Pelatihan Perawatan, Dukungan & Pengobatan (PDP) atau Care, Support & Treatment (CST)

Pelatihan Perawatan, Dukungan & Pengobatan (PDP)

Atau Care, Support & Treatment (CST) Pasien HIV/AIDS

RS Anggota PERDHAKI Wilayah KEUSKUPAN di NTT

 foto-hiv

Latar belakang

Program HIV/AIDS Perdhaki telah melaksanakan serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan HIV/AIDS yaitu mulai dari Kegiatan Sosialisasi Penanggulangan  HIV/AIDS kepada Pimpinan Tarekat dan Pimpinan Unit Pelayanan Kesehatan  (UPK) Anggota Perdhaki di Keuskupan NTT, kemudian disusul dengan kegiatan Pelatihan PITC (Provider Initiating Test  & Counselling) bagi Tenaga Kesehatan UPK, Sosialisasi Penanggulangan HIV/AIDS kepada Orang Muda Katolik di Kevikepan Ende, Pelatihan Recording & Reporting HIV/AIDS dengan metode online (RR SIHA) dan Sosialisasi Penanggulangan HIV/AIDS bagi para Tokoh Agama di Keuskupan Atambua.

Sebagai Tindak Lanjut dari Kegiatan Pelatihan PITC dan Pelatihan RR SIHA  bagi Tenaga Kesehatan UPK, maka Perdhaki bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi melibatkan 5 RS Anggota Perdhaki Wilayah Keuskupan NTT yaitu RS ST Rafael-Cancar, RS St Antonius-Jopu, RS St Elisabeth-Lela, RS St Gabriel-Kewapante, RS Marianum-Halilulik, Atambua untuk ikut dalam Pelatihan CST tersebut.

 

Tujuan

Kelima RS ini akan menjadi RS Rujukan bagi Pasien HIV/AIDS dari Klinik/BP didekatnya dan masyarakat di wilayah Parokinya masing-masing.  Pelayanan yang diberikan mulai dari pemeriksaan/test HIV, memberikan Konseling VCT dan memberikan pengobatan dengan Anti Retro Viral/ARV Terapi, bekerjasama dengan Dinas Kesehatan setempat (RSUD / Puskesmas).

Sehubungan dengan hal tersebut diatas maka ke lima RS telah mengirimkan Tenaga Kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, Farmasi untuk mengikuti Pelatihan CST, yang diselenggarakan oleh KPA Provinsi & KPA Kabupaten Maumere, pada tanggal 17-21 Oktober 2016 di Hotel Sylvia Maumere.

Tentunya masing-masing peserta mempunyai pengalaman yang sama dan mungkin ada pula yang  lebih berkesan selama mengikuti Pelatihan tersebut.

Untuk itu kami meminta masing-masing RS menulis pengalaman mereka selama Pelatihan tersebut.

Berikut ini kami sajikan tulisan para peserta Pelatihan dari masing-masing RS (4 RS Anggota Perdhaki Wilayah Keuskupan NTT)

I. St. Gabriel, Kewapante

A. Latar Belakang

Penggunaan obat antiretroviral (ARV) hanya untuk menekan jumlah virus dalam darah, meskipun belum mampu menyembuhkan HIV secara menyeluruh.Therapi ARV menurunkan angka kematian dan kesakitan, meningkatkan kualitas hidup ODHA, dan meningkatkan harapan masyarakat, sehingga HIV/AIDS diterima sebagai penyakit yang dapat dikendalikan dan tidak dianggap sebagai penyakit yang menakutkan.

Terdapat banyak survei yang menunjukan bahwa kebutuhan utama dari ODHA adalah pengobatan, dan untuk menjaga efektifitasnya, obat ARV harus dikonsumsi secara terus menerus (seumur hidup) dan diperoleh secara Cuma-Cuma, namun banyak berdampak pada hidup dalam hal kepatuhan dan resistensi, serta efek samping.

Beberapa ahli menganggap bahwa bila lupa minum obat lebih dari dua kali dalam sebulan maka virus HIV akan resisten terhadap obat ARV yang kita pakai, sehingga menjadi tidak efekif. Efek samping ARV merupakan salah satu faktor penghambat kepatuhan minum obat, seperti mual, muntah, diare, dan/atau sakit kepala yang berat, sehingga membuat banyak ODHA yang putus obat.

Dengan adanya masalah-masalah tersebut dituntut adanya penguatan dan pengembangan layanan kesehatan terkait HIV/AIDS termasuk layanan CST (Care, Support and Treatment), sehingga dapat menumbuhkan kesadaran dan rasa percaya diri bagi ODHA.

B. Tujuan

Tujuan pelatihan perawatan, dukungan, dan pengobatan

  • Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan klinis dalam memberikan pelayanan kepada ODHA secara komprehensif dan berkesinambungan.
  • Mengoptimalkan hasil pengobatan dan pencegahan, serta mengurangi resiko penularan terhadap ODHA
  • Mampu menganalisa dampak HIV/AIDS terhadap keluarga, lingkungan dan masyarakat serta penanganan
  • Mampu melakukan Asuhan Keperawatan bagi ODHA
  • Membina hubungan saling percaya dan memberikan kenyamanan bagi ODHA

C. Materi

Materi Dasar

  • Epidemiologi dan Kebijakan Nasional Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia.
  • Layanan Komprehensif Berkesinambungan
  • Sexual Orientation, Gender Identity, Expression and Body (SOGIEB), Stigma dan Diskriminasi

Materi Inti untuk Dokter

  • Konseling dan Tes HIV (KT HIV)
  • Patogenesis dan Patofisiologis HIV/AIDS
  • Tatalaksana HIV/AIDS
  • Strategi Testing (Test Algoritm)
  • Pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) & PP
  • Koinfeksi TB-HIV & provilaksis INH
  • Infeksi Oportunistik dan pengobatannya
  • Efek samping Obat ARV &Tatalaksananya
  • Interaksi Obat ARV
  • Monitoring klinis dan Laboratorium ARV
  • Prevention of Mother-to Child Transmission (PMTCT) & HIV Anak (MTBP & MTBS)
  • Penatalaksanaan IRIS

Materi Inti untuk Perawat

  • Konseling dan Tes HIV (KT HIV)
  • Patogenesis dan patofisiologis HIV/AIDS
  • Informasi dasar HIV/AIDS dan Stadium Klinis
  • Asuhan Keperawatan bagi ODHA
  • Kewaspadaan universal dan profilaksis paska pajanan
  • Pengertian, klasifikasi ARV, adherence dan resistensi pada ART
  • Perawatan berbasis masyarakat dan perawatan berbasis rumah
  • Dukungan Gizi bagi ODHA

Materi Inti untuk Petugas Farmasi

  • Informasi dasar HIV/AIDS dan stadium klinis
  • Konseling dan tes HIV (KT HIV)
  • Penggolongan dan mekanisme kerja ARV
  • Konsep dasar ART & 4S
  • Pengkajian dan pelayanan resep ARV
  • Pengelolaan ARV (Management Logistik)
  • Efek samping Obat ARV, Infeksi Oportunistik, dan PIMS
  • Laporan

D. Narasumber/ Fasililtator

  • Husein Pancratius R
  • Theresia Sarlyn Ralo, MPH
  • Asep Purnama, Sp.PD
  • Adrian Rusli, Sp.P
  • Maria Magdalena Osta
  • Yenny Tju, S.Si, Apt.
  • Setyawati, S.Kep.,Ns

E. Peserta

No.

 

Asal Kabupaten& Rumah Sakit Peserta
Dokter Perawat Farmasi
1. Kab. Manggarai Barat,

RSUD Komodo

1 1 1
2. Kab. Manggarai,

RS. St. Rafael cancar

1 1 1
3. Kab. Manggarai Timur,

Puskesmas Borong

1 1 1
4. Kab. Ngada,

RSUD Bajawa

1 1

 

5. Kab. Nagekeo,

Puskesmas Danga

1 1 1
6. Kab. Ende,

RSUD Ende

RS St Antonius-Jopu

1

 

1

 

1

 

1

 

 

7.

Kab. Sikka,

RSUD. TC. Hillers

1
RSU. St. Gabriel Kewapante 1 1 1
RS. St. Elisabeth Lela 1 1
Puskesmas Waipare 1 1 1
8. Kab. Flores Timur,

RSUD. Larantuka

1
9. Kab. Lembata,

RSUD. Lewoleba

1 1 1
10. Kab. Alor,

RSUD. Kalabahi

1 1 1
11. Kab. Belu,

RS. Marianum

1 1 1
Total 13 12 12

 

F. Tempat dan Waktu

Tempat : Hotel Silvia – Maumere, Kab. Sikka

Waktu   : Tanggal 17 – 21 Oktober 2016

G. Pembiayaan

Biaya pelatihan bersumber dari APBD Provinsi NTT Tahun Anggaran 2016 untuk pos Hibah Sekretariat KPA Provinsi NTT.

H. Penutup

  1. Harapan
  • Semoga dengan kegiatan peltihan CST (Care, Support & Treatment) ini, dapat memberikan dampak positif bagi ODHA dan lebih mudah mengetahui status HIV mereka, sehingga dengan penuh kesadaran dan kesukarelaan untuk mencari dan mendapatkan layanan dalam hal pencegahan, pengobatan, perawatan dan dukungan terkait HIV dan terlindung dari stigma, diskriminasi dan kekerasan.
  • Membuka layanan VCT (voluntery conseling and testing) dan menjalin hubungan kerjasama dengan semua pihak dalam pemberian dukungan dan pengobatan bagi ODHA.
  1. Kesan
  • Kegiatan pelatihan care, support & treatment (CST) sangat membantu, karena disini kita dapat mempelajari dan mengetahui bagaimana cara yang efektif dalam memberikan dukungan, konseling tes HIV dan pengobatannya serta penerapan komunikasi therapeutik.

Sebagai Rumah Sakit Anggota Perdhaki, Pelatihan CST ini merupakan pintu masuk untuk memulai Pelayanan bagi para ODHA yang selama ini harus menjalani pengobatan yang jauh di RSUD karena tidak tersedianya RDT dan ARV di Rumah Sakit Swasta. Kami berterimakasih kepada pihak Perdhaki yang telah melakukan advokasi yang baik kepada Pemerintah Daerah Propinsi NTT dan Kabupaten/Kota Se- NTT sehingga Rumah Sakit Anggota Perdhaki di NTT mendapatkan prioritas untuk Pelatihan CST ini.

Dilaporkan oleh Sr. Yustina Wela SSpS

II. St. Antonius, Jopu :

Pada Pelatihan Perawatan,  Dukungan dan Pengobatan Pasien dengan HIV tanggal 17 – 21 Oktober 2016; saat pembukaan Dr. Husin memaparkan hasil temuan kasus di NTT adalah AIDS lebih banyak dari pada HIV. Hal ini menggambarkan betapa rendahnya usaha penemuan kasus HIV di NTT. Besar harapan dengan terlibatnya unit perdhaki dalam pelatihan ini penemuan kasus HIV makin meningkat, makin banyak pasien HIV yang diobati sehingga potensial penularan makin rendah.

Pelatihan ini diikuti oleh Dokter, Perawat dan Farmasi dari 13 RS se NTT (Pemerintah dan lima RS swasta dari unit Perdhaki yang ada di NTT). Fasilitator dengan setia dan sabar mendampingi kami agar lebih mengerti tentang patogenesis, stadium klinis, VCT, PITC, Pemeriksaan Laboratorium dan pengobatan yang akan diberikan pada pasien HIV. Pada akhir pelatihan kami membuat komitmen untuk bekerja sama baik swasta maupun pemerintah untuk menjaring kasus HIV dengan dukungan distribusi reagen dan ARV yang cukup kepada rumah sakit yang berupaya untuk menemukan kasus lebih aktif.

Untuk Perdhaki KAE akan dilakukan sosialisasi pada tanggal 20 November 2016 tentang HIV, besar harapan agar Rumah Sakit Santo Antonius Jopu menjadi pionir bagi unit kecil sehingga penemuan kasus lebih banyak dan makin banyak ODHA mendapat ARV, penularan menjadi lebih sedikit serta kualitas hidup para ODHA menjadi lebih baik. Semoga Tuhan memberkati niat baik para pelayan Allah yang setia mencariNya dalam diri sesama yang menderita.

Dilaporkan  oleh dr. Maria Goretti Aran

 

 III. Marianum, Halilulik :

Pendahuluan

Dengan rasa syukur dan terima kasih menyampaikan bahwa kami telah mengikuti Pelatihan CST / PDP dalam pelayanan terhadap orang dengan HIV dan AIDS di Hotel Sylvia Maumere mulai tanggal 17 – 21 Oktober 2016.

Kita sering mendengar bahwa “AIDS” tidak dapat diobati. Ini sebetulnya salah ! Sekarang sudah ada obat yang dapat menekan Jumlah HIV, virus penyebab AIDS, di tubuh kita. Dengan penggunaan  obat ini, ada harapan  HIV tidak ditemukan lagi di dalam darah kita, walaupun masih ada virus di tempat persembunyian lain di tubuh. Kita tidak tahu kemana untuk mencari informasi yang benar mengenai pengobatan ini dan siapa yang bisa membantu kita mengambil keputusan apakah kita sebaiknya mulai pengobatan. Kami berterima kasih, karena dengan diadakannya pelatihan ini kami selaku tenaga kesehatan dapat membantu para pasien ODHA (orang dengan HIV dan AIDS) untuk mendapatkan kehidupan yang layak secara natural. Kami berterima kasih pula kepada KPA Provinsi NTT yang bekerja sama denga Dinas kesehatan Provinsi NTT dalam melaksanakan kegiatan ini, Kami juga berterima kasih kepada  Bapak Uskup Atambua yang telah memilih dan mempercayai Rumah sakit katolik Marianum Halilulik menjadi rumah sakit pengobatan pasien ODHA.

Dengan mengikuti pelatihan ini kami merasa senang karena kami diberikan kesempatan untuk melakukan konseling secara langsung dengan pasien ODHA dan dapat Berbagi pengalaman dengan teman-teman dari Rumah sakit lain, karena ada RS dan puskesmas yang sudah memulai pengobatan sehingga kami dapat  berbagi pengalaman dengan mereka.

Proses Pelaksanaan

   Pelatihan CST / PDP dalam pelayanan terhadap orang dengan HIV and AIDS ini merupakan salah satu kegiatan yang diadakan oleh Komisi Penanggulangan AIDS NTT untuk membantu para pasien ODHA sehingga tidak menyebarkan virus baru kepada masyarakat sekitar, mengurangi tingkat kematian, stigma dan diskriminasi.

Pelatihan ini diadakan di Maumere selama 1 minggu yang dihadiri oleh seorang Narasumber dari salah satu RS Internasional pencegah infeksi di Jakarta. Jumlah peserta dalam pelatihan ini ialah 37 orang. Selama pelatihan ini para peserta dibagi menurut kelasnya masing-masing. Kelas dokter dengan jumlah peserta 13 orang, kelas perawat 12 orang dan kelas farmasi 12 orang. Masing-masing kelas melaksanakan tugas sesuai jadwal yang telah ditentukan bersama. Adapun kegiatan yang dilakukan ialah  menerima materi dari pukul 08.00-17.00 WIB, mereview materi yang telah diterima setiap pagi dan melakukan konseling secara langsung dengan pasien ODHA.

Didalam pelatihan ini pula kami dilatih untuk bekerja dalam tim dengan bersikap jujur, berani bertanggung jawab sehingga dapat menggurangi stigma dan diskriminasi pada ODHA karena para ODHA pun membutuhkan kehidupan yang layak secara natural.

Selama pelatihan ini dr.Adrian, Ibu Yeni, Ibu Wati dari Jakarta  selaku Narasumber dengan setia membimbing dan menyajikan materi-materi pelatihan dengan baik sehingga kami merasa 1 minggu dalam pelatihan ini masih sangat kurang. Selain itu banyaknya tanggapan , pertanyaan, sharing pengalaman dengan teman-teman dari Rumah sakit lain maka rasanya waktu pelatihan setiap harinya padat. Pada hari pertama memang terlihat kurang aktif terlibat, malu, ragu dan disaat melakukan pre-test para peserta mendapat nilai dibawah standar. Namun setelah pada akhir pelatihan diadakan evaluasi dan post-test para peserta mendapat peningkatan nilai  dan yang terlihat kurang aktif, malu dan ragu berubah menjadi lebih aktif.

HIV dan AIDS melumpuhkan sistem kekebalan tubuh kita. Namun tidak perlu kita merasa resah, takut karena sekarang ada obat baru yang dapat memperpanjang hidup dan/atau meningkatkan mutu hidup ODHA. Jangan malu untuk melakukan tes ! Lindungi keluarga anda dengan tes HIV. Terima Kasih, Kasih Karunia Allah beserta  kita semua.

RSKM Halilulik, 07 November 2016

Lau Fabianus, Petronela M.D Akoit,S.Farm,Apt, Noviana M.M Taek, Amd.Kep

 IV. St. Rafael, Cancar :

Jumlah kasus AIDS di Indonesia meningkat dari waktu ke waktu, hal ini menuntut perhatian dari semua pihak, baik dari tenaga kesehatan maupun non tenaga kesehatan seperti LSM baik oleh pemerintah maupun swasta.

KPA Propinsi NTT bersama Dinas Kesehatan propinsi  mengharapkan agar semua UPK di Lapangan bisa memberikan pelayanan kepada ODHA secara terpadu dan paripurna maka diadakan pelatihan PDP/CST bertempat di Hotel Sylvia Maumere pada tgl 17 – 21 Oktober 2016.

Para narasumber didatangkan dari Jakarta ( dr Aria SpP untuk kelas dokter, ibu Setyawati,SKep.Ns untuk kelas perawat dan ibu Yeni untuk kelas Farmasi) sedangkan dari kabupaten adalah dr Asep SpPD. Beliau memberikan arahan kepada para peserta bagaimana peran serta tenaga kesehatan di wilayah Indonesia Timur dalam mendukung setiap program kesehatan. Dr Asep menekankan bahwa Flores masih jauh dari pelayanan yang prima karena keterbatasan sarana dan prasarana dibandingkan dengan pelayanan di Pulau Jawa, maka tenaga kesehatanlah yang diharapkan aktif untuk bergerak menemukan dan mengatasi masalah kesehatan di Flores

Para peserta berjumlah 37 orang berasal dari daratan Flores, Lembata dan Timor, dari beberapa Puskesmas dan Rumah sakit. Ada 5 RS ( 14 orang ) anggota Perdhaki yang dilibatkan dalam pelatihan ini yaitu: RS Marianum-Halilulik, RS St Antonius-Jopu, RS St Elisabeth-Lela, RS St Gabriel-Kewapante dan RS St Rafael-Cancar.

Meskipun jadwal pelatihan cukup padat tetapi Para Narasumber dan peserta dengan antusias mengikuti seluruh kegiatan pelatihan. Kami bertekat untuk berperan aktif dalam pelayanan HIV AIDS di unit masing masing. Hal ini didukung oleh KPA Propinsi dan Dinas kesehatan Propinsi yang akan mensuplay logisitik khususnya reagen dan Alat Pelindung Diri (APD) lainnya.

Dilaporkan oleh : Sr dr Maria Naki

 

Itulah pengalaman teman-teman di rumah sakit setelah mengikuti Pelatihan CST di Maumere. Semoga tulisan/sharing pengalaman ini dapat berguna bagi kita semua.

Terima kasih kami ucapkan kepada teman-teman dari 4 RS Anggota Perdhaki Wilayah Keuskupan NTT yang telah bersedia membagikan pengalaman  ini untuk kita semua. (JF)

 

foto-hiv

Iklan