Melirik PKRS dalam Akreditasi RS Santo Vincentius-Singkawang

Puji Tuhan, itulah yang kami rasakan setelah melewati akreditasi RS versi 2012 pada tanggal 1 s/d 3 September 2014 kemarin. Perjuangan sejak tahun 2012 serasa terbayarkan saat menerima kabar RS dinyatakan lulus akreditasi. Bukan perjuangan yang mudah memang, namun juga bukan hal mustahil yang tidak dapat dilakukan oleh team Promosi Kesehatan Rumah Sakit.

Berawal dari tahun 2011, dimana RS Santo Vincentius mendapatkan undangan untuk pelatihan promosi kesehatan RS di Bogor, ada 4 orang yang dikirim untuk mengikutinya : Direktur RS, dokter penanggung jawab PKRS, bagian keuangan dan tim PKRS sendiri. Saat itulah, tim PKRS baru dibentuk kembali untuk menggantikan tim PKMRS ( Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit) yang sudah tidak aktif lagi.

PKRS sendiri memberikan poin penting dalam awal penilaian di Akreditasi bagian MKI (Manajemen Komunikasi dan Informasi) yang tercantum :
Standar MKI. 1 : Rumah Sakit berkomunikasi dengan komunitas untuk memfasilitasi akses terhadap pelayanan maupun akses terhadap informasi tentang pelayanan asuhan pasien.
Dalam standar ini surveyor akan memulai dengan meminta regulasi RS mengenai penetapan unit kerja yang mengelola edukasi dan informasi/PKRS, pedoman pengorganisasian dan pedoman pelayanan unit kerja tersebut/PKRS, RKA rumah sakit dan program kerja unit PKRS serta media-media PKRS yang ada di rumah sakit bisa berupa brosur-brosur, leaflet, poster, banner ataupun spanduk.

Bila dari awal, standar MKI. 1 ini sudah terpenuhi dengan baik, maka pada standar selanjutnya akan lancar karena PKRS ini akan disinggung di standar MKI. 2 s/d MKI. 4 dan berhubungan dengan beberapa bagian dalam elemen penilaian di APK , PPK dan HPK.
Kembali ke tahun 2011 saat pelatihan, disana kami mendapatkan ilmu tentang men-design serta mengedit gambar untuk menjadi media PKRS.

Pulang dari pelatihan tim PKRS kami membuat media promosi berupa brosur-brosur, stiker – stiker, banner dan spanduk serta penyuluhan secara langsung. Brosur yang dibuat memang sederhana karena diproduksi sendiri dengan printer yang ada, dan bila ada perubahan seperti jadwal Imunisasi yang berubah di tahun 2014 bisa segera diubah. Untuk pembuatan stiker dan banner serta spanduk, RS menjalin kerjasama dengan percetakan setempat yang dipilih dengan membandingkan harga dari 3 percetakan yang ada.
Tahun 2012 kembali tim PKRS dipanggil dan diberikan pengarahan tentang penyuluhan dan pembuatan leaflet terkait penyuluhan Setelah pelatihan tersebut, tim PKRS memberikan penyuluhan mengenai Diabetes Melitus di RS kepada pasien-pasien dan masyarakat sekitar RS.

Secara tidak langsung, program PKRS dari PERDHAKI sangat banyak membantu kami dalam pembentukan tim PKRS serta memberikan sumbangsih banyak dalam ilmu pengembangan media PKRS. RS Santo Vincentius mengucapkan terima kasih banyak kepada PERDHAKI dalam hal ini yang selalu diwakili oleh kak Medawati Silalahi yang selalu rajin mem-follow up kami. (dr melda)

Iklan

Revitalisasi Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS)

Dengung Promosi Kesehatan, khususnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) kembali digaungkan oleh Kemenkes, lebih khusus mengenai apa yang ingin dicapai dalam Rencana Kesehatan Jangka Menengah tahun 2010 s/d 2014. Saat ini Promosi Kesehatan di Rumah Sakit tertuang dalam Kepmenkes, yaitu Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 1426/MENKES/SK/XII/2006 tentang Petunjuk Teknis Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS). Beberapa dasar hukum yang menunjang PKRS, antara lain UU UU RI No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 1, 4, 10 (2), 29, 32.

Dinyatakan bahwa PKRS merupakan upaya RS dengan tujuan meningkatkan kemampuan pasien, klien, dan kelompok-kelompok masyarakat, agar pasien dapat mandiri dalam rangka mempercepat kesembuhan dan rehabilitasinya; klien dan kelompok-kelompok masyarakat dapat mandiri dalam meningkatkan kesehatan, mencegah masalah-masalah kesehatan, dan mengembangkan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat, melalui pembelajaran dari, oleh, untuk, dan bersama mereka, sesuai dengan sosial budaya mereka, serta didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan.

picture1

Ruang lingkup promosi kesehatan di rumah sakit :
a. Di dalam gedung:
• Promosi kesehatan di ruang pendaftaran :
o Sambutan berupa salam hangat untuk membuat pasien/klien merasa tenteram berada di RS
o Media: poster, neon box dengan foto dokter & perawat yang ramah disertai tulisan dan rekaman suara “SALAM”

picture2

• Promosi kesehatan bagi pasien rawat jalan :
o Pemberdayaan melalui konseling: idealnya dilakukan semua petugas, tetapi jika tidak ada sediakan ruangan khusus konseling di setiap poliklinik. Bisa dilakukan secara individu atau kelompok, medianya misalnya: gambar-gambar, model anatomi, tayangan,
o Bina suasana: dilakukan terhadap pengantar pasien atau pasien sendiri khususnya di ruang tunggu. Media: poster, liflet (boleh diambil), TV & VCD/DVD Player,
o Advokasi: terutama untuk mendapatkan dukungan bagi pasien miskin kepada pengusaha sukses atau donatur lain,
• Promosi kesehatan bagi pasien rawat inap
o Pemberdayaan dilakukan terhadap pasien penyakit kronis dan/atau pasien dalam masa penyembuhan (bukan kepada pasien akut). Cara: (1) bedside counseling, (2) biblioterapi, & (3) konseling kelompok,
o Bina suasana: terutama ditujukan kepada para pengunjung pasien/pembesuk; melalui (1) pemanfaatan ruang tunggu, (2) pembekalan pembesuk secara berkelompok, dan (3) pendekatan keagamaan,
• Promosi kesehatan dalam pelayanan penunjang medik; PKRS di pelayanan lab, Rontgen, obat/apotek, pemulasaran jenazah.

b. Di luar gedung: di tempat parkir, di taman RS, di dinding luar RS, di pagar pembatas kawasan RS, di kantin/kios di kawasan RS, di tempat ibadah.

picture3

picture4

Penempatannya, antara lain:
• Di dinding luar RS: di waktu-waktu tertentu, misalnya hari kesehatan nasional, hari kesehatan sedunia, dll. Media: hanya 1-2 giant banner selama beberapa hari saja,
• Di pagar pembatas kawasan RS: khususnya yang berbatasan dengan jalan, seiring dengan pemanfaatan dinding luar RS. Media: hanya beberapa spanduk biasa.

picture6