PERINGATAN untuk DOKTER PRAKTIK Dalam Situasi Pandemi Covid-19

PERINGATAN untuk DOKTER PRAKTIK Dalam Situasi Pandemi Covid-19

  1. Kurangi hari / jam praktik
  2. Kurangi jumlah pasien
  3. Kurangi lama kontak dengan pasien
  4. Dokter dengan komorbid STOP PRAKTIK :

– penyakit jantung

– penyaki ginjal dan hipertensi

– diabetes mellitus

– penyakit paru

– kelainan darah

– gangguan imunitas

– waspada bila usia > 60 tahun

  1. Jangan memegang pasien kalau tidak perlu sekali.
  2. Cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebelum dan setelah setiap kali memegang pasien. Sering2 CTPS setelah memegang apapun, terutama sebelum memegang area wajah.
  3. Gunakan APD :
  4. APD level-1 : tenaga medis & tenaga kesehatan di FKTP.
  5. APD level-2 : tenaga medis & tenaga kesehatan yang menangani Pasien periksa buka mulut pasien dan terapi spray, aerosol, nebulizer atau di UGD / IRD.
  6. APD level-3 : tenaga medis & tenaga kesehatan yang merawat Pasien Covid-19 dan mengerjakan prosedur USG, Echo, Endoskopi, CPR, Intubasi dan Tindakan Medis yang menghasilkan aerosol.

APD yang disposable dibuang menurut kaidah B3 infeksius.

APD washable direndam deterjen atau tindakan. asepsis lain yang sesuai.

  1. Pasien bila masuk fasyankes wajib memakai masker dan cairan aseptik atau CTPS, jarak dokter-pasien minimal 2 m, batasi jumlah pengantar pasien.
  2. Pada prosedur Pemeriksaan / Tindakan dimana pasien tidur di bed, maka bed harus dispray alkohol 70% setelah Pemeriksaan / Tindakan.
  3. Kurangi atau tunda melakukan tindakan medis elektif.
  4. Stetoskop, Ballpoint, Handphone, Dompet sering dilakukan tindakan asepsis.
  5. Cuci dengan deterjen setiap benda yang bisa terkontaminasi : uang, kartu ATM, kartu kredit, dsb.

Selamat Warga dengan Selamatkan Petugas Kesehatan dari Ancaman COVID-19

Selamat Warga dengan Selamatkan Petugas Kesehatan dari Ancaman COVID-19

Kasus   Covid-19 yang  terus meningkat, dari semula hanya 2 kemudian  dalam sebulan (tanggal 29 Maret 2020) dengan cepat melampaui 1200 kasus.  Kematian karena Covid-19, yang  semula nol, dalam sebulan (tanggal  29 Maret 2020) menjadi  lebih dari 110kematian.  Diperkirakan kasus akan terus melonjak dalam 1- 2 bulan mendatang, antara lain karena himbauan Pemerintah untuk  “Social Distancing” belum  ditaati oleh sebagian masyarakat.

Dengan terus meningkatnya kasus positif  Covid-19, maka akan meningkat pula pasien yang perlu dirawat di RS , diantaranya adalah mereka  yang dalam keadaan kritis yang wajib dirawat di ruang ICU. RS pemerintah yang dijadikan RS Rujukan belakangan tidak lagi mampu menampung  pasien Covid-19 yang terus mengalir dengan deras.

Sedangkan RS swasta yang semula menjadi lapis kedua, mulai dibanjiri pasien karena RS rujukan pertama pun sudah penuh sesak.

Seluruh RS di tanah air mulai kekurangan Alat Pelindung Diri (APD)  yang  terdiri dari Masker , Masker N95 , Surgical Face mask, Masker ear loop), Hazmat, Gloves (sarung tangan), Sepatu boot, Shoes-cover, kacamata Google, Head-cap, Face-shield dan sebagainya.

Di Indonesia ada 92 RS  Katolik  yang bergabung pada Perkumpulan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (PERDHAKI) didukung oleh lebih dari 250 dokter spesialis, lebih dari 800 dokter umum, lebih dari 7500 perawat/bidan dengan Delegatus Kesehatan: Mgr. B.E. Rolly Untu, MSC. RS Katolik ini tersebar di seluruh penjuru Nusantara mulai dari Medan sampai Merauke, yang juga berjuang untuk mengatasi kelangkaan APD. Diharapkan kita semua merapatkan barisan dan menyingsingkan lengan baju, serta mengulurkan tangan bagi penderita COVID-19 maupun petugas kesehatan, mulai dari industri diharapkan membantu memproduksi APD berkualitas namun terjangkau, bagi para dermawan kami mengetuk hati dan bela rasa agar turut meringankan beban ini dengan berbagi dan menyisihkan sebagian dana yang akan digunakan untuk pengadaan APD yang berkualitas. Bersama kita dapat mengarungi badai Corona ini, seraya memanjatkan doa memohon kerahiman ilahi.

Bantuan dana dapat juga dikirimkan ke kantor Pusat Perdhaki, untuk kemudian akan disalurkan kepada RS-RS yang membutuhkan. Rekening PERDHAKI  sebagai berikut :

Bank BCA, cabang Gondangdia, Jakarta Pusat, DKI JAKARTA.
No Rekening :  455.3009645
Atas nama : PERDHAKI

Catatan: Perdhaki setiap diaudit oleh akuntan publik, hasil audit selama ini membuktikan diri sebagai lembaga yang telah berhasil menegakkan good governance, akuntabilitas dan transparansi dengan hasil Wajar Tanpa Syarat.

Corona Virus Expert Help Desk

Corona Virus Expert Help Desk

PERDHAKI sedang meluncurkan Expert Help Desk sebagai bagian dari Satgas COVID-19

PERDHAKI sedang meluncurkan Expert Help Desk sebagai bagian dari Satgas COVID-19 yang akan menjadi sumber informasi bagi Unit Kesehatan Katolik dalam menghadapi COVID-19 sebagai komunitas pelayanan. Fokus utama adalah (a) standard operating procedures: penatalaksanaan dan pengobatan; (b) prevensi dan mitigasi; (c) menyalurkan bantuan alkes dan supply chain lainnya; (d) pemahaman tentang risiko; (e) membangun ketangguhan sistem pelayanan kesehatan dalam masa tanggap darurat COVID-19. Fokus lain akan ditambahkan sesuai dengan perkembangan situasi.

Expert Helpdesk PERDHAKI terdiri atas: Dr. Sugiharto (RKZ, Surabaya); Dr. Paulus Susilo (RS Karitas, Palembang), Dr. Arifin (RSSt. Maria, Pekan Baru

Maklumat COVID-19

Di bawah ini beberapa catatan bagaimana PERDHAKI menanggapi wabah ini:

  • Menjaga jarak (social distancing) dalam rangka menjamin kesehatan dan keamanan kita bersama: tidak bersalaman ketika bertemu cukup menganggukkan kepala, tidak berkerumun.
  • Tetap tangguh (resilient) dalam menjalankan layanan, seraya berdoa mohon perlindungan dan kerahiman ilahi dalam menjalankan tugas.
  • Menjaga hygiene dan kebersihan lingkungan: cuci tangan pakai sabun selama 20 detik, pakai sarung tangan steril, masker (jika memungkinkan N-95), dan Alat Pelindung Diri jika bersentuhan dengan PDP dan OPD.
  • Mendorong kesetiakawanansosial dengan menggalang dana solidaritas untuk disumbangkan pada Unit Kesehatan Katolik yang melayani penderita COVID-19.

Lowongan Kerja

Lowongan Kerja

Dibutuhkan segera tenaga medis untuk penempatan di beberapa Rumah Sakit dan Klinik :

– Dokter Spesialis Penyakit Dalam  (RS Santo Antonius Jopu, Ende)

– Dokter Spesialis Obsgin (RSU Kertayasa, Negara, Bali)

– Dokter Spesialis Anak  (RSU Kertayasa, Negara, Bali)

– Dokter Spesialis Bedah (RSU Kertayasa Negara Bali)

– Dokter Umum (Klinik di Maumere dan Nagekeo)

– Dokter Umum (RS. St. Rafael)

– Dokter Spesalis Anak (RS. Santa Maria, Pemalang)

– Dokter Spesialis Obsgyn (Charitas Hospital di Palembang)

– Dokter Spesialis Jantung (RS St Elisabeth, Purwokerto)

– Dokter Rehab

– Dokter Spesialis Obsgin

– Tenaga penata anestesi

Untuk informasi awal dapat menghubungi Sekretariat

Gambar

Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2030

Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2030

Rabu, 29 Januari 2020  Sr. Margaretha, FSGM mewakili PERDHAKI untuk menghadiri  undangan  Kegiatan Kunjungan Kerja Kesehatan Presiden RI dalam rangka “Gerakan bersama menuju Eliminasi TBC  tahun 2030”  di  Cimahi Techno Park, Kota Cimahi.

PRESIDEN RI, Joko Widodo secara resmi mencanangkan Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2030 yang berlangsung di Gedung Cimahi Technopark Jalan Baros, Kota Cimahi. Dihadiri bersama dengan 34 orang Gubernur, 119 orang Bupati dan Walikota se-Indonesia serta sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju. Sebelum memberi sambutan, Presiden yang akrab disapa Jokowi ini sempat mengajak tamu untuk melakukan gerakan TOSS dengan mengangkat tangan kanan ke arah depan. TOSS adalah kepanjangan dari “Temukan Obati Sampai Sembuh”.

Dalam sambutannya  Pak Presidan mengatakan “Saya datang ke sini karena sehat, termasuk bapak dan ibu yang hadir di sini juga sehat, dan saya harapkan seluruh masyarakat juga sehat, karena lima tahun kedepan kita ingin memiliki SDM unggul, makanya harus sehat semua”

“Saya ingin mendukung kegiatan ini. Percuma kalau masyarakatnya enggak sehat, karena bisa merembet ke mana-mana. Oleh karena itu saya sangat menghargai, baik puskesmas, yayasan, dan kader yang bergerak dalam penanggulangan TBC” jelasnya.

Eliminasi TBC  th 2030  perlu diupayakan  lintas sektoral.  Perlu kerja keras  dari semua pihak,  bukan  hanya  sektor  kesehatan. Memerangi  persoalan  TBC  ini  bukan  persoalan  yang  gampang.  TBC  merupakan  permasalahan  global.

Keberhasilan  memberantas  TBC  adalah kolaborasi  semua elemen,  yaitu Pemerintah,  masyarakat  dan  swasta.  Pembangunan rumah sehat  bagi  masyarakat   dengan  rumah  tak layak huni  menjadi tantangan  dalam  eliminasi   TBC  di  Indonesia.

Fokus   kita  bukan hanya  pada segi  kurative  saja,  akan tetapi  segi  preventive  atau pencegahan  penyakit  sangat  penting“  kata Pak Jokowi.

Sedangkan  Menteri Kesehatan, Bapak  Terawan Agus Putranto juga  memberikan sambutannya. Beliau    antara lain  mengatakan  :  “  Pembrantasan  TBC  menjadi  prioritas  pembangunan  kesehatan  selain  menurunkan AKI / AKB,  STUNTING  dan  JKN.

Bapak Arifin  Panigoro, Anggota Dewan  Pertimbangan Presiden sekaligus Ketua Forum  STBPI,

dalam sambutannya antara lain mengatakan “Memang  mengatasi TBC  perlu dukungan banyak  sektor. Terutama dari segi infrastruktur,  sebab kuman  TBC  semakin melayang – melayang  ditempat  yang lembab, apabila  kurang cahaya matahari  yang masuk  dan kurang ventilasinya. Kepadatan lingkungan juga mempermudah penularan  antar  individu “ pungkasnya.

Pak Presidan juga berkenan  berbincang   dengan   2  (dua) orang kader masyarakat. Dan seperti biasa : mereka mendapat hadiah  masing-masig  1 buah  sepeda dan  album kenangan  foto mereka ketika bincang-bincang  dengan  Pak Jokowi.

Sebagai  penutup acara  sambil  ”TOSS ”  menempelkan  telapak tangan pada gambar  yang telah disiapkan;  Bapak Presiden secara resmi  mencanangkan   Gerakan  bersama  menuju  Eliminasi  TBC  tahun 2030.

Presiden sedang berbincang dengan Kader
Bapak Jokowi sedang berbincang dengan Kader
Kegiatan Kunjungan Kerja Kesehatan Presiden RI
Sr. Margaretha, FSGM di Cimahi mengikuti kegiatan Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2030

Rekomendasi RAPIM RS PERDHAKI, Makassar 25 – 28 Juli 2019

Rekomendasi RAPIM RS PERDHAKI

Makassar, 25 – 28 Juli 2019

  1. Perdhaki sebagai wadah persatuan karya kesehatan katolik perlu meningkatkan peran lebih aktif dalam memfasilitasi UKK, baik dalam bentuk koordinasi internal (contoh: pengadaan logistik secara kolektif untuk mendapatkan harga yang lebih murah), konsultasi, pendampingan manajemen dll, maupun relasi dengan pihak luar, mis: pemerintah (Kebijakan JKN,  akreditasi, dll).
  2. Komitmen pemilik (Uskup/tarekat/yayasan/perkumpulan) mendukung RS – nya untuk berubah dalam menghadapi tantangan di era disruptif.
  3. Cara menghadapi situasi disruptif (terkait BPJS Kesehatan, Akreditasi, revolusi industri 4.0, tranformasi digital dll) :
    • Digitalisasi/IT/ Smart Hospital
    • Mencari terobosan baru dalam menembus pasar  di luar penjaminan biaya BPJS
    • Mencari model bisnis baru, misal: kerja sama lintas platform (Halodoc, akubisa.com dll)
    • Crowd Funding sebagai alternatif pendanaan oleh filantropis.
    • Pelayanan unggulan yang selaras dengan cinta kasih (High Tech – High Touch)
  4. Leadership dan kaderisasi
  1. Perdhaki pusat sebagai wadah “persatuan pemilik UKK” perlu meningkatkan peran lebih aktif dalam memfasilitasi UKK, baik dalam bentuk koordinasi internal, konsultasi, pendampingan manajemen dll, maupun relasi dengan pihak luar, mis: pemerintah (Kebijakan JKN, Fornas dll).
    • Peranan Perdhaki adalah sebagai fasilitator, dan koordinator
    • Pembentukan sekretariat forum kerja sama di Perdhaki Pusat sebagai pusat data dan informasi (contoh: Mapping semua sumber daya dimiliki UKK)
    • Koordinasi dan kerja sama antar Perdhaki dan UKK bisa berupa bantuan langsung atau koordinasi, dalam implementasi yang paling mudah dan sederhana adalah dengan WA grup (medsos) dan media formal (Telegram).
    • Dukungan kepada UKK yang membutuhkan bisa dalam skala strategis maupun teknis. dan Pembentukan Forum Komunikasi antar UKK di dalam Regio.
    • Realisasi dukungan/bantuan dilaksanakan secara berjenjang oleh Wilayah/Regio/Pusat (contoh: pendampingan persiapan akreditasi oleh surveiyor internal, SDM terutama dokter spesialis, pelatihan YPMK)
    • Capacity Building di bidang manajemen UKK (lihat pada paparan “Strategi RS Dalam Era Disruptif”, Sistem Infrastruktur Manajemen).
    • Perdhaki kembali mengaktifkan PT KDU (pengadaan obat, alkes, vendor SIM RS)