Kesempatan Berkarir di RS St. Vincentius Singkawang

Rumah Sakit Santo Vicentius Singkawang, Kalimantan Barat
membuka Lowongan Pekerjaan (Open Recruitment)
untuk:

Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Kualifikasi umum:

  • Pria/Wanita
  • Memiliki ijazah Spesialis Penyakit Dalam
  • Memiliki STR aktif
  • Mampu bekerja secara individu dan tim
  • Fresh graduate atau Berpengalaman

Kualifikasi khusus:

  • CV dan Surat Lamaran
  • Pas foto 3 x 4
  • Ijazah dan STR legalisir

Kirim lamaran ke:
Bagian SDM RS. Santo Vincentius
Singkawang
Jl. Pangeran Diponegoro, No. 05
Kota Singkawang, 79123
(0562) 63 67 68
(0562) 46 46 799
atau e-mail: rs_vincentius@yahoo.com

Recruitment RS St Vincentius Singkawang
Recruitment RS St. Vincentius Singkawang

Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus Untuk Hari Orang Sakit Sedunia XXIX

“Hanya satu Gurumu dan kamu semua adalah saudara”
(Matius 23:8)

Relasi yang didasarkan pada rasa percaya memandu perawatan orang sakit

Saudari dan saudara terkasih,

Perayaan Hari Orang Sakit Sedunia ke-29 pada 11 Februari 2021, saat peringatan Santa Perawan Maria Lourdes, merupakan kesempatan untuk mencurahkan perhatian khusus kepada orang sakit dan mereka yang memberi pertolongan serta perawatan baik di lembaga kesehatan maupun keluarga dan komunitas. Kita secara khusus memikirkan mereka yang menderita berkepanjangan karena pandemi virus corona di seluruh dunia. Kepada semua saudara, terutama yang miskin dan tersingkir, saya menyatakan kedekatan batin saya dan meyakinkan mereka akan perhatian Gereja yang penuh kasih.

1. Tema Hari Orang Sakit ke-29 ini diambil dari perikop Injil di mana Yesus mengkritik kemunafikan orang-orang yang gagal mempraktikkan apa yang mereka khotbahkan (lih. Mat.23: 1-12). Ketika iman kita dikerdilkanmenjadi kata-kata kosong, tidak peduli dengan kehidupan dan kebutuhan orang lain, keyakinan iman yang kita akui terbukti tidak sejalan dengan kehidupan yang kita jalani. Bahayanya nyata. Itulah mengapa Yesus menggunakan ungkapan yang keras tentang bahayanya jatuh ke dalam penyembahan berhala diri. Dia mengatakan kepada kita, “karena hanya satu Gurumu dan kamu semua adalah saudara” (ayat 8).

Kritik Yesus terhadap mereka yang “berkhotbah tetapi tidak mempraktikkan” (ayat 3) bermanfaat kapan pun dan di mana pun, karena tidak seorang pun dari kita kebal terhadap kejahatan kemunafikan yang mematikan, yang menghambat kita berkembang sebagai anak-anak Bapa, yang dipanggil untuk menghidupi persaudaraan universal.

Di hadapan kebutuhan sesama, Yesus meminta kita menanggapinya dengan cara yang sepenuhnya bertolakbelakang dengan kemunafikan seperti itu. Ia meminta kita untuk diam dan mendengarkan, untuk membangun relasi langsung dan personal dengan orang lain, untuk merasakan empati dan kasih sayang, dan untuk membiarkan penderitaan mereka menjadi milik kita saat kita berusaha melayani mereka (lih. Luk. 10: 30-35).

2. Pengalaman sakit membuat kita menyadari kerentanan diridan kebutuhan akan orang lain. Hal inimembuat kita semakin jelas merasakan bahwa kita adalah makhluk yang bergantung pada Tuhan. Ketika sakit, ketakutan dan kebingungan dapat mencengkeram pikiran dan hati kita; kita mengalami ketidakberdayaan, karena kesehatan kita tidak bergantung pada kemampuan atau kekhawatiran hidup yang tiada henti (lih. Mat 6:27).

Penyakit membangkitkan pertanyaan tentang makna hidup, yang kita bawa ke hadapan Tuhan dalam iman. Dalam mencari arah hidup yang baru dan lebih mendalam, kita mungkin tidak menemukan jawaban langsung. Kerabat dan teman kita pun tidak selalu dapat membantu kita dalam pencarian tersebut.

Tokoh alkitab Ayub merupakan simbol dalam hal ini. Istri dan teman-teman Ayub tidak menemaninya dalam kemalangan; sebaliknya, mereka menyalahkan dia dan hanya memperburuk kesendirian dan kesusahannya. Ayub merasa sedih dan disalahpahami. Namun untuk semua penderitaannya yang demikian berat, dia tidak munafik. Ia jujur pada Tuhan dan orang lain. Ia berseru kepada Tuhan sedemikian kuat sehingga akhirnya Tuhan menjawab dan mengizinkannya melihat cakrawala baru. Ia menegaskan bahwa penderitaan Ayub bukanlah hukuman atau keadaan terpisah dari Tuhan, apalagi sebagai tanda ketidakpedulian Tuhan. Hati Ayub, yang terluka dan sembuh, kemudian membuat pengakuan yang hidup dan menyentuh ini kepada Tuhan: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (42:5).

3. Penyakit selalu memiliki lebih dari satu rupa: ia memiliki rupa semua orang sakit, tetapi juga mereka yang merasa diabaikan, dikucilkan dan menjadi korbanketidakadilan sosial yang menyangkal hak-hak asasi mereka (lihFratelli Tutti22). Pandemi saat ini telah memperburuk ketidaksetaraan dalam sistem perawatan kesehatan dan memperlihatkan ketidakefisienan dalam perawatan orang sakit. Lansia, orang lemah dan rentan tidak selalu diberikan akses perawatan, atau diperlakukan dengan cara-cara yang adil. Ini adalah akibat dari keputusan-keputusan politis, pengelolaan sumber daya, dan komitmen yang lebih besar atau lebih kecil dari pihak yang berwenang. Menginvestasikan sumber-sumber daya dalam perawatan dan pertolongan orang sakit adalah prioritas yang terkait dengan prinsip fundamental bahwa kesehatan adalah kebaikan bersama yang utama. Namun, pandemi juga menyoroti pengabdian dan kemurahan hati petugas kesehatan, sukarelawan, staf pendukung, imam, kaum pria dan wanita religius, yang semuanya telah membantu, merawat, menghibur dan melayani begitu banyak orang sakit dan keluarga mereka dengan profesional, pengorbanan diri, tanggung jawab, dan cinta pada sesama. Banyak pria dan wanita yang dengan tetap, memilih untuk tidak melihat ke arah lain, tetapi untuk berbagi penderitaan pasien, yang mereka lihat sebagai tetangga dan anggota satu keluarga manusia.

Kedekatan seperti itu bagai minyak oles berharga yang memberikan dukungan dan penghiburan bagi orang sakit dalam penderitaan mereka. Sebagai orang Kristiani, kita mengalami kedekatan itu sebagai tanda kasih Yesus Kristus, Orang Samaria yang Baik Hati, yang dengan belas kasih mendekati setiap pria dan wanita yang terluka oleh dosa. Kita dipersatukan dengan Kristus oleh karya Roh Kudus. Dengan persatuan ilahi itu, kita dipanggil untuk berbelas kasih seperti Bapa dan secara khusus mencintai saudara-saudari kita yang lemah, sakit dan menderita (lih. Yoh 13: 34-35). Kita mengalami kedekatan ini tidak hanya sebagai pribadi, tetapi juga sebagai komunitas. Sungguh, cinta persaudaraan di dalam Kristus menghasilkan komunitas penyembuhan, komunitas yang tidak meninggalkan siapa pun, komunitas yang inklusif dan ramah, terutama bagi mereka yang paling membutuhkan.

Di sini saya ingin menyebutkan pentingnya kesetiakawanan, yang secara konkret diwujudkan dalam pelayanan dan berbagai bentuk yang semua diarahkan untuk mendukung sesama. “Melayani berarti peduli […] untuk keluarga yang rentan, masyarakat dan rakyat kita” (Homili di Havana, 20 September 2015). Dalam jangkauan ini, semua “dipanggil untuk mengesampingkan keinginan dan hasrat sendiri, pengejaran kekuasaan, di hadapan kenyataan mereka yang paling rentan […] Pelayanan selalu terarah ke wajah mereka, menyentuh daging mereka, merasakan kedekatan mereka dan bahkan dalam beberapa kasus, ‘menderita’ oleh kedekatan itu dan mencoba membantu mereka. Pelayanan tidak pernah ideologis, karena kita tidak melayani ide, kita melayani orang” (ibid.).

4. Jika terapi ingin efektif, ia harus mempunyai aspek relasional, karena aspek ini memampukanpendekatan holistik kepada pasien. Aspek relasional dapat membantu dokter, perawat, tenaga profesional dan relawan untuk merasa bertanggung jawab mendampingi pasien di jalan penyembuhan yang didasarkan pada hubungan antarpribadi yang saling percaya ( Piagam Baru untuk Petugas Perawatan Kesehatan [2016], 4). Aspek relasional ini menciptakan perjanjian antara mereka yang membutuhkan perawatan dan mereka yang menyediakan perawatan itu, perjanjian yang didasarkan pada rasa saling percaya dan hormat, keterbukaan dan kesiapsediaan diri. Hal ini akan membantu mengatasi sikap defensif, menghormati martabat orang sakit, menjaga profesionalisme petugas kesehatan dan membina hubungan yang baik dengan keluarga pasien.

Relasi seperti itu dengan orang sakit menemukan sumber motivasi dan kekuatannya dalam kasih Kristus, seperti yang ditunjukkan oleh kesaksian para pria dan wanita yang selama ribuan tahun telah bertumbuh dalam kekudusan melalui pelayanan kepada yang lemah. Misteri kematian dan kebangkitan Kristus adalah sumber kasih yang mampu memberikan makna penuh pada pengalaman pasien dan perawat. Injil sering memperjelas hal ini dengan menunjukkan bahwa Yesus menyembuhkan bukan dengan sihir, tetapi dengan perjumpaan, hubungan antarpribadi, di mana pemberian diri Allah mendapat tanggapan dalam iman orang-orang yang menerimanya. Seperti Yesus sering mengatakan, “Imanmu telah menyelamatkanmu”.

5. Saudara-saudari yang terkasih, perintah kasih yang Yesus wariskankepada murid-murid-Nya terpelihara dalam hubungan kita dengan orang sakit. Masyarakat akan jauh lebih manusiawi bila secara efektif memperhatikan anggotanya yang paling lemah dan menderita, dalam semangat cinta persaudaraan. Marilah kita berusaha keras mencapai tujuan ini, agar tidak ada yang merasa sendirian, dikucilkan atau ditinggalkan.

Kepada Maria, Bunda Belaskasih dan Kesehatan bagi yang Lemah, saya mempercayakan semua yang sakit, para petugas kesehatan, dan semua orang yang dengan murah hati membantu saudara-saudari kita yang menderita. Dari Goa Lourdes dan banyak tempat peziarahan lain di seluruh dunia, semoga ia menopang iman dan harapan kita, serta membantu kita untuk saling memperhatikan dengan cinta kasih persaudaraan. Kepada Anda masing-masing dan semua orang, saya dengan hormat memberikan berkat saya.

Roma, Basilika Santo Yohanes Lateran, 20 Desember 2020,
Minggu Keempat Adven

Fransiskus

PERDHAKI, dalam penanggulangan Covid-19

PERDHAKI, dalam penanggulangan Covid-19

Bersama  BAKKAT, PUKAT dan lembaga lain bersatu membantu Rumah Sakit dan Klinik Katolik yang tersebar diseluruh Indonesia, pada saat-saat para petugas medis sedang sangat membutuhkan bantuan Alat Pelindung Diri (APD) berupa hasmat, masker, dll.

PERDHAKI melalui grup-grup WA telah memberikan informasi seputar Covid-19 secara regular kepada Rumah Sakit dan Klinik Katolik diseluruh Indonesia. Informasi tersebut tentang seluk beluk virus Covid-19, cara perlindungan diri bagi petugas medis dan informasi lain.

Sampai  bulan Juni 2020, PERDHAKI telah mendapat dukungan dari para pihak, termasuk dari The Global Fund dengan jumlah lebih dari  Rp 5 M yang dipergunakan untuk  memberi dukungan APD bagi para tenaga medis di Rumah Sakit dan Klinik, di Indonesia Bagian Timur. Rumah Sakit dan Klinik tersebut selama ini terlibat aktif dalam program eliminasi Malaria yang didukung oleh The Global Fund.

Rumah Sakit dan Klinik yang dibantu meliputi wilayah :
1. Propinsi Papua Barat, 1 Keuskupan : Keuskupan Manokwari – Sorong (KMS)
Sub Recipient PERDHAKI KMS
Sub Recipient PERDHAKI YATIMA
2. Propinsi Papua, yang meliputi 4 Keuskupan : Keuskupan Jayapura, Keuskupan Timika, Keuskupan Agats dan Keuskupan Agung Merauke.
Sub Recipient PERDHAKI Keuskupan Jayapura
Sub Recipient PERDHAKI Keuskupan Timika & Agats
Sub Recipient PERDHAKI Keuskupan Agung Merauke
3. Propinsi Maluku & Maluku Utara, yang meliputi 1 Keuskupan : Keuskupan Amboina
Propinsi Maluku
PERDHAKI Maluku
4. Propinsi NTT, yang meliputi 7 Keuskupan : Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua, Keuskupan Wetebula, Keuskupan Larantuka, Keuskupan Maumere, Keuskupan Ruteng dan Keuskupan Agung Ende.
Propinsi NTT
Sub Recipient PERDHAKI pulau Timor dan pulau Sumba
Keuskupan Agung Kupang
Keuskupan Atambua
Keuskupan Weetebula
Sub Recipient PERDHAKI pulau Flores
Keuskupan Larantuka
Keuskupan Mamuere
Keuskupan Ende
Keuskupan Ruteng

Kemudian PERDHAKI juga mendapat sumbangan dana dari hasil kolekte Paskah dari WNI yang tinggal di USA, khususnya di Chicago, Atlanta dan Seattle.

Sumbangan dana tersebut dibelikan APD dan Masker Medis untuk 5 Rumah Sakit, yaitu di Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Selatan dan Jawa Timur.

Bantuan APD ke RS Dian Harapan, Jayapura

Bantuan APD ke RS St Maria Pekanbaru

Bantuan APD ke RS St Maria Pekanbaru

Hospital Preparation to Response COVID-19 Patient Surge and New Normal

Hospital Preparation to Response COVID-19 Patient Surge and New Normal
Persiapan Rumah Sakit dalam menghadapi Peningkatan Drastis Pasien COVID-19 dan Tatanan Kebiasaan Baru (New Normal)
oleh: Setiawan Jati Laksono WHO (kantor Indonesia)
26 Mei 2020

Hospital Preparation to Res… by PERDHAKI on Scribd

atau bisa download langsung disini: WHO – HOSPITAL PREPARATION TO RESPONSE

PERINGATAN untuk DOKTER PRAKTIK Dalam Situasi Pandemi Covid-19

PERINGATAN untuk DOKTER PRAKTIK Dalam Situasi Pandemi Covid-19

  1. Kurangi hari / jam praktik
  2. Kurangi jumlah pasien
  3. Kurangi lama kontak dengan pasien
  4. Dokter dengan komorbid STOP PRAKTIK :

– penyakit jantung

– penyaki ginjal dan hipertensi

– diabetes mellitus

– penyakit paru

– kelainan darah

– gangguan imunitas

– waspada bila usia > 60 tahun

  1. Jangan memegang pasien kalau tidak perlu sekali.
  2. Cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebelum dan setelah setiap kali memegang pasien. Sering2 CTPS setelah memegang apapun, terutama sebelum memegang area wajah.
  3. Gunakan APD :
  4. APD level-1 : tenaga medis & tenaga kesehatan di FKTP.
  5. APD level-2 : tenaga medis & tenaga kesehatan yang menangani Pasien periksa buka mulut pasien dan terapi spray, aerosol, nebulizer atau di UGD / IRD.
  6. APD level-3 : tenaga medis & tenaga kesehatan yang merawat Pasien Covid-19 dan mengerjakan prosedur USG, Echo, Endoskopi, CPR, Intubasi dan Tindakan Medis yang menghasilkan aerosol.

APD yang disposable dibuang menurut kaidah B3 infeksius.

APD washable direndam deterjen atau tindakan. asepsis lain yang sesuai.

  1. Pasien bila masuk fasyankes wajib memakai masker dan cairan aseptik atau CTPS, jarak dokter-pasien minimal 2 m, batasi jumlah pengantar pasien.
  2. Pada prosedur Pemeriksaan / Tindakan dimana pasien tidur di bed, maka bed harus dispray alkohol 70% setelah Pemeriksaan / Tindakan.
  3. Kurangi atau tunda melakukan tindakan medis elektif.
  4. Stetoskop, Ballpoint, Handphone, Dompet sering dilakukan tindakan asepsis.
  5. Cuci dengan deterjen setiap benda yang bisa terkontaminasi : uang, kartu ATM, kartu kredit, dsb.

Selamat Warga dengan Selamatkan Petugas Kesehatan dari Ancaman COVID-19

Selamat Warga dengan Selamatkan Petugas Kesehatan dari Ancaman COVID-19

Kasus   Covid-19 yang  terus meningkat, dari semula hanya 2 kemudian  dalam sebulan (tanggal 29 Maret 2020) dengan cepat melampaui 1200 kasus.  Kematian karena Covid-19, yang  semula nol, dalam sebulan (tanggal  29 Maret 2020) menjadi  lebih dari 110kematian.  Diperkirakan kasus akan terus melonjak dalam 1- 2 bulan mendatang, antara lain karena himbauan Pemerintah untuk  “Social Distancing” belum  ditaati oleh sebagian masyarakat.

Dengan terus meningkatnya kasus positif  Covid-19, maka akan meningkat pula pasien yang perlu dirawat di RS , diantaranya adalah mereka  yang dalam keadaan kritis yang wajib dirawat di ruang ICU. RS pemerintah yang dijadikan RS Rujukan belakangan tidak lagi mampu menampung  pasien Covid-19 yang terus mengalir dengan deras.

Sedangkan RS swasta yang semula menjadi lapis kedua, mulai dibanjiri pasien karena RS rujukan pertama pun sudah penuh sesak.

Seluruh RS di tanah air mulai kekurangan Alat Pelindung Diri (APD)  yang  terdiri dari Masker , Masker N95 , Surgical Face mask, Masker ear loop), Hazmat, Gloves (sarung tangan), Sepatu boot, Shoes-cover, kacamata Google, Head-cap, Face-shield dan sebagainya.

Di Indonesia ada 92 RS  Katolik  yang bergabung pada Perkumpulan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (PERDHAKI) didukung oleh lebih dari 250 dokter spesialis, lebih dari 800 dokter umum, lebih dari 7500 perawat/bidan dengan Delegatus Kesehatan: Mgr. B.E. Rolly Untu, MSC. RS Katolik ini tersebar di seluruh penjuru Nusantara mulai dari Medan sampai Merauke, yang juga berjuang untuk mengatasi kelangkaan APD. Diharapkan kita semua merapatkan barisan dan menyingsingkan lengan baju, serta mengulurkan tangan bagi penderita COVID-19 maupun petugas kesehatan, mulai dari industri diharapkan membantu memproduksi APD berkualitas namun terjangkau, bagi para dermawan kami mengetuk hati dan bela rasa agar turut meringankan beban ini dengan berbagi dan menyisihkan sebagian dana yang akan digunakan untuk pengadaan APD yang berkualitas. Bersama kita dapat mengarungi badai Corona ini, seraya memanjatkan doa memohon kerahiman ilahi.

Bantuan dana dapat juga dikirimkan ke kantor Pusat Perdhaki, untuk kemudian akan disalurkan kepada RS-RS yang membutuhkan. Rekening PERDHAKI  sebagai berikut :

Bank BCA, cabang Gondangdia, Jakarta Pusat, DKI JAKARTA.
No Rekening :  455.3009645
Atas nama : PERDHAKI

Catatan: Perdhaki setiap diaudit oleh akuntan publik, hasil audit selama ini membuktikan diri sebagai lembaga yang telah berhasil menegakkan good governance, akuntabilitas dan transparansi dengan hasil Wajar Tanpa Syarat.