Spiritualita Medica Part 2

b. Hubungan yang berdasarkan trust and conscience
Hubungan antara tenaga medis dan pasien ini sangat khusus. Dia bukanlah suatu hubungan bussiness, juga bukan suatu hubungan perjanjian (kontrak) yang sejajar, tetapi merupakan suatu hubungan antara orang yang kuat (tenaga medis yang punya pengetahuan dan kemampuan menyembuhkan) dan yang lemah (pasien yang sedang sakit, lemah, tak berdaya dan tidak punya kemampuan dan pengetahuan untuk menyembuhkan). Hubungan ini memang bukanlah hubungan yang sederajat (seimbang). Hubungan tenaga medis dengan pasien adalah hubungan trust (kepercayaan) sehingga tenaga medis haruslah menjaga identitasnya sebagai “agent of the trust”. Kalau hubungan kepercayaan ini rusak, maka tamatlah riwayat hubungan yang baik antara tenaga medis dan pasien dan akan menimbulkan syak dan wasangka yang bermacam-macam.
Kepercayaan adalah inti dari hubungan tenaga medis dengan pasien. Edmund Pellegrino menjabarkan masalah ini secara panjang lebar dalam apa yang disebut “beneficence-in-trust”. Relasi antara tenaga medis dan pasien adalah untuk mencari kebaikan pasien. Kebaikan pasien ini mengandung 4 unsur yakni (a) kebaikan yang paling tinggi bagi umat manusia sebagaimana dimengerti oleh pasien, (b) kebaikan pasien sebagai pribadi manusia, (c) penilaian subjektif pasien mengenai apa itu yang baik, dan (d) kebaikan secara biomedis dan klinis.
Singkat kata, pasien sebagai pribadi manusia harus menjadi pusat pelayanan itu dan dengan demikian dia harus diperlakukan sebagai pribadi manusia (Bhs. Jawa, diuwongké). Situasi macam ini yang kadang (sering?) kurang terjadi dalam pelayanan rumah sakit di Indonesia. Ada berbagai macam alasan yang bisa diterima akal sehat (misalnya: kurangnya tenaga dokter, keterbatasan fasilitas rumah sakit, keterbatasan dana, dll) akan tetapi bukan berarti bahwa kita tidak bisa memperbaiki pelayanan seperti itu.
Kalau seorang pasien sudah tidak percaya lagi kepada tenaga medis, bisa dibayangkan dengan mudah bahwa tidak akan terjadi interaksi yang baik dalam proses terapi dan dengan demikian terapinya sendiri tidak akan menghasilan buah yang memuaskan. Bisa menjadi sumber kemarahan, kesedihan, kegagalan, penolakan dan sebagainya. Dari hal ketidak percayaan pasien atau malah kesalahan pasien menjadi dasar untuk menuntut adanya persangkaan malpraktek.
Kejadian kongkrit di beberapa tempat di Indonesia bisa menjadi cermin mengenai buruknya hubungan dokter dengan pasien ini. Oleh karena adanya begitu banyak tuntutan persangkaan terjadinya malpraktek, hubungan dokter dan pasien tidak lagi berdasarkan keakraban dan saling percaya tetapi saling curiga. Kecurigaan ini dalam beberapa kasus malah sudah terjadi sejak awal hubungan itu. Di satu pihak, pasien tidak langsung percaya terhadap perkataan dan nasehat dokter di lain pihak dokternya sendiri lebih banyak menerapkan defensive medicine yakni menerapkan ilmu kedokterannya dengan fokus utama pada hukum dan bukan pada kebutuhan medis si pasien supaya nantinya tidak dituntut secara hukum. Hubungan macam ini tentu saja tidak sehat dalam proses penyembuhan si pasien dan merugikan kedua belah pihak.
Ketiadaan trust (kepercayaan) ternyata harus dibayar mahal baik secara finansial maupun psikologis. Adanya saling curiga ini mengakibatkan apa yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan menjadi masalah sehingga tuntutan persangkaan malpraktek menjadi semakin banyak.
Agar kepercayaan ini tetap terjaga, di sini jelas diperlukan kejujuran dari kedua belah pihak, baik dari para tenaga medis maupun dari pasien. Dari pihak pasien diperlukan kejujurannya sebab untuk menegakkan diagnosis secara baik dan benar tentu saja membutuhkan kejujuran pasien untuk mengatakan keluhannya dan riwayat penyakitnya. Bisa terjadi bahwa ketidakjujuran atau ketidak-tepatan pasien mengemukakan keadaan penyakitnya menjadikan salah diagnosis dari penyakitnya dan dengan demikian akan berakibat pada kesalahan terapi.
Dari pihak tenaga medis sendiri juga harus ada kejujuran mengenai kompetensinya. Bisa terjadi bahwa untuk menambah kepercayaan seorang pasien kepada dokter, maka dokter berlaku seolah-olah menguasai dengan sangat baik mengenai penyakit pasien itu, padahal sebenarnya dia tidak tahu banyak. Di sini penting bahwa seorang tenaga medis mempunyai keutamaan dan kerendahan hati bahwa dia mungkin tidak mengetahui segala-galanya.
Bisa juga terjadi bahwa seorang dokter tidak mengatakan keadaan sebenarnya mengenai penyakit pasien karena takut kalau pasien diberitahu keadaan sebenarnya maka dia akan kalut, down dan stress dan tidak akan membantu proses penyembuhan penyakitnya. Ketika ditanya pasien atau keluarganya, dokter mengatakan, “O, penyakitmu nggak apa-apa kok. Tidak gawat. Beberapa hari lagi sembuh.” Padahal dia tahu secara medis bahwa penyakit pasien itu gawat dan bisa membawa kematian.
Ketidakjujuran dari kedua belah pihak ini justru akan menambah jumlah pertanyaan mengenai patient safety yang akan bermuara pada adanya tuntutan persangkaan malpraktek yang kenyataannya semakin banyak di Indonesia.

c. Menghormati martabat manusia
Berhadapan dengan persaingan global yang sudah saya sebutkan di atas, salah satu kemungkinan paling riil yang bisa kita tawarkan sebagai unggulan pelayanan kesehatan Katolik adalah penghormatan martabat manusia kepada pasien. Dalam Gereja, kita mempunyai tradisi yang sangat kental bahwa dalam melayani pasien yang ada di balik pelayanan itu adalah penghargaan yang tinggi terhadap martabat manusia. Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mateus 25: 40).
Siapakah manusia itu? Dalam ajaran Yudaisme (Israel), manusia pertama-tama ialah ciptaan Allah yang paling tinggi, yang diciptakan sebagai gambar dan citra Allah. Dalam Kristianitas, tanpa menegasikan ajaran Yudaisme sebagai asal muasal Kristianitas, Kristianitas maju lebih jauh lagi. Manusia bukan hanya ciptaan yang paling tinggi yang diciptakan sebagai gambar dan citra Allah tetapi manusia juga ditinggikan dengan inkarnasi dan penebusan Kristus. Yesus yang adalah Allah Putra dan gambar Allah yang paling sempurna telah merendahkan kodrat Ilahinya dan mengambil rupa manusia, tetapi dengan demikian mengangkat kodrat manusia dengan memberikannya pengharapan akan keselamatan. Oleh karena penebusan Kristus, maka manusia menjadi anak-anak Allah.
Ajaran tentang martabat manusia macam ini sangatlah revolusioner sebab ajaran macam ini tidak pernah ada orang yang mengajarkannya demikian baik sebelum dan sesudah Yesus. Kristus mewahyukan bahwa martabat hidup manusia bukan hanya dihubungkan dengan asal-usulnya yang berasal dari Allah (diciptakan dalam oleh Allah seturut gambar dan citra Allah) tetapi juga pada tujuan akhir hidup manusia yakni dalam persatuan mesra dengan Allah dalam Kerajaan Allah, “Martabat hidup manusia dihubungkan bukan hanya dengan asal-usulnya, kenyataan bahwa dia datang dari Allah, tetapi juga dengan tujuan akhirnya yakni persatuan mesra dengan Allah.” Mengenai martabat hidup manusia ini, ensiklik Evangelium Vitae menegaskan, “Manusia telah diberi martabat yang sangat luhur, berdasarkan persekutuan mesra yang mempersatukannya dengan Sang Pencipta: Dalam diri manusia terpancar cermin Allah sendiri.”
Para tenaga medis yang setiap hari harus bergelut dengan hidup matinya para pasien, bisa terjerembab kepada situasi sulit di mana penghargaan terhadap pribadi manusia kurang mendapatkan tempatnya. Penilaian medis yang lebih banyak menempatkan kualitas hidup manusia sebagai tolok ukur intervensi medis bisa menjatuhkan penghargaan kepada martabat manusia hanya pada kriteria extrinsic (di luar martabat manusia) yang justru mengaburkan martabat manusia itu sendiri, misalnya euthanasia dan aborsi. Pertanyaan yang sering diajukan ialah, “Apa gunanya hidup kalau hidupnya tidak berkualitas?” Bahkan ada orang yang memandang orang yang kualitas hidupnya tidak baik lalu dikatakan, “dihukum untuk hidup”
Secara kongkrit, perhormatan kepada martabat manusia ini menyangkut hak kebebasan untuk mendapatkan informasi dan pengobatan bagi penyakit yang diderita, menghormati keputusan yang dibuat pasien, memperlakukannya sebagai seorang pribadi yang. Singkat kata, menghormati martabat manusia berarti “nguwongké” pasien sedemikian rupa sehingga kendati penyakit yang dideritanya, dia merasa menjadi semakin menjadi manusia, yang adalah gambar dan citra Allah yang merupakan anak Allah sendiri.

d. Sanctity of Life VS Quality of Life
Penilaian tenaga medis terhadap pasiennya seringkali berdasarkan pada kualitas hidup si pasien. Ketika seorang tenaga emdis akan melakukan intervensi medis, yang sering dipikirkan adalah sejauh mana intervensi medis ini akan meningkatkan kualitas hidup si pasien.
Istilah sanctity of life (kesucian hidup manusia) untuk menerangkan bahwa hidup manusia ini berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah dan oleh karenanya, hidup manusia itu suci. Kesucian hidup manusia itu tidak diberikan oleh suatu lembaga atau institusi ataupun tokoh tertentu, tetapi diberikan oleh Tuhan pada waktu keberadaan kita yang akan bertahan selamanya. Oleh karena itu, nilai manusia tidak tergantung pada hal-hal yang external tetapi tergantung pada nilai di dalam itu sendiri. Kesucian hidup manusia itu tidak tergantung apakah manusia sehat atau sakit, apakah lengkap atau cacat, apakah cantik atau jelek dsb.
Istilah quality of life menunjukkan kualitas hidup seseorang. Dalam dunia kedokteran, kualitas hidup manusia ini sering dipakai untuk ukuran dalam melakukan intervensi medis, misalnya seorang yang berpenyakit kanker apakah perlu dioperasi atau tidak? Jawaban ini tentu saja tergantung pada output dari intervensi medis itu: Seberapa persen keberhasilannya dan apakah operasi itu akan meningkatkan kualitas hidup si pasien. Dalam konteks macam ini, ukuran quality of life tidaklah salah.
Menjadi masalah bila kita melihat manusia hanya berdasarkan kualitas hidupnya. Dengan kata lain: kualitas hidup itu dipakai menjadi ukuran satu-satunya di dalam menilai hidup seseorang sehingga orang yang sakit-sakitan dipandang sebagai kurang bernilai; hidup yang menderita dipandang sebagai hidup yang tidak layak untuk dihidupi; hidup yang cacat sebagai hidup yang tidak bernilai sehingga tidak ada artinya untuk dipertahankan. Bahkan ada orang yang menilai bahwa orang yang sakit dan menderita dipandang sebagai orang yang dihukum untuk hidup karena dia harus hidup dengan situasi yang tidak mengenakkan. Tidak jarang dari mereka ini kemudian memutuskan untuk meminta dilakukan euthanasia.
Orang yang demikian ini salah meletakkan nilai hidup manusia seolah-olah kualitas hidup itulah satu-satunya yang menjadi ukuran. Padahal manusia adalah tetap manusia sejak keberadaannya sampai dengan kematian naturalnya. Dia tidak boleh dinilai hanya berdasarkan situasinya. Yang harus dilihat adalah nilai intrinsiknya sehingga tidak ada alasan apapun untuk memutuskan atau merampas hidup, baik merampas hidup orang lain (membunuh) atau merampas hidup diri sendiri (bunuh diri).

3. Bukan hanya profesi dan karier, tetapi panggilan

Gagasan mengenai profesi telah lama berpusat pada suatu kesadaran moral akan pelayanan demi orang lain (altruistik) yang tidak mementingkan diri sendiri. Bila kesadaran moral ini berkembang baik, maka profesi akan berubah menjadi panggilan, akan tetapi kalau semakin rendah perkembangannya, maka akan menjadi karier. Dewasa ini kiranya yang menjadi pokok utama pergeseran itu ialah self interest. Semakin banyak orang yang tidak percaya bahwa kita “bisa membuat sesuatu tanpa adanya self interest”.
Sesuatu yang dipandang sebagai karier, maka segala usaha akan diarahkan untuk peningkatan karier itu. Kalau seorang dokter melihat dirinya semata-mata sebagai karier, maka mungkin dia tidak merasa perlu untuk bertindak yang akan merugikan kariernya, misalnya menolong orang miskin tanpa bayaran, atau menolong orang sakit yang sangat menular dsb.
Rumah sakit Katolik tidak pernah pertama-tama didirikan untuk mendorong karier seseorang, tetapi sejak semula rumah sakit Katolik didirikan untuk menjadi sarana pelayanan kepada orang lain, yakni sarana pastoral untuk mengemban misi Yesus untuk menebus manusia. Rumah sakit Katolik adalah rumah sakit yang bersifat karitatif, yakni yang berdasarkan cinta (NB: Charitas berarti cinta kasih). Bukan berarti bahwa kalau karitatif lalu harus gratis dan tidak boleh mencari untung. Keuntungan tetap diperlukan “sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.” (Lukas 10:7). Keuntungan itu juga diperlukan supaya bisa memberikan pelayanan yang lebih baik lagi.
Namun pelaksanaan panggilan cinta kasih itu dewasa ini tidak selalu mudah. Masyarakat kita dewasa ini menjadi masyarakat yang gemar menuntut “litigating society” (yang seringkali tidak disertai menjalankan kewajibannya) dan ini akan menyulitkan pelaksanaan panggilan itu sehingga banyak dokter menerapkan defensive medicine.
Bahwa menjadi tenaga medis itu adalah panggilan, bisa mudah dirunut dalam sejarah penyembuhan penyakit itu sendiri. Sejak dahulu kala, penyembuhan sakit selalu berhubungan dengan yang Ilahi, entah dipandang sebagai berkat atau kutuk. Baru dalam perjalanan selanjutnya, kemampuan untuk menyembuhkan ditarik dari wilayah “ilahi” ini dan diarahkan kepada science sehingga sejak Hippokrates sebagai bapak kedokteran, ilmu kedokteran dipandang sebagai seni atau teknê. Tetapi walaupun sudah ditarik ke wilayah seni dan teknik (teknê) tetapi dalam sumpah Hippokrates tetap saja menyebut-nyebut dewa-dewi, yakni Aesculapius. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa profesi penyembuhan itu erat berhubungan dengan yang Ilahi.
Daya penyembuhan itu datang dari yang Ilahi dan para tenaga medis adalah pelayan yang dipakai Tuhan untuk menyampaikan rahmat Allah sehingga sampai sekarang pun banyak dokter yang mengatakan, “Dokter yang mengobati dan Tuhan yang menyembuhkan.”
Dalam sejarah Gereja, pelayanan kepada orang sakit ini selalu dipandang sebagai bagian integral dari misi pelayanan Gereja sebab pelayanan kepada jiwa-jiwa tidak bisa sepenuhnya bisa terlaksana bila tidak dilaksanakan dalam kepenuhan seluruh manusianya, yakni tubuh atau badannya. Oleh karena itu, pelayan-pelayan kesehatan itu berbagi dalam pelayanan pastoral dalam Evangelisasi dunia bersama dengan Gereja. Maka “Para dokter, perawat dan semua pelayan kesehatan yang lainnya dipanggil untuk menjadi gambar Kristus dan Gereja-Nya yang hidup dalam mencintai mereka yang sakit dan menderita: ‘menjadi Injil Kehidupan’. Dan inilah panggilan itu. Kita memang dipanggil Tuhan sebagai sarana untuk di mana Allah mencurahkan rahmatNya.
Maka tidak mengherankan bahwa Gereja memandang tugas sebagai tenaga medis ini adalah panggilan Allah. “To speak of mission is to speak of vocation: the response to a transcendent call which takes shape in the suffering and appealing countenance of the patient in his care. To care lovingly for a sick person is to fulfill a divine mission, which alone can motivate and sustain the most disinterested, available and faithful commitment, and gives it a priestly value.”

4. Siapa yang harus diprioritaskan

Cinta itu memang harus dialamatkan kepada semua orang, baik yang berbuat baik kepada kita maupun yang berbuat jahat. Tentu saja ini tantangan untuk merealisasikannya. Yesus bersabda, “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian.” (Mateus 5: 46 – 47)
Dalam bagian lain, Yesus bersabda, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mateus 28: 19 – 20) Di lain pihak Yesus juga bersabda, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin.” (Lukas 4: 18). Juga “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mateus 5:3)
Dari teks di atas dan beberapa teks yang lainnya mengindikasikan dengan jelas bahwa Kerajaan Allah itu memang harus diwartakan kepada semua bangsa tetapi dengan memberi perhatian khusus bagi mereka yang miskin dan menderita.
Pertama-tama bahwa kita memang harus berpihak kepada orang miskin (preferential option for the poor) karena mereka itu salah satu kelompok yang paling vulnerable dan lemah akan tetapi keberpihakan itu tidak berarti lalu kita meninggalkan yang lainnya karena yang lainnya itu juga sesama dan anak-anak Allah yang harus kita cintai. Karena utusan Yesus itu untuk semua manusia, yakni umum, tidak memandang kaya ataupun miskin maka kita menyebut diri sebagai “Katolik” yang berarti “Umum”. Oleh karena itu, rumah sakit Katolik harus menjadi rumah sakit umum, baik yang kaya maupun yang miskin atau pun tanpa membeda-bedakan klasifikasi apapun. Kita melayani semua orang.
Akan tetapi karena vulnerabiliti dan kelemahan mereka, maka kita memang harus berpihak kepada mereka. Menjadi salah kalau kita hanya melayani mereka yang kaya saja sebab Yesus memang berpihak kepada mereka yang miskin, lemah dan tertindas. Demikian pula menjadi salah ketika hanya melayani yang miskin saja karena semua orang adalah anak Allah yang tidak boleh dibeda-bedakan berdasarkan tingkat ekonominya. Preferential option for the poor berarti kita memang dengan sengaja memilih yang miskin, sebab secara instinctif biasanya kita menghindari mereka yang miskin dan lemah. Pemilihan ini bukan untuk membeda-bedakan, tetapi untuk memberi perhatian yang lebih kepada mereka yang dalam situasi vulnerable tadi.

Perwujudannya antara lain dalam:
a. Alokasi dana rumah sakit
Dalam hal ini alokasi dana menjadi perhatian kita. Bagaimanapun juga dana kita terbatas. Dalam hal pelayanan inilah maka pembagian jatah dana yang tersedia harus dipikirkan baik-baik. Bagaimanapun juga dana yang kita punyai terbatas sehingga kita tidak mungkin memenuhi segala sesuatu yang dibutuhkan oleh semua rumah sakit dalam Borromeus Grup ini. Kongkritnya: Apakah perlu membuat kamar lux atau tidak tentu saja banyak tergantung dari pertimbangan antara preferential option for the poor dan sifat keumuman dari rumah sakit kita.
Secara konkrit, apakah rumah sakit Katolik boleh membangun kamar-kamar lux dan peralatan yang mahal harganya? Bisa ya dan bisa tidak.
– Bisa “Tidak” kalau dengannya justru melalaikan pelayanan kepada orang miskin.
– Bisa “Ya” kalau dipandang secara global bahwa pelayanan kita harus pelayanan kepada semua orang. Melayani si kaya agar kita bisa melayani si kecil dengan lebih baik lagi.

b. Dana untuk orang miskin
Setiap rumah sakit Katolik wajib untuk mengalokasikan dana untuk membantu mereka yang berkekurangan (miskin). Dari pengalaman sehari-hari kita bisa mengerti bahwa mereka yang membutuhkan bantuan keuangan jumlahnya sangat besar.
Dalam hal memberi bantuan ini, perlu kiranya diperhatikan beberapa hal:
– Unsur keadilan: Kita tahu bahwa yang membutuhkan bantuan itu banyak orang oleh karena itu ketika kita memberikan bantuan kepada satu orang dalam jumlah prosentasi yang sangat besar dari anggaran bantuan, maka kita sebenarnya berbuat tidak adil. Misalnya kita memberikan bantuan sejumlah 50% dari total anggaran kepada satu orang, maka kita berbuat tidak adil.
– Bantuan itu harus bersifat memberdayakan (empowering). Ketika Yesus menyembuhkan orang, Dia bukan hanya menjadikan si sakit sembuh tetapi juga berjalan untuk mengangkat tempat tidurnya. “Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.” (Yohanes 5:8). Bantuan yang diberikan oleh Yesus tidak menjadikannya tergantung tetapi memampukan dirinya untuk mengatasi kesulitan hidupnya.
Hidup sehat adalah tanggung jawab masing-masing sehingga setiap orang mempunyai hak dan kewajiban untuk mempertahankan hidup dan kesehatannya. Paus Pius XII dalam pertemuan dengan para dokter dan anastesi yang membicarakan soal rianimasi tgl. 24 November 1957 mengatakan, “Alasan-alasan natural dan moral Kristiani mengatakan bahwa manusia mempunyai hak dan kewajiban untuk memelihara hidup dan kesehatannya dengan mempergunakan sarana yang perlu bila dia diserang penyakit…. Akan tetapi dia hanya berkewajiban untuk mempergunakan sarana yang ordinary (menurut situasi orang itu, lingkungan, zaman dan kebudayaan setempat) yakni sarana yang tidak membebankan dirinya dan orang lain secara extraordinary. Kewajiban yang lebih tinggi lagi akan menjadi beban yang tak terpikul bagi sebagian besar orang dan untuk mencapainya hal yang lebih tinggi dan lebih penting akan menjadi terlalu sulit…..

C. Pastoral Care
Pastoral care seharusnya menjadi mahkota pelayanan rumah sakit Katolik. Oleh karena tugas dan situasinya, para pelayan kesehatan kurang mampu untuk mewujudkan visi dan misi rumah sakit dimana mereka bekerja. Akibatnya, aspek pewartaan Kerajaan Allah dan perwujudan cinta kasih kepada sesama yang menderita ini kurang tampil ke depan sehingga kurang bisa dirasakan. Padahal inilah visi dan misi utama rumah sakit Katolik.
Untuk mengatasi kekurangan ini, maka pelayanan pastocal care menjadi sangat penting. Dalam kenyataannya di Indonesia, bidang ini sering kurang mendapatkan perhatian yang memadai. Sering orang yang ditugaskan untuk pastoral care adalah “tenaga sisa”, misalnya para suster yang sudah tua dan tidak bisa bekerja di tempat lain, lalu ditempatkan di situ. Padahal inilah inti dari rumah sakit Katolik itu.
Oleh karena itu, salah satu program unggulan yang sebaiknya kita buat adalah pelayanan pastoral care yang baik. Pendampingan pastoral secara khusus bagi mereka yang sakit selalu dipandang sebagai bagian integral dari adanya rumah sakit Katolik. Mengapa? Karena pastoral care inilah yang paling kentara untuk mewujudnyatakan perutusan Gereja. Pastoral care adalah bagian integral dari pelayanan rumah sakit di mana orang mendapatkan bantuan pelayanan secara keseluruhan. Pelayanan ini sangat strategis dalam menghantar orang-orang untuk berjumpa dengan Allah.
Dari peristiwa orang yang di salib di sebelah kanan Yesus kita bisa belajar bahwa bantuan yang diberikan kepada pendosa pada saat terakhir manfaatnya sangat luar biasa bagi keselamatannya. “Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Lukas 23:43). Di sinilah letak arti pentingnya pendampingan mereka yang berada dalam situasi akhir hidup, ketika seorang pasien berada dalam kegelapan yang paling ngeri, ketika dia akan berhadapan dengan puncak akhir kehidupannya di dunia ini, ketika dia tidak tahu persis apa yang harus dibuat, bantuan sangat diperlukan. Bantuan ini sangat diperlukan bukan hanya bagi orang-orang sederhana, tetapi juga mereka yang beriman dan yang kuat. Semua orang membutuhkan bantuan itu.
Ketika berhadapan dengan kematian, banyak orang akan mengalami ketidak berdayaan dan kegelapan. Bahkan Yesus pun mengalami hal serupa, “Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Markus 15:34).
Oleh karena itulah maka jangan pernah membiarkan mereka harus menghadapinya sendirian. Sehebat apapun juga, orang itu memerlukan bantuan orang lain. Di sini pastoral care harus menjadi teman dan penuntun ke arah yang benar. Maka pastoral care harus menjadi bagian integral dari pelayanan rumah sakit.

-=oooOOOooo=-

SPIRITUALITA MEDICA*

3. Identitas Rumah Sakit Katolik

Mengetahui identitas rumah sakit kita ini menjadi penting untuk semua orang yang terlibat di dalamnya karena institusi ini dibangun berdasarkan ideologi atau visi misi tertentu. Di tengah-tengah persaingan dengan pelbagai visi dan misi yang beraneka ragam itu, kita usahakan bahwa visi dan misi ini menjadi “brand” dari rumah sakit kita.
Dari semua tantangan itu bisa menjadi kutuk atau berkat, tergantung bagaimana kita menyikapi semua itu. Untuk bisa mengambil sikap yang tertanggung jawab tentu saja diperlukan pengenalan diri dan visi dan misinya. Inilah persis mengapa tenaga medis Katolik harus mempunyai identitas sendiri sehingga bangga dengan dirinya sendiri dan mendapatkan kepuasan di dalam melakukan tugas. Identitas itu antara lain:
a. Mencintai kehidupan
Secara singkat bisa diringkaskan bahwa tugas utama para petugas kesehatan adalah menjadi “Pelayan Kehidupan”. Di sini saya kutipkan 2 dokumen penting yang menggaris bawahi tugas itu:
a. Pontifical Council for Pastoral Assistance pada tahun 1995 mengeluarkan dokumen yang bernama Charter for Health Care Workers. Pada bagian introduksi, diberi judul “Pelayan kehidupan” lalu dilanjutkan, “1. Karya dari pelayan kesehatan adalah sebuah karya yang sangat penting: pelayan kehidupan. Pelayanan ini secara mendalam mengungkapkan sebuah komitmen kemanusiaan dan Kristianitas yang dilakukan dan dilaksanakan bukan hanya sebagai aktivitas teknis tetapi juga sebagai salah satu bentuk pengabdian dan cinta kepada sesama. Ini adalah bentuk “kesaksian Kristen”. Profesi mereka itu mengundangnya untuk menjadi penjaga dan pelayan kehidupan.”
b. Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan Ensiklik Evangelium Vitae. Pada nomor 89 dikatakan antara lain, “Sebuah tanggung jawab unik tertumpu pada pundak para pelayan kesehatan: dokter, pharmasi, perawat, kapelan, biarawan dan biarawati, tenaga administrasi dan voluntir. Dalam konteks dewasa ini, baik secara kultural maupun sosial, yang di dalamnya ilmu pengetahuan dan praktek kedokteran beresiko kehilangan pandangan dari dimensi etis, para pelayan kesehatan mendapatkan pencobaan yang kuat untuk menjadi manipulator kehidupan dan bahkan menjadi pelaku kematian. Pada masa sekarang ini bahaya pencobaan ini semakin besar. Inspirasi terdalam dan yang terbesar harus ditarik dari makna terdalam dan intrinsik dari dimensi etis dari profesi pelayan kesehatan, sesuatu yang sudah diakui sejak jaman purba dulu dan masih tetap relevan sampai sekarang, ialah sumpah Hippokrates, yang menuntut para dokter untuk membuat komitmen diri untuk menghormati martabat manusia secara absolut serta menghormati kesuciannya. Penghormatan yang absolut bagi setiap manusia yang tak bersalah juga menuntut untuk melakukan keberatan berdasarkan suara hati berhadapan dengan aborsi dan euthanasia. “menyebabkan kematian” tidak pernah bisa dipandang sebagai cara pengobatan, juga seandainya intensinya benar-benar hanya melaksanakan kehendak pasien.

Singkat kata: Tenaga medis Katolik dan Rumah Sakit Katolik dituntut untuk menghormati kehidupan secara absolut sejak keberadaanya (pembuahan) sampai dengan kematian naturalnya. Oleh karena itu, kalau pada suatu hari ada undang-undang yang memperbolehkan aborsi, rumah sakit kita tetap tidak boleh melakukan aborsi.

Hidup adalah hak asasi yang paling dasar dari semua hak asasi manusia sebab semua hak azasi lainnya mengisyaratkan adanya hidup lebih dahulu. Tanpa adanya hidup manusia maka tidak ada hak asasi lainnya dan semua hal tidak ada manfaatnya kalau tidak ada hidup. Maka hidup menjadi dasar dari semuanya. Hidup menjadi syarat sine qua non (syarat mutlak) adanya yang lain-lain. Orang boleh berdebat mengenai banyak hak asasi, misalnya: apakah wanita punya hak untuk menjadi presiden, apakah masyarakat punya hak untuk bersuara dsb, tetapi orang tidak boleh berdebat mengenai perlindungan terhadap kehidupan. Semua manusia hidup berhak untuk mendapatkan perlindungan untuk tidak diancam atau dicabut hidupnya.

Sampai beberapa waktu yang lalu, orang masih banyak bertanya, “Kapan manusia itu mulai hidup?” akan tetapi riset mutakhir memberikan terang benderang yang sangat jelas bahwa hidup manusia mulai sejak saat selesainya proses pembuahan.

Di sini peran seorang tenaga medis sangat penting, sebab merekalah yang setiap hari berurusan dengan kehidupan dan kematian. Setiap hari dia dihadapkan kepada keputusan tentang hidup dan mati. Identitas diri sebagai penyayang kehidupan menjadi nyata di dalam hidup setiap harinya. Dalam hal ini, patut diingat ajakan Ensiklik Evangelium Vitae no. 79 yang mengatakan, “Bersama-sama kita sadari kewajiban kita mewartakan Injil Kehidupan, merayakannya dalam Liturgi dan seluruh hidup kita, dan melayaninya melalui pelbagai program dan struktur yang mendukung dan memajukan hidup.”

Lalu bagaimana sehubungan dengan Undang-undang Kesehatan yang baru tahun 2009 yang memperbolehkan aborsi? Jawabannya juga mudah: apa yang legal secara negara bukan berarti legal pula dalam Gereja. Dua institusi ini mempunyai sistem nilai yang berbeda yang tidak selalu sama. Oleh karena itu kendati secara hukum negara diperbolehkan tetapi secara Gerejawi tetap tidak diperbolehkan. UU Kesehatan yang baru itu menjadi salah satu yang paling laksis (bebas) yang ada di dunia.

Kita lihat apa yang dikatakan oleh Undang Undang Kesehatan yang baru itu:

Pasal 81
Setiap orang berhak :
a. Menjalani kehidupan reproduksi dan kehidupan seksual yang sehat, aman, bebas dari paksaan dan/atau kekerasan dengan pasangannya yang sah.
b. Menentukan kehidupan reproduksinya dan bebas dari diskriminasi, paksaan dan/atau kekerasan, yang menghormati nilai-nilai luhur yang tidak merendahkan martabat manusia sesuai dengan norma-norma agama.
c. Menentukan sendiri kapan dan berapa sering ingin berproduksi sehat secara medis serta tidak bertentangan dengan norma-norma agama.
d. Memperoleh informasi, edukasi, dan konseling mengenai kesehatan reproduksi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pasal 82
Pemerintah wajib menjamin ketersediaan sarana informasi dan sarana pelayanan kesehatan reproduksi yang aman, bermutu, dan terjangkau masyarakat, termasuk keluarga berencana.

Pasal 83
1) Setiap pelayanan kesehatan reproduksi yang bersifat promotif, preventif, kuratif, dan/atau rehabilitasi, termasuk reproduksi dengan bantuan dilakukan secara aman dan sehat dengan memperhatikan aspek-aspek yang khas, khususnya fungsi reproduksi perempuan.
2) Setiap pelayanan kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pelaksanaannya tidak bertentangan dengan agama dan ketentuan hukum yang berlaku.
3) Ketentuan mengenal reproduksi dengan bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 84
1) Setiap orang dilarang melakukan Aborsi.
2) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan:
a. Indikasi medis yang terbukti secara klinis mengancam nyawa Ibu dan/atau janin yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan dan harus mendapat ijin dari ibu dan ayah janin setelah diberikan penjelasan yang lengkap.
b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan yang direkomendasi dari lembaga atau Institusi atau ahli/tokoh agama setempat sesuai dengan norma-norma agama; dan
3. Tindakan sebagaimana ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehat pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompetan dan berwenang serta ditetapkan oleh panel ahli/tokoh agama setempat yang diangkat Menteri.
4. Ketentuan lebih lanjut ayat (1) ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 85
Tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasat 84 hanya dapat dilakukan:
a. Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari haid pertama haid terakhir kecuali dalam hal kedaruratan medis;
b. Oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d. Dengan Izin suami kecuali korban perkosaan; dan
e. Penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh menteri.

Pasal 86
1) Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari praktik aborsi yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma-norma agama dan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
2) Praktek aborsi yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tindakan:
a. Dengan paksaan dan tanpa persetujuan perempuan yang bersangkutan;
b. Yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang tidak profesional;
c. Tanpa mengikuti standar profesi dan pelayanan yang berlaku;
d. Diskriminatif;
e. Lebih mengutamakan imbalan materi dari pada indikasi medis.
3. Aborsi yang bermutu, aman, bertanggung jawab dilakukan atas indikasi kegawatan medis yang ditentukan oleh tenaga kesehatan yang berwenang dan advis dari lembaga atau institusi atau ahli/tokoh agama sesuai dengan norma-norma agama.

b. Menghormati martabat manusia
Berhadapan dengan persaingan global yang sudah saya sebutkan di atas, salah satu kemungkinan paling riil yang bisa kita tawarkan sebagai unggulan pelayanan kesehatan Katolik adalah penghormatan martabat manusia kepada pasien. Dalam Gereja, kita mempunyai tradisi yang sangat kental bahwa dalam melayani pasien yang ada di balik pelayanan itu adalah penghargaan yang tinggi terhadap martabat manusia. Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matheus 25: 40).

Siapakah manusia itu? Dalam ajaran Yudaisme (Israel), manusia pertama-tama ialah ciptaan Allah yang paling tinggi, yang diciptakan sebagai gambar dan citra Allah. Dalam Kristianitas, tanpa menegasikan ajaran Yudaisme sebagai asal muasal Kristianitas, Kristianitas maju lebih jauh lagi. Manusia bukan hanya ciptaan yang paling tinggi yang diciptakan sebagai gambar dan citra Allah tetapi manusia juga ditinggikan dengan inkarnasi dan penebusan Kristus. Yesus yang adalah Allah Putra dan gambar Allah yang paling sempurna telah merendahkan kodrat Ilahinya dan mengambil rupa manusia, tetapi dengan demikian mengangkat kodrat manusia dengan memberikannya pengharapan akan keselamatan. Oleh karena penebusan Kristus, maka manusia menjadi anak-anak Allah.

Ajaran tentang martabat manusia macam ini sangatlah revolusioner sebab ajaran macam ini tidak pernah ada orang yang mengajarkannya demikian baik sebelum dan sesudah Yesus. Kristus mewahyukan bahwa martabat hidup manusia bukan hanya dihubungkan dengan asal-usulnya yang berasal dari Allah (diciptakan dalam oleh Allah seturut gambar dan citra Allah) tetapi juga pada tujuan akhir hidup manusia yakni dalam persatuan mesra dengan Allah dalam Kerajaan Allah, “Martabat hidup manusia dihubungkan bukan hanya dengan asal-usulnya, kenyataan bahwa dia datang dari Allah, tetapi juga dengan tujuan akhirnya yakni persatuan mesra dengan Allah.” Mengenai martabat hidup manusia ini, ensiklik Evangelium Vitae menegaskan, “Manusia telah diberi martabat yang sangat luhur, berdasarkan persekutuan mesra yang mempersatukannya dengan Sang Pencipta: Dalam diri manusia terpancar cermin Allah sendiri.”

Para tenaga medis yang setiap hari harus bergelut dengan hidup matinya para pasien, bisa terjerembab kepada situasi sulit dimana penghargaan terhadap pribadi manusia kurang mendapatkan tempatnya. Penilaian medis yang lebih banyak menempatkan kualitas hidup manusia sebagai tolok ukur intervensi medis bisa menjatuhkan penghargaan kepada martabat manusia hanya pada kriteria extrinsic (di luar martabat manusia) yang justru mengaburkan martabat manusia itu sendiri, misalnya euthanasia dan aborsi. Pertanyaan yang sering diajukan ialah, “Apa gunanya hidup kalau hidupnya tidak berkualitas?” Bahkan ada orang yang memandang orang yang kwalitas hidupnya tidak baik lalu dikatakan, “dihukum untuk hidup”

Secara kongkrit, perhormatan kepada martabat manusia ini menyangkut hak kebebasan untuk mendapatkan informasi dan pengobatan bagi penyakit yang diderita, menghormati keputusan yang dibuat pasien, memperlakukannya sebagai seorang pribadi. Yang singkat kata, menghormati martabat manusia berarti “nguwongké” pasien sedemikian rupa sehingga kendati penyakit yang dideritanya, dia merasa menjadi semakin menjadi manusia, yang adalah gambar dan citra Allah yang merupakan anak Allah sendiri.

B. Pelayan Kesehatan Katolik
1. Menjadi Nabi-Nabi Cinta Kasih
Ketika menerima para tenaga medis yang selesai mengadakan kongres di Roma, 1 Oktober 1953, Paus Pius XII mengatakan bahwa para tenaga medis adalah nabi-nabi cinta kasih. Mengapa disebut nabi cinta kasih? Karena dengan menjadi tenaga medis, seseorang menjawab undangan Tuhan Yesus, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan… sebab ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku. “ (Mateus 25: 34-35).
Menjadi tenaga medis adalah panggilan hidup untuk berada bersama pasien dan bahkan bukan hanya sekedar melawati orang sakit, lebih dari pada itu ia merawat orang sakit. Menjadi tenaga medis Katolik memang lebih dari hanya sekedar mencari penghidupan, meskipun ini juga bagian yang sangat penting, tetapi lebih dari pada itu, panggilan ini adalah sarana untuk menanggapi undangan Tuhan untuk berbuat baik kepada sesama yang sakit dan menderita secara nyata. Oleh karena itu dalam tindakan pelayanan medis itu, kita melihat wajah Allah dan melayani Allah dalam diri mereka yang sakit itu sebab “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku “(Mat 25: 40).
Pelayanan kesehatan Katolik mempunyai dimensi yang sangat luhur sebab walaupun yang kita kerjakan adalah hal-hal yang duniawi, tetapi dampaknya jauh melebihi yang duniawi dan manusiawi itu. Dalam setiap perbuatan yang kita buat, di situ kita berkarya bagi Allah dan Allah berkarya dalam diri kita. Dalam sambutannya kepada para partisipan kongres para tenaga medis tgl. 1 Oktober 1953, Paus Pius XII mengatakan, “Belaskasih anda bagi orang-orang yang sakit bersama dengan aktivitas profesionalisme anda, akan menjadi sarana penyucian diri setiap hari… Karya-karya profesionalisme anda yang sangat luhur ini diangkat menjadi sebuah pelayanan yang otentik dan suci.”
Semua orang menginginkan hidup yang suci dan baik. Nah, karya-karya kesehatan sebenarnya menjadi sebuah sarana untuk menyucikan manusia. Sebab dengan sangat nyata karya ini bisa menghadirkan belas kasihan dan perhatian Allah kepada mereka yang menderita. Kalau kita terbiasa menyaksikan dan merenungkan situasi orang sakit, maka kita akan dengan lebih mudah akan sampai kepada permenungan karya keselamatan Allah yang dilaksanakan dalam sengsara dan wafat Yesus. Dengan demikian kita jauh lebih mudah menghargai anugerah kesehatan kita dan lebih-lebih lagi menghargai karya keselamatan Allah sendiri.
2. Hubungan Tenaga Medis dengan Pasien
a.Pasien adalah orang yang menderita
Dalam bahasa Inggris rumah sakit diterjemahkan “hospital”. Kata hospital mempunyai asal usul kata yang sama dengan hospitality (keramahtamahan). Hospital sendiri terjemahan dari kata bahasa Latin “hospit?lis”. Kata itu berasal dari kata “hospitis” bentuk pluralnya “hospes” yang berarti “tamu”. Dalam bahasa Italia, rumah sakit adalah “Ospedale” yang mempunyai akar kata yang sama dengan “ospiti” yang berarti tamu. Bahasa-bahasa turunan Latin (Perancis, Spanyol dan Portugis) mempunyai hal yang sama. Dari asal usulnya kiranya menjadi jelas sikap kita terhadap mereka yang datang kepada kita, harus dipandang sebagai tamu yang harus dihormati. (NB. Kita kurang beruntung sebab istilah kita – rumah sakit –berasal dari bahasa Belanda dan Jerman “Kranken house” yang secara hurufiah memang berarti rumah = house dan sakit = kranken).
Mengapa dari kata hospes (tamu) kemudian menjadi hospit?lis (rumah sakit)? Dari dokumen kuno, misalnya sumpah Hyppocrates yang baris pertamanya berbunyi, “I swear by Apollo Physician and Asclepius and Hygieia and Panaceia and all the gods and goddesses… menjadi jelas bahwa pada zaman kuno kemampuan untuk menyembuhkan itu dipunyai oleh para pemimpin spiritual-keagamaan. Ketika seorang pemimpin spiritual itu menjadi terkenal, maka banyak orang datang dari pelbagai penjuru untuk bertamu kepadanya mencari kesembuhan. Lalu penyembuh itu membuatlah rumah khusus untuk para tamunya itu. Oleh karena tamu yang datang itu adalah orang yang sakit, maka lama-kelamaan ada identifikasi (penyamaan) yakni rumah untuk tamu itu menjadi rumah untuk orang sakit. Tetapi bagaimanapun juga, orang sakit itu tetap dipandang sebagai tamu (ospiti) yang di dalamnya tetap harus ada ospitalita = hospitality (keramahtamahan) sehingga benar-benar karakter rumah sakit itu menjadi: ospiti (tamu), ospitalita = hospitality (keramahtamahan).
Dari sejarah menjadi jelas juga bahwa mereka yang datang ke rumahsakit adalah para tamu kita. Tapi bukan tamu sembarang tamu tetapi tamu orang yang sakit, yang menderita. Kalau tidak menderita, mereka tidak akan datang ke rumah itu.
Oleh karena itu, saya tidak setuju mengganti istilah pasien dengan istilah lain, misalnya customer, clien, comsumer dsb. Menurut Kamus Randoum House Webster, customer adalah a person who purchases goods or services from another; buyer; patron. Singkat kata, customer adalah pembeli. Relasinya menjadi relasi dagang antara penjual dan pembeli yang pasti berlaku prinsip ekonomi: Cost seminimal mungkin tetapi keuntungan sebanyak mungkin. Inilah persis yang terjadi di banyak rumah sakit: hubungan itu benar-benar antara penjual dan pembeli.
Client berarti a person or group that uses the professional advice or services of a lawyer, accountant, advertising agency, architect, etc. Juga berarti customer. Pasien yang datang kepada kita bukan hanya memakai nasehat profesional tetapi para tenaga medis mengerjakan penyembuhan. Bukan hanya menasehati tetapi mengerjakan. Seorang dokter yang menyebut pasiennya dengan istilah client berarti merendahkan pekerjaannya sendiri dan tidak bertanggung jawab atas output dari pekerjaannya, karena hanya memberi nasehat dan bukan pelaksananya.
Consumer berarti a person or thing that consumes. Jadi, comsumer adalah orang yang mengkonsumsi, yang memakan. Relasi dokter dengan pasien bukan relasi antara yang memakan dan yang menyediakan makanan.
Bagaimanapun juga, pasien tetap pasien. Patient berasal dari kata pati?ns, yang akar katanya patio yang berarti orang yang menderita (suffer, bear). Sikap seseorang kepada mereka yang menderita pasti akan berbeda dengan sikap dagang, ataupun client dan consumer. Berhadapan dengan mereka yang menderita, kita pasti akan tumbuh sikab compassion, berbelas kasih, berbela rasa. Sebaliknya berhadapan dengan customer yang dicari adalah keuntungan dagang dan uang.
Memang rumah sakit Katolik zaman kita ini harus menerapkan manajemen modern dan profesionalitas, namun profesionalitas dan penerapan manajemen modern rumah sakit jangan sampai menghilangkan hal yang paling esensial ini karena untuk itulah ada rumah sakit. Yang profesional dan peningkatan produktivitas tetap bisa dicapai dengan memakai paradigma yang benar karena ini menyangkut esensi (raison d’être) dari rumah sakit. Rumah sakit yang profit oriented merupakan pengkhianatan terhadap keberadaan rumah sakit yang seharusnya charitas oriented (berorientasi kepada cinta kasih).

bersambung….