Hari TB Sedunia Tahun 2012

HARI TB SEDUNIA TAHUN 2012

Latar Belakang
Sejak tahun 1993 World Health Organization (WHO) – organisasi kesehatan sedunia – menyatakan bahwa tuberkulosis (TB) merupakan kegawatdaruratan global bagi kemanusiaan. Walaupun terdapat strategi kesehatan masyarakat yang paling efektif dalam penanggulangan TB, yaitu dengan strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS), beban penyakit TB masih tinggi. Saat ini Indonesia sudah menempati peringkat yang lebih baik yaitu peringkat kelima untuk penyakit TB di dunia.
Berbagai permasalahan yang ditemui dalam penanggulangan TB, baik dari segi klinis maupun program menyebabkan perlunya penyebaran informasi di kalangan medis dan paramedis secara lebih luas. Peringatan Hari TB Sedunia Tahun 2012 mengusung tema “Bersatu Menuju Indonesia Bebas TB” dengan tujuan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk dapat mengendalikan Tuberkulosis sehingga Indonesia terbebas dari penyakit ini. Dalam rangka menyambut World TB Day (Hari TB Sedunia) pada tanggal 24 Maret 2012 ini, Kementerian Kesehatan RI dengan beberapa organisasi kesehatan bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan mitra lainnya, menyelenggarakan acara sebagai berikut :

1. Lomba Poster dengan tema “Towards a World Free of TB” dan topiknya adalah :
-Kesehatan Masyarakat dan Pemberdayaan Komunitas,
-Penelitian Biomedis dan Ilmu Dasar
-Pengalaman Klinis Lapangan.
Poster-poster yang dibuat oleh para peserta tersebut dipresentasikan pada acara Simposium Nasional tanggal 31 Maret 2012 untuk menentukan pemenangnya.

2. Simposium Nasional: pada hari Sabtu tanggal 31 Maret 2012, pk. 08.00-17.00, bertempat di Gedung Menara 165, Kav. I, Jl. Letjen. TB Simatupang 12430.

Tujuan Umum: tersebarnya informasi dan pengetahuan terkini mengenai TB di kalangan medis, awam, dan lembaga swadaya masyarakat di Indonesia

Tujuan Khusus: tersosialisasinya informasi mengenai program TB Care, DOTS, DOTS Plus, dan International Standard of TB Care (ISTC)

3. Fun Bike dan Jalan Sehat TB, yang diselenggarakan pada hari Minggu, 1 April 2012 pk. 07.30-10.00, dilanjutkan dengan acara hiburan dan Door Prize, sampai pk. 12.00.

Tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk membangkitkan kesadaran pada tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat Indonesia, bahwa TB sampai saat ini masih merupakan masalah epidemik di seluruh dunia. Di samping itu juga untuk membangkitkan kesadaran masyarakat bahwa perlu upaya bersama dari berbagai pihak di Indonesia baik itu dari legislatif, eksekutif, yudikatif, sektor swasta, masyarakat, dan media, secara terarah, terukur, terkoordinasi dan berkesinambungan mengatasi masalah TB di Indonesia sehingga target eliminasi total dapat tercapai.

Partisipasi Perdhaki
Perdhaki sebagai salah satu sub-recipeint (SR) SubDirektorat TB KemenKes, ikut berpartisipasi dalam memeriahkan dan menyukseskan acara tersebut melalui Fun Bike dan Jalan Sehat. Untuk Fun Bike, kami mengajak teman-teman Komunitas Sepeda Carolus-Paseban sebanyak 82 orang dan untuk jalan sehat diikuti oleh 34 orang anggota keluarga besar Perdhaki. Seluruh peserta Fun Bike dan jalan Sehat diperkirakan sekitar 8.000 orang yang terdiri dari bapak/ibu, tua/muda, remaja dan anak-anak dengan semangat dan ceria menikmati suasana gembira dan begitu menyenangkan, sehingga untuk peserta jalan sehat dari Monas sampai Bundaran HI dan kembali ke Monas yang berjarak kurang lebih 7 Km, tidak terasa sudah kembali lagi ke Monas. Sedangkan peserta Fun Bike dari Monas sampai ke Ratu Plaza kembali ke Monas., dengan jarak kira-kira 14 Km.
Secara keseluruhan semua acara berlangsung dengan baik. Khususnya untuk Acara Fun Bike dan Jalan Sehat, diawali dengan sambutan dan pelepasan balon oleh Menko Kesra, Bp. Agung Laksono, didampingi Dirjen Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE), Kepala Subdirektorat TB, drg. Dyah Erti Mustikawati, MPH, dan Koordinator non-government organization (NGO), drg. Devi Yuliastanti.
Acara Fun Bike dan Jalan Sehat dimeriahkan/dihibur oleh Ondel-Ondel, Tanjidor, Calung, Band, Lawak Bolot, dan kawan-kawan, serta akrobat sepeda polygon. Acara hiburan diselingi dengan pembagian door prize antara lain berupa 2 buah Motor Honda sebagai hadiah utama, 10 buah sepeda Polygon, TV, dispenser, handphone, magic com, dan barang elektronik lainnya. Namun saying, tak satu pun hadiah jatuh ke tangan keluarga Perdhaki dan Carolus.
Agar acara lebih meriah lagi, selama hiburan berlangsung, pembawa acara menyampaikan pesan-pesan dan mengajukan pertanyaan pertanyaan seputar TB, antara lain apa itu penyakit TB, penyebabnya, gejalanya, pengobatannya, apakah bisa sembuh, bagaimana pencegahan, dll, kepada peserta yang dapat menjawab diberikan hadiah hiburan. Juga menghimbau peserta apabila ada yang menderita sakit batuk-batuk berdahak, 2 minggu atau lebih, segera berobat ke Pelayanan Kesehatan terdekat (RS, Puskesmas, BP), akan dilakukan pemeriksaan dahak dan bila positif menderita TB akan diberikan pengobatan gratis sampai sembuh.
Acara hiburan dan door prize yang menarik ini membuat sebagian besar peserta bertahan menyaksikan sampai acara selesai pk. 12.00, meskipun harus menahan teriknya panas matahari siang.
Penutup
Demikianlah serangkaian acara untuk memeriahkan Hari TB Sedunia Tahun 2012 ini. Semoga pesan-pesan yang disampaikan kepada peserta baik pada waktu Simposium maupun saat hiburan setelah Fun Bike dan jalan sehat, dapat membuat masyarakat lebih paham dan peduli lagi pada penyakit TB, sehingga harapan Indonesia bebas TB dapat tercapai. (JF)

Keluarga besar PERDHAKI – peserta jalan sehat HTBS 2012

Keluarga besar PERDHAKI peserta jalan sehat HTBS 2012 sedang diwawancarai Metro TV

Peserta Fun Bike

KUSTA: INDONESIA PERINGKAT KE – 3

Setelah India dan Brasilia, Indonesia menempati urutan ketiga dalam endemi kusta di dunia. Pada tahun 2010, dilaporkan 17.012 kasus baru dan 1.822 (10,71%) di antaranya ditemukan dalam keadaan cacat tingkat II (cacat yang tampak). Selanjutnya 1.904 kasus (11,2%) adalah anak-anak. Keadaan ini menunjukkan penularan penyakit kusta masih ada di masyarakat dan keterlambatan penemuan kasus masih terjadi. (dari Wikipedia).

Kenali kusta
Penyakit kusta adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (mycobacterium leprae) yang menyerang kulit, syaraf tepi dan jaringan tubuh lainnya. Terdapat dua jenis penyakit kusta: kusta kering atau pausi basiler dan kusta basah, atau multi basiler.

Gejala penyakit kusta
Gejala awal: Kelainan kulit berupa bercak putih seperti panu atau pun bercak kemerahan yang kurang rasa atau pun mati rasa, tidak ditumbuhi bulu, tidak mengeluarkan keringat, tidak gatal dan tidak sakit, sehingga penderita seringkali tidak merasa terganggu.
Gejala lanjut: Ditandai dengan adanya KECACATAN pada:
-mata tidak bisa menutup, bahkan sampai buta;
-mati rasa pada telapak tangan,
-jari-jari tangan kiting, memendek (absorbsi) dan putus-putus (mutilasi),
-lunglai,
-mati rasa pada telapak kaki,
-jari-jari kaki kiting, memendek dan putus-putus,
-semper.
Cacat kusta terjadi karena kuman kusta yang menyerang syaraf pada penderita yang terlambat ditemukan dan terlambat diobati.

Bukan disebabkan oleh
Kusta disebabkan oleh kuman kusta, bukan disebabkan oleh: kutukan, keturunan, dosa, guna-guna, makanan. Anggapan yang salah di masyarakat menyebabkan keterlambatan berobat ke pelayanan kesehatan, sehingga terjadi kecacatan.

Penularan
Penyakit kusta hanya mengenai seseorang yang kondisi /kekebalan tubuhnya lemah dan kontak yang lama dengan penderita kusta tipe basah yang tidak diobati. Penularan dapat terjadi melalui pernafasan dalam waktu yang lama. Oleh karena itu penderita kusta tidak perlu ditakuti atau dikucilkan.

Pencegahan
Imunisasi BCG pada bayi membantu mengurangi kemungkinan terkena kusta. Segera berobat ke Puskesmas bila mengalami kelainan kulit berupa bercak mati rasa. Cacat kusta dapat dicegah dengan minum obat dan periksa ke Puskesmas secara teratur.

Pengobatan penyakit kusta
Obat untuk menyembuhkan penyakit kusta dikemas dalam blister (keping) yang disebut multi drug therapy (MDT). Untuk jenis kusta basah obat harus diminum selama 12 bulan, sedangkan untuk jenis kusta kering obat harus diminum setiap hari selama enam bulan. Obat kusta dapat diperoleh gratis di Puskesmas. Penyakit kusta dapat disembuhkan tanpa cacat bila penderita minum obat secara teratur sesuai aturan dan petunjuk dari petugas kesehatan. **els

Sumber: Liflet ‘Kenali Penyakit Kusta Sejak Awal’ berlogo Bakti Husada.

Iklan

Konsep Pelayanan Kesehatan Berkelanjutan

Latar Belakang
Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) menyatakan tingkat kematian di antara anak-anak dan jumlah anak yang meninggal setiap tahun di negara-negara berkembang telah jauh menurun dalam beberapa puluh tahun terakhir. Namun, penurunan tersebut belum merata: kematian anak balita tetap lebih tinggi di antara masyarakat yang lebih miskin. Selain itu kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin semakin meningkat.

Studi oleh WHO menunjukkan bahwa sistem kesehatan (misalnya balkesmas, rumah sakit rujukan, kantor kesehatan, praktek profesional bersama oleh dokter, perawat) di sebagian besar negara hanya memberi kontribusi kepada kesehatan sebesar IO%. Sembilan puluh persen lainnya (90%) dari kesehatan dihasilkan pada level rumah tangga. Kesenjangan ini perlu dikurangi dengan lebih menekankan pada pembangunan kapasitas di tingkat rumah tangga dalam meningkatkan kesehatan keluarga. Studi bersama oleh USAID, WHO, PAH0, dan UNICEF berhasil mengidentifikasi 16 kebiasaan kunci pada keluarga yang jika diterapkan, dapat mencegah 80% penyebab kematian anak-anak. Perubahan 16 perilaku dapat terlaksana di tingkat rumah tangga melalui komunikasi sederhana yang efektif dan teknik-teknik pendidikan informal.

Banyak inisiatif kesehatan yang sukses dan efektif telah dilakukan di masa lalu oleh pemerintah, LSM, atau lembaga-lembaga keagamaan lokal seperti gereja-gereja tetapi segera setelah proyek berakhir atau pendanaan berhenti, pelayanan kesehatan tidak berlanjut. Keberlanjutannya merupakan masalah besar. Pelayanan Kesehatan Berkelanjutan (sustainable health services /SHS) merupakan tanggapan atas kebutuhan ini. SHS berpijak pada kebiasaan-kebiasaan kesehatan terbaik yang telah terbukti sukses, yakni dengan berfokus pada kesehatan preventif di tingkat rumah tangga serta mendirikan sebuah klinik yang secara finansial berkelanjutan untuk memberikan pelayanan dan pengobatan bagi suatu populasi tertentu.

Tujuan
Tujuan umum SHS adalah untuk mengurangi angka penyakit dan kematian pada kelompok masyarakat yang paling rentan, yakni anak di bawah 5 tahun dan ibu usia reproduksi (15-45 tahun).
Tujuan khusus:
1. Mengurangi kejadian penyakit kritis (penyebab utama kematian) pada masyarakat seperti diare, infeksi pernafasan akut, kekurangan gizi pada anak-anak; untuk seluruh masyarakat, mengurangi penyakit-penyakit pembunuh utama seperti tuberkulosis, malaria, dan lain-lain.
2. Membangun sebuah klinik yang berkelanjutan
3. Membentuk kader relawan kesehatan terlatih di tingkat rumah tangga.

Cakupan penduduk
Sustainable Health Service (SHS) akan menyediakan pelayanan kesehatan untuk cakupan populasi sekitar 50.000 -100.000 jiwa. Menentukan daerah yang dicakup adalah bagian penting dari inisiatif ini karena menyediakan informasi epidemiologi untuk perencanaan kesehatan dan menilai dampak serta kinerja pelayanan kesehatan.

Pendekatan
Inisiatif kesehatan ini melaksanakan intervensi yang sudah terbukti untuk kelangsungan hidup anak yang meliputi dua komponen dasar:
1) klinik berkelanjutan,
2) pelayanan berbasis rumah tangga.

1) Klinik berkelanjutan
Akan dibentuk Klinik (jika tidak ada) yang memberikan pelayanan dan pengobatan berkualitas dan terjangkau untuk medis dan gigi. Klinik ini akan melaksanakan standar kinerja berkualitas dengan menggunakan protokol WHO Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Termasuk di sini pelatihan staf klinik, pengaturan fasilitas kesehatan dasar / gigi, menyiapkan prosedur operasional standar yang tepat dan biaya yang efektif atas inventaris peralatan kesehatan. Klinik akan beroperasi sebagai badan usaha agar betul-betul berjalan berkelanjutan dalam arti pendapatan mendukung biaya operasional. Untuk mencapai hal ini, akan dipersiapkan rencana bisnis yang melibatkan pemasaran, operasional dan studi kelayakan keuangan.
2) Pelayanan berbasis rumah tangga
Pelayanan ini merupakan komponen kesehatan preventif pada SHS (Sistem Kesehatan Berkelanjutan) yang akan menggunakan pendekatan Care Group yang telah terbukti dengan fokus mengubah perilaku kesehatan di rumah tangga. Di daerah binaan rumah tangga akan dikelompokkan. Relawan Care Group akan hadir menyampaikan pesan kesehatan setiap bulan mengenai 16 Praktek Kunci Keluarga (WHO-UNICEF). Kegiatan ini akan menjadi proses bulanan berkelanjutan untuk mengamati perilaku kesehatan yang dipraktekkan dalam rumah tangga.
Untuk mencakup 50.000 penduduk atau 8300 rumah tangga (6 anggota per rumah tangga), diperkirakan bahwa akan diatur 830 Kelompok Rumah Tangga dan 83 kelompok care group. Keterlibatan secara bulanan yang mencakup seluruh rumah tangga akan meningkatkan secara keseluruhan kesadaran kesehatan pada masyarakat. Hal ini tidak hanya meningkatkan kesehatan rumah tangga tetapi juga meningkatkan permintaan untuk pelayanan kesehatan di klinik sehingga dapat meningkatkan pendapatan klinik dan memperkuat kelestariannya.
3) Studi data dasar kesehatan
Studi data dasar menggunakan metode sampling yang tepat akan dilakukan sebelum pembentukan Care Group dan setelah satu tahun sewaktu dilakukan evaluasi untuk melihat dampaknya.

Kerangka waktu (Time Frame)- Inisiatif kesehatan SHS perlu waktu sekitar 3 tahun untuk mencapai kegiatan utama yang meliputi:
– Rencana bisnis
Ini akan disiapkan dan diselesaikan di tahun ke-1. Mencakup desain, mengatur tim survei, melakukan survei kepuasan pelanggan, analisis dan penyelesaian rencana bisnis.
– Peningkatan fasilitas dan pelatihan staf
Dilaksanakan di tahun ke-2 yang akan berlangsung 6-12 bulan sampai
selesai, tergantung pada apakah renovasi sederhana akan dilakukan atau sebuah bangunan klinik yang baru. Termasuk di sini pengiriman satu set lengkap peralatan medis / alat untuk klinik umum. Pelatihan staf diperuntukkan bagi staf klinik yang mencakup kursus penyegaran mengenai MTBS dan kesehatan reproduksi.
– Pembentukan Care Group
Akan berlangsung pada tahun ke-3 dan berlangsung 12 bulan dengan pengorganisasian Care Group, termasuk pelatihan dan penyajian pesan-pesan kesehatan di tingkat rumah tangga.
– Survei data dasar & evaluasi
Dua survei data dasar akan dilakukan: yang pertama akan selesai pada akhir
tahun ke-2 sebelum memulai pembentukan Care Group dan yang kedua akan dilakukan segera setelah tahun ke-3 sebagai bagian dari evaluasi akhir. Untuk menyelesaikan satu survei data dasar perlu waktu 2 bulan.

Saksi kristiani – Penyembuhan merupakan bagian integral dari pekerjaan Kristus. Dalam Matius 10: 5-8 /Lukas 9: 1-2 /Markus 6: 7-11 Yesus mengutus 12 rasul untuk pergi dan mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari dan memberi mereka petunjuk yang secara singkat adalah berkhotbah, mengajar dan menyembuhkan. Sepanjang sejarah orang Kristen memahaminya sebagai panggilan Gereja. Saat ini, banyak gereja (Katolik dan Protestan) mengoperasikan klinik sesekali dengan kegiatan di masyarakat sebagai bagian dari misi mereka. Ini sering merupakan tantangan bagi gereja-gereja karena merupakan beban keuangan. Model SHS tidak akan bergantung pada subsidi berkepanjangan gereja tetapi akan menghasilkan pendapatan sendiri untuk mendukung biaya operasionalnya. Pendekatan Care Grup memungkinkan gereja untuk membangun hubungan yang bermakna tepat pada tingkat rumah tangga. Hubungan ini bertumpu pada kepercayaan dan keyakinan, mirip dengan hubungan pasien-dokter. Dengan berjalannya waktu, hubungan ini diharapkan dapat tumbuh sebagaimana Roh Kudus membuka peluang untuk menjadi saksi kristiani dan pembentukan nilai di luar kesehatan. Gereja tidak hanya mampu memberikan penyembuhan bermutu yang efektif kepada keluarga tetapi juga memberi kesempatan untuk menjalin hubungan yang betul-betul penuh kepedulian dan dapat dipercaya.

Hasil – Beberapa ukuran untuk menyoroti hasil dan dampak kepada 50.000 orang ditampilkan secara singkat:
? Penurunan insidens penyakit kritis (indikator kunci dari studi data dasar kesehatan seperti diare, infeksi saluran pernafasan akut, dll dengan fokus pada anak-anak dan perempuan)
? Keberlanjutan Keuangan – Pendapatan Klinik mendukung biaya pengeluaran
? 8300 Rumah Tangga terjangkau (diasumsikan 6 anggota per keluarga untuk 50.000 penduduk)
? 830 Kelompok Rumah Tangga terurus (10 rumah tangga per kelompok) – kelompok sel potensial / kelompok belajar Alkitab
? 830 relawan terlatih untuk kelompok rumah tangga (seorang relawan care group per satu kelompok rumah tangga) – kelompok sel potensial / pemimpin studi Alkitab
? 83 Care Group terurus (10 relawan kelompok per care group) – koordinator yang potensial sebagai pemimpin kelompok sel
? 27 Fasilitator Gereja terlatih yang relawan (3 care group per fasilitator)
? Terjalin hubungan baik antara Gereja (melalui para fasilitator nya) dengan 8300 rumah tangga.

Catatan
Konsep ini merupakan ide yang disampaikan Bp. Sonny Enriques dari Newness Development (Newdev), sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang membantu sewaktu bencana Nias beberapa waktu yang lalu. Terkesan pada Perdhaki sebagai LSM kesehatan berlatar belakang keagamaan, beliau membawa beberapa staf Perdhaki berkunjung ke BP Lentera (milik Gereja Kristen Indonesia /GKI) di Pamulang yang telah mulai menjalankan konsep ini (tahun ke-1) dengan jangkauan semua penduduk seluas satu RW. Lima care group sudah terbentuk pada waktu kunjungan dilaksanakan tanggal 28 September 2010 dan klinik dapat beroperasi secara mandiri, demikian penjelasan yang disampaikan, sehingga masyarakat sangat terbantu. **els – MS

World TB Day, 24 Maret 2010

Peringatan Hari TB (tuberkulosis) Sedunia yang jatuh pada tanggal 24 Maret 2010 di Jakarta diisii dengan kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan RI dengan menyelenggarakan Seminar Sehari dan Stand Pameran. Adapun tema dari Seminar sehari tersebut adalah “ Tingkatkan Inovasi, Percepat Aksi Melawan Tuberkulosis! “
Stand pameran tersebut diiisi oleh beberapa institusi pemerintah dan swasta serta LSM. Peserta pameran tersebut antara lain : Promkes Depkes RI; KNCV; PT. Jamsostek; PP Aisyiyah; FKM UI; PPTI Pusat; Family Health International; PDPI/IDI; Yanmedik Spesialistik Depkes RI (Subdit RS Khusus); Perdhaki, World Vision Indonesia; Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta; RSPAD, PT Kimia Farma, PT Phapros, PT Indo Farma.

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis) yang ditemukan oleh Robert Koch pada tahun 1882. Sebagian besar kuman TB menyerang paru-paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lainnya. TB bukanlah penyakit keturunan atau penyakit akibat kutukan. Gejala penyakit TB antara lain batuk berdahak ? 2-3 minggu, batuk berdarah, sesak nafas dan nyeri pada dada, nafsu makan berkurang, berat badan menurun atau menjadi kurus, demam tidak terlalu tinggi, keringat di malam hari meskipun tidak beraktifitas.

Masalah TB di Indonesia merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Dalam waktu 1 tahun, 1 orang penderita TB dapat menularkan penyakitnya pada 10 sampai 15 orang di sekitarnya. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita TB ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina. Hal yang mempengaruhi meningkatnya jumlah penderita TB di Indonesia antara lain :
• kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat
• kegagalan dari program TB akibat dari :
– tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan
– tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat, penemuan kasus/diagnosis yang tidak standar, obat tidak terjamin penyediaannya, tidak ada pemantauan, pencatatan dan pelaporan yang standar, dan lain lain)
– infrastruktur kesehatan yang tidak memadai
• dampak pandemi HIV
• berkembangnya MDR (Multi Drug Resistance)

Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD (International Union Against TB and Lung Diseases) telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif. Penerapan strategi DOTS secara baik, disamping secara cepat menekan penularan, juga mencegah berkembangnya MDR. Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien serta prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB sehingga terjadi penurunan insidens TB di masyarakat. Ada 5 komponen kunci strategi DOTS :
1. komitmen politis dengan pendanaan yang meningkat dan berkesinambungan;
2. penemuan kasus melalui pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya;
3. tatalaksana pengobatan standar melalui supervisi dan pengawasan;
4. sistem manajemen logistik obat yang bermutu dan efektif;
5. sistem monitoring dan evaluasi termasuk penilaian dampak dan kinerja program.

Target program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan penderita baru TB BTA (batang tahan asam) positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85% dari semua penderita tersebut serta mempertahankannya. Dengan demikian diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990, dan mencapai target millenium development goals (MDGs) pada tahun 2015. Dalam pencapaian target yang telah ditetapkan tersebut diperlukan juga 7 strategi utama pengendalian TB yang meliputi :
Ekspansi “Quality DOTS”
1. Perluasan dan peningkatan pelayanan DOTS yang berkualitas
2. Menghadapi tantangan baru, TB-HIV, MDR-TB
3. Melibatkan seluruh penyelia pelayanan
4. Melibatkan penderita & masyarakat
Didukung dengan Penguatan Sistem Kesehatan
5. Penguatan kebijakan & kepemilikan daerah
6. Kontribusi terhadap sistem pelayanan kesehatan
7. Penelitian operasional
Upaya-upaya terobosan yang diambil dalam penanggulangan TB yakni :
o Penguatan Gerdunas TB untuk memperkuat extended response
o Pengembangan Rencana Strategis Pengendalian TB berbasis bukti dan fakta
o Pengembangan fasilitas layanan TB di RS, DPS (Dokter Praktek Swasta) dan UPK (unit pelayanan kesehatan) lainnya
o Penguatan kapasitas manajemen dan teknis program pada semua tingkatan
o Penguatan dan pengembangan sistem informasi / surveilans
o Pengembangan kolaborasi TB – HIV, MDR – TB
o Penguatan sistem distribusi logistik
o Peningkatan advokasi dan kemitraan
o Peningkatan advokasi komunikasi mobilisasi sosial
o Perencanaan dan dukungan dana yang memadai (APBN:anggaran pendapatan dan belanja negara, APBD: anggaran pendapatan dan belanja daerah dan donor)

Pembicara dari Aisyiyah Dr. Atikah M.Zaki, MARS mengatakan bahwa pada tahun 2000, strategi DOTS dilaksanakan secara nasional di seluruh UPK terutama Puskesmas yang diintegrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar sehingga dalam kebijakan dunia melalui MDGs, pada tahun 2015 diharapkan 50% penderita TBC dapat disembuhkan. Maka untuk tujuan tersebut, keterlibatan semua sektor baik pemerintah maupun swasta, civil society, juga keterlibatan stake holders harus ditingkatkan termasuk di dalamnya LSM, FBO (faith based organization), organisasi profesi (termasuk Aisyiyah, PPTI (Perkumpulan Penanggulangan TB Indonesia, dan lain lain)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sr. Margaretha FSGM bersama MenKes, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih,MPH, DR.PH.

Permasalahan TB merupakan suatu beban dan tantangan yang kompleks sehingga diperlukan suatu terobosan dan penguatan dari manajemen program (komitmen, respons dan keterpaduan dari perencanaan-perencanaan, pelaksanaan, penilaian) dan layanan melalui upaya penggerakan partisipasi masyarakat dengan didukung oleh petugas yang sudah dipersiapkan dan diberi pelatihan-pelatihan khusus serta terjalinnya kerjasama dari semua sektor yang terlibat. Tulus ikhlas dan bertujuan hanya untuk kebaikan masyarakat banyak merupakan motivasi kerja yang perlu dikembangkan. (In)

Mari Bertekad Bersama, Bertarget Bersama Untuk Penanggulangan TB karena ini adalah Tugas dan Tanggung Jawab Bersama.