Pelatihan Kaderisasi Kepemimpinan Pelayanan Kesehatan Katolik

PELATIHAN KADERISASI KEPEMIMPINAN
PELAYANAN KESEHATAN KATHOLIK
Perdhaki KAJ melalui Forum Kerja Sama 6 RS Katolik
wilayah Jakarta, Tangerang, dan Bekasi
Di RS Sint Carolus Jakarta, 17-18 April 2015

Perkembangan pelayanan kesehatan katolik sudah mulai tumbuh sejak dimulainya kedatangan para penyiar agama katolik/misionaris dari luar negeri. Seiring dengan karya keagamaan dilakukan maka karya kesehatan pun mulai dimunculkan. Dan seperti kita lihat sekarang ini bahwa pelayanan kesehatan katolik sudah sangat berkembang, baik secara kuantitas maupun kualitas. Beberapa contoh RS katolik yang telah mampu membuktikannya selama berpuluh tahun seperti RS Sint Carolus Jakarta, RS St. Elisabeth Semarang, RS Karitas Palembang dan masih banyak lagi.
Namun dengan bukti tersebut ternyata sebenarnya masih terdapat kekhawatiran dari sisi tongkat estafet kepemimpinan. Seperti sudah menjadi hal yang biasa terjadi di layanan kesehatan katolik ketika harus mengalami pergantian pimpinan seakan menjadi suatu kegalauan. Pada banyak pengalaman owner hanya menggantungkan pada sosok tertentu sebagai pemimpin, belum ada figur lain yang siap sebagai pengganti. Institusi dibayangi dengan stagnasi kondisi dan ide-ide pengelolaan. Institusi seakan tidak siap untuk melahirkan suksesorpimpinan. Tongkat estafet pimpinan sulit bergulir dikarenakan institusi tersebut tidak mengkaderisasi calon pemimpin penerusnya, mungkin karena terlena pada pemimpin yang itu-itu saja, atau mungkin tidak ada orang lagi yang mau menjadi pemimpin di institusi tersebut dikarenakan berbagai alasan.
Pada dua dekade terakhir dapat kita lihat mulai banyak tumbuh rumah sakit swasta profit yang semakin variatif dan canggih/modern dalam penyajian pelayanannya. Lalu hal ini menjadi pertanyaan, dapatkah pelayanan kesehatan katolik mampu menandingi persaingan ini? Kita ketahui bersama bahwa sudah menjadi hukum yang tidak bisa dirubah bahwa model pengelolaan rs katolik harus seturut dengan nilai-nilai ajaran Gereja Katolik. Bagaimanakah dengan para pimpinan yang dipercaya untuk mengelolanya? Mampu dan siapkah para pimpinan ini mengelola karya kesehatan katolik yang dipimpinnya untuk tetap survife dan tidak tergilas oleh layanan kesehatan swasta profit yang semakin menjamur? Sebab ketika seorang pimpinan memiliki manuver pengelolaan untuk meningkatkan layanan kesehatan yang dikelolanya sudah terbayang “pagar” yang harus ditaati. Adanya nilai-nilai katolik ini jelas tidak memungkinkan pimpinan institusi kesehatan katolik berkompetisi secara “head to head” dengan rs swasta profit. Dan belum ditambah lagi dengan semakin derasnya regulasi pemerintah yang belakangan ini muncul yang semakin menambah tantangan pengelolaan institusi kesehatan.
Dengan adanya kondisi-kondisi tersebut, maka Perdhaki wilayah Keuskupan Agung Jakarta melalui Forum Kerja Sama 6 Rumah Sakit wilayah Jakarta, Tangerang, Bekasi berinisiatip untuk mengadakan suatu acara yang bertajuk PELATIHAN KADERISASI KEPEMIMPINAN PELAYANAN KESEHATAN KATHOLIK pada tanggal 17-18 April 2015 di RS Sint Carolus Jakarta. Para peserta yang hadir adalah para dokter, perawat dan karyawan non medis yang bertindak sebagai perwakilan ke-6 RS katolik tersebut. Para delegasi mewakili rumah sakit yang berasal dari RS Sint Carolus Jakarta, RS St. Elisabeth Bekasi, RS Atma Jaya Jakarta, RSIA Carolus Summarecon Serpong Tangerang, RSB St Yusup Jakarta dan RSB Panti Nugraha Jakarta. Disamping itu juga hadir perwakilan dari balai kesehatan/klinik pratama yang ada di Jakarta dan wakil dari Perdhaki Pusat.
Para pembicara yang bertindak sebagai narasumber antara adalah Rm. DR. Petrus Canisius Aman OFM, Rm. Greg Soetomo SJ dan Rm. DR. Sudarminta SJ, serta dr. Markus Waseso Suharyono, MARS (Ketua Perdhaki KAJ/Direktur Utama RS Sint Carolus) sebagai keynote speaker. Dr. Markus mengawali acara dengan penyampaian paparannya mengenai kepemimpinan katolik dengan segala hal yang menyertai para pimpinan itu seperti peluang, ancaman, kelebihan dan kekurangan yang ada di institusinya sendiri. Selain itu yang disampaikan adalah perlunya dipikirkan bagaimana melahirkan pemimpin katolik yang visioner dimana memiliki pula kehandalan dan kompetensi yang baik dan sesuai. Rm. Piter Aman dalam materinya tentang dasar biblis layanan kesehatan katolik disampaikan bahwa nilai-nilai ajaran dalam Injil Gereja katolik adalah hal yang fundamental bagi para pekerja kesehatan ini berkarya di RS katolik. Sudah menjadi hal yang demikian harus dipahami bahwa nilai-nilai katolisitas ini akan selalu menjadi rujukan dalam setiap tindakan, misalnya keputusan untuk melakukan tindakan medis tertentu, atau model hospitality dalam menjamu pasien yang dalam hal ini pasien adalah ibarat tamu Ilahi. Rm. Greg Soetomo SJ dalam paparannya tentang leading menyampaikan bahwa dalam memimpin di karya kesehatan katolik hendaknya memiliki elemen-elemen seperti strategi, taktik dan hati. Dengan menggabungkan seluruh elemen tersebut diharapkan akan mampu meningkatkan performa layanan sehari-hari. Topik lain yang disampaikan oleh Rm. Greg yaitu tentang followership, yang di dalam penyampaiannya tersebut ditunjukkan tentang berbagai tipe manusia yang berkarya di layanan kesehatan haruslah orang-orang yang tepat sehingga tidak menimbulkan masalah ke depannya, hal ini perlu pemetaan SDM yang baik. Sedangkan Rm. Sudarminta memberikan paparan tentang bagaimanakah pemimpin yang ideal dalam mengelola organisasi. Pemimpin yang berhasil salah satunya adalah pemimpin yang mampu menyiapkan penerusnya agar organisasi tetap dapat berjalan sesuai harapan dan semakin berkembang. Seluruh peserta mendengarkan dengan begitu antusias, karena para pembicara mampu memberikan paparannya dengan cukup menarik.
Selain diisi dengan mendengarkan materi-materi, pada acara tersebut juga dikemas dengan diskusi kelompok. Dengan adanya diskusi ini muncul ide-ide segar yang nantinya dapat menjadi cikal bakal workshop kepemimpinan katolik lebih lanjut dengan materi yang lebih ditingkatkan.
Hasil pelatihan selama dua hari ini menghasilkan suatu komitmen bersama dengan berbagai masukan dan rekomendasi seperti :
1. Mewujudkan karya pelayanan kesehatan di rumah sakit sebagai karya pelayanan kasih, yang dapat terlihat dari ciri-corak semangat: solider, peduli, murah hati, toleran, preferential option for the poor.
2. Membuat program yang mumpuni bagi kaderisasi tenaga-tenaga medis dan non medis, meningkatkan kompetensi dan “up date” pengetahuan dan keterampilan profesional tenaga medik secara berkala.
3. Melakukan Pemetaan Potensi karyawan.
4. Dibutuhkan “tata kelola” (manajemen) yang partisipatif dan transformatif. Partisipatif : membuka ruang dan peluang agar semua mengambil bagian, disambut dengan baik, diberi kesempatan; transformatif : tidak stagnan, tidak mempertahankan status-quo, tidak pasif, tetapi dinamis, kreatif dan aktif menuju pembaharuan, serta menemukan terobosan-terobosan baru dalam kehadiran dan pelayanan.
5. Menjamin bahwa nilai-nilai dan prisip kristiani tetap menjiwai visi dan misi karya kesehatan serta apa yang menjadi tujuan dan strategi pencapaiannya.
6. Menjamin bahwa nilai-nilai Kristiani terkait dengan layanan kesehatan tidak menjadi luntur oleh arus sekularisme dan materialisme yang menggerus iman dan melemahkan kasih terhadap sesama yang menderita.
7. Melaksanakan Kepemimpinan yang bersifat melayani, memberdayakan, berbelarasa, penuh integritas didasari iman, harapan dan kasih.

Selanjutnya ke depannya diharapkan dapat dibuat workshop serupa dengan materi yang berbeda seperti :
1. KOMUNIKASI YANG EFEKTIF
2. PROBLEM SOLVING
3. ANALISA BEBAN PEKERJAAN
4. LEAN HOSPITAL

Setelah acara pelatihan kaderasi ini setiap Rumah Sakit juga memiliki tugas yang wajib dilakukan antara lain :
1. Melakukan pemetaan karyawan sesuai kompetensi.
2. Melakukan In House Training untuk peningkatan kemampuan SDM.
3. Melakukan kaderisasi dengan memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mendapatkan kepercayaan sebagai pemimpin dan melakukan pendampingan dan monitoring.

Sebenarnya ada cita-cita tersendiri dari Pengurus Perdhaki KAJ yaitu semoga dari acara pelatihan kaderisasi ini dapat menelurkan suatu modul kaderisasi kepemimpinan katolik sebagai acuan untuk mencetak pemimpin katolik di masa depan. Harapan ini nampaknya terkesan tinggi, namun dengan melihat semangat para pengurus Perdhaki KAJ dan Forum Kerja Sama 6 RS hal ini bisa saja terealisasi. Mereka merasa optimis bahwa hal apa pun yang sedang terjadi dalam kepemimpinan pada institusi kesehatan katolik dapat diatasi bersama, jika saling bahu-membahu dan menguatkan satu sama lain. Akan menjadi suatu kebahagiaan apabila modul kepemimpinan katolik ini bisa terwujud dan berguna sebagai panduan bagi sesama anggota Perdhaki di seluruh Indonesia.
Kontributor :
dr. Antonius Yudianto, MARS
RS St. Elisabeth Bekasi
Jl. Raya Narogong 202 Kemang Pratama Bekasi – Jawa Barat

Iklan