Gempa dan Tsunami di Palu ; PERDHAKI Emergency Respond Program

Gempa dan Tsunami di Palu ; PERDHAKI Emergency Respond Program

Prakata.

dr. Kevin Octavianus Sugianto adalah seorang relawan yang bergabung dengan Perdhaki Emergency Respond program untuk menolong orang-orang yang terdampak gempa dan tsunami di Palu. Bekerja di Pos Kesehatan Perdhaki di Palu mulai tanggal 22 November 2018 sampai dengan tanggal 5 Desember 2018

Kesan-kesan seorang relawan

Pada 15 November 2018, saya mendapatkan tawaran untuk ikut serta menjadi relawan untuk bencana di Palu dari teman saya, Edo.

Tawaran tersebut,  langsung saya terima karena kebetulan waktu itu saya sedang mengalami kejenuhan karena sedang dalam masa-masa menunggu internship setelah lulus dari kuliah kedokteran.

Setelah menerima tawaran tersebut, ada 2 hal yang sedikit mengganggu pikiran saya:

Pertama, Saya yang saat itu belum mengetahui apapun tentang PERDHAKI, merasa agak ragu dengan organisasi ini karena minimnya informasi tentang PERDHAKI di internet.

Hal kedua yang menjadi masalah bagi saya adalah saya merasa diri saya tidak cocok dengan kata-kata “relawan”, karena bagi saya seorang relawan haruslah seseorang dengan jiwa sosial yang tinggi, tidak mengharapkan balas jasa, dan tentu saja jauh dari pemikiran yang materialistis, sedangkan saya sendiri adalah orang yang lulus dari sekolah kedokteran yang setelah lulus bertekad untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya. Pemikiran saya yang utama adalah, karena uang kuliah kedokteran yang mahal, tentu saja saya harus secepatnya menjadi kaya, pendek kata, saya sungguh bukanlah orang yang berjiwa sosial dan jauh dari kriteria “relawan”.

Setelah persiapan dan tanpa briefing yang mendalam, pada tanggal 22 November saya dan teman saya berangkat ke Bandara.Selama perjalanan saya banyak merasakan keraguan, ragu karena tidak adanya kejelasan akan tugas saya disana, ragu apa saja yang harus saya persiapkan, dan tentu saja ragu akan diri saya sendiri, seorang yang baru lulus dan tidak berjiwa sosial, apakah mampu untuk membantu di bencana.

Di bandara, saya bertemu dengan relawan senior, Br Conrad, yang akan ikut berangkat ke Palu. Sambil menunggu anggota tim yang lain yang belum datang, saya dan teman saya mendengarkan pengalaman tentang bencana-bencana sebelumnya, dan hal tersebut lumayan menenangkan saya karena setidaknya disana saya akan berangkat dengan relawan yang sudah berpengalaman.

Akhirnya setelah anggota tim lengkap, saya, Edo, Minggu, Hendrik, Apip, Irfan, dan tentu saja Br Conrad sebagai pemimpin rombongan, menuju ke pesawat.

Sore itu akhirnya kami sampai di Palu dengan disambut pendaratan yang cukup menegangkan karena keadaan landasan yang masih belum sempurna akibat gempa. Kami langsung menuju ke posko kami, sesampainya di posko kami bertemu dengan 1 anggota tim kami yang sudah ada disana sejak awal bencana, Pak Gede, dan kami juga bertemu dengan relawan-relawan lain dari organisasi lain yang juga menetap di posko tersebut.

Hal yang membuat saya terkejut saat sampai di posko tersebut adalah kamar mandinya yang kurang terawat, keset yang selalu basah, tidak ada air panas, ditambah dengan penerangan yang kurang, makanan yang enak tetapi sering dihinggapi lalat, dan tempat tidur yang membuat saya tidak ingin berbaring disana, karena seprai yang agak bau karena tidak diganti, semut yang berjalan-jalan diatas kasur tempat saya tidur, lalat dan nyamuk yang berterbangan kesana kemari, bahkan ke makanan.

Keadaan yang tentu saja beda dengan keadaan di rumah, tentu saja saya langsung merasa tidak betah dan langsung berpikir “Bagaimana bisa saya dapat bertahan di keadaan seperti ini 14 hari ke depan?”. Siksaan terbesar saya adalah saat mandi dan saat tidur karena fasilitas keduanya sangat kurang nyaman untuk digunakan. Untungnya saya tidak sendiri, ternyata teman saya pun mengalami hal yang serupa, maka tiap hari pun kami saling sharing dan memberi motivasi. Setiap malam saya menghitung berapa hari, berapa kali mandi, dan berapa malam lagi yang harus dilewati disini sampai pulang nanti.

Setiap hari, biasanya pagi hari, kami mengadakan pelayanan kesehatan di posko-posko pengungsian, bersama mobil kesayangan kami, Gajah, minibus biru tua yang dialihfungsikan menjadi ambulans, karena AC sedang rusak, didukung dengan keadaan Palu yang relatif panas dan sangat berdebu, Cuma ada 2 pilihan, membuka jendela dan menikmati angin yang datang bersama debu, atau berusaha bertahan tidak membuka jendela tetapi kepanasan, sungguh 2 pilihan yang sama-sama tidak nyaman.

Seperti masalah tempat tidur tadi, perjalanan dengan Gajah pun masuk hitungan saya setiap hari, “Berapa perjalanan berdebu lagi yang harus dijalani sampai pulang nanti?”.

Setiap pulang dari pelayanan kesehatan, dengan badan, muka, dan rambut yang penuh dengan campuran keringat dan debu, saya harus mandi di tempat yang tidak saya sukai, makan makanan yang entah sudah dihinggapi berapa ekor lalat, lalu lanjut tidur ditemani nyamuk dan semut.

Sulit untuk menggambarkan perasaan saya pada saat itu, tanpa adanya satupun hal yang bisa saya nikmati disana, hari-hari selama di posko bagaikan neraka, terutama pada hari-hari awal, apalagi mengingat jumlah hari yang masih panjang disana.

Proses adaptasi untuk menjadi seorang relawan medis tidak hanya terbatas pada keterbatasan sarana diatas yang harus saya jalani selama di Palu, tetapi tentu juga pada kegiatan utama kami, pelayanan medis.

Dalam pelayanan medis kami disini saya merasa seakan-akan semua ilmu saya selama kuliah menjadi tidak berguna. Obat yang terbatas, alat kesehatan yang terbatas, jumlah pasien yang banyak, perbedaan bahasa dengan pasien yang mengharuskan saya memutar otak untuk dapat mengerti maksudnya, tempat melakukan pemeriksaan yang seadanya(kadang berdebu, kadang kepanasan, dan kadang-kadang keduanya).

Sebagai dokter yang baru lulus dan terbiasa dengan teori dan pada saat koas pun terbiasa dengan peralatan dan obat yang lengkap di rumah sakit, tentu saja hal ini sangat membingungkan.

Pelayanan medis ini menjadi siksaan terberat selama disini, tetapi anehnya juga sekaligus menjadi awal titik balik yang membuat saya bertahan dan malahan menikmati semua ketidaknyamanan diatas.

Setiap malam setelah pelayanan, tim kami selalu mengadakan rapat internal, tentang kesulitan-kesulitan kami selama pelayanan medis, dan saran kedepannya agar masalah bisa teratasi. Setiap rapat, Br Conrad dan Pak Gede selalu membagikan cerita dan pengalaman mereka selama di bencana-bencana sebelumnya, serta tips dan trik dalam menjadi relawan medis di bencana. Hal yang selalu mereka tekankan hanyalah satu, dan hal tersebut juga yang selalu saya ingat, “Layani dengan hati”, rangkaian kata-kata yang sudah sangat umum ditemui di dinding perusahaan manapun, di bank,rumah sakit, kantor, rumah makan, dan biasanya hanya menjadi hiasan dinding saja tanpa adanya realisasi hal tersebut dari para pekerjanya.

Br Conrad dan Pak Gede selalu mengatakan pada kami kalau pasien tidak akan sembuh hanya dengan diberikan obat-obatan yang terbatas tersebut, tetapi pasien akan sembuh karena perhatian yang kita berikan, perasaan melayani yang tulus, dan dari doa kita untuk pasien. Jangan seperti mesin obat yang hanya menanyakan nama pasien, menanyakan keluhan, dan langsung memberi obat, pasien ingin didengar, pasien ingin diajak berbicara, dan pasien ingin mengetahui bahwa masih ada orang yang perhatian padanya, jika hal tersebut dilakukan, bukan tidak mungkin nantinya pasien akan langsung merasa tidak sakit lagi bahkan sebelum mereka minum obat.

Dalam setiap pelayanan medis yang kami lakukan disana, saya dan teman saya berusaha menerapkan pelayanan dengan hati, selelah apapun, dan sebanyak apapun pasien yang berobat, kami selalu menyediakan waktu untuk mendengar cerita pasien, dan selalu berusaha untuk bersikap ramah. Untuk mengubah kebiasaan selama di kuliah tentulah sangat sulit, saat kuliah, nilai kami hanya ditentukan oleh diagnosis yang tepat,obat yang tepat, dan waktu pemeriksaan yang cepat, sebetulnya memang empati pun akan dinilai,tetapi yang kami lakukan biasanya hanyalah empati yang pura-pura karena pasien yang kami hadapi pun pasien yang pura-pura sakit.

Pada awalnya kami cukup sulit untuk melakukan empati yang sesungguhnya karena terbiasa dengan empati yang berpura-pura, setelah beberapa hari dan beberapa ratus pasien kemudian, kami lama-kelamaan sudah mulai merasa nyaman untuk mendengarkan pasien, berempati kepada pasien, dan mengobrol dengan pasien. Malahan hal tersebut terasa sudah jadi kebiasaan dalam setiap pelayanan medis yang kami lakukan disana.

Pelayanan medis kepada pasien korban bencana alam di Palu

Obrolan kami tiap malam pun mulai bergeser dari yang sebelumnya membicarakan fasilitas posko yang kurang memadai dan perjalanan yang kurang nyaman menjadi membicarakan suatu hal yang baru kami rasakan disana, rasa nyaman yang kami rasakan saat melayani pasien dengan hati dan harapan supaya dapat menjadi kebiasaan untuk seterusnya bahkan setelah pulang dari sini.

Dalam pelayanan-pelayanan kesehatan berikutnya, kami semakin terbiasa untuk mendengarkan pasien dan memberi perhatian kepada pasien, hal paling pertama yang dirasakan berubah adalah rasa lelah yang sudah tidak berasa walaupun jumlah pasien sangat banyak, karena dengan memberi perhatian kepada pasien pun, energi dan semangat kamipun kembali pulih saat melihat perubahan pada wajah pasien, wajah yang datang dengan rasa sedih karena sakit yang diderita, tempat tinggal yang hancur karena bencana, dan juga hilangnya anggota keluarga akibat bencana dapat berubah menjadi cerah atau setidaknya sedikit lebih cerah. Melihat perubahan seperti itu saja sudah merupakan hal berharga yang tidak ternilai harganya. Tim kami selalu mengusahakan adanya followup untuk mengetahui keadaan pasien setelah dan sebelum diobati, jadi terkadang kami menyempatkan mendatangi kembali tempat-tempat yang sudah pernah kami datangi sebelumnya. Sesungguhnya hal ini dilakukan untuk kembali menolong para pengungsi yang masih merasa dirinya belum sehat, tetapi bagi saya pribadi, saat-saat followup ini malahan menjadi obat bagi diri saya sendiri dari pemikiran yang salah tentang tujuan menjadi dokter.

Saya baru menyadari disini bahwa penghargaan tertinggi sebagai dokter bukanlah dari berapa materi, tetapi saat pasien yang sudah pernah diobati, datang kembali bukan untuk berobat, tetapi hanya untuk berterimakasih karena penyakitnya sudah sembuh, saat pasien membawa anggota keluarganya yang lain karena dirinya merasa cocok dengan pengobatan yang saya berikan, saat pasien yang belum sembuh masih memberikan kepercayaan kepada saya untuk kembali mengobati dirinya. Kepuasan dari memperoleh materi akan cepat habis, tetapi kepuasan dari memperoleh kepercayaan dan rasa terimakasih yang disertai senyuman dari pasien, serta rasa puas saat melihat pasien yang awalnya mengalami kesakitan lalu bisa sembuh, tidak akan habis, malahan akan menjadi energi tambahan dan motivasi untuk selalu memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien.

Setelah menjalani hari-hari di Palu, tibalah saatnya untuk pulang. Saya pribadi sangat bersyukur karena sudah berani untuk ikut menjadi relawan, melawan semua keraguan pada awal keberangkatan, dan mau juga untuk tidak membatasi diri untuk bisa belajar hal yang baik dari siapapun yang saya temui disana..

Sebagai dokter yang masih “hijau”, saya berharap semangat PERDHAKI tentang pelayanan yang dari hati yang sudah tertanam selama di Palu ini tidak akan luntur dimakan waktu dan keadaan sehingga kedepannya saya dapat terus melayani dengan hati.

Mobil ambulan PERDHAKI yang membawa logistik obat