menjalin hubungan kerjasama dengan semua pihak dalam pemberian dukungan dan pengobatan bagi ODHA.
  1. Kesan
  • Kegiatan pelatihan care, support & treatment (CST) sangat membantu, karena disini kita dapat mempelajari dan mengetahui bagaimana cara yang efektif dalam memberikan dukungan, konseling tes HIV dan pengobatannya serta penerapan komunikasi therapeutik.

Sebagai Rumah Sakit Anggota Perdhaki, Pelatihan CST ini merupakan pintu masuk untuk memulai Pelayanan bagi para ODHA yang selama ini harus menjalani pengobatan yang jauh di RSUD karena tidak tersedianya RDT dan ARV di Rumah Sakit Swasta. Kami berterimakasih kepada pihak Perdhaki yang telah melakukan advokasi yang baik kepada Pemerintah Daerah Propinsi NTT dan Kabupaten/Kota Se- NTT sehingga Rumah Sakit Anggota Perdhaki di NTT mendapatkan prioritas untuk Pelatihan CST ini.

Dilaporkan oleh Sr. Yustina Wela SSpS

II. St. Antonius, Jopu :

Pada Pelatihan Perawatan,  Dukungan dan Pengobatan Pasien dengan HIV tanggal 17 – 21 Oktober 2016; saat pembukaan Dr. Husin memaparkan hasil temuan kasus di NTT adalah AIDS lebih banyak dari pada HIV. Hal ini menggambarkan betapa rendahnya usaha penemuan kasus HIV di NTT. Besar harapan dengan terlibatnya unit perdhaki dalam pelatihan ini penemuan kasus HIV makin meningkat, makin banyak pasien HIV yang diobati sehingga potensial penularan makin rendah.

Pelatihan ini diikuti oleh Dokter, Perawat dan Farmasi dari 13 RS se NTT (Pemerintah dan lima RS swasta dari unit Perdhaki yang ada di NTT). Fasilitator dengan setia dan sabar mendampingi kami agar lebih mengerti tentang patogenesis, stadium klinis, VCT, PITC, Pemeriksaan Laboratorium dan pengobatan yang akan diberikan pada pasien HIV. Pada akhir pelatihan kami membuat komitmen untuk bekerja sama baik swasta maupun pemerintah untuk menjaring kasus HIV dengan dukungan distribusi reagen dan ARV yang cukup kepada rumah sakit yang berupaya untuk menemukan kasus lebih aktif.

Untuk Perdhaki KAE akan dilakukan sosialisasi pada tanggal 20 November 2016 tentang HIV, besar harapan agar Rumah Sakit Santo Antonius Jopu menjadi pionir bagi unit kecil sehingga penemuan kasus lebih banyak dan makin banyak ODHA mendapat ARV, penularan menjadi lebih sedikit serta kualitas hidup para ODHA menjadi lebih baik. Semoga Tuhan memberkati niat baik para pelayan Allah yang setia mencariNya dalam diri sesama yang menderita.

Dilaporkan  oleh dr. Maria Goretti Aran

 

 III. Marianum, Halilulik :

Pendahuluan

Dengan rasa syukur dan terima kasih menyampaikan bahwa kami telah mengikuti Pelatihan CST / PDP dalam pelayanan terhadap orang dengan HIV dan AIDS di Hotel Sylvia Maumere mulai tanggal 17 – 21 Oktober 2016.

Kita sering mendengar bahwa “AIDS” tidak dapat diobati. Ini sebetulnya salah ! Sekarang sudah ada obat yang dapat menekan Jumlah HIV, virus penyebab AIDS, di tubuh kita. Dengan penggunaan  obat ini, ada harapan  HIV tidak ditemukan lagi di dalam darah kita, walaupun masih ada virus di tempat persembunyian lain di tubuh. Kita tidak tahu kemana untuk mencari informasi yang benar mengenai pengobatan ini dan siapa yang bisa membantu kita mengambil keputusan apakah kita sebaiknya mulai pengobatan. Kami berterima kasih, karena dengan diadakannya pelatihan ini kami selaku tenaga kesehatan dapat membantu para pasien ODHA (orang dengan HIV dan AIDS) untuk mendapatkan kehidupan yang layak secara natural. Kami berterima kasih pula kepada KPA Provinsi NTT yang bekerja sama denga Dinas kesehatan Provinsi NTT dalam melaksanakan kegiatan ini, Kami juga berterima kasih kepada  Bapak Uskup Atambua yang telah memilih dan mempercayai Rumah sakit katolik Marianum Halilulik menjadi rumah sakit pengobatan pasien ODHA.

Dengan mengikuti pelatihan ini kami merasa senang karena kami diberikan kesempatan untuk melakukan konseling secara langsung dengan pasien ODHA dan dapat Berbagi pengalaman dengan teman-teman dari Rumah sakit lain, karena ada RS dan puskesmas yang sudah memulai pengobatan sehingga kami dapat  berbagi pengalaman dengan mereka.

Proses Pelaksanaan

   Pelatihan CST / PDP dalam pelayanan terhadap orang dengan HIV and AIDS ini merupakan salah satu kegiatan yang diadakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS NTT untuk membantu para pasien ODHA sehingga tidak menyebarkan virus baru kepada masyarakat sekitar, mengurangi tingkat kematian, stigma dan diskriminasi.

Pelatihan ini diadakan di Maumere selama 1 minggu yang dihadiri oleh seorang Narasumber dari salah satu RS Internasional pencegah infeksi di Jakarta. Jumlah peserta dalam pelatihan ini ialah 37 orang. Selama pelatihan ini para peserta dibagi menurut kelasnya masing-masing. Kelas dokter dengan jumlah peserta 13 orang, kelas perawat 12 orang dan kelas farmasi 12 orang. Masing-masing kelas melaksanakan tugas sesuai jadwal yang telah ditentukan bersama. Adapun kegiatan yang dilakukan ialah  menerima materi dari pukul 08.00-17.00 WIB, mereview materi yang telah diterima setiap pagi dan melakukan konseling secara langsung dengan pasien ODHA.

Didalam pelatihan ini pula kami dilatih untuk bekerja dalam tim dengan bersikap jujur, berani bertanggung jawab sehingga dapat menggurangi stigma dan diskriminasi pada ODHA karena para ODHA pun membutuhkan kehidupan yang layak secara natural.

Selama pelatihan ini dr.Adrian, Ibu Yeni, Ibu Wati dari Jakarta  selaku Narasumber dengan setia membimbing dan menyajikan materi-materi pelatihan dengan baik sehingga kami merasa 1 minggu dalam pelatihan ini masih sangat kurang. Selain itu banyaknya tanggapan , pertanyaan, sharing pengalaman dengan teman-teman dari Rumah sakit lain maka rasanya waktu pelatihan setiap harinya padat. Pada hari pertama memang terlihat kurang aktif terlibat, malu, ragu dan disaat melakukan pre-test para peserta mendapat nilai dibawah standar. Namun setelah pada akhir pelatihan diadakan evaluasi dan post-test para peserta mendapat peningkatan nilai  dan yang terlihat kurang aktif, malu dan ragu berubah menjadi lebih aktif.

HIV dan AIDS melumpuhkan sistem kekebalan tubuh kita. Namun tidak perlu kita merasa resah, takut karena sekarang ada obat baru yang dapat memperpanjang hidup dan/atau meningkatkan mutu hidup ODHA. Jangan malu untuk melakukan tes ! Lindungi keluarga anda dengan tes HIV. Terima Kasih, Kasih Karunia Allah beserta  kita semua.

RSKM Halilulik, 07 November 2016

Lau Fabianus, Petronela M.D Akoit,S.Farm,Apt, Noviana M.M Taek, Amd.Kep

 IV. St. Rafael, Cancar :

Jumlah kasus AIDS di Indonesia meningkat dari waktu ke waktu, hal ini menuntut perhatian dari semua pihak, baik dari tenaga kesehatan maupun non tenaga kesehatan seperti LSM baik oleh pemerintah maupun swasta.

KPA Propinsi NTT bersama Dinas Kesehatan propinsi  mengharapkan agar semua UPK di Lapangan bisa memberikan pelayanan kepada ODHA secara terpadu dan paripurna maka diadakan pelatihan PDP/CST bertempat di Hotel Sylvia Maumere pada tgl 17 – 21 Oktober 2016.

Para narasumber didatangkan dari Jakarta ( dr Aria SpP untuk kelas dokter, ibu Setyawati,SKep.Ns untuk kelas perawat dan ibu Yeni untuk kelas Farmasi) sedangkan dari kabupaten adalah dr Asep SpPD. Beliau memberikan arahan kepada para peserta bagaimana peran serta tenaga kesehatan di wilayah Indonesia Timur dalam mendukung setiap program kesehatan. Dr Asep menekankan bahwa Flores masih jauh dari pelayanan yang prima karena keterbatasan sarana dan prasarana dibandingkan dengan pelayanan di Pulau Jawa, maka tenaga kesehatanlah yang diharapkan aktif untuk bergerak menemukan dan mengatasi masalah kesehatan di Flores

Para peserta berjumlah 37 orang berasal dari daratan Flores, Lembata dan Timor, dari beberapa Puskesmas dan Rumah sakit. Ada 5 RS ( 14 orang ) anggota Perdhaki yang dilibatkan dalam pelatihan ini yaitu: RS Marianum-Halilulik, RS St Antonius-Jopu, RS St Elisabeth-Lela, RS St Gabriel-Kewapante dan RS St Rafael-Cancar.

Meskipun jadwal pelatihan cukup padat tetapi Para Narasumber dan peserta dengan antusias mengikuti seluruh kegiatan pelatihan. Kami bertekat untuk berperan aktif dalam pelayanan HIV AIDS di unit masing masing. Hal ini didukung oleh KPA Propinsi dan Dinas kesehatan Propinsi yang akan mensuplay logisitik khususnya reagen dan Alat Pelindung Diri (APD) lainnya.

Dilaporkan oleh : Sr dr Maria Naki

 

Itulah pengalaman teman-teman di rumah sakit setelah mengikuti Pelatihan CST di Maumere. Semoga tulisan/sharing pengalaman ini dapat berguna bagi kita semua.

Terima kasih kami ucapkan kepada teman-teman dari 4 RS Anggota Perdhaki Wilayah Keuskupan NTT yang telah bersedia membagikan pengalaman  ini untuk kita semua. (JF)

 

foto-hiv

Increasing HIV cases among mothers and babies : what should we do ?

HIV and AIDS is a pandemic that cause health effects   Socio-economic and political.

Cases of people infected with HIV / AIDS in the Islands Province, East Nusa Tenggara (NTT) increased over time, like an iceberg phenomenon, which is troubling the people.

Until the August 2016, person with (PLWHA) most are housewives (IRT), which is 780 people, following the second private sector workers 610 people, farmers 410 people, as well as commercial sex workers (CSWs) 155 people. It was submitted Daily administrators KPA NTT, Gusti Brewon. And   105 babies in East Nusa Tenggara (NTT) was detected suffering from Human Immunodeficiency Virus (HIV) .     Of this amount, most are in the city of Kupang and Belu district, the rest are scattered in other districts in the province based on   these islands.

Cases were first discovered in Belu district in 2004.

HIV-AIDS cases in Belu until the month of August 2016, amounted to 764 cases could be identified. Only data from January 2016 until August 2016, there is the addition of 73 cases, (recorded HIV and AIDS 41 32 total 73).

Noted, the risk of transmission is still dominated housewife, totaling 312 people.             Belu regencies consists of 12 districts. The entire District in Belu had been infected with this deadly disease.

On 7th September, PERDHAKI disseminate HIV / AIDS to the Religious Leaders. These  event, was attended by the Bishop  of  Diocese    Atambua.

At the last event, there are testimonials from people living with HIV   (PLWHA)  One testimonial giver is a child who was 9 years   old. He was still in elementary school. Both the child’s parents have died of HIV / AIDS, when the child was an infant (aged 2 months) He was brought  up and nurtured  by her grandmother.

In an effort to reduce the number of transmission of HIV/ AIDS in Belu  regency  from spreading,need to build intersectoral partnering, among  religious institutions, inter-Social Organization (NGO), together hand in hand, tackling the deadly disease.

Hidh incidence HIV/AIDS  in NTT, especially in the group of  housewives, would threatenfuture generations,  it is  likely  transmit  the virus to the  baby thet will  be born. (gr 4 )

Sekretary of the National AIDS Commission ( KPA) NTT, dr Husein Pancratius said, in the last 10 years ( 2005 – 2015 ) as many as 1062 residents NTT died because of  HIV/AIDS. These  are People  with HIV who were registered while those not recorded, the number are still very much more   numerous than the data that got from the Health Office. Furthermore he said that people with HIV/IDS ( PLWHA), majority  aged between 20 and 35 Years old ( 10 percent of patients with HIV/AIDS  adolesence)

Tnat’s  why  “ sosialization need to be held in schools, villages, groups at risk, community Organization  and religious  institutions.

Now we make the mapping  of the spread  of HIV/AIDS in the Belu Regency, especially among the housewives,  we  would like to strengthen these group   with give them awareness about   the condition and situation, so  they  be able to perform action to  prevent  transmission the HIV virus from others.

We hope,   be able to  eradicate the virus  HIV by the year 2050.

            Cumulative number of cases of HIV /AIDS  in NTT  – 2012 ( in 22 districts) ( graf.1)

The  spread of HIV / AIDS  in NTT is  extremely fast.   In Belu Regency  we can see,  untill August   2016   the number of HIV/AIDS cases  are  949.

                The cumulative  number of  HIV/AIDS cases in Belu Regency   till  August 2016.( graf.2)

gbr-1

Para tokoh Agama peserta sosialisasi HIV AIDS di Keuskupan Atambua.

gbr-2

Para tokoh Agama peserta sosialisasi HIV AIDS di Keuskupan Atambua

gbr-3

(Rasti, 9th) foto bersama Bapa Uskup Mgr. Dominikus Saku dan Sekretaris KPA Prop.NTT, dr.Husein Pancratius

gbr-4

(Rasti, 9th) sedang memberikan testimoni di pandu Sr.Margaretha,FSGM dari Perdhaki Pusat