Klinik Kita di Masa Depan – Mungkinkah?

KLINIK KITA DI MASA DEPAN – MUNGKINKAH?

Pengalaman Ibu Sumirah
Ibu Sumirah seorang janda berusia 82 tahun. Pada suatu pagi hari Rabu dia berdiri di atas timbangan badan yang setiap hari dilakukannya. Hari ini timbangan itu menunjukkan angka 66 kilogram…. Agak tinggi. Ada sedikit rasa cemas menyusup di hatinya. Lalu dia menyiapkan bubur sarapannya.
Setengah jam kemudian, telpon berdering. Ternyata suara mbak Sandra, perawat di klinik.”Selamat pagi mbok Sumirah. Ada berita khusus hari ini?” Jawab ibu Sumirah, ”Ya, berat badanku naik dikit”. “ Benar” kata Sandra, “66 kilo, kan. Artinya. nambah 1,3 kg dari kemarin.“ „ Iya, tuh, rasanya kok, naik.“ „Kalau gitu, datang aja ke klinik pagi ini.“ „Aduh, nggak bisa, anakku lagi keluar kota, nggak ada yang nganter“. „Jangan khawatir, mbok, nanti saya jemput. Satu jam lagi saya nyampe“. “ Ya, baik, aku siap”.

Bagi ibu Sumirah, pasien gagal jantung kongestif, bukan berita baik kalau dalam sehari berat badannya naik 1,3 kg – pertanda jumlah cairan tubuhnya mungkin bertambah. Sejak pagi itu juga dia dirawat selama dua minggu sampai bahayanya lewat.
Teman ibu Sumirah bernama ibu Siti. Dia berlangganan pada klinik lain. Enam bulan sebelumnya, Ibu Siti mengalami kenaikan berat badan, persis seperti Ibu Sumirah. Hanya saja alat timbangan badannya tidak punya sambungan nir-kabel dengan kliniknya sehingga tidak bisa melaporkan perkembangan. Akibatnya, tidak ada yang tahu berat badannya naik dan tidak ada juga yang memperhatikannya selama beberapa hari. Ibu Siti terpaksa dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena sesak nafas dan jantungnya berdebar-debar. Akhirnya, dia harus lama tinggal di rawat inap karena sakitnya itu.

Pengalaman Pak Hamid
Seorang pensiunan pengantar pos berusia 77 tahun, Pak Hamid sudah renta. Kakinya yang dulu kuat sudah lemah dan jalannya terseok-seok.. Dia mengunjungi klinik dengan dua buah alasan : untuk ikut latihan ringan memperkuat lengan serta kakinya dan sebulan sekali untuk potong kuku jari kaki.
Pak Hamid ini seseorang yang mudah terjatuh. Banyak temannya celaka karena patah tulang kaki atau pinggul. Diperlukan berminggu-minggu untuk dirawat, berbulan-bulan untuk rehab dan bertahun-tahun kesakitan dan susah bergerak. Untungnya para dokter tahu yang membuat orang lansia mudah jatuh itu kaki yang lemah, kuku jari kaki kepanjangan dan karpet di rumah yang kusut. Para dokter itu tidak tinggal diam, mereka bertindak lebih jauh dari hanya memperkuat otot kaki dan potong kuku, Hasilnya, risiko terjatuh di rumah bagi Pak Hamid dan rekan-rekannya sekarang berkurang sampai 80%.

*Sebuah saduran oleh J Gustama – Bendahara Badan Pengurus Perdhaki
Pengalaman Pak Amir,
Pak Amir, 77 tahun, hidup dengan diabetes. Kakinya menumbuk pintu dan terluka kecil. Luka itu tidak sembuh setelah beberapa hari. Karenanya dia mengunjungi seorang dokter tetangganya. Dokter itu memeriksa luka di kaki Pak Amir dan diminta agar segera pergi ke klinik terdekat. Di klinik itu seorang perawat membersihkan luka Pak Amir dan ditutupnya dengan sepotong kain. Lalu dia berkata kepada Pak Amir, „Dua hari lagi datang, ya, supaya lukanya bisa kurawat lagi. Lalu, setelah dua hari, datang lagi dan setelah dua hari berikutnya, datang lagi sampai luka itu betul-betul sembuh.“ Pak Amir mengangguk. Pesan semacam ini pernah dia terima.
Bagi orang dengan diabetes luka sekecil itu sudah serius. Tanpa dirawat, luka jarang sembuh dan sering menjadi ancaman amputasi. Untungnya, kaki Pak Amir selamat. Dan Pak Amir pun bukan satu-satunya. Di klinik ini amputasi berkurang 60% dibanding di klinik lain.

Pengalaman-pengalaman tersebut merupakan cuplikan dari „CareMore Connects the Healthcare Dots“, salah satu cerita dalam buku Adrian J Slywotzky dan Karl Weber berjudul „Demand; creating what people love before they know they want it“ (Headline Publishing Group, 2012). Karena saya anggap banyak bermanfaat bagi penyelenggaraan klinik, saduran kasus tersebut saya lanjutkan sedikit lagi di sini.

CareMore
Riwayat CareMore dimulai oleh seorang pria bernama Sheldon Zinberg sejak hampir dua dasawarsa lalu. Dia itu seorang gastroenterolog yang mendalami perubahan ekonomi pelayanan kesehatan di Kalifornia Selatan. Di sini seperti di pasar lainnya di AS, organisasi usaha pelayanan kesehatan (HMOs: Health Maintenance Organisations) amat dominan. Memang menarik sekali teori yang mendukung lahirnya HMO. “Managed care” dianggap bisa mengkoordinasikan dan memandu pengobatan agar kesejahteraan pasien maupun ketahanan ekonomi menjadi maksimal. Namun, di bawah tekanan dari perusahaan sponsor asuransi kesehatan dan instansi pemerintah (termasuk investor pencari untung), usaha HMO semakin didorong memusatkan perhatian pada penurunan biaya dengan segala cara – termasuk langkah jangka pendek yang sering memperburuk keadaan pasien dan langkah jangka panjang yang makin meningkatkan biaya pengobatan. Rintangan bagi pasien jadi “segudang” dan rumit, Keringat para dokter diperas tetapi biaya tetap saja naik.
Sheldon Zinberg menjadi amat cemas. Sebelumnya pada tahun 1960-an dia mendirikan sebuah grup praktek dokter spesialis penyakit dalam yang terdiri dari 20-an dokter dari berbagai spesialisasi, dari kardiologi dan onkologi sampai ke rheumatologi dan nephrology. Internal Medicine Specialist Inc sudah unggul dalam memberi layanan dan para anggotanya pun makin makmur.
Namun di penghujung tahun 1980-an dengan makin dominannya beberapa HMO jumlah rujukan berkurang dan layanan semakin dibatasi. Zinberg bersama teman sejawatnya terpaksa lebih banyak menghabiskan waktu dengan menelpon para koordinator layanan – tugas pokok koordinator ini mengarang alasan agar layanan bagi pasien ditolak. “ Untuk apa colonoscopy? Pasien itu baru berumur 40 tahun. Kami tidak mau bayar”.
Charles Holzner seorang internis bekerja pada salah satu HMO. Perilaku HMO itu digambarkannya dengan rasa getir. “ Layanan sama sekali tidak dirangkaikan” katanya, “Aku bisa melepas pasien dari rumah sakit dalam 2-3 hari, tapi mereka langsung masuk lagi, takut menguap ke langit karena tidak mendapat layanan lanjutan yang mereka perlukan.”
Keadaan yang benar-benar menyedihkan dua belahan dunia: layanan bermutu rendah tanpa koordinasi bagi pasien dan imbalan ekonomi yang mengecewakan. Tercenganglah Sheldon Zinberg melihat betapa besar kerusakan pada ‘managed care.’ Karena mulai menginjak umur 60-an, dia bisa saja pensiun dan melenggang menjauhi persoalan sebagaimana dilakukan oleh teman sejawat lainnya. Sebaliknya, dia malah bangkit berdiri pada suatu rapat pengurus grupnya di tahun 1988 dan membuat pernyataan yang mengubah nasib. “Satu-satunya jawaban adalah seseorang harus memulai program pelayanan kesehatan yang benar”
.
Selama beberapa tahun kemudian waktu dia habiskan untuk memikirkan caranya. Zinberg amat yakin pengobatan pasien banyak sekali dihambat..Untuk mengurangi hambatan itu, dia lebih banyak meneliti sejumlah unsur dari suatu sistem koordinasi pelayanan kesehatan yang bertumpu pada pasien dari pada bagaimana mengurangi biaya. Sebagai orang yang suka latihan ‘fitness”, dia setiap hari dalam ruang ‘gym’ di rumahnya merancang suatu latihan khusus untuk memperkuat sistem tubuh tertentu – sejenis latihan non-medikal yang tidak banyak diketahui para dokter. Dalam pengobatan tradisional pasien lebih dianggap sebagai kumpulan yang terdiri dari organ, gejala dan keadaan dari pada sebagai mahluk yang terintegrasi utuh. Lalu, terbetik pada Zinberg sebuah penglihatan tentang suatu organisasi pelayanan kesehatan dengan sejumlah tim dokter, perawat, terapis, pelatih dan tenaga profesional lainnya yang saling bekerja sama, yang selalu saling berbagi informasi serta pandangan perihal pasien bersama mereka dan yang memberikan layanan apa saja yang diperlukan agar pasien secara fisik dan mental sehat. Adalah tugas organisasi pelayanan kesehatan untuk menghubungkan titik pelayanan yang satu dengan lainnya bagi pasien yang merupakan pusat perhatian sistem. Inilah pelayanan yang disukai oleh setiap dokter bagi dirinya sendiri, atau bagi anggota keluarganya.
Tetapi apakah keuangannya bisa jalan mulus? Dan apakah para dokter yang didera krisis ekonomi tahun 1990-an dan yang sudah lama terbiasa mengambil keputusan seorang diri tentang pengobatan bagi pasien, akan mau mencoba konsepsi baru Zinberg?
Dibutuhkan hampir dua tahun bagi Zinberg berikhtiar menarik dokter-dokter bersedia ikut melaksanakan programnya. Kepada para dokter Zinberg berjanji sebagai berikut: “Dahulukan orang, uang menyusul”. Antara tahun 1993 – 1997 CareMore merugi sampai US$ 11 juta. Tetapi, semakin sistem pelayanan terkoordinasi impian Zinberg itu mendapat nama baik, imbalan ekonomi yang diharapkannya terwujud juga. Setelah keuangannya perlahan-lahan membaik, pada tahun 2000 CareMore mengantongi laba sebasar US$ 24 juta. Sejak itu laporan keuangannya selalu positif.

15 September 2012.

Iklan