Seminar Pastoral Care “Revolusi Mental”

SEMINAR PASTORAL CARE “REVOLUSI MENTAL”
Ketapang, 18, 19 & 20 April 2015

Latar Belakang
Kehadiran utama Sr. Caroline, PBHK yang sudah berusia kebalikan dari 57 tahun ini di kota ale-ale Ketapang, Kalimantan Barat sebagai fasilitator pelatihan Pastoral Care bagi para suster Ordo Santo Augustinus selama 8 hari, tanggal 8 – 15 April 2015. Ketua Yayasan Pelayanan Kasih Agustinian Sr. Felisitas melihat bahwa kehadiran Sr. Caroline sebuah anugrah yang sangat luar biasa. Sr. Felisitas langsung berkoordinasi dengan dewan kongregasi untuk mengadakan negosiasi dengan Sr. Caroline, PBHK untuk diminta kesediaanya memberikan seminar kepada karyawan/karyawati yang tergabung dalam karya Kesehatan dan karya pendidikan. Harapan tersebut direspon positif oleh Sr. Caroline, PBHK. Mengingat karyawan/karyawati tersebut jumlahnya cukup besar, disepakati bahwa seminar Pastoral Care dibagi menjadi tiga kelompok dengan pembagian waktu untuk kelompok pertama tanggal 18 April 2015 peserta 108 orang staff, kelompok kedua tanggal 19 April 2015 peserta 110 orang staf bertempat di gedung SD Santa Monika, sedangkan kelompok ketiga dilaksanakan tanggal 20 April 2015 peserta 103 orang staf bertempat di ASC (Agustinian Spirituality Center)
Tujuan Seminar:
• Mengenal lebih dalam diri sendiri agar kita dapat mengenal orang lain.
• Mempunyai tujuan hidup yang berarti bagi diri sendiri dan orang lain
• Setiap peserta mengetahui penyebab, akibat dan cara mengobati luka batin

Seminar sehari yang setiap harinya peserta berbeda-beda orangnya dimulai jam 08.00 – dan ditutup jam 17.00 dengan misa penutupan. Dikatakan oleh Sr. Caroline, PBHK bahwa setiap manusia merindukan dan membutuhkan healing agar bisa hidup secara penuh sebagai manusia yang merdeka dan bebas. Masih banyak diantara kita tidak menikmati hidup, karena kita masih membawa dan menyimpan luka tanpa berusaha menyembuhkannya. Konsekuensinya, kita menjadi pribadi – pribadi yang cepat tersinggung, menderita tekanan batin, merasa minder, hidup dalam ketegangan dan ketakutan, cemas, was-was, cepat marah, menyimpan dendam, merasa diri tidak berati, sulit mengampuni.
Oleh karena itu, kunci proses healing adalah kalau kita berani menghadapi dan menerima luka kita, mengolahnya terus menerus selama hidup ini agar kita dapat berkembang sebagai manusia, akan tumbuh menjadi utuh kembali, akan dapat menikmati hidup kembali dan makin menjadi diri yang sebenarnya tidak lagi lifestopping tetapi lifegiving. Namun healing merupakan suatu proses yang membutuhkan waktu yang agak lama. Tetapi proses itu sendiri akan membuat kita menjadi lebih matang, lebih utuh, lebih sungguh menjadi diri sendiri yang bebas dan terintergrasi. Perasaan aman, damai dan tentram dalam diri dan keluarga akan menghasilkan manusia yang produktif di tempat kerja, dimasyarakat dan dimana saja.

Marilah kita mulai dari diri sendiri melatih untuk mengampuni terus menerus, mengampuni dan bertobat supaya hidup kita lebih efektif, supaya kita mampu melayani dengan penuh kasih, supaya tindakan kita nyata dalam kata, sikap dan perbuatan terutama pelayanan kepada mereka yang terdekat dengan kita seperti keluarga, sepekerjaan, lingkungan gereja dan siapa saja yang kita jumpai. Demi profesionalisme dan prestise diperlukan gelar sarjana, namun untuk melayani hanya dibutuhkan sekeping hati yang mengasihi dan sebuah jiwa yang dipenuhi dengan cinta. – Daduanto

Iklan