Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-27 2019

11 Februari 2019

“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” (Mat.10:8)

Saudara dan saudari yang terkasih,

“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat.10:8). Inilah kata-kata yang diucapkan Yesus ketika mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan Kabar Gembira, dengan demikian Kerajaan-Nya dapat tumbuh melalui karya-karya kasih yang tulus.

Pada Hari Orang Sakit Sedunia yang ke-27 ini, yang akan dirayakan dengan khidmat pada tanggal 11 Februari 2019 di Calcuta, India, Gereja – sebagai ibu bagi semua anak-anaknya, khususnya yang lemah – mengingatkan kita bahwa tindakan murah hati seperti Orang Samaria yang baik adalah cara pewartaan Injil yang paling meyakinkan. Merawat orang sakit menuntut sikap profesionalisme, kelemahlembutan, sikap terbuka dan sederhana yang diberikan secara bebas, seperti sentuhan yang membuat orang lain merasa dicintai.

Hidup adalah karunia dari Tuhan. Santo Paulus bertanya: “Apakah yang engkau miliki, yang tidak engkau terima?” (1Kor. 4:7). Tepatnya karena hidup adalah karunia, hidup manusia tidak dapat diartikan secara sempit menjadi sekedar barang milik pribadi atau kekayaan pribadi, khususnya jika ditinjau dari kemajuan medis dan bioteknologi yang dapat menggoda kita untuk memanipulasi “pohon kehidupan” (bdk. Kej. 3:24).

Di tengah-tengah budaya pemborosan dan ketidakpedulian zaman ini, saya akan menunjukkan bahwa “karunia” adalah kategori yang paling tepat untuk menggambarkan tantangan individualisme dan keretakan sosial yang terjadi dewasa ini, sementara di saat yang sama usaha untuk mengembangkan hubungan baru dan cara-cara bekerjasama antar manusia dan budaya. Dialog – dasar pikiran dari karunia – menciptakan kemungkinan-kemungkinan bagi pertumbuhan dan perkembangan yang membuat manusia mampu mendobrak kemapanan-kemapanan penggunaan kekuasaan di dalam masyarakat. “Karunia” berarti lebih dari sekedar memberi hadiah-hadiah: karunia melibatkan pemberian diri sendiri dan bukan sekedar menyalurkan kekayaan atau barang-barang. “Karunia” berbeda dengan pemberian hadiah sebab karunia merupakan pemberian diri secara cuma-cuma dan hasrat untuk membangun hubungan dengan sesama. Karunia adalah pengakuan keberadaan orang lain, yang merupakan dasar dari masyarakat. “Karunia” adalah cerminan dari Kasih Allah, yang mencapai puncaknya di dalam penjelmaan Putera dan pencurahan Roh Kudus.

Kita masing-masing adalah kaum miskin, kekurangan dan papa. Ketika kita lahir, kita membutuhkan pemeliharaan dari orang tua kita untuk bertahan hidup, dan pada setiap tahap kehidupan dalam beberapa hal kita tetap tergantung pada bantuan orang lain. Kita seharusnya selalu sadar akan keterbatasan kita, sebagai “makhluk ciptaan”, di hadapan individu-individu dan situasi-situasi lain. Pengakuan yang jujur akan kebenaran ini membuat kita rendah hati dan memacu kita untuk mengamalkan solidaritas sebagai nilai dasar di dalam hidup.

Pengakuan itu menuntun kita untuk bertindak dengan bertanggung jawab untuk meningkatkan kebaikan secara pribadi maupun bersama. Hanya jika kita melihat diri kita sendiri, bukan sebagai dunia yang terpisah, tetapi di dalam jalinan hubungan persaudaraan dengan orang lain, kita dapat mengembangkan gerakan solidaritas dalam masyarakat yang mengarah pada kebaikan bersama. Kita tidak perlu takut memandang diri sendiri sebagai orang yang kekurangan atau tergantung pada orang lain, sebab sebagai individu dengan usaha-usaha sendiri kita tidak dapat mengatasi keterbatasan-keterbatasan kita. Karena itu, kita tidak perlu takut, lalu, mengakui keterbatasan-keterbatasan itu, karena Allah sendiri, di dalam Yesus, telah merendahkan diri-Nya mendatangi kita manusia (bdk. Fil.2:8) dan sampai sekarang terus melakukannya; di dalam kemiskinan kita, Dia datang membantu kita dan memberi kita karunia-karunia yang melampaui bayangan kita.

Melalui perayaan yang khidmat di India, saya akan mengenang, dengan sukacita dan rasa kagum, tokoh Santa Bunda Teresa dari Calcuta – teladan kemurahan hati yang menampakkan kasih Allah menjadi nyata bagi orang-orang miskin dan sakit. Sebagaimana saya ungkapkan pada kanonisasinya, “Bunda Teresa, di dalam semua aspek hidupnya, adalah penyalur rahmat Allah yang murah hati, menjadikan dirinya ada bagi setiap orang melalui sambutannya dan pembelaannya akan hidup manusia, dari mereka yang belum lahir, yang tersisihkan dan terbuang. Dia membungkuk merangkul mereka yang tidak berdaya, yang dibiarkan sekarat di pinggir jalan, menemukan kebesaran Tuhan dalam diri mereka; dia membuat suaranya didengar di hadapan penguasa dunia ini, supaya mereka menyadari kesalahan mereka karena telah melakukan kejahatan – ya kejahatan-kejahatan! – kemiskinan yang mereka ciptakan. Bagi Bunda Teresa, belas kasih adalah ‘garam’ yang memberi citarasa pada karyanya; yang merupakan ‘cahaya’ yang bersinar di dalam kegelapan yang dialami banyak orang yang tidak lagi memiliki air mata untuk diteteskan karena kemiskinan dan penderitaan mereka. Misinya ke daerah perkotaan dan daerah pinggiran bagi kita saat ini tetap merupakan wujud nyata kedekatan Tuhan terhadap orang-orang yang termiskin dari yang miskin” (Homili, 4 September 2016).

Santa Bunda Teresa membantu kita memahami bahwa pedoman dari karya kita haruslah kasih tanpa pamrih bagi setiap manusia, tanpa membedakan bahasa, budaya, suku atau agama. Teladannya terus menerus menuntun kita dengan membuka wawasan sukacita dan harapan bagi semua yang membutuhkan pengertian dan kasih yang lembut dan terutama bagi mereka yang menderita.

Kemurahan hati mengilhami dan mendukung karya dari banyak sukarelawan yang begitu penting di dalam perawatan kesehatan dan yang secara nyata mewujudkan semangat Orang Samaria yang baik hati. Saya menyampaikan terima kasih saya dan memberikan dorongan semangat kepada semua perkumpulan sukarelawan yang dengan sungguh-sungguh mengangkut dan membantu pasien, dan semua yang mengatur donor darah, donor jaringan maupun organ-organ tubuh. Satu wilayah khusus tempat kehadiran Anda yang mengungkapkan kepedulian dan keprihatinan Gereja adalah pembelaan hak-hak orang sakit, terutama mereka yang menderita penyakit membutuhkan bantuan khusus. Saya juga menghargai banyak upaya yang telah dilakukan untuk membangkitkan kesadaran mengenai kesehatan dan mendorong upaya pencegahan penyakit. Karya sukarela Anda di dalam lembaga medis dan di rumah-rumah, yang mulai dari menyediakan perawatan kesehatan sampai menawarkan bantuan rohani, adalah penting sekali. Tak terhitung berapa banyak orang yang sakit, sendirian, lanjut usia atau lemah pikiran atau fisik yang memperoleh manfaat dari pelayanan-pelayanan ini. Saya memohon dengan sangat kepada Anda sekalian untuk terus menjadi tanda kehadiran Gereja di dalam dunia yang semakin sekuler-duniawi. Para sukarelawan adalah sahabat yang dengannya seseorang dapat berbagi pikiran dan perasaan pribadi; yang dengan sabar mendengarkan mereka, para sukarelawan membuka kemungkinan bagi orang sakit untuk berubah dari penerima pelayanan yang pasif menjadi partisipan yang aktif dalam hubungan yang dapat mengembalikan harapan dan mengilhami keterbukaan untuk mengusahakan perawatan lebih lanjut. Karya sukarelawan memberikan nilai-nilai, perilaku-perilaku dan cara-cara hidup yang bersumber dari hasrat terdalam untuk berbuat murah hati. Karya sukarelawan juga merupakan sarana yang menjadikan perawatan kesehatan lebih manusiawi.

Semangat kemurahan hati seharusnya secara khusus mengilhami lembaga perawatan kesehatan Katolik, di wilayah yang lebih berkembang atau di wilayah yang lebih miskin di dunia kita, karena mereka melaksanakan kegiatan mereka dengan berpedoman pada Injil. Lembaga-lembaga kesehatan Katolik dipanggil untuk memberi teladan pemberian diri, kemurahan hati dan solidaritas dalam menanggapi mentalitas mencari keuntungan dengan mengorbankan segi-segi kehidupan yang lain, memberi dengan pamrih, dan mendapatkan manfaat dari sesama serta mengabaikan keprihatinan kepada manusia.

Saya meminta dengan sepenuh hati kepada setiap orang, di setiap tingkatan dalam masyarakat, untuk mengembangkan budaya kemurahan hati dan karunia, yang sangat diperlukan untuk mengatasi budaya mencari untung dan pemborosan. Lembaga-lembaga perawatan kesehatan Katolik tidak boleh terjebak ke dalam perangkap hanya sekedar menjadi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan. Mereka harus memiliki keprihatinan pada perawatan individu manusia lebih dari sekedar mencari keuntungan. Kita sadar bahwa kesehatan itu berhubungan, tergantung pada interaksi dengan orang lain, menuntut kepercayaan, persahabatan dan solidaritas. Kesehatan adalah harta yang dapat dinikmati secara penuh hanya ketika dibagikan. Sukacita memberi dengan murah hati adalah tolok ukur kesehatan dari orang-orang Kristiani.

Saya mempercayakan Anda semua kepada Maria, Keselamatan Orang Sakit (Salus Infirmorum). Semoga Maria membantu kita untuk berbagi karunia-karunia yang telah kita terima di dalam semangat dialog dan saling menerima untuk hidup sebagai saudara dan saudari dengan saling memperhatikan kebutuhan sesama, memberi dengan murah hati, dan memahami sukacita dari kesediaan untuk melayani sesama tanpa pamrih. Dengan penuh kasih, saya menjamin kedekatan saya dengan Anda dalam doa, dan dengan penuh rasa hormat saya sampaikan Berkat Apostolik kepada Anda semua.

Vatikan, 25 November 2018

Hari Raya Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam

Fransiskus

HOSS 2019 – Booklet Pesan Paus – Liturgi – Doa by Komsos – AG et al. on Scribd

Pengembangan Program Percepatan Perbaikan Gizi bagi Remaja

Masalah Gizi di Indonesia mencapai kondisi yang memerlukan perhatian yang sangat serius. Hal ini disebabkan oleh karena masalah gizi dan akibatnya mengenai semua kelompok umur, mulai dari remaja, ibu hamil, bayi, anak, dewasa dan lansia. Yang menjadi perhatian saat ini adalah bahwa ternyata masalah gizi yang terjadi sejak masa dalam kandungan dan 2 tahun pertama kehidupan mempunyai dampak serius yang akibatnya seringkali terbawa sampai usia dewasa. Akibat dari kekurangan gizi pada masa dini tersebut, atau 1000 hari pertama kehidupan, selain akan menyebabkan anak tumbuh pendek (stunting), anak juga akan mengalami hambatan pertumbuhan otak dan organ tubuh lainnya, sehingga menyebabkan kurang optimalnya perkembangan kecerdasan.

Oleh karena itu, upaya perbaikan gizi harus dimulai sejak remaja, terutama remaja puteri, karena merekalah yang akan mengandung dan mengasuh generasi penerus bangsa. Salah satu upaya yang strategis adalah melalui perbaikan pengetahuan, sikap dan praktek gizi siswa di institusi pendidikan berbasis agama, termasuk pesantren, dan Lembaga keagamaan lainnya.

PERDHAKI dengan dukungan dari PDGMI dan PT Otsuka Indonesia, telah melakukan kerjasama dengan Perdhaki Wilayah Jabar – Banten untuk melakukan pelatihan pelatih sedemikian rupa, agar mereka kemudian menjadi pelatih yang dapat melakukan penyuluhan dan mengubah pengetahuan, sikap dan praktek bagi remaja yang ada di wilayah binaan

Piagam Penghargaan

Piagam Penghargaan

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memberikan apresiasi serta ucapan terima kasih kepada relawan yang telah mengabdi dalam penanggulangan krisis kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pada acara Hari Kesehatan Nasional telah dberikan piagam penghargaan secara simbolis kepada perwakilan lembaga. Dr. Felix Gunawan mewakili PERDHAKI, hadir sebagai salah satu penerima piagam yang diberikan pada Kamis, 8 November 2018 bertempat di Indonesian Convention Exhibition (ICE BSD) Jl. BSD Grand Boulevard No. I, BSD City, Tanggerang, Banten.

Piagam penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI

Advokasi oleh Program Malaria PERDHAKI di Kabupaten Lembata

Advokasi oleh Program Malaria PERDHAKI di Kabupaten Lembata

Program Malaria PERDHAKI di Kabupaten Lembata sudah dijalankan sejak tahun 2015 oleh Sub Sub Recipient (SSR) Yayasan Papa Miskin Dekenat (YPMD) Lembata dan sejak awal tahun 2018, terbentuklah SSR YPMD Lembata II untuk proses akselerasi dan percepatan eliminasi malaria di Kabupaten Lembata. SSR ini telah merancang dan melaksanakan berbagai program dan inovasi yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat dan melibatkan berbagai stakeholder untuk menurunkan angka kesakitan malaria di Kabupaten Lembata. Hingga saat ini, SSR YPMD Lembata I dan II telah bekerja di 10 desa yang tersebar di 9 Kecamatan dan mengembangkan berbagai inovasi berbasis Participatory, Learning and Action (PLA) dalam menumbuhkan kepedulian masyarakat atas tingginya angka kesakitan malaria di Kabupaten Lembata. Lebih jauh, dengan melibatkan berbagai stakeholder seperti NGO/CSO yang berada di Kabupaten dan sejumlah instansi di lingkup Pemda Kabupaten Lembata, kedua SSR turut mendorong lahirnya Tim PLA Kabupaten Lembata yang akan menjadi motor penggerak berbagai aktivitas lintas stakeholder untuk percepatan . Selain itu, Program Malaria PERDHAKI melalui SSR yang ada di Lembata turut mendampingi 3 Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) di bawah naungan PERDHAKI untuk terlibat dalam berbagai program pemberantasan malaria dan membangun inovasi jejaring Public Private Mix bersama fasilitas kesehatan lainnya untuk bersama-sama bergerak dalam berbagai kegiatan pemberantasan malaria di Kabupaten Lembata.

Berawal dari mimpi bahwa Program Malaria PERDHAKI berkontribusi untuk eliminasi di Lembata, maka kedua SSR Yayasan Papa Miskin Dekenat Lembata berinisiatif untuk melaksanakan pertemuan advokasi percepatan eliminasi malaria di Kabupaten Lembata dengan melibatkan berbagai stakeholder Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata, Tim SABER Malaria, CSO/NGO, Tim PLA Kabupaten dan Tim Program Malaria PERDHAKI. Sehingga dengan demikian, diharapkan kerjasama dan sinergisitas dapat terbangun dan proses percepatan eliminasi dapat berjalan dengan baik menuju Lembata Sehat, Lembata Bebas Malaria. Kegiatan ini sudah berlangsung pada tanggal 23 Oktober 2018 dan output dari kegiatan ini semua stakeholder akan bekerja sama agar proses percepatan eliminasi dapat berjalan dengan baik menuju Lembata Sehata, Lembata Bebas Malaria.

SSR Yayasan Papa Miskin Dekenat Lembata I dan II juga berinisiatif untuk melaksanakan Pertemuan Advokasi dan Workshop Kebijakan dan Penganggaran Alokasi Dana Desa Untuk Bidang Kesehatan Di Kabupaten Lembata. Kegiatan ini sudah berlangsung pada tanggal 24 Oktober 2018 dan output dari kegiatan ini setiap Kepala Desa berkomitmen untuk mengalokasikan dana desa untuk Program Malaria sehingga berkontribusi untuk proses percepatan eliminasi di Lembata.

Workshop Bagi Pimpinan Unit Dalam Persiapan Akreditasi Klinik

Workshop Bagi Pimpinan Unit Dalam Persiapan Akreditasi Klinik

Untuk meningkatkan pelayanan sarana kesehatan dasar khususnya pelayanan Klinik kepada masyarakat, dilakukan berbagai upaya peningkatan mutu dan kinerja antara lain dengan pembakuan dan pengembangan sistem manajemen mutu dan upaya perbaikan kinerja yang berkesinambungan baik pelayanan klinis, program dan manajerial.

Akreditasi Klinik merupakan salah satu mekanisme regulasi yang bertujuan untuk mendorong upaya peningkatan mutu dan kinerja pelayanan Klinik yang dilakukan oleh lembaga independen yang diberikan kewenangan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Dalam pelaksanaan akreditasi dilakukan penilaian terhadap manajemen Klinik, penyelenggaraan program kesehatan, dan pelayanan klinis dengan menggunakan standar akreditasi Klinik yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Agar Klinik dapat memenuhi standar akreditasi dibutuhkan pendampingan oleh fasilitator yang kompeten agar Klinik dapat membangun sistem pelayanan klinis serta penyelenggaraan program, yang didukung oleh tata kelola yang baik dan kepemimpinan yang mempunyai komitmen yang tinggi untuk menyediakan pelayanan yang mutu, aman, dan terjangkau bagi masyarakat secara berkesinambungan.

Workshop ini bertujuan agar Pimpinan Klinik memahami kebijakan manajemen dan kebijakan akreditasi Klinik, yang meliputi :

  1. Standar akreditasi Klinik, Instrumen penilaian akrediasti Klinik,  Ketentuan penilaian dan  kelulusan akreditasi Klinik,  Langkah persiapan akreditasi Klinik,  Penyusunan dokumen akreditasi Klinik,  Tata naskah penulisan dokumen dan pengendalian dokumen.
  2. Dapat melaksanakan identifikasi dan menyiapkan dokumen-dokumen yang dipersyaratkan oleh Standar Akreditasi Klinik.
  3. Dapat melakukan Self-Assesment dengan menggunakan Instrumen Penilaian Akreditasi Klinik.

Peserta mulai check in di Aston Hotel, Kupang tanggal 23, acara berlangsung dari 24 s.d 25  September  2018 . Kegiatan Workshop dilaksanakan atas kerjasama dengan Perdhaki Wilayah Regio NTT.

Peserta yang hadir dari 24 Pimpinan UPK dan 4 Ketua Perdhaki Wilayah, sbb :

  1. Peserta dari UPK :
  • 1 orang Pimpinan BP/RB St Melania, Larat – Maluku
  • 1 orang Pimpinan Klinik St. Maria Lourdes, Kupang – Timor Barat
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Yoseph Merdeka, Kupang – Timor Barat
  • 1 orang Pimpinan Klinik Ratu Rosari, Eban – TTU, Timor Barat
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Elisabeth, Kiupukan – TTU, Timor Barat
  • 1 orang Pimpinan Klinik St.Rafael, Lahurus – Belu, Timor Barat
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Yoseph, Kefamenanu – TTU, Timor Barat
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Antonius Padua, Betun – Malaka, Timor Barat
  • 1 orang Pimpinan Klinik Karitas Homba Karipit – SBD
  • 1 orang Pimpinan Klinik Karitas Elopada, Sumba Barat
  • 1 orang Pimpinan Katitas Katikoloku, Sumba Tengah
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Yoseph, Labuan Bajo – Manggarai Barat
  • 1 orang Pimpinan BP/BKIAWejang Asi, Mano – Manggarai Timur
  • 1 orang Pimpinan Klinik Pratama Panti Nirmala, Karot – Manggarai
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Fransiskus, Aeramo – Nagekeo
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Yosef Raja, Ende
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Fransiskus Asisi, Mauara
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Elisabeth, Dekotogo – Ende
  • 1 orang Pimpinan BP Kartini, Ndona – Ende
  • 1 orang Pimpinan Klinik Pratama Martin de Porres, Ende
  • 1 orang Pimpinan BP St Rafael, Watubala – Sikka
  • 1 orang Pimpinan Klinik Pratama St. Theresia, Tabali – Larantuka
  • 1 orang Pimpinan Klinik Ratu Rosari, Kalikasa – Lembata
  • 1 orang Pimpinan Klinik Pratama Pulitoben, Adonara
  1. Peserta dari PERDHAKI WILAYAH :
  • 1 orang dari Perdhaki Wilayah Keuskupan Agung Kupang
  • 1 orang dari Perdhaki Wilayah Keuskupan Agung Atambua
  • 1 orang dari Perdhaki Wilayah Keuskupan Agung Ende
  • 1 orang dari Perdhaki Wilayah Keuskupan Weetebula

Nara Sumber :

  • 1 orang Nara Sumber dari PERDHAKI Pusat
  • 1 orang Nara sumber dari PERDHAKI Regio NTT
  • 1 orang Nara Sumber Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi

Materi yang dipresentasikan oleh Nara sumber cukup menarik sehingga membuat peserta semangat dan penuh minat untuk mengajukan pertaanyaan. Detail apa saja yang perlu dipahami dan dipersiapkan untuk langkah selanjutnya.

Sesi diskusi yang dibagi kelompok Tarekat / wilayah untuk menyusun rencana tindak lanjut, kemudian tiap kelompok menyajikan hasil diskusi.

Output

  1. Semua peserta ( 24 UPK ) akan melakukan persiapan sesuai input yang diterima, dengan RTL yang sudah di buat dalam workshop.
  2. Lima ( 5 ) Klinik akan mencoba mengajukan bimbingan teknis pada tahun 2018
  3. Sembilan belas (19) Klinik akan mengajukan bimbingan teknis pada tahun 2019
  4. Perdhaki Wilayah Kupang, Atambua, Weetebula dan Ende akan mendampingi unit yang ada di wilayah kerjanya.
  5. Survei Akreditasi 21 UPK akan dilakukan pada tahun 2019 dan 3 UPK pada tahun 2020

Catatan :  Sesuai informasi dari Dinas Kesehatan ropinsi NTT, hingga akhir Desember 2018, tim akreditasi baik kabupaten maupun Propinsi masih sibuk untuk melakukan survei akreditasi pada Puskesmas. Jadi ada kemungkinan untuk Klinik swasta baru dilakukan pada tahun 2019

Dengan semua pimpinan klinik membuat RTL sesuai langkah langkah tahapan persiapan akreditasi yang disampaikan oleh Nara sumber dari Dinas Kes Provinsi dan kesepakatan  bersama yang akan ditindak lanjuti, maka proses workshop ini  adalah sebagai awal   pembekalan  bagi  Pimpinan UPK untuk menyiapkan proses akreditasi klinik.

Foto bersama dengan peserta dan narasumber
Narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi memberikan materi

Melayani untuk Kehidupan

Gempa dengan kekuatan 6,4 SR mengguncang Lombok pada hari Minggu 29 Juli lalu. Meski tidak sampai terjadi tsunami, ratusan bangunan roboh, akses jalan terputus karena longsor, dan jatuh banyak korban luka hingga meninggal dunia. Gempa yang terjadi pukul 05.47 WIB ini juga dirasakan di Bali dan sekitarnya.

Tanpa membuang waktu, RS Katolik St. Vincentius a Paulo (RKZ Surabaya) menyiapkan tim medis untuk “turun” ke lapangan. Hanya berselang 2 (dua) hari, di hari Selasa tgl 31 Juli, tim medis RKZ sudah berada di Lombok siap mengulurkan tangan untuk meringankan penderitaan sesama yang terkena bencana. Tim perdana ini terdiri dari 2 (dua) orang dokter, 4 (empat) perawat dan 1 (satu) asisten apoteker, bekerja sama dengan RS Katolilk St. Antonius – Ampenan, memberikan pelayanan kesehatan selama lima hari di beberapa Posko di kecamatan Sembalun yang merupakan area terdampak berat. Setiap pagi tim berangkat ke Posko dan kembali untuk beristirahat di RS Katolik St. Antonius saat menjelang tengah malam.

Melihat situasi mereda, manajemen RKZ menunda keberangkatan tim berikutnya. Namun kemarahan alam rupanya belumlah reda. Minggu malam, tanggal 5 Agustus, gempa lebih besar mengguncang lagi, dengan korban makin banyak. RKZ Surabaya segera mengirimkan tim baksos yang ke dua, mendarat di Lombok tanggal 8 Agustus. Sesuai kebutuhan, tim terdiri dari 1 dokter IGD, 1 perawat Kamar Bedah, 1 perawat anastesi, 2 perawat Rawat Luka.

Selain membantu pelayanan korban di RS Katolik St. Antonius Ampenan, tim ke dua ini Ikut berpartisipasi aktif dalam pelayanan di Rumah Sakit Umum, di Kamar Operasi maupun di tenda-tenda perawatan. Selama di Lombok, tim ini mengalami sendiri gempa-gempa susulan yang datang silih berganti. Satu kali ketika terjadi gempa susulan yang cukup kuat, satu tim operasi termasuk anggota tim medis RKZ terpaksa harus bertahan melanjutkan operasi yang sudah berjalan separuh. Gempa tersebut menyebabkan ruang operasi di Rumah Sakit Umum selanjutnya tidak bisa digunakan lagi, sehingga didatangkanlah container-container untuk operasi. Di saat-saat terakhir sebelum kembali ke Surabaya, tim masih harus bertugas di kamar operasi maupun perawatan korban.

Gempa terus berlanjut, maka berangkatlah tim medis RKZ yang ke tiga pada tanggal 16 Agustus, terdiri dari 1 dokter spesialis orthopedi, 1 perawat anastesi dan 2 perawat lain. Tim ini mengerjakan tindakan operasi sampai pelayanan kesehatan ke posko-posko yang saat itu belum terjangkau bantuan seperti di Gangga yang lokasinya cukup menantang. Malam terakhir sebelum pulang, tim ke tiga RKZ mendapat “bonus” pengalaman gempa 6,5 SR yang seakan menjadi puncak kisah bakti sosialnya. Dalam kegelapan (karena PLN dimatikan dan genset belum berani dinyalakan) mengevakuasi pasien Rumah Sakit ke area parkir dan menjaga pasien semalaman dalam kejutan-kejutan gempa susulan, menjadi pengalaman yang tak mudah terlupakan.

Sampai tulisan ini diturunkan, RKZ Surabaya belum mengirimkan tim medis berikutnya, namun berbagai bantuan dikoordinasikan bersama RSK St. Antonius. Saat-saat baksos menjadi saat-saat berahmat bukan saja bagi mereka yang dilayani, namun semua anggota tim menyatakan bahwa kegiatan pelayanan baksos ini benar-benar memberikan pengalaman yang berharga yang tak terlupakan. Melayani mereka yang menderita sungguh membangkitkan rasa syukur atas segala anugerah yang boleh diterima dan memperkuat rasa persaudaraan serta empati dengan para korban sebagai sesama anak-anak Allah.

Melayani untuk Kehidupan (G… by on Scribd

Peduli Korban Gempa Lombok

Musibah gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB) atau yang lebih dikenal dengan gempa Lombok, masih menyisakan duka bagi korban yang terdampak. Trauma pun menghinggapi mereka karena hingga saat ini masih banyak orang yang tinggal di tempat pengungsian. Tak heran, jika banyak pihak tergugah hatinya untuk memberi bantuan dalam berbagai bentuk, hal ini merupakan wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap nasib para korban.

Sikap berbela rasa juga ditunjukkan oleh RS Atma Jaya, Jakarta dan RS Panti Rapih, Yogyakarta yang mengirimkan tim kesehatan ke Lombok. Berikut laporannya.

Gempa Lombok: Laporan Kegia… by on Scribd