GERAKAN MASYARAKAT HIDUP SEHAT DAN KELUARGA SEHAT

  1. LATAR BELAKANG

Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini dihadapkan pada beban ganda, disatu pihak penyakit tidak menular (PTM) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang belum terselesaikan, bahkan beberapa penyakit menular yang semula dapat ditangani muncul kembali dengan penyebaran tidak mengenal batas-batas daerah maupun batas antar Negara. Dilain pihak telah terjadi peningkatan kasus penyakit tidak menular (PTM)/penyakit akibat gaya hidup serta penyakit-penyakit degenerative. Serta Capaian MDGs  ( Millenium Development Goals ) dimana  terdapat beberapa kegiatan yang memerlukan kerja keras jajaran kesehatan. Untuk mewujudkan  kesehatan masyarakat yang optimal, “mutlak” diperlukan adanya dukungan potensi masyarakat.

Permasalahan kesehatan yang timbul merupakan akibat perilaku hidup yang tidak sehat dan sanitasi lingkungan yang buruk yang sebenarnya dapat dicegah bila  fokus pelayanan kesehatan diutamakan pada pelayanan kesehatan  preventif dan promotif. Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui upaya promosi kesehatan. Upaya promotif dan preventif dalam menumbuhkan dan mengembangkan kemandirian keluarga dan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.

 

  1. TUJUAN
  2. Menurunkan beban penyakit menular dan penyakit tidak menular, baik kematian maupun kecacatan
  3. Menghindarkan terjadinya penurunan produktivitas penduduk
  4. Menurunkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan karena meningkatnya penyakit
  5. Menghindarkan peningkatan beban finansial penduduk untuk pengeluaran kesehatan

III.  PENDEKATAN

pendekatan-keluarga

IV. LANGKAH-LANGKAH

langkah-pelaksanaan

V. INDIKATOR KELUARGA SEHAT

indikator-keluarga-ssehat

VI.PAKET INFORMASI KESEHATAN KELUARGA

informasi-kesehtan-keluarga

VII.  PERANGKAT PENDEKATAN KELUARGA

perangkat

Sumber Materi dari Promosi Kesehatan – Kemenkes tahun 2016 (MS)

SOSIALISASI HIV/AIDS-BAGI TOGA/TOMA KEUSKUPAN ATAMBUA

SOSIALISASI HIV/AIDS-BAGI TOGA/TOMA

KEUSKUPAN ATAMBUA

 

Sosialisasi HIV /AIDS bagi Tokoh Agama (Toga) dan Tokoh Masyarakat (Toma), di Keuskupan Atambua telah dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 7 September 2016, bertempat di Wisma St Yosef – Nenuk, Atambua.

Peserta seluruhnya berjumlah 150 orang yang terdiri dari para Pastor, para Frater, Bruder, para Suster, dan guru. Narasumber : Bp Uskup Keuskupan Atambua, Mgr Dominikus Saku,  Perdhaki Pusat ; dr Felix Gunawan, Sekretaris KPA Provinsi NTT (dr Husein Pancratius),  mewakili Kadinkes Kab. Belu Bpk Siprianus Mali, AMdKep (Kabid Pencegehan dan Penanggulangan Penyakit).

Pertemuan dibuka oleh Bp Uskup Keuskupan Atambua. Dalam sambutan dan arahannya, Bapa Uskup menjelaskan bahwa Pertemuan hari ini akan membicarakan masalah pola perilaku hidup sehat yang disampaikan melalui informasi penting tentang HIV/AIDS dan Narkoba. Bapa Uskup meminta agar para pastor yang setiap hari bergelut dengan permasalahan umat memperhatikan juga masalah kesehatan umatnya. Kalau umatnya sehat para pastor dapat menghantar mereka sampai masuk surga, tetapi kalau umatnya masih sakit harus disembuhkan dulu oleh dokter baru Pastor bisa membawa mereka ke surga.

Pada kesempatan selanjutnya Sr Margaretha,FSGM yang mewakili Perdhaki Pusat, menjelaskan mengapa Perdhaki harus sampai ke Atambua untuk mensosialisasikan HIV/AIDS kepada para pastor yang mana para pastor pasti sudah banyak yang tahu tentang HIV/AIDS, namun karena keprihatinan kami terhadap Kabupaten Belu yang berdasarkan data dari KPA Pusat dan KPA Provinsi NTT tahun 2014, Kasus HIV/AIDS Kabupaten Belu menempati tempat kedua setelah Kota Kupang. Kedatangan Perdhaki di Keuskupan Atambua karena “kepedulian dan keprihatinan” terhadap peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS di Kab. Belu, terutama sebagian besar pengidap HIV/AIDS di NTT termasuk Atambua adalah para Ibu Rumah Tangga. Perdhaki ingin mengajak para pastor agar dapat memberi informasi akurat tentang HIV/AIDS kepada masyarakat umum, mampu memberikan dukungan spiritual bagi oang yang terkena HIV, menciptakan iklim kondusif, berjejaring dengan Dinas Kesehatan setempat dan menghapus stigma dan diskriminasi penderita HIV/AIDS di paroki/wilayah kerja masing-masing.

 

Pada presentasi materi Kondisi HIV/AIDS di Kabupaten Belu  oleh  Bpk Siprianus Mali, data Kumulatif kasus HIV/AIDS tiga tahun terakhir : tahun 2014 : 781 kasus, tahun 2051 : 876 kasus, tahun 2016 bln Agustus : 949 orang.

Data Januari-Agustus 2016 : HIV 41 orang, AIDS 32 orang (total 73 orang , laki-laki 35 org perempuan 38 org) dan menurut jenis pekerjaan  tiga terbanyak adalah : Ibu Rumah tangga berjumlah 22 orang, petani 10 orang, wiraswasta 10 orang. Di Kab. Belu yaitu di Kota Atambua sudah tersedia tempat layanan IMS (infeksi Menular Seksual), Layanan VCT (Voluntary Counselling and Testing/Konseling dan Tes HIV sukarela), Layanan CST (Care Support and Treatment/Perawatan, Dukungan dan Pengobatan bagi penderita HIV),Layanan PMTCT (Prevention of Mother to Child Transmission of HIV/Pencegahan penularan ibu ke bayi). Di beberapa tempat seperti di Tasifeto Timur, Tasifeto Barat, Atambua Barat, Atambua Selatan, Kakuluk Mesak, dll,  sudah tersedia Layanan VCT.

 

Data HIV/AIDS Provinsi NTT yang dipresentasikan oleh Sekretaris KPA Provinsi, dr Husein Pancratius ; pengidap terbanyak adalah ibu Rumah Tangga yakni 780 orang, pekerja swasta 610 orang, petani 410 orang, pekerja seks komersial 155 orang. HIV/AIDS juga sudah menginfeksi masyarakat umum dari berbagai profesi/pekerjaan seperti PNS, Polisi/TNI, Pelajar/mahasiswa, guru, Wanita Pekerja Seks,  tenaga kesehatan, wartawan tukang ojek, supir, buruh, satpam, dll.

Data kumulatif kasus HIV/AIDS Provinsi NTT tahun 2005-Juni 2016, (5 terbanyak)  sebagai berikut :

  1. Kota Kupang : HIV : 614 org, AIDS 263 org, meninggal 64 org
  2. Belu : HIV : 299 org, AIDS 291 org, meninggal 236 org
  3. Flotim : HIV : 131 org, AIDS 386 org, meninggal 110 org
  4. Sikka : HIV : 139 org, AIDS 373 org, meninggal 164 org
  5. Kab TTU : HIV :   96 org, AIDS 138 org, meninggal  98 org

Pada akhir Presentasinya dr Husein mengajak para pastor agar dapat berperan aktif dalam penanggulangan HIV/ AIDS melalui peran gereja, antara lain :

-Penyuluhan melalui mimbar gereja, Penyuluhan kepada calon Pasutri, Penyuluhan bagi OMK, Nasehat tambahan pada saat penintensi, Ulasan pada buku Panduan Katekese, Himbauan Bapa Uskup melalui Surat Gembala, pemasangan leaflet pada papan pengumuman gereja, menanamkan informasi kesehatan reproduksi secara dini melalui kegiatan sekami, Pencegahan melalui pembinaan fungsi keluarga melalui WKRI/Legio Maria, keterlibatan keluarga terkait pencegahan human trafficking, penyuluhan melalui aktifitas KUB terutama persiapan bagi calon perantau (TKI dan eks perantau).

Sebelum penutupan kami mendengarkan testimoni dari 2 orang ODHA yaitu seorang anak perempuan berusia 9 thn, kelas 3 SD. Kedua orang tua meninggal karena AIDS, dia diasuh oleh neneknya dan secara teratur minum obat ARV sejak bayi. Nenek dan keluarga merawatnya dengan penuh kasih sayang, terutama dalam hal disiplin minum obat, meskipun sesekali bertanya mengapa harus minum obat terus padahal tidak merasa sakit sedangkan teman-teman yang lain tidak pernah minum obat.

Testimoni kedua dari seorang ibu Rumah Tangga, mempunyai suami dan  4 orang anak, semuanya HIV negatif. Ibu “R”  juga  teratur minum obat ARV selama 4 tahun. Pada mulanya stres tetapi suami sering menenangkan dan mendukung terutama dalam hal minum obat dan kontrol sehingga tidak merasa putus asa, hanya ada tekad ingin hidup untuk anak-anak agar bisa mendidik dan membimbing mereka. Sekarang bergabung di KPA Kab. Belu mendampingi teman-teman pasien, memberi dukungan kepada mereka melalui  sharing pengalaman hidup. Melalui KPA  banyak orang sudah berobat dan minum obat teratur. Terima kasih untuk KPA Kab. Belu yang dengan suka duka sudah melayani para ODHA untuk berobat. Ada  pesan yang menyentuh dari ibu ini untuk kita semua “Virus ini hanya untuk kami, tidak akan kami bagikan kepada orang lain, tolong jangan stigma kami karena kami sama dengan kalian semua”.

Pertemuan ditutup dengan doa oleh Sr Helma Nahak,SSpS dan berkat oleh Rm Yustus Asa,SVD. (JF)

Imunisasi Pentavalen (DPT, HB, Hib) Pada Bayi

I. Latar Belakang
Pneumonia menyebabkan kematian terbesar pada anak. Kurang lebih 23% pneumonia yang serius pada anak disebabkan oleh Haemophilus Influenzae tipe b (Hib). Hib dan Streptococcus pneumonia juga menyebabkan meningitis yang dapat menimbulkan kematian dan kecacatan pada anak. Berdasarkan laporan CDC tahun 2000 Hib dapat menyebabkan antara lain meningitis (50%), Epiglotis ( 17%), pneumonia ( 15%).
Berdasarkan kajian dari Regional Review Meeting on Imumunization WHO/SEARO di New Dellhi dan Komite Ahli Penasihat Imunisasi Nasional / Indonesian Technical Advisory Group Group on Imunizazation (ITAGI) pada tahun 2010, merekomendasikan agarvaksin Hib diintegrasikan ke dalam program imunisasi nasional untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan bayi dan balita akibat pneumonia dan meningitis. Hal ini selaras dengan rencana introduksi vaksin baru yang terdapat dalam Comprehensivev Multi Years Plan ( CMYP) 2010 – 2014 dalam rangka mempercepat pencapaian Millenium Develompmet Goals (MDGs)4.
Haemophilus Influenzae tipe b (Hib) merupakan suatu bakteri gram negative dan terbagi atas jenis yang berkaspsul dan tidak berkapsul. Tipe yang tidak berkapsul umumnya tidak ganas dan hanya menyebabkan infeksi ringan seperti faringits atau otitis media. Sedang yang berkapsul yang paling ganas dan salah satu penyebab yang paling sering mengakibatkan kematian pada bayi dan anak kurang dari 5 tahun.

II. Indikasi
Vaksin digunakan untuk pencegahan terhadap difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan), hepatitis B dan infeksi Haemophilus Influenzae tipe b dengan cara simultan.

III. Kontra indikasi
Hipersensitif terhadap komponen vaksin, atau reaksi berat terhadap dosis vaksin kombinasi sebelumnya atau bentuk bentuk reaksi sejenis lainnya, merupakan kontra indikasi absolute terhadap dosis berikutnya.
Kejang atau gejala kelainan otak pada bayi baru lahir atau kelainan saraf serius lainnya merupakan kontraindikasi terhadap komponen pertusis. Dalam hal ini tidak boleh diberikan bersama vaksin kombinasi, tetapi vaksin DT harus diberikan sebagai pengganti DPT, vaksin Hepatitis B dan Hib diberikan secara terpisah.

IV. Tujuan dan Sasaran
Tujuan:
Terselenggaranya pelayanan imunisasi DPT-HB,Hib pada anak bayi dan imunisasi lanjutan pada anak batita sesuai standar.

Sasaran :
Imunisasi DPT-HB-Hib merupakan imunisasi rutin yang diberikan kepada sasarann pada usia 0-11 bulan. Imunisasi lanjutan DPT-HB,Hib dan Campak, diberikan kepada batita (Bawah Tiga Tahun).

Jadwal
Pemberian Imunisasi DPT-HB,Hib merupakan bagian dari pemberian imunisasi dasar pada bayi sebanyak tiga dosis. Vaksin DPT-HB,Hib merupakan pengganti vaksin DPT-HB sehingga memiliki jadwal yang sama dengan DPT-HB.
Pada tahap awal DPT-HB,Hib hanya diberikan pada bayi yang belum pernah mendapatkan imunisasi DPT-HB. Apabila sudah pernah mendapatkan imunisasi DPT-HB dosis pertama atau kedua, tetap dilanjutkan dengan pemberian imunisasi DPT-HB sampai dengan dosis ketiga.
Pemberian imunisasi lanjutan DPT-HB,Hib diberikan pada anak usia 1,5 tahun (18 bulan) yang sudah melakukan imunisasi DPT-HB maupun DPT-HB,Hib tiga dosis.
Bagi anak batita yang belum mendapat DPT-HB tiga dosis dapat diberikan DPT-HB,Hib pada usia 18 bulan dan imunisasi lanjutan DPT-HB,Hib diberikan minimal 12 bulan dari DPT-HB,Hib dosis ketiga.
Imunisasi lanjutan Campak diberikan pada anak usia 2 tahun (24 bulan). Apabila anak belum pernah mendapatkan imunisasi Campak sebelumnya (saat bayi), maka pemberian imunisasi lanjutan Campak dianggapa sebagai dosis pertama. Selanjutnya harus dilakukan pemberian Imunisasi Campak dosis kedua minimal 6 bulan setelah dosis pertama.

*dikutip dari Petunjuk Teknis Introduksi Imunisasi DPT-HB,Hib (Pentavalen) pada bayi dan pelaksanaan Imunisasi lanjutan anak batita _Kemenkes 2013.

Pelatihan Tatalaksana TB Strategi DOTS Bagi Pengelola Program TB di FASYANKES Anggota PW Keuskupan Agung Medan & Keuskupan Sibolga

Pelatihan Tatalaksana TB Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) bagi Pengelola Program TB di Fasyankes (Fasilitas Pelayanan Kesehatan), merupakan kegiatan terakhir Program TB Perdhaki di Keuskupan Agung Medan (KAM) & Keuskupan Sibolga tahun 2014.
Pelatihan ini merupakan lanjutan atau mata rantai dari kegiatan-kegiatan sebelumya yaitu Advokasi bagi Keuskupan, Sosialisasi bagi Toga-Toma, Workshop bagi Kader Level Paroki, dan Penyuluhan bagi Kader Level masyarakat/Stasi.
Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 3 – 7 November 2014, bertempat di Hotel Antares-Jl. Sisingamangaraja No. 84, Medan, dengan jumlah peserta sebanyak 21 orang Pengelola Fasyankes anggota Perdhaki Wilayah Keuskupan Agung Medan dan Keuskupan Sibolga termasuk Pulau Nias.
Fasyankes yang diundang adalah : KAM : (BP St Theresia Parlilitan, BP/RB St Yoseph Dolok Sanggul, BP/RB St Lusia Lintong Nihuta, BP/RB St Maria Palipi, BP/RB St Martina Sidikalang, BP San Damiano-Tigabinanga, RS St Elisabeth 2 org). Keusk. Sibolga : (BP/RB St Mikael, BP St Bernadeth-Pakkat, BP/RB Nirmala-Si Pea Pea, BP/RB Fatima-Tumba Jae, BP/RB St Maria-Posniroha, BP/RB Serasi-Pinangsori, BP/RB St Melania-Sarudik, BP St Lukas-Aek Tolang, BP St Rafael-Pulau Tello Nias, BP Tabita-Nias, BP/RB St Anna-Idanogawo Nias, RS Stella Maris-Teluk Dalam 2 org).
Pelatihan difasilitasi oleh tiga orang Fasilitator Nasional yaitu dr U.T.Hutagalung, dr Sri Indra Susilo dan dr Elias Siahaan.

Pelatihan dibuka oleh Bpk Sukarni,SKM,MKes mewakili Ibu Kadinkes Prov. Sumut. Dalam sambutannya beliau menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Perdhaki yang telah menyelenggarakan Pelatihan ini bagi Fasyankes anggotanya dengan bantuan dana dari GF Komponen TB, dimana sebelumnya Pemerintah hanya bisa mengikutsertakan satu atau dua orang saja dari mereka karena keterbatasan dana. Diharapkan setelah Pelatihan Klinik-klinik swasta mampu melayani masyarakat berdampak TB sesuai dengan standard, sehingga dapat membantu meningkatkan angka penemuan orang terduga TB, meningkatkan angka keberhasilan pengobatan dan menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat TB serta mengurangi dampak TB-MDR (Multi Drug Resistant).
Pada kesempatan yang sama hadir pula Ketua Perdhaki Wilayah Medan (dr Maria Christina,MARS) yang dalam sambutannya mengucapkan terima kasih karena Wilayahnya terpilih untuk menjadi tempat Pelatihan, terima kasih atas kerjasama yang baik dan menyatakan siap untuk membantu kelancaran kegiatan.

Selama 5 hari efektif peserta dibagi dalam tiga kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 7 orang dan difasilitasi seorang Fasilitator. Fasilitator sangat aktif dan semangat dalam menjelaskan materi sesuai Modul, dan menanggapi setiap pertanyaan peserta dengan gaya dan caranya yang unik, sehingga peserta tidak pernah merasa mengantuk ataupun bosan.
Dalam penilaian akhirnya peserta merasa sangat puas karena Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi mereka, mereka lebih percaya diri dalam menghadapi pasien/orang terduga TB.
Begitu pula menurut penilaian para Fasilitator, bahwa Pelatihan ini berjalan dengan baik, semua peserta sehat, tertib, tidak ada yang mengantuk dan Pelatihan ini berhasil, terbukti dengan kenaikan nilai Post Test yang sangat signifikan dibandingkan dengan nilai Pre Test.

Dalam kesan dan pesannya dr U.T. Hutagalung mewakili Fasilitator menyampaikan bahwa sudah merupakan tradisi pada setiap Pelatihan hari ini 7 November 2014 beliau menobatkan dan meresmikan bertambahnya 21 orang anggota Tim Pengendalian TB di Prov. Sumut yang setara dengan para dokter dan tenaga kesehatan yang sudah ada di daerah. Beliau juga akan melaporkan hal tsb. kepada Dinas Kesehatan Prov. Sumut.

Sr Xaveria,Haloho,FCJM mewakili peserta menyampaikan ucapan terima kasih kepada Perdhaki Pusat, PW Medan dan Fasilitator atas terselenggaranya Pelatihan ini karena mendapatkan penyegaran. Fasilitator sangat berhasil dalam memberikan materi, meskipun cukup pusing karena materi yang cukup padat.
Setelah itu peserta diberikan Sertifikat dan para Fasilitator diberikan Piagam Penghargaan.

Pelatihan ditutup oleh Ka. PW Medan, yang berharap peserta bekerja keras dan sungguh-sungguh menerapkan ilmunya dan yakin peserta akan berhasil dilihat dari nilai Post Test yang tinggi.

Foto : Peserta serius mengerjakan soal Post Test.
tatalaksana

Lingkungan Sehat, Jantung Sehat

Demikian topik yang diangkat dalam seminar sehari memperingati World Heart Day (WHD) atau Hari Jantung Sedunia 2014 yang seyogyanya diperingati setiap tanggal 29 September. Seminar yang diselenggarakan di Ruang Siwabessy, Kemenkes RI, Jakarta merupakan salah satu upaya dari Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular sosialisasi Permenkes No. 30 tahun 2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan GGL serta Pesan Kesehatan Untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji.

Dalam setiap kesempatan, Kementerian Kesehatan RI melalui “speaker”nya selalu mendorong masyarakat untuk semakin berdaya, mengubah perilaku hidup untuk menjadi lebih sehat. Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin berolah fisik, Diet yang sehat dan kalori yang seimbang, Istirahat yang cukup dan Kelola hidup untuk lebih baik. CERDIK adalah slogan yang perlu diingat agar hidup lebih berkualitas. Sebagai salah satu pembicara yaitu dr. Isman Firdaus, SpJP (K), FIHA, FESC, FAPSIC menyampaikan pengalamannya sebagai dokter otopsi bahwa “Jarang ada kematian yang disebabkan karena rokok tetapi lebih karena pola hidup”.

Banyak orang di kota besar, lebih tepatnya adalah pekerja kantoran tidak sempat melakukan olah fisik karena padatnya waktu dimana mereka harus berangkat pagi-pagi menuju tempat kerja dan kembali pulang sudah malam. Sebaris kalimat bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat hampir terlupakan oleh mereka yang sibuk. Namun tidak demikian bagi dr. Isman. Sebagai seorang dokter yang cukup mempunyai motivasi terhadap diri sendiri maka dr. Isman melakukan aktivitas fisik setiap pagi dengan bersepeda dari rumah menuju stasiun kereta terdekat untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju tempat tugas di RS. Harapan Kita.

Perubahan zaman yang semakin modern dan praktis tentu mengubah juga tatanan kehidupan masyarakat dimana mereka tinggal. Paparan polusi tinggi juga membuat oksidan dalam tubuh sangat tinggi sehingga terjadiah penyempitan pembuluh darah. Penderita penyakit jantung dimasa kini tidak lagi hanya tertuju pada mereka yang berusia lanjut tetapi semua orang dan semua usia bisa terkena resiko penyakit jantung. Sebagai penyakit yang mematikan maka harus diwaspadai dengan cermat. Masyarakat dapat menambah informasi dan kepedulian serta kepeduliannya menjaga kesehatan merupakan upaya pencegahan penyakit jantung sejak dini, perlindungan diri terhadap risiko penyakit kronis. Dipaparkan bahwa penyakit jantung koroner mempunyai gejala seperti nyeri dada seelah kiri, sesak nafas, mudah lelah, denyut jantung tak beratur. Seorang yang sudah berumur lebih dari 40 tahun sebaiknya memeriksakan kesehatan jantungnya.

Tindakan awal yang perlu dilakukan bila seseorang terkena serangan jantung adalah dibaringkan dengan setengah duduk, diberikan aspirin sembari dikunyah-kunyak, jangan diajak ngobrol dan jangan beri apapun untuk dimakan atau diminum.

Kementerian Kesehatan menggaungkan pesan penting untuk kesehatan. Masyarakat diminta untuk waspada dalam mengkonsumsi gula, garam dan lemak. Batas maksimal dalam mengkonsumsi gula 50 gram atau sekitar 4 sdm sehari, konsumsi garam maksimal 2.000 mg atau kurang dari 1 sdt sehari dan konsumsi lemak maksimal 67 gram atau sekitar 4 sdm sehari. Mereka dengan faktor resiko kolesterol tinggi, kadar gula tinggi dan perokok jelas lebih mudah terkena penyakit jantung pada populasi lebih muda dari 40 tahun ke bawah. Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SH, MSi, SpF(K) mengatakan dalam beberapa penelitian jelas faktor makanan, selain rokok dapat memicu penyakit jantung.

Waspada dan berhati-hatilah dalam mengkonsumsi makanan kemasan atau olahan. Perhatikan dan cermati label produknya, informasi kadaluarsa dan nilai gizi produk makanan dalam kemasan. Label informasi produk kemasan diperlukan oleh masyarakat agar lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi gula, garam dan lemak dalam makanan. Hal itu diatur dalam Permenkes No. 30 Tahun 2013 tentang Pencantuman Informasi kandungan gula, garam dan lemak serta pesan pengingat resiko kesehatan pada kemasan produk pangan olahan dan siap saji. Pesan yang langsung dicantumkan dalam kemasan diharapkan memberikan penginat kepada masyarakat untuk terus memantau konsumsi gula, garam dan lemak mereka. Manage : live, enjoy, play, join. (ndr)

Pedoman Gereja Katolik Mengenai Vaksin

Pedoman Gereja Katolik Mengenai Vaksin

Latar Belakang Vaksinasi
Ditemukan oleh Edward Jenner (vaksinasi untuk penyakit cacar (smallpox) pada tahun 1700-an. Vaksin Polio ditemukan pada 1950-an. Untuk mencegah berjangkitnya penyakit menular, vaksin nasi sangat cost-effective (cost saving), sehingga sesuai dengan tujuan preventive medicine. Vaksinasi merupakan satu-satunya tindakan medik yang paling berkontribusi dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian secara global. ( JAMA 2002;288:3155-58)

Efektivitas Vaksin
Cacar dan polio berhasil diberantas di Amerika Serikat, sedangkan insidens beberapa penyakit lain seperti campak dan batuk rejan dapat ditekan sebesar 98-99% dibandingkan dengan data dasar. Vaksin dapat melindungi individu dan masyarakat. Namun masih ada sekitar 50.000 orang per tahun di Amerika meninggal akibat penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin. (Ann Intern Med 2007;147:735-7)

Vaksinasi dewasa ini
Vaksinasi bayi dan anak yang direkomendasikan misalnya : BCG, campak, gondong, rubella, cacar air, polio, difteria, tetanus, pertussis, haemophilus influenza type B, pneumococcus, hepatitis B, rotavirus, dan HPV. Vaksinasi dewasa yang direkomendasikan misalnya : campak, gondong, rubella, tetanus, difteria, cacar air, hepatitis B, hepatitis A, influenza, dan pneumococcus.

Mengapa orang menolak vaksinasi ?
– Hak individu dan tidak percaya pada pemerintah
– Tidak percaya ilmu kedokteran, dan percaya pada penyembuhan alamiah atau “natural healing”
– Efek samping vaksinasi yang faktual
– Nyeri pada lengan, demam, flu-like illnesses, Guillain-Barre Syndrome (1.8 kasus/juta )
– Vaksin pertussis yang lama sering menyebabkan anak demam, menangis, lemas dan kadang-kadang kejang
– Terinfeksi virus yang ada dalam vaksin – the Cutter incident
– Efek samping yang belum terbukti
– sudden infant death syndrome (SIDS), autism, multiple sclerosis, kelainan syaraf
– Vaksin mengandung bahan berbahaya dan dibuat dari janin korban aborsi

Bagaimana jaringan janin yang diaborsi bisa ikut terlibat dalam pembuatan vaksin?
Produksi vaksin diawali dari pengumpulan virus, kemudian virus ditumbuhkan dan diubah dalam laboratorium untuk dibuat strain yang lebih lemah, yang kemudian dilarutkan dalam serum dan dimasukkan ke dalam tubuh manusia.
Proses pembentukan strain virus yang dilemahkan ini memerlukan suatu biakan sel untuk menumbuhkan virus. Biakan sel ini terdiri dari “cell line” atau kelompok sel, yaitu sel yang dapat bermultiplikasi sendiri dan dapat dipertahankan dalam waktu lama di laboratorium. Beberapa sel ini berasal dari hewan, dan beberapa dari janin manusia yang diaborsi.
(http://www.rtl.org/prolife_issues/LifeNotes/VaccinesAbortion_FetalTissue…)
Sampai saat ini, ada dua kelompok sel diploid yang berasal dari jaringan janin yang diaborsi (dilakukan pada tahun 1964 dan 1970) dan digunakan untuk membuat vaksin virus hidup yang dilemahkan yaitu :
• WI-38 line (Winstar Institute 38),
• MRC-5 line (Medical Research Council 5)

Vaksin yang melibatkan kelompok sel manusia yang berasal dari janin yang diaborsi, yaitu WI-38 dan MRC-5
A. Vaksin anti rubella :
• Vaksin monovalen anti rubella Meruvax®!! (Merck) (U.S.), Rudivax® (Sanofi Pasteur, Fr.), and Ervevax® (RA 27/3) (GlaxoSmithKline, Belgium);
• Vaksin kombinasi MR anti rubella dan campak : M-R-VAX® (Merck, US) dan Rudi-Rouvax® (AVP, France);
• Vaksin kombinasi anti rubella dan campak : Biavax®!! (Merck, U.S.),
• Vaksin kombinasi MMR (measles, mumps, rubella) anti rubella, gondok dan campak : M-M-R® II (Merck, US), R.O.R.®, Trimovax® (Sanofi Pasteur, Fr.), and Priorix® (GlaxoSmithKline UK).

B. Vaksin lain yang juga dibuat dengan menggunakan kelompok sel yang berasal dari janin yang diaborsi adalah:
• Vaksin anti hepatitis A, produksi Merck (VAQTA), dan produksi GlaxoSmithKline (HAVRIX), keduanya menggunakan MRC-5;
• Vaksin anti cacar air, Varivax®, diproduksi oleh Merck menggunakan WI-38 dan MRC-5;
• Vaksin anti poliomyelitis, Poliovax® (Aventis-Pasteur, Fr.) dengan menggunakan MRC-5;
• Vaksin anti rabies, Imovax®, diproduksi oleh Aventis Pasteur, dengan menggunakan MRC-5;
• Vaksin anti cacar, AC AM 1000, diproduksi oleh Acambis dengan menggunakan MRC-5, masih dalam penelitian

Vaksin yang menggunakan diploid cells dari bayi yang diaborsi

Disease Vaccine Name Manufacturer Cell Line
MeasesL, Mumps, Rubella MMR II Merck & Company RA273 and WI-38
Rabies Imovax Aventis-Pasteur MRC-5
Hepatitis A Havrix Vaqta GlaxoSmithKlin
Merk & Company MRC-5
Hepatitis A-B Combo Twinrix GlaxoSmithKline MRC-5
Chicken Pox Varivax Merck & Company WI-38
MRC-5
Smallpox Acambis 1000 Acambis MRC-5
Ebola N/A Crucell & N.I.H. PER C6
HIV N/A Merck & Company PER C6
Sepsis Xigris Eli Lilley HEK 293
Flu N/A MedImmune PER C6
Polio Poliovax Aventis-Pasteur MRC-5

Bagaimana pedoman dari Gereja Katolik ?
Pada bulan Juni 2005 Vatican Pontifical Academy for Life mengeluarkan dokumen mengenai Refleksi Moral terhadap Vaksin Yang Diproduksi Dari Janin Manusia Yang Diaborsi

Pedoman Gereja Katolik mengenai Vaksin
1. Secara moral tidak dibenarkan untuk memproduksi, memasarkan dan mendistribusikan vaksin yang dibuat dari cell lines janin yang diaborsi kerena dapat mendorong dilakukannya aborsi secara sengaja dengan tujuan memproduksi vaksin
2. Kita berkewajiban untuk meminta dan menggunakan vaksin alternatif yang secara moral diproduksi dengan cara yang lebih dapat diterima, bila vaksin alternatif ini ada
3. Dalam hal vaksin yang diproduksi dari cell lines janin yang diaborsi tidak tersedia, secara moral diijinkan untuk menggunakannya dengan sifat “sementara” dan “sejauh vaksin tsb. bermanfaat” untuk kepentingan kesehatan individu dan masyarakat seutuhnya
4. Dapat dibenarkan untuk tidak menggunakan vaksin yang diproduksi dengan menggunakan cell lines janin yang diaborsi, dengan syarat bahwa hal ini dilakukan tanpa menempatkan anak-anak dan secara tidak langsung masyarakat secara umum dalam risiko yang besar untuk kesehatan mereka
5. Kita berkewajiban untuk “melawan dengan segala cara (dengan tulisan, melalui berbagai organisasi, media massa dll) terhadap vaksin yang belum ada alternatifnya yang secara moral dapat diterima, berupaya agar vaksin alternatif disediakan – yang tidak dibuat dengan menggunakan janin yang diaborsi, dan menuntut pengawasan secara legal terhadap pabrik-pabrik farmasi.”

Penyakit Rubella
Virus rubella adalah salah satu virus yang paling berbahaya untuk embrio dan janin. Bila seorang wanita terkena infeksi rubela pada waktu hamil, khususnya pada trimester pertama, maka risiko infeksi terhadap janin sangat tinggi (sekitar 95%). Virus berkembang biak dalam plasenta dan menginfeksi janin, menyebabkan terjadinya kelainan yang disebut dengan Congenital Rubella Syndrome.
Wabah rubella di Amerika Serikat pada tahun 1964 begitu hebat sehingga menyebabkan 20.000 kasus congenital rubella, 11.250 aborsi (baik secara spontan maupun disengaja), 2.100 kematian neonatal, 11.600 kasus ketulian, 3.580 kasus kebutaan, 1.800 kasus mental retardation
Keadaan ini memicu dikembangkannya virus yang efektif melawan rubella, yang dapat mencegah rubella secara efektif

Pendapat Gereja Katolik mengenai vaksin rubella
1. Vaksin rubella (salah satu komponen dari MMR) diproduksi dengan menggunakan cell line bayi yang diaborsi dan tidak ada vaksin alternatifnya untuk saat ini. Jadi butir ketiga dari pedoman di atas dapat diterapkan pada kasus ini.
“The Pontifical Academy for Life menolak pernyataan bahwa Gereja Katolik mempunyai kewajiban moral untuk menolak penggunaan vaksin rubella berdasarkan suara hati dan ajaran Gereja Katolik.
Gereja Katolik mendorong orangtua untuk memberikan vaksinasi anti rubella dan penyakit berat lainnya untuk anak-anak mereka meskipun kelompok sel yang digunakan untuk memproduksi vaksin tsb berasal dari janin yang diaborsi.”
2. Terhadap semua vaksin yang diproduksi dengan menggunakan kelompok sel yang berasal dari janin yang diaborsi, kita mempunyai kewajiban untuk memperjuangkan dikembangkannya vaksin alternatif yang diproduksi dengan cara yang lebih bisa diterima secara moral.
Demikian antara lain yang disampaikan oleh dr. Kiky Kilapong, MSc (dari Komunitas Medik Katolik /KMKI) berdasarkan power point yang disusun oleh dr. Angela N. Abidin, MARS, SpMK dalam pertemuan Forum Komunikasi Penyayang Kehidupan /FKPK 18 Januari 2014 yang lalu di Wisma Perdhaki. Sharing ini merupakan “oleh-oleh” setelah 13 delegasi dari Indonesia (KMKI dan Wanita Katolik RI) menghadiri Kongres XIX Human Life International Asia Pacific di Kinabalu, 14-16 November 2013 dengan tema “Created in the Image and Likeness of God.” *** els