Increasing HIV cases among mothers and babies : what should we do ?

HIV and AIDS is a pandemic that cause health effects   Socio-economic and political.

Cases of people infected with HIV / AIDS in the Islands Province, East Nusa Tenggara (NTT) increased over time, like an iceberg phenomenon, which is troubling the people.

Until the August 2016, person with (PLWHA) most are housewives (IRT), which is 780 people, following the second private sector workers 610 people, farmers 410 people, as well as commercial sex workers (CSWs) 155 people. It was submitted Daily administrators KPA NTT, Gusti Brewon. And   105 babies in East Nusa Tenggara (NTT) was detected suffering from Human Immunodeficiency Virus (HIV) .     Of this amount, most are in the city of Kupang and Belu district, the rest are scattered in other districts in the province based on   these islands.

Cases were first discovered in Belu district in 2004.

HIV-AIDS cases in Belu until the month of August 2016, amounted to 764 cases could be identified. Only data from January 2016 until August 2016, there is the addition of 73 cases, (recorded HIV and AIDS 41 32 total 73).

Noted, the risk of transmission is still dominated housewife, totaling 312 people.             Belu regencies consists of 12 districts. The entire District in Belu had been infected with this deadly disease.

On 7th September, PERDHAKI disseminate HIV / AIDS to the Religious Leaders. These  event, was attended by the Bishop  of  Diocese    Atambua.

At the last event, there are testimonials from people living with HIV   (PLWHA)  One testimonial giver is a child who was 9 years   old. He was still in elementary school. Both the child’s parents have died of HIV / AIDS, when the child was an infant (aged 2 months) He was brought  up and nurtured  by her grandmother.

In an effort to reduce the number of transmission of HIV/ AIDS in Belu  regency  from spreading,need to build intersectoral partnering, among  religious institutions, inter-Social Organization (NGO), together hand in hand, tackling the deadly disease.

Hidh incidence HIV/AIDS  in NTT, especially in the group of  housewives, would threatenfuture generations,  it is  likely  transmit  the virus to the  baby thet will  be born. (gr 4 )

Sekretary of the National AIDS Commission ( KPA) NTT, dr Husein Pancratius said, in the last 10 years ( 2005 – 2015 ) as many as 1062 residents NTT died because of  HIV/AIDS. These  are People  with HIV who were registered while those not recorded, the number are still very much more   numerous than the data that got from the Health Office. Furthermore he said that people with HIV/IDS ( PLWHA), majority  aged between 20 and 35 Years old ( 10 percent of patients with HIV/AIDS  adolesence)

Tnat’s  why  “ sosialization need to be held in schools, villages, groups at risk, community Organization  and religious  institutions.

Now we make the mapping  of the spread  of HIV/AIDS in the Belu Regency, especially among the housewives,  we  would like to strengthen these group   with give them awareness about   the condition and situation, so  they  be able to perform action to  prevent  transmission the HIV virus from others.

We hope,   be able to  eradicate the virus  HIV by the year 2050.

            Cumulative number of cases of HIV /AIDS  in NTT  – 2012 ( in 22 districts) ( graf.1)

The  spread of HIV / AIDS  in NTT is  extremely fast.   In Belu Regency  we can see,  untill August   2016   the number of HIV/AIDS cases  are  949.

                The cumulative  number of  HIV/AIDS cases in Belu Regency   till  August 2016.( graf.2)

gbr-1

Para tokoh Agama peserta sosialisasi HIV AIDS di Keuskupan Atambua.

gbr-2

Para tokoh Agama peserta sosialisasi HIV AIDS di Keuskupan Atambua

gbr-3

(Rasti, 9th) foto bersama Bapa Uskup Mgr. Dominikus Saku dan Sekretaris KPA Prop.NTT, dr.Husein Pancratius

gbr-4

(Rasti, 9th) sedang memberikan testimoni di pandu Sr.Margaretha,FSGM dari Perdhaki Pusat

GERAKAN MASYARAKAT HIDUP SEHAT DAN KELUARGA SEHAT

  1. LATAR BELAKANG

Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini dihadapkan pada beban ganda, disatu pihak penyakit tidak menular (PTM) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang belum terselesaikan, bahkan beberapa penyakit menular yang semula dapat ditangani muncul kembali dengan penyebaran tidak mengenal batas-batas daerah maupun batas antar Negara. Dilain pihak telah terjadi peningkatan kasus penyakit tidak menular (PTM)/penyakit akibat gaya hidup serta penyakit-penyakit degenerative. Serta Capaian MDGs  ( Millenium Development Goals ) dimana  terdapat beberapa kegiatan yang memerlukan kerja keras jajaran kesehatan. Untuk mewujudkan  kesehatan masyarakat yang optimal, “mutlak” diperlukan adanya dukungan potensi masyarakat.

Permasalahan kesehatan yang timbul merupakan akibat perilaku hidup yang tidak sehat dan sanitasi lingkungan yang buruk yang sebenarnya dapat dicegah bila  fokus pelayanan kesehatan diutamakan pada pelayanan kesehatan  preventif dan promotif. Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui upaya promosi kesehatan. Upaya promotif dan preventif dalam menumbuhkan dan mengembangkan kemandirian keluarga dan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.

 

  1. TUJUAN
  2. Menurunkan beban penyakit menular dan penyakit tidak menular, baik kematian maupun kecacatan
  3. Menghindarkan terjadinya penurunan produktivitas penduduk
  4. Menurunkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan karena meningkatnya penyakit
  5. Menghindarkan peningkatan beban finansial penduduk untuk pengeluaran kesehatan

III.  PENDEKATAN

pendekatan-keluarga

IV. LANGKAH-LANGKAH

langkah-pelaksanaan

V. INDIKATOR KELUARGA SEHAT

indikator-keluarga-ssehat

VI.PAKET INFORMASI KESEHATAN KELUARGA

informasi-kesehtan-keluarga

VII.  PERANGKAT PENDEKATAN KELUARGA

perangkat

Sumber Materi dari Promosi Kesehatan – Kemenkes tahun 2016 (MS)

SOSIALISASI HIV/AIDS-BAGI TOGA/TOMA KEUSKUPAN ATAMBUA

SOSIALISASI HIV/AIDS-BAGI TOGA/TOMA

KEUSKUPAN ATAMBUA

 

Sosialisasi HIV /AIDS bagi Tokoh Agama (Toga) dan Tokoh Masyarakat (Toma), di Keuskupan Atambua telah dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 7 September 2016, bertempat di Wisma St Yosef – Nenuk, Atambua.

Peserta seluruhnya berjumlah 150 orang yang terdiri dari para Pastor, para Frater, Bruder, para Suster, dan guru. Narasumber : Bp Uskup Keuskupan Atambua, Mgr Dominikus Saku,  Perdhaki Pusat ; dr Felix Gunawan, Sekretaris KPA Provinsi NTT (dr Husein Pancratius),  mewakili Kadinkes Kab. Belu Bpk Siprianus Mali, AMdKep (Kabid Pencegehan dan Penanggulangan Penyakit).

Pertemuan dibuka oleh Bp Uskup Keuskupan Atambua. Dalam sambutan dan arahannya, Bapa Uskup menjelaskan bahwa Pertemuan hari ini akan membicarakan masalah pola perilaku hidup sehat yang disampaikan melalui informasi penting tentang HIV/AIDS dan Narkoba. Bapa Uskup meminta agar para pastor yang setiap hari bergelut dengan permasalahan umat memperhatikan juga masalah kesehatan umatnya. Kalau umatnya sehat para pastor dapat menghantar mereka sampai masuk surga, tetapi kalau umatnya masih sakit harus disembuhkan dulu oleh dokter baru Pastor bisa membawa mereka ke surga.

Pada kesempatan selanjutnya Sr Margaretha,FSGM yang mewakili Perdhaki Pusat, menjelaskan mengapa Perdhaki harus sampai ke Atambua untuk mensosialisasikan HIV/AIDS kepada para pastor yang mana para pastor pasti sudah banyak yang tahu tentang HIV/AIDS, namun karena keprihatinan kami terhadap Kabupaten Belu yang berdasarkan data dari KPA Pusat dan KPA Provinsi NTT tahun 2014, Kasus HIV/AIDS Kabupaten Belu menempati tempat kedua setelah Kota Kupang. Kedatangan Perdhaki di Keuskupan Atambua karena “kepedulian dan keprihatinan” terhadap peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS di Kab. Belu, terutama sebagian besar pengidap HIV/AIDS di NTT termasuk Atambua adalah para Ibu Rumah Tangga. Perdhaki ingin mengajak para pastor agar dapat memberi informasi akurat tentang HIV/AIDS kepada masyarakat umum, mampu memberikan dukungan spiritual bagi oang yang terkena HIV, menciptakan iklim kondusif, berjejaring dengan Dinas Kesehatan setempat dan menghapus stigma dan diskriminasi penderita HIV/AIDS di paroki/wilayah kerja masing-masing.

 

Pada presentasi materi Kondisi HIV/AIDS di Kabupaten Belu  oleh  Bpk Siprianus Mali, data Kumulatif kasus HIV/AIDS tiga tahun terakhir : tahun 2014 : 781 kasus, tahun 2051 : 876 kasus, tahun 2016 bln Agustus : 949 orang.

Data Januari-Agustus 2016 : HIV 41 orang, AIDS 32 orang (total 73 orang , laki-laki 35 org perempuan 38 org) dan menurut jenis pekerjaan  tiga terbanyak adalah : Ibu Rumah tangga berjumlah 22 orang, petani 10 orang, wiraswasta 10 orang. Di Kab. Belu yaitu di Kota Atambua sudah tersedia tempat layanan IMS (infeksi Menular Seksual), Layanan VCT (Voluntary Counselling and Testing/Konseling dan Tes HIV sukarela), Layanan CST (Care Support and Treatment/Perawatan, Dukungan dan Pengobatan bagi penderita HIV),Layanan PMTCT (Prevention of Mother to Child Transmission of HIV/Pencegahan penularan ibu ke bayi). Di beberapa tempat seperti di Tasifeto Timur, Tasifeto Barat, Atambua Barat, Atambua Selatan, Kakuluk Mesak, dll,  sudah tersedia Layanan VCT.

 

Data HIV/AIDS Provinsi NTT yang dipresentasikan oleh Sekretaris KPA Provinsi, dr Husein Pancratius ; pengidap terbanyak adalah ibu Rumah Tangga yakni 780 orang, pekerja swasta 610 orang, petani 410 orang, pekerja seks komersial 155 orang. HIV/AIDS juga sudah menginfeksi masyarakat umum dari berbagai profesi/pekerjaan seperti PNS, Polisi/TNI, Pelajar/mahasiswa, guru, Wanita Pekerja Seks,  tenaga kesehatan, wartawan tukang ojek, supir, buruh, satpam, dll.

Data kumulatif kasus HIV/AIDS Provinsi NTT tahun 2005-Juni 2016, (5 terbanyak)  sebagai berikut :

  1. Kota Kupang : HIV : 614 org, AIDS 263 org, meninggal 64 org
  2. Belu : HIV : 299 org, AIDS 291 org, meninggal 236 org
  3. Flotim : HIV : 131 org, AIDS 386 org, meninggal 110 org
  4. Sikka : HIV : 139 org, AIDS 373 org, meninggal 164 org
  5. Kab TTU : HIV :   96 org, AIDS 138 org, meninggal  98 org

Pada akhir Presentasinya dr Husein mengajak para pastor agar dapat berperan aktif dalam penanggulangan HIV/ AIDS melalui peran gereja, antara lain :

-Penyuluhan melalui mimbar gereja, Penyuluhan kepada calon Pasutri, Penyuluhan bagi OMK, Nasehat tambahan pada saat penintensi, Ulasan pada buku Panduan Katekese, Himbauan Bapa Uskup melalui Surat Gembala, pemasangan leaflet pada papan pengumuman gereja, menanamkan informasi kesehatan reproduksi secara dini melalui kegiatan sekami, Pencegahan melalui pembinaan fungsi keluarga melalui WKRI/Legio Maria, keterlibatan keluarga terkait pencegahan human trafficking, penyuluhan melalui aktifitas KUB terutama persiapan bagi calon perantau (TKI dan eks perantau).

Sebelum penutupan kami mendengarkan testimoni dari 2 orang ODHA yaitu seorang anak perempuan berusia 9 thn, kelas 3 SD. Kedua orang tua meninggal karena AIDS, dia diasuh oleh neneknya dan secara teratur minum obat ARV sejak bayi. Nenek dan keluarga merawatnya dengan penuh kasih sayang, terutama dalam hal disiplin minum obat, meskipun sesekali bertanya mengapa harus minum obat terus padahal tidak merasa sakit sedangkan teman-teman yang lain tidak pernah minum obat.

Testimoni kedua dari seorang ibu Rumah Tangga, mempunyai suami dan  4 orang anak, semuanya HIV negatif. Ibu “R”  juga  teratur minum obat ARV selama 4 tahun. Pada mulanya stres tetapi suami sering menenangkan dan mendukung terutama dalam hal minum obat dan kontrol sehingga tidak merasa putus asa, hanya ada tekad ingin hidup untuk anak-anak agar bisa mendidik dan membimbing mereka. Sekarang bergabung di KPA Kab. Belu mendampingi teman-teman pasien, memberi dukungan kepada mereka melalui  sharing pengalaman hidup. Melalui KPA  banyak orang sudah berobat dan minum obat teratur. Terima kasih untuk KPA Kab. Belu yang dengan suka duka sudah melayani para ODHA untuk berobat. Ada  pesan yang menyentuh dari ibu ini untuk kita semua “Virus ini hanya untuk kami, tidak akan kami bagikan kepada orang lain, tolong jangan stigma kami karena kami sama dengan kalian semua”.

Pertemuan ditutup dengan doa oleh Sr Helma Nahak,SSpS dan berkat oleh Rm Yustus Asa,SVD. (JF)

Imunisasi Pentavalen (DPT, HB, Hib) Pada Bayi

I. Latar Belakang
Pneumonia menyebabkan kematian terbesar pada anak. Kurang lebih 23% pneumonia yang serius pada anak disebabkan oleh Haemophilus Influenzae tipe b (Hib). Hib dan Streptococcus pneumonia juga menyebabkan meningitis yang dapat menimbulkan kematian dan kecacatan pada anak. Berdasarkan laporan CDC tahun 2000 Hib dapat menyebabkan antara lain meningitis (50%), Epiglotis ( 17%), pneumonia ( 15%).
Berdasarkan kajian dari Regional Review Meeting on Imumunization WHO/SEARO di New Dellhi dan Komite Ahli Penasihat Imunisasi Nasional / Indonesian Technical Advisory Group Group on Imunizazation (ITAGI) pada tahun 2010, merekomendasikan agarvaksin Hib diintegrasikan ke dalam program imunisasi nasional untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan bayi dan balita akibat pneumonia dan meningitis. Hal ini selaras dengan rencana introduksi vaksin baru yang terdapat dalam Comprehensivev Multi Years Plan ( CMYP) 2010 – 2014 dalam rangka mempercepat pencapaian Millenium Develompmet Goals (MDGs)4.
Haemophilus Influenzae tipe b (Hib) merupakan suatu bakteri gram negative dan terbagi atas jenis yang berkaspsul dan tidak berkapsul. Tipe yang tidak berkapsul umumnya tidak ganas dan hanya menyebabkan infeksi ringan seperti faringits atau otitis media. Sedang yang berkapsul yang paling ganas dan salah satu penyebab yang paling sering mengakibatkan kematian pada bayi dan anak kurang dari 5 tahun.

II. Indikasi
Vaksin digunakan untuk pencegahan terhadap difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan), hepatitis B dan infeksi Haemophilus Influenzae tipe b dengan cara simultan.

III. Kontra indikasi
Hipersensitif terhadap komponen vaksin, atau reaksi berat terhadap dosis vaksin kombinasi sebelumnya atau bentuk bentuk reaksi sejenis lainnya, merupakan kontra indikasi absolute terhadap dosis berikutnya.
Kejang atau gejala kelainan otak pada bayi baru lahir atau kelainan saraf serius lainnya merupakan kontraindikasi terhadap komponen pertusis. Dalam hal ini tidak boleh diberikan bersama vaksin kombinasi, tetapi vaksin DT harus diberikan sebagai pengganti DPT, vaksin Hepatitis B dan Hib diberikan secara terpisah.

IV. Tujuan dan Sasaran
Tujuan:
Terselenggaranya pelayanan imunisasi DPT-HB,Hib pada anak bayi dan imunisasi lanjutan pada anak batita sesuai standar.

Sasaran :
Imunisasi DPT-HB-Hib merupakan imunisasi rutin yang diberikan kepada sasarann pada usia 0-11 bulan. Imunisasi lanjutan DPT-HB,Hib dan Campak, diberikan kepada batita (Bawah Tiga Tahun).

Jadwal
Pemberian Imunisasi DPT-HB,Hib merupakan bagian dari pemberian imunisasi dasar pada bayi sebanyak tiga dosis. Vaksin DPT-HB,Hib merupakan pengganti vaksin DPT-HB sehingga memiliki jadwal yang sama dengan DPT-HB.
Pada tahap awal DPT-HB,Hib hanya diberikan pada bayi yang belum pernah mendapatkan imunisasi DPT-HB. Apabila sudah pernah mendapatkan imunisasi DPT-HB dosis pertama atau kedua, tetap dilanjutkan dengan pemberian imunisasi DPT-HB sampai dengan dosis ketiga.
Pemberian imunisasi lanjutan DPT-HB,Hib diberikan pada anak usia 1,5 tahun (18 bulan) yang sudah melakukan imunisasi DPT-HB maupun DPT-HB,Hib tiga dosis.
Bagi anak batita yang belum mendapat DPT-HB tiga dosis dapat diberikan DPT-HB,Hib pada usia 18 bulan dan imunisasi lanjutan DPT-HB,Hib diberikan minimal 12 bulan dari DPT-HB,Hib dosis ketiga.
Imunisasi lanjutan Campak diberikan pada anak usia 2 tahun (24 bulan). Apabila anak belum pernah mendapatkan imunisasi Campak sebelumnya (saat bayi), maka pemberian imunisasi lanjutan Campak dianggapa sebagai dosis pertama. Selanjutnya harus dilakukan pemberian Imunisasi Campak dosis kedua minimal 6 bulan setelah dosis pertama.

*dikutip dari Petunjuk Teknis Introduksi Imunisasi DPT-HB,Hib (Pentavalen) pada bayi dan pelaksanaan Imunisasi lanjutan anak batita _Kemenkes 2013.

Pelatihan Tatalaksana TB Strategi DOTS Bagi Pengelola Program TB di FASYANKES Anggota PW Keuskupan Agung Medan & Keuskupan Sibolga

Pelatihan Tatalaksana TB Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) bagi Pengelola Program TB di Fasyankes (Fasilitas Pelayanan Kesehatan), merupakan kegiatan terakhir Program TB Perdhaki di Keuskupan Agung Medan (KAM) & Keuskupan Sibolga tahun 2014.
Pelatihan ini merupakan lanjutan atau mata rantai dari kegiatan-kegiatan sebelumya yaitu Advokasi bagi Keuskupan, Sosialisasi bagi Toga-Toma, Workshop bagi Kader Level Paroki, dan Penyuluhan bagi Kader Level masyarakat/Stasi.
Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 3 – 7 November 2014, bertempat di Hotel Antares-Jl. Sisingamangaraja No. 84, Medan, dengan jumlah peserta sebanyak 21 orang Pengelola Fasyankes anggota Perdhaki Wilayah Keuskupan Agung Medan dan Keuskupan Sibolga termasuk Pulau Nias.
Fasyankes yang diundang adalah : KAM : (BP St Theresia Parlilitan, BP/RB St Yoseph Dolok Sanggul, BP/RB St Lusia Lintong Nihuta, BP/RB St Maria Palipi, BP/RB St Martina Sidikalang, BP San Damiano-Tigabinanga, RS St Elisabeth 2 org). Keusk. Sibolga : (BP/RB St Mikael, BP St Bernadeth-Pakkat, BP/RB Nirmala-Si Pea Pea, BP/RB Fatima-Tumba Jae, BP/RB St Maria-Posniroha, BP/RB Serasi-Pinangsori, BP/RB St Melania-Sarudik, BP St Lukas-Aek Tolang, BP St Rafael-Pulau Tello Nias, BP Tabita-Nias, BP/RB St Anna-Idanogawo Nias, RS Stella Maris-Teluk Dalam 2 org).
Pelatihan difasilitasi oleh tiga orang Fasilitator Nasional yaitu dr U.T.Hutagalung, dr Sri Indra Susilo dan dr Elias Siahaan.

Pelatihan dibuka oleh Bpk Sukarni,SKM,MKes mewakili Ibu Kadinkes Prov. Sumut. Dalam sambutannya beliau menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Perdhaki yang telah menyelenggarakan Pelatihan ini bagi Fasyankes anggotanya dengan bantuan dana dari GF Komponen TB, dimana sebelumnya Pemerintah hanya bisa mengikutsertakan satu atau dua orang saja dari mereka karena keterbatasan dana. Diharapkan setelah Pelatihan Klinik-klinik swasta mampu melayani masyarakat berdampak TB sesuai dengan standard, sehingga dapat membantu meningkatkan angka penemuan orang terduga TB, meningkatkan angka keberhasilan pengobatan dan menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat TB serta mengurangi dampak TB-MDR (Multi Drug Resistant).
Pada kesempatan yang sama hadir pula Ketua Perdhaki Wilayah Medan (dr Maria Christina,MARS) yang dalam sambutannya mengucapkan terima kasih karena Wilayahnya terpilih untuk menjadi tempat Pelatihan, terima kasih atas kerjasama yang baik dan menyatakan siap untuk membantu kelancaran kegiatan.

Selama 5 hari efektif peserta dibagi dalam tiga kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 7 orang dan difasilitasi seorang Fasilitator. Fasilitator sangat aktif dan semangat dalam menjelaskan materi sesuai Modul, dan menanggapi setiap pertanyaan peserta dengan gaya dan caranya yang unik, sehingga peserta tidak pernah merasa mengantuk ataupun bosan.
Dalam penilaian akhirnya peserta merasa sangat puas karena Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi mereka, mereka lebih percaya diri dalam menghadapi pasien/orang terduga TB.
Begitu pula menurut penilaian para Fasilitator, bahwa Pelatihan ini berjalan dengan baik, semua peserta sehat, tertib, tidak ada yang mengantuk dan Pelatihan ini berhasil, terbukti dengan kenaikan nilai Post Test yang sangat signifikan dibandingkan dengan nilai Pre Test.

Dalam kesan dan pesannya dr U.T. Hutagalung mewakili Fasilitator menyampaikan bahwa sudah merupakan tradisi pada setiap Pelatihan hari ini 7 November 2014 beliau menobatkan dan meresmikan bertambahnya 21 orang anggota Tim Pengendalian TB di Prov. Sumut yang setara dengan para dokter dan tenaga kesehatan yang sudah ada di daerah. Beliau juga akan melaporkan hal tsb. kepada Dinas Kesehatan Prov. Sumut.

Sr Xaveria,Haloho,FCJM mewakili peserta menyampaikan ucapan terima kasih kepada Perdhaki Pusat, PW Medan dan Fasilitator atas terselenggaranya Pelatihan ini karena mendapatkan penyegaran. Fasilitator sangat berhasil dalam memberikan materi, meskipun cukup pusing karena materi yang cukup padat.
Setelah itu peserta diberikan Sertifikat dan para Fasilitator diberikan Piagam Penghargaan.

Pelatihan ditutup oleh Ka. PW Medan, yang berharap peserta bekerja keras dan sungguh-sungguh menerapkan ilmunya dan yakin peserta akan berhasil dilihat dari nilai Post Test yang tinggi.

Foto : Peserta serius mengerjakan soal Post Test.
tatalaksana