Konsep Pelayanan Kesehatan Berkelanjutan

Latar Belakang
Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) menyatakan tingkat kematian di antara anak-anak dan jumlah anak yang meninggal setiap tahun di negara-negara berkembang telah jauh menurun dalam beberapa puluh tahun terakhir. Namun, penurunan tersebut belum merata: kematian anak balita tetap lebih tinggi di antara masyarakat yang lebih miskin. Selain itu kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin semakin meningkat.

Studi oleh WHO menunjukkan bahwa sistem kesehatan (misalnya balkesmas, rumah sakit rujukan, kantor kesehatan, praktek profesional bersama oleh dokter, perawat) di sebagian besar negara hanya memberi kontribusi kepada kesehatan sebesar IO%. Sembilan puluh persen lainnya (90%) dari kesehatan dihasilkan pada level rumah tangga. Kesenjangan ini perlu dikurangi dengan lebih menekankan pada pembangunan kapasitas di tingkat rumah tangga dalam meningkatkan kesehatan keluarga. Studi bersama oleh USAID, WHO, PAH0, dan UNICEF berhasil mengidentifikasi 16 kebiasaan kunci pada keluarga yang jika diterapkan, dapat mencegah 80% penyebab kematian anak-anak. Perubahan 16 perilaku dapat terlaksana di tingkat rumah tangga melalui komunikasi sederhana yang efektif dan teknik-teknik pendidikan informal.

Banyak inisiatif kesehatan yang sukses dan efektif telah dilakukan di masa lalu oleh pemerintah, LSM, atau lembaga-lembaga keagamaan lokal seperti gereja-gereja tetapi segera setelah proyek berakhir atau pendanaan berhenti, pelayanan kesehatan tidak berlanjut. Keberlanjutannya merupakan masalah besar. Pelayanan Kesehatan Berkelanjutan (sustainable health services /SHS) merupakan tanggapan atas kebutuhan ini. SHS berpijak pada kebiasaan-kebiasaan kesehatan terbaik yang telah terbukti sukses, yakni dengan berfokus pada kesehatan preventif di tingkat rumah tangga serta mendirikan sebuah klinik yang secara finansial berkelanjutan untuk memberikan pelayanan dan pengobatan bagi suatu populasi tertentu.

Tujuan
Tujuan umum SHS adalah untuk mengurangi angka penyakit dan kematian pada kelompok masyarakat yang paling rentan, yakni anak di bawah 5 tahun dan ibu usia reproduksi (15-45 tahun).
Tujuan khusus:
1. Mengurangi kejadian penyakit kritis (penyebab utama kematian) pada masyarakat seperti diare, infeksi pernafasan akut, kekurangan gizi pada anak-anak; untuk seluruh masyarakat, mengurangi penyakit-penyakit pembunuh utama seperti tuberkulosis, malaria, dan lain-lain.
2. Membangun sebuah klinik yang berkelanjutan
3. Membentuk kader relawan kesehatan terlatih di tingkat rumah tangga.

Cakupan penduduk
Sustainable Health Service (SHS) akan menyediakan pelayanan kesehatan untuk cakupan populasi sekitar 50.000 -100.000 jiwa. Menentukan daerah yang dicakup adalah bagian penting dari inisiatif ini karena menyediakan informasi epidemiologi untuk perencanaan kesehatan dan menilai dampak serta kinerja pelayanan kesehatan.

Pendekatan
Inisiatif kesehatan ini melaksanakan intervensi yang sudah terbukti untuk kelangsungan hidup anak yang meliputi dua komponen dasar:
1) klinik berkelanjutan,
2) pelayanan berbasis rumah tangga.

1) Klinik berkelanjutan
Akan dibentuk Klinik (jika tidak ada) yang memberikan pelayanan dan pengobatan berkualitas dan terjangkau untuk medis dan gigi. Klinik ini akan melaksanakan standar kinerja berkualitas dengan menggunakan protokol WHO Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Termasuk di sini pelatihan staf klinik, pengaturan fasilitas kesehatan dasar / gigi, menyiapkan prosedur operasional standar yang tepat dan biaya yang efektif atas inventaris peralatan kesehatan. Klinik akan beroperasi sebagai badan usaha agar betul-betul berjalan berkelanjutan dalam arti pendapatan mendukung biaya operasional. Untuk mencapai hal ini, akan dipersiapkan rencana bisnis yang melibatkan pemasaran, operasional dan studi kelayakan keuangan.
2) Pelayanan berbasis rumah tangga
Pelayanan ini merupakan komponen kesehatan preventif pada SHS (Sistem Kesehatan Berkelanjutan) yang akan menggunakan pendekatan Care Group yang telah terbukti dengan fokus mengubah perilaku kesehatan di rumah tangga. Di daerah binaan rumah tangga akan dikelompokkan. Relawan Care Group akan hadir menyampaikan pesan kesehatan setiap bulan mengenai 16 Praktek Kunci Keluarga (WHO-UNICEF). Kegiatan ini akan menjadi proses bulanan berkelanjutan untuk mengamati perilaku kesehatan yang dipraktekkan dalam rumah tangga.
Untuk mencakup 50.000 penduduk atau 8300 rumah tangga (6 anggota per rumah tangga), diperkirakan bahwa akan diatur 830 Kelompok Rumah Tangga dan 83 kelompok care group. Keterlibatan secara bulanan yang mencakup seluruh rumah tangga akan meningkatkan secara keseluruhan kesadaran kesehatan pada masyarakat. Hal ini tidak hanya meningkatkan kesehatan rumah tangga tetapi juga meningkatkan permintaan untuk pelayanan kesehatan di klinik sehingga dapat meningkatkan pendapatan klinik dan memperkuat kelestariannya.
3) Studi data dasar kesehatan
Studi data dasar menggunakan metode sampling yang tepat akan dilakukan sebelum pembentukan Care Group dan setelah satu tahun sewaktu dilakukan evaluasi untuk melihat dampaknya.

Kerangka waktu (Time Frame)- Inisiatif kesehatan SHS perlu waktu sekitar 3 tahun untuk mencapai kegiatan utama yang meliputi:
– Rencana bisnis
Ini akan disiapkan dan diselesaikan di tahun ke-1. Mencakup desain, mengatur tim survei, melakukan survei kepuasan pelanggan, analisis dan penyelesaian rencana bisnis.
– Peningkatan fasilitas dan pelatihan staf
Dilaksanakan di tahun ke-2 yang akan berlangsung 6-12 bulan sampai
selesai, tergantung pada apakah renovasi sederhana akan dilakukan atau sebuah bangunan klinik yang baru. Termasuk di sini pengiriman satu set lengkap peralatan medis / alat untuk klinik umum. Pelatihan staf diperuntukkan bagi staf klinik yang mencakup kursus penyegaran mengenai MTBS dan kesehatan reproduksi.
– Pembentukan Care Group
Akan berlangsung pada tahun ke-3 dan berlangsung 12 bulan dengan pengorganisasian Care Group, termasuk pelatihan dan penyajian pesan-pesan kesehatan di tingkat rumah tangga.
– Survei data dasar & evaluasi
Dua survei data dasar akan dilakukan: yang pertama akan selesai pada akhir
tahun ke-2 sebelum memulai pembentukan Care Group dan yang kedua akan dilakukan segera setelah tahun ke-3 sebagai bagian dari evaluasi akhir. Untuk menyelesaikan satu survei data dasar perlu waktu 2 bulan.

Saksi kristiani – Penyembuhan merupakan bagian integral dari pekerjaan Kristus. Dalam Matius 10: 5-8 /Lukas 9: 1-2 /Markus 6: 7-11 Yesus mengutus 12 rasul untuk pergi dan mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari dan memberi mereka petunjuk yang secara singkat adalah berkhotbah, mengajar dan menyembuhkan. Sepanjang sejarah orang Kristen memahaminya sebagai panggilan Gereja. Saat ini, banyak gereja (Katolik dan Protestan) mengoperasikan klinik sesekali dengan kegiatan di masyarakat sebagai bagian dari misi mereka. Ini sering merupakan tantangan bagi gereja-gereja karena merupakan beban keuangan. Model SHS tidak akan bergantung pada subsidi berkepanjangan gereja tetapi akan menghasilkan pendapatan sendiri untuk mendukung biaya operasionalnya. Pendekatan Care Grup memungkinkan gereja untuk membangun hubungan yang bermakna tepat pada tingkat rumah tangga. Hubungan ini bertumpu pada kepercayaan dan keyakinan, mirip dengan hubungan pasien-dokter. Dengan berjalannya waktu, hubungan ini diharapkan dapat tumbuh sebagaimana Roh Kudus membuka peluang untuk menjadi saksi kristiani dan pembentukan nilai di luar kesehatan. Gereja tidak hanya mampu memberikan penyembuhan bermutu yang efektif kepada keluarga tetapi juga memberi kesempatan untuk menjalin hubungan yang betul-betul penuh kepedulian dan dapat dipercaya.

Hasil – Beberapa ukuran untuk menyoroti hasil dan dampak kepada 50.000 orang ditampilkan secara singkat:
? Penurunan insidens penyakit kritis (indikator kunci dari studi data dasar kesehatan seperti diare, infeksi saluran pernafasan akut, dll dengan fokus pada anak-anak dan perempuan)
? Keberlanjutan Keuangan – Pendapatan Klinik mendukung biaya pengeluaran
? 8300 Rumah Tangga terjangkau (diasumsikan 6 anggota per keluarga untuk 50.000 penduduk)
? 830 Kelompok Rumah Tangga terurus (10 rumah tangga per kelompok) – kelompok sel potensial / kelompok belajar Alkitab
? 830 relawan terlatih untuk kelompok rumah tangga (seorang relawan care group per satu kelompok rumah tangga) – kelompok sel potensial / pemimpin studi Alkitab
? 83 Care Group terurus (10 relawan kelompok per care group) – koordinator yang potensial sebagai pemimpin kelompok sel
? 27 Fasilitator Gereja terlatih yang relawan (3 care group per fasilitator)
? Terjalin hubungan baik antara Gereja (melalui para fasilitator nya) dengan 8300 rumah tangga.

Catatan
Konsep ini merupakan ide yang disampaikan Bp. Sonny Enriques dari Newness Development (Newdev), sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang membantu sewaktu bencana Nias beberapa waktu yang lalu. Terkesan pada Perdhaki sebagai LSM kesehatan berlatar belakang keagamaan, beliau membawa beberapa staf Perdhaki berkunjung ke BP Lentera (milik Gereja Kristen Indonesia /GKI) di Pamulang yang telah mulai menjalankan konsep ini (tahun ke-1) dengan jangkauan semua penduduk seluas satu RW. Lima care group sudah terbentuk pada waktu kunjungan dilaksanakan tanggal 28 September 2010 dan klinik dapat beroperasi secara mandiri, demikian penjelasan yang disampaikan, sehingga masyarakat sangat terbantu. **els – MS

Iklan