Piagam Penghargaan

Piagam Penghargaan

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memberikan apresiasi serta ucapan terima kasih kepada relawan yang telah mengabdi dalam penanggulangan krisis kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pada acara Hari Kesehatan Nasional telah dberikan piagam penghargaan secara simbolis kepada perwakilan lembaga. Dr. Felix Gunawan mewakili PERDHAKI, hadir sebagai salah satu penerima piagam yang diberikan pada Kamis, 8 November 2018 bertempat di Indonesian Convention Exhibition (ICE BSD) Jl. BSD Grand Boulevard No. I, BSD City, Tanggerang, Banten.

Piagam penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI
Iklan

Advokasi oleh Program Malaria PERDHAKI di Kabupaten Lembata

Advokasi oleh Program Malaria PERDHAKI di Kabupaten Lembata

Program Malaria PERDHAKI di Kabupaten Lembata sudah dijalankan sejak tahun 2015 oleh Sub Sub Recipient (SSR) Yayasan Papa Miskin Dekenat (YPMD) Lembata dan sejak awal tahun 2018, terbentuklah SSR YPMD Lembata II untuk proses akselerasi dan percepatan eliminasi malaria di Kabupaten Lembata. SSR ini telah merancang dan melaksanakan berbagai program dan inovasi yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat dan melibatkan berbagai stakeholder untuk menurunkan angka kesakitan malaria di Kabupaten Lembata. Hingga saat ini, SSR YPMD Lembata I dan II telah bekerja di 10 desa yang tersebar di 9 Kecamatan dan mengembangkan berbagai inovasi berbasis Participatory, Learning and Action (PLA) dalam menumbuhkan kepedulian masyarakat atas tingginya angka kesakitan malaria di Kabupaten Lembata. Lebih jauh, dengan melibatkan berbagai stakeholder seperti NGO/CSO yang berada di Kabupaten dan sejumlah instansi di lingkup Pemda Kabupaten Lembata, kedua SSR turut mendorong lahirnya Tim PLA Kabupaten Lembata yang akan menjadi motor penggerak berbagai aktivitas lintas stakeholder untuk percepatan . Selain itu, Program Malaria PERDHAKI melalui SSR yang ada di Lembata turut mendampingi 3 Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) di bawah naungan PERDHAKI untuk terlibat dalam berbagai program pemberantasan malaria dan membangun inovasi jejaring Public Private Mix bersama fasilitas kesehatan lainnya untuk bersama-sama bergerak dalam berbagai kegiatan pemberantasan malaria di Kabupaten Lembata.

Berawal dari mimpi bahwa Program Malaria PERDHAKI berkontribusi untuk eliminasi di Lembata, maka kedua SSR Yayasan Papa Miskin Dekenat Lembata berinisiatif untuk melaksanakan pertemuan advokasi percepatan eliminasi malaria di Kabupaten Lembata dengan melibatkan berbagai stakeholder Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata, Tim SABER Malaria, CSO/NGO, Tim PLA Kabupaten dan Tim Program Malaria PERDHAKI. Sehingga dengan demikian, diharapkan kerjasama dan sinergisitas dapat terbangun dan proses percepatan eliminasi dapat berjalan dengan baik menuju Lembata Sehat, Lembata Bebas Malaria. Kegiatan ini sudah berlangsung pada tanggal 23 Oktober 2018 dan output dari kegiatan ini semua stakeholder akan bekerja sama agar proses percepatan eliminasi dapat berjalan dengan baik menuju Lembata Sehata, Lembata Bebas Malaria.

SSR Yayasan Papa Miskin Dekenat Lembata I dan II juga berinisiatif untuk melaksanakan Pertemuan Advokasi dan Workshop Kebijakan dan Penganggaran Alokasi Dana Desa Untuk Bidang Kesehatan Di Kabupaten Lembata. Kegiatan ini sudah berlangsung pada tanggal 24 Oktober 2018 dan output dari kegiatan ini setiap Kepala Desa berkomitmen untuk mengalokasikan dana desa untuk Program Malaria sehingga berkontribusi untuk proses percepatan eliminasi di Lembata.

Melayani untuk Kehidupan

Gempa dengan kekuatan 6,4 SR mengguncang Lombok pada hari Minggu 29 Juli lalu. Meski tidak sampai terjadi tsunami, ratusan bangunan roboh, akses jalan terputus karena longsor, dan jatuh banyak korban luka hingga meninggal dunia. Gempa yang terjadi pukul 05.47 WIB ini juga dirasakan di Bali dan sekitarnya.

Tanpa membuang waktu, RS Katolik St. Vincentius a Paulo (RKZ Surabaya) menyiapkan tim medis untuk “turun” ke lapangan. Hanya berselang 2 (dua) hari, di hari Selasa tgl 31 Juli, tim medis RKZ sudah berada di Lombok siap mengulurkan tangan untuk meringankan penderitaan sesama yang terkena bencana. Tim perdana ini terdiri dari 2 (dua) orang dokter, 4 (empat) perawat dan 1 (satu) asisten apoteker, bekerja sama dengan RS Katolilk St. Antonius – Ampenan, memberikan pelayanan kesehatan selama lima hari di beberapa Posko di kecamatan Sembalun yang merupakan area terdampak berat. Setiap pagi tim berangkat ke Posko dan kembali untuk beristirahat di RS Katolik St. Antonius saat menjelang tengah malam.

Melihat situasi mereda, manajemen RKZ menunda keberangkatan tim berikutnya. Namun kemarahan alam rupanya belumlah reda. Minggu malam, tanggal 5 Agustus, gempa lebih besar mengguncang lagi, dengan korban makin banyak. RKZ Surabaya segera mengirimkan tim baksos yang ke dua, mendarat di Lombok tanggal 8 Agustus. Sesuai kebutuhan, tim terdiri dari 1 dokter IGD, 1 perawat Kamar Bedah, 1 perawat anastesi, 2 perawat Rawat Luka.

Selain membantu pelayanan korban di RS Katolik St. Antonius Ampenan, tim ke dua ini Ikut berpartisipasi aktif dalam pelayanan di Rumah Sakit Umum, di Kamar Operasi maupun di tenda-tenda perawatan. Selama di Lombok, tim ini mengalami sendiri gempa-gempa susulan yang datang silih berganti. Satu kali ketika terjadi gempa susulan yang cukup kuat, satu tim operasi termasuk anggota tim medis RKZ terpaksa harus bertahan melanjutkan operasi yang sudah berjalan separuh. Gempa tersebut menyebabkan ruang operasi di Rumah Sakit Umum selanjutnya tidak bisa digunakan lagi, sehingga didatangkanlah container-container untuk operasi. Di saat-saat terakhir sebelum kembali ke Surabaya, tim masih harus bertugas di kamar operasi maupun perawatan korban.

Gempa terus berlanjut, maka berangkatlah tim medis RKZ yang ke tiga pada tanggal 16 Agustus, terdiri dari 1 dokter spesialis orthopedi, 1 perawat anastesi dan 2 perawat lain. Tim ini mengerjakan tindakan operasi sampai pelayanan kesehatan ke posko-posko yang saat itu belum terjangkau bantuan seperti di Gangga yang lokasinya cukup menantang. Malam terakhir sebelum pulang, tim ke tiga RKZ mendapat “bonus” pengalaman gempa 6,5 SR yang seakan menjadi puncak kisah bakti sosialnya. Dalam kegelapan (karena PLN dimatikan dan genset belum berani dinyalakan) mengevakuasi pasien Rumah Sakit ke area parkir dan menjaga pasien semalaman dalam kejutan-kejutan gempa susulan, menjadi pengalaman yang tak mudah terlupakan.

Sampai tulisan ini diturunkan, RKZ Surabaya belum mengirimkan tim medis berikutnya, namun berbagai bantuan dikoordinasikan bersama RSK St. Antonius. Saat-saat baksos menjadi saat-saat berahmat bukan saja bagi mereka yang dilayani, namun semua anggota tim menyatakan bahwa kegiatan pelayanan baksos ini benar-benar memberikan pengalaman yang berharga yang tak terlupakan. Melayani mereka yang menderita sungguh membangkitkan rasa syukur atas segala anugerah yang boleh diterima dan memperkuat rasa persaudaraan serta empati dengan para korban sebagai sesama anak-anak Allah.

BPJS Kesehatan Pede Dengan Layanan Aplikasi Mobile

BPJS Kesehatan Pede Dengan Layanan Aplikasi Mobile

 

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan terus meningkatkan layanan secara daring. Salah satunya lewat aplikasi mobile Mobile JKN.

Kepala Bagian Humas BPJS Kesehatan Nopi Hidayat mengatakan, berdasarkan rating yang diberikan oleh pengguna Aplikasi Mobile JKN, terlihat bahwa pengguna menyukai Aplikasi Mobile JKN dengan skor rating sebesar 3,9.

“Sebanyak 7.688 pengguna memberikan rating bintang 5 yang artinya “loved it!”. Sebanyak 2.590 memberikan rating bintang 4 yang artinya “liked it!”. Sebanyak 2.048 memberikan rating bintang 3 yang artinya “It’s OK!”,” katanya kepada Bisnis, Senin (23/7/2018).

Menurut Nopi, apabila user mengalami kendala dalam pemakaian aplikasi ini, untuk dapat dipastikan pengguna dapat menyimak baik-baik petunjuk penggunaan/pengoperasian Mobile JKN dan didukung oleh kestabilan jaringan internet.

” BPJS Kesehatan sudah menyiapkan kanal pengaduan yang sudah tertera dalam informasi di playstore atau applestore,” katanya.

Dia menambahkan aplikasi Mobile JKN merupakan suatu layanan mandiri berbasis teknologi informasi yang dapat diakses kapanpun dimanapun dengan mudah oleh peserta. Layanan yang terdapat di dalam Mobile JKN antara lain Pendaftaran Peserta Baru, Update Data Peserta, Kartu Kepesertaan Digital, kanal Informasi dan Penyampaian Pengaduan. Sebelum implementasi Aplikasi Mobile JKN, layanan-layanan tersebut hanya dapat diakses oleh Peserta di Kantor Cabang.

“Manfaat yang didapat Peserta dengan adanya Mobile JKN adalah peserta tidak perlu datang ke Kantor Cabang untuk mendapatkan informasi dan layanan administrasi, cukup mengakses melalui smartphone maka layanan tersebut dapat diakses secara realtime, mudah dan cepat. Diharapakan dengan semakin banyak peserta JKN-KIS yang menggunakan aplikasi ini akan meningkatkan kepuasan karena tidak perlu antri di Kantor BPJS Kesehatan.”

Sumber : http://m.bisnis.com/finansial/read/20180723/215/819748/bpjs-kesehatan-pede-dengan-layanan-aplikasi-mobile-

Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS)

Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) yang diperingati pada tanggal 24 Maret setiap tahun
dirancang untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa Tuberkulosis (TBC) sampai saat ini masih menjadi epidemic di dunia. Di Indonesia Tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor satu diantara penyakit menular lainnya.

Pelaksanaan Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2018 dapat dijadikan sebagai
momentum dimana kesadaran masyarakat tentang bahaya TBC meningkat dan dilakukan melalui aksi Gerakan Temukan TBC Obati Sampai Sembuh (TOSS TBC) yang merupakan kegiatan penemuan kasus secara aktif dan masif sekaligus mendorong pasien TBC untuk memeriksakan diri dan menjalani pengobatan sampai tuntas.

Sejalan dengan Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) melalui Program Indonesia Sehat
dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) Indonesia mengambil Tema Peringatan HTBS tahun 2018 yaitu Peduli TBC, Indonesia Sehat dengan aksi Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TBC). Melalui tema dan aksi ini diharapkan seluruh masyarakat lintas program dan lintas sektor dengan mendukung program Pengendalian TBC mampu menempatkan TBC sebagai isu utama di semua sektor.

Upaya pencegahan dan Pengendalian TBC tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan
semata tetapi perlu komitmen multisektoral karena permasalahan Tuberkulosis terbesarnya adalah masalah non teknis. Penyebarluasan informasi tentang TBC kepada masyarakat akan meningkatkan pengetahuan dan kepedulian untuk mencegah penularan TBC. Sehubungan dengan hal tersebut Kemenkes telah membuat materi KIE untuk kampanye Pencegahan Penularan TBC antara lain berupa Spanduk, Leaflet, Postter, dll, seperti terlampir dibawah ini.

Mohon kita semua dapat membantu menyebarluaskan informasi tentang TBC ini kepada masyarakat luas agar aksi TOSS TBC dapat berhasil.

JF

Leaflet TOSS TBC

Poster dan Materi Publikasi Lainnya (silakan klik pada gambar)

 

MISA HARI ORANG SAKIT SEDUNIA 2018

MISA HARI ORANG SAKIT SEDUNIA 2018

RS St. CAROLUS BORROMEUS KUPANG, NTT

(Kupang, 11 Februari 2018)

 

— Bunda Gereja: “Ibu, inilah, anakmu… Inilah, ibumu. Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya”. Itulah tema Hari Orang Sakit Sedunia ke 26 tahun 2018. Tema ini merupakan pesan Bapa Suci Paus Fransiskus untuk Hari Orang Sakit Sedunia (HOSD) ke 26 yang ditetapkan dari kata-kata yang diucapkan Yesus dari atas salib kepada Maria, Ibu-Nya, dan Yohanes. Kata-kata Tuhan itu dengan terang benderang menerangi misteri Salib, yang tidak menghadirkan tragedi keputusasaan, namun lebih tepatnya menunjukkan kemuliaan-Nya dan kasih-Nya sampai akhir. Kasih itu menjadi dasar dan kaidah bagi komunitas Kristiani dan hidup dari setiap murid Kristus.

Misa HOSD di RS. Carolus Borromeus Kupang

Pada hari Minggu 11 Februari 2018, RS St. Carolus Borromeus memperingati Hari Orang Sakit Sedunia yang secara rutin diperingati setiap tahunnya dengan mengadakan Misa Ekaristi dan pembagian bunga kepada orang sakit sebagai wujud empati dan kepedulian terhadap mereka yang menderita dan berkesesakan hidup. Misa pada HOSD ke-26 ini secara spesial dipimpin oleh Bapa Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, dan dihadiri oleh pasien serta karyawan RS St. Carolus Borromeus, juga umat Paroki-Paroki sekitar. Diperkirakan sebanyak lebih kurang 250 orang menghadiri misa peringatan HOSD yang diadakan di lobby depan RS St. Carolus Borromeus pada sore hari tersebut.

 

Dalam homilinya, Bapa Uskup menyampaikan peran rumah sakit Katolik yang memiliki fungsi sosial dan bukan sebagai rumah sakit yang berorientasi dalam pencarian keuntungan semata. Pelayanan tulus terhadap orang-orang sakit, terlebih yang menderita dan berkesesakan hidup harus menjadi inti daripada keberadaan rumah sakit Katolik. Hal ini memang secara nyata membedakan rumah sakit Katolik dari rumah sakit-rumah sakit lainnya, dimana pelayanan yang bersumber pada cinta kasih memiliki ketulusan dan warna pelayanan yang peduli terhadap sesama, dan hal ini senantiasa berusaha dihidupi dan diwujudkan oleh RS St. Carolus Borromeus.

HOSD_beri bunga
Dr. Herly (Direktur RS. Carolus, Kupang) memberi bunga kepada pasien anak

Salah satu yang menjadi tradisi RS St. Carolus Borromeus dalam peringatan HOSD ini adalah pembagian bunga. Pembagian bunga dilakukan oleh para Konselebran dan oleh Direktur RS St. Carolus Borromeus kepada pasien-pasien, baik pasien yang berobat jalan maupun pasien di bagian rawat inap. Tampak wajah para pasien yang berubah menjadi gembira setelah menerima bunga, sehingga diharapkan pembagian bunga dapat membantu meringankan penderitaan psikis pasien yang sedang dirawat.

HOSD_jabat
Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang berjabat tangan dengan pasien

Eduardus (54), salah seorang pasien yang dirawat di Ruang Rawat Inap RS St. Carolus Borromeus karena penyakit lambung, mengaku sangat gembira dan tidak menduga dapat berjabat tangan dan menerima Hosti langsung dari Bapa Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang. Momen langka ini terjadi ketika Bapa Uskup yang memimpin perayaan Misa Ekaristi membagikan Hosti kepada pasien-pasien yang terbaring di ranjang ataupun di kursi roda sehingga mengalami keterbatasan fisik untuk berjalan menerima Tubuh Kristus ke depan Altar. Eduardus pun sempat berjabat tangan dan mendapat berkat dari Bapa Uskup seusai Misa HOSD. “Saya merindukan bersalaman langsung dengan Bapa Uskup. Sudah 54 tahun saya hidup, tapi hal ini baru dapat terwujud hari ini”, ujarnya sembari tersenyum gembira.

 

Peringatan HOSD ini ditutup dengan kunjungan Bapa Uskup dan para Konselebran serta Suster-Suster Cinta Kasih Carolus Borromeus kepada para pasien yang menderita terbaring sakit dalam perawatan di RS St. Carolus Borromeus.

 

Dalam Surat yang berisi pesan untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-26 tahun 2018 ini, Bapa Suci Paus Fransiskus mengatakan: “Semoga Perawan Maria menjadi pengantara untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-26. Semoga ia membantu orang-orang sakit untuk menyatukan penderitaan mereka dengan penderitaan Tuhan Yesus. Dan, semoga ia mendukung mereka semua yang merawat orang sakit. Kepada semua orang sakit, pelayan kesehatan dan relawan, saya memberikan berkat Apostolik saya”. [/ERC]