Setiap Orang yang Mau Mengikuti Aku harus Menyangkal Dirinya

“Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya”
(Ul 4:32-40; Mat 16:24-28)

“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.”(Mat 16:24-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Jika kita mendambakan keselamatan abadi kita diharapkan siap-sedia untuk ‘menyangkal diri dan kehilangan nyawa’, alias tidak egois, hidup dan bertindak mengikuti selera pribadi, mengikuti keinginan atau kehendak pribadi. Rasanya pada masa kini masih cukup banyak orang yang hidup dan bertindak lebih mengikuti selera atau keinginan pribadi, antara lain dapat dilihat dalam buah-buahnya yaitu tawuran, permusuhan, saling menyakiti atau membunuh. Marilah kita ‘menyangkal diri dan berani menyerahkan nyawa’ kepada orang lain melalui cara hidup dan cara bertindak kita. “Nyawa” adalah gairah, semangat, cita-cita, harapan atau dambaan, yang membuat kita sungguh hidup dinamis, bergairah dan ceria. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan antara lain dapat kita temukan dalam aneka aturan atau tatanan hidup yang terkait dengan panggilan, tugas pengutusan atau kewajiban dan pekerjaan kita masing-masing. Semua aturan dan tatanan hidup hemat saya dibuat dan diberlakukan berdasar dan dalam kasih, maka baiklah kita hayati dan sebarluaskan keutamaan kasih melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13:4-7)
  • “Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa TUHAN-lah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. Dari langit Ia membiarkan engkau mendengar suara-Nya untuk mengajari engkau, di bumi Ia membiarkan engkau melihat api-Nya yang besar, dan segala perkataan-Nya kaudengar dari tengah-tengah api” (Ul 4:35-36), demikian pesan kepada bangsa terpilih  yang sedang berada di dalam perjalanan menuju tanah terjanji. Kita semua juga sedang dalam perjalanan menuju ‘tanah terjanji’, yaitu hidup mulia di surga setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Di tengah-tengah perjalanan kita kiranya juga ada ‘api’ yang menerangi dan menyemangati perjalanan kita menuju ‘tanah terjanji’. Api itu antara lain nampak dalam diri sesama dan saudara-saudari kita yang hidup dan bertindak dengan bergairah, dinamis dan bersemangat karena dan oleh kasih. Marilah kita lihat dan imani apa yang mereka lakukan dan katakan, dan kemudian kita meneladan cara hidup dan cara bertindak mereka serta  menghayati aneka macam nasihat, saran dan petunjuk yang mereka katakan kepada kita. Kiranya di tengah-tengah kita cukup banyak orang yang dinamis, bergairah dan bersemangat  di dalam mengasihi atau ‘memberikan nyawa / mempersembahkan diri seutuhnya’ demi keselamatan dan kebahagiaan sesamanya. Hendaknya kita juga saling mempersembahkan diri satu sama lain dalam cara hidup dan cara bertindak kita di mana pun dan kapan pun, agar kehidupan bersama sungguh bahagia, damai sejahtera, menarik dan memikat bagi siapa pun yang menyaksikannya. Kita juga diharapkan hanya percaya kepada Allah saja serta memfungsikan aneka macam kekayaan atau milik kita sedemikian rupa sehingga kita semakin percaya kepada Allah. Aneka macam bentuk harta benda atau uang hendaknya difungsikan agar kita semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari.

“Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala
pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami? Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa “
(Mzm 77:12-15)

Jakarta, 7 Agustus 2009

Catatan:
Bahan renungan untuk Jum’at I bulan Agustus 2009 dari Rm. Ignatius Sumarya, SJ ini kiranya dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca Buletin Perdhaki dalam tugasnya sehari-hari. **els

NO. 1 TAHUN XXXVIII TRIWULAN III 2009

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »