Lokakarya Kemandirian Pos Malaria Desa/Paroki di Pontianak dan Manado, November 2014

Iklan

Pos Malaria Desa Berbasis Paroki

PENDAHULUAN

Penyakit malaria adalah penyakit endemis yang banyak diketemukan di daerah-daerah pedalaman dan terpencil, daerah bekas pertambangan, daerah hutan bekas penebangan kayu. Penyakit ini telah menimbulkan puluhan ribu korban di daerah-daerah tersebut, mulai dari kesakitan (demam, sakit kepala, pusing, mual, lemah) sampai pingsan (coma), kematian dan cacat mental (karena gangguan otak /kerusakan otak).
Karena itu penyakit malaria telah menimbulkan keprihatinan kemanusiaan dan banyak pihak yang tergerak untuk menolong penduduk yang tinggal di daerah endemis malaria.
Pemerintah Indonesia (Departemen Kesehatan RI), sebetulnya sudah sejak belasan tahun yang lalu, melakukan upaya pemeberantasan Malaria di Indonesia. Namun upaya tersebut terkendala banyak hal seperti: sulitnya menjangkau daerah pedalaman & terpencil (beratnya geografi, tiadanya transportasi, tiadanya petugas yang bersedia), resistensi obat anti malaria, keterbatasan dana dan tenaga, dll). Dengan demikian upaya pemberantasan malaria tidak menyeluruh dan belum menyentuh daerah pedalaman dan terpencil, yang justru merupakan daerah endemis tinggi malaria.
Strategi pemberantasan malaria yang selama ini berupa “top down” program dan “project oriented” telah banyak menimbulkan kegagalan di banyak tempat. Masyarakat terlalu tergantung kepada uluran belas kasihan pejabat di atas dan tidak pernah di berdayakan untuk dapat mengatasi sendiri pelbagai masalah kesehatan yang ada di lingkungan hidupnya. Perubahan ke arah “community based health care” sudah dicoba diterapkan sejak disepakatinya “deklarasi Alma Ata” lebih dari 30 tahun yang lalu yang mencanangkan “Health for All by the Year 2000”. Namun cita-cita “Kesehatan bagi semua pada tahun 2000” gagal, karena antara lain pendekatan “proyek” dan “birokratisasi kesehatan”.
Di lingkungan Gereja Katolik, sudah sejak lama menyadari pentingnya gerakan yang berbasis umat untuk dapat melakukan perubahan-perubahan demi kepentingan kesejahteraan umat, termasuk kesehatan umat. Konsep Gerakan berbasis umat tersebut dikristalisasikan dalam istilah “Komunitas Basis Gerejawi” yang muncul pada SAGKI (Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia) tahun 2000.
Mengenai arti dari “Komunitas Basis Gerejawi”, Mupas Keuskupan Ende tahun 2000 menyebutkan sebagai “Suatu persekutuan persaudaraan orang beriman, yg bersedia dan membuat komitmen untuk berkumpul pada basis yang tetap, dengan tujuan memupuk dan mengusahakan pertumbuhan kepribadian, pertumbuhan spiritual maupun pertumbuhan semangat kerasulan”. Kemudian juga disebutkan bahwa “Dasar hubungan adalah bahwa setiap anggota memiliki hubungan dengan Allah, dengan sesamanya dan dengan lingkungannya dan bersedia men-sharing-kan duka dan kegembiraan, keberhasilan dan kegagalan dalam peristiwa dan realitas kehidupan mereka”.
SAGKI tahun 2005, menegaskan kembali tentang Komunitas Basis Gerejawi mengenai “kekuatan” umat paroki yang bisa melakukan perubahan-perubahan ke arah perbaikan. Hal ini tertuang dalam Pesan SAGKI 2005 sebagai berikut:
• Keprihatinan bangsa merupakan keprihatinan Gereja
• Gereja mengajak semua pihak yg berkehendak baik utk bersama-sama bergerak membentuk keadaban publik baru
• Komunitas basis diyakini sebagai lembaga yg paling sesuai utk melakukan gerakan
• Pemberdayaan komunitas basis maupun orang muda merupakan kunci keberhasilan gerakan membangun habitus baru.

POS MALARIA DESA BERBASIS PAROKI

Dalam program malaria, secara internasional dikenal istilah “Village Malaria Post” (VMP) yang merupakan organisasi swadaya masyarakat yang berupaya memberantas penyakit malaria yang merajalela di desanya. Konsep VMP (atau Pos Mal Des atau Pos Malaria Desa) memakai konsep “Community Based Health Care”, yang merupakan gerakan rakyat untuk pembebasan dari penyakit malaria. Konsep ini sangat cocok dengan konsep “Komunitas Basis Gerajawi” yang di cita-citakan oleh Gereja Katolik di Indonesia sejak tahun 2000. Oleh karena itu, dalam Program Malaria Perdhaki yang didukung oleh Global Fund, kita mencoba menerapkan konsep “Komunitas Basis Gerejawi” dalam “Pos Malaria Desa yang berbasis Paroki”.
Dengan demikian dalam implementasinya, Pos Malaria Desa kita harus dimulai dengan proses penyadaran umat, tentang masalah-masalah kesehatan (khususnya kesakitan dan kematian akibat penyakit malaria) dan tentang peran yang mampu mereka lakukan untuk mengatasi masalah tersebut dengan kekuatan mereka sendiri, yang bisa mereka gali dan kembangkan. Peran kita (program Malaria Perdhaki) adalah menstimulasi supaya timbul kesadaran di kalangan umat, mendorong umat untuk meng-organisasi diri mereka sendiri dan mendukung umat agar mampu melakukan upaya mereka dengan sebaik-baiknya

PERAN POSMALDES

Posmaldes berperan menganalisis penyebab terjadinya kesakitan dan kematian akibat penyakit malaria, mencari akar masalahnya dan bersama-sama mengatasi masalah malaria yang ada di desa atau parokinya. Dengan demikian, peran Posmaldes adalah organisasi di desa/paroki yang merupakan gerakan umat untuk upaya preventif dan promotif secara swadaya serta upaya kuratif sepanjang diperlukan.
Upaya preventif antara lain berupa: kebersihan lingkungan, pemberantasan sarang nyamuk, pemberantasan larva/jentik nyamuk dan menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan pelbagai cara (repellent, spray, kawat nyamuk, kelambu).
Upaya promotif, dengan mengupayakan gaya hidup dan perilaku yang dapat meningkatkan kesehatan pribadi dan lingkungan.
Upaya kuratif, sepanjang hal itu dimungkinkan (ada orang yang sudah dilatih dan ada bahan/obat yang diperlukan) dapat dijalankan juga. Agar upaya-upaya tersebut efektif, hendaknya upaya-upaya tersebut dilakukan secara profesional dan evidence based (berbasis bukti).
Oleh karena itu, informasi yang benar, profesional dan evidence based perlu diberikan kepada petugas Posmaldes. Oleh karena itu pula, pelatihan-pelatihan mengenai upaya preventif, promotif dan kuratif yang profesional dan evidence based perlu diberikan kepada petugas Posmaldes. Dukungan logistik (kelambu, obat) sepanjang dibutuhkan, perlu juga diberikan kepada petugas Posmaldes.

PROGRAM MALARIA PERDHAKI-GFATM

PERDHAKI dipercaya oleh Global Fund untuk berperan-serta dalam Program Pemberantasan Malaria di Indonesia, melalui program R8 (Round 8). Global Fund sudah menegaskan bahwa urusan pemberantasan penyakit adalah urusan negara yang bersangkutan: urusan pemerintah negara yang bersangkutan dan urusan masyarakat serta organisasi kemasyarakatan (Civil Society Organization= CSO) di negara yang bersangkutan.
Dalam rangka menunjang keberhasilan progam pemberantasan penyakit tersebut, Global Fund bersedia memberi bantuan tambahan (additional) kepada pemerintah maupun masyarakat dan CSO, melalui suatu paket program yang disepakati bersama dan diawasi serta dikawal bersama, supaya akuntabel terhadap pemberi dana.
Maka dalam hal Pos Mal Des kita (yang berbasis paroki), bantuan Global Fund hanyalah sekedar tambahan terhadap upaya-upaya umat untuk pemberantasan malaria di Paroki/Stasi masing-masing. Dengan demikian pula tidak boleh ada ketergantungan kepada Global Fund dalam upaya pemberantasan malaria tersebut. Bantuan Global Fund ada atau tidak ada, upaya mempertahankan kesehatan umat dan upaya meningkatkan kesehatan umat harus tetap berjalan, karena upaya tersebut demi untuk kesejahteraan umat/masyarakat sendiri.

Januari 2010,
PROGRAM MALARIA PERDHAKI-GFATM

Beyond MCH Program

Mangganippi is a remote village, 27 km west from Weetebula, the capital city of West Sumba. To reach this village we can go by ‘oto’ (local bus) or motor cycle with a dusty and bumpy road, passing some kilometers of forests. Actually this village is only two kilometer from Homba Karipit Clinic but because the lack of transportation facility, people can not reach the clinic easily. Most of the residents are peasant farmers that grow cashew nut. They only have money when cashew fruit crops are ripe i.e. between September to January. Cashew fruit price for one kilogram is 8000 rupiah or less then $1 US. For one week they can sell 50 kilogram or about 400.000 rupiah ($44 US). Corn and paddy/rice are planted during rainy season, but the crops are not good enough.

In this area water is hard to find. A German non-government organization (NGO) said in a research, that the water can be found at 20 meter depth. Or by collecting the rain water during the rainy season from December to April as the other way to get the water. During dry season people can buy water for Rp15.000,00 ($1,6) per gallon when the truck comes once a week. “We dream of water coming to our village but there is no help from any donor until now,” said Martinus Meha Koba, a 50 year-old village chief. He also hoped that Pro Air (a local NGO cooperates with GTZ, a funding agency; air =water) not only operated on the area close to the main roads, but also goes to villages in remote areas.

The scarcity of water makes some healthy problem there. Diarrhea, upper respiratory infection, underweight babies, gastritis, anemia, skin illness, and also malaria and sometimes we find kidney problem are the most common illnesses in the villages. They also don’t have a karangkitri (a ‘life kitchen’ – planting vegetables nearby houses) “vegetable garden” which makes them fragile and so prone to illness. Most of the people in Sumba like to eat meat rather than vegetables and also they tend to have large families. Minimum healthy concept mixed with poverty makes for a never ending vicious circle.

Between the years 2005-2008 maternal and child health (MCH) program sponsored by Cordaid went to West Sumba and it covered pregnant mother and children illnesses at the village level. Until now, about 3000 child has been served by Karitas Weetebula Hospital using Integrated Management Child Illness (IMCI) method. By this method so many malnutrition children can be saved. Some sick children are from this village.

mch2

This creative Village Chief, Martinus, once asked Karitas Hospital of Weetebula to come and provide a basic health care to the people ( giving medicine and providing information – education). It was followed then by 85 villages all over West Sumba so that people’s health were better served. During a visit in May 2008, a mobile clinic team from Karitas Hospital, Weetebula came with seven nurses. One of them, an eye care nurse and another one a volunteer from Ireland named Isabel, 25 year old. She is a nurse, who works voluntary for two years for Karitas Hospital. Her duty was educating the people from village to village to practice healthy life style. She and the team also assisted patients in taking essential medicines.

Martinus, the village chief, riding a motor cycle and carrying a loudspeaker went around the village asking people to come and listen to some information regarding health education, as well as being treated for their illnesses by Karitas Weetebula Hospital team. In a short time about 300 people gathered one by one to assemble at the public house and listen to presentations of how to have a healthier life. Many people came wearing cleaner clothes than normally, but others came in dirty conditions, like the children, who wore dirty t-shirt and sandals and their fingernails and toenails were also dirty. Through the loudspeaker Martinus announced that it was very important to keep the food healthy, for example don’t serve rice that is cold for it could be infected by flies or other insect or even mouse and hence the children to get sick.

“We give medicine to sick people but not to everybody who comes here. Because the people hope for the medicine even though they were not ill. We try to tell them that medicine is poison to kill the disease but also can kill the person if they are not ill,” explained Andre, one of the nurses. This poor health condition was caused by unhealthy food and lack of knowledge. The people would just have dry noodles so as to have something to eat but without vegetables and so it is easy to catch some sickness. Rarely would they drink milk, and don’t have a karangkitri, a vegetable garden nearby house. That’s what Andre explained to the people.

mch1

Isabel the Irish nurse, spoke about malaria and diarrhea. “Malaria happens because of mosquito bite, and malaria germ will enter the human body. Every year one million die especially children. If you get a fever, shiver, and feel sick, sometimes vomiting, then it is the sign of malaria disease. For children, if they have a high fever they can get rigid. If the fever is very high, take off the patients clothes and wipe the body with hot water. If they don’t get well in two days then go to the hospital immediately,” she said. For pregnant mothers, they were advised to use a mosquito net when sleeping.

Isabel also checked the ladies blood pressure. Some of them were pregnant. For pregnant mother she advised them not to chew betel leaf because it could cause gases on the stomach, especially when the stomach was not filled with food. In Sumba Island, chewing betel leaf is common for them. It is better to chew it rather than eat food. Chewing is a tradition both for men or women.

Many of them suffered from skin infection, trachea infection, respiratory illness, skin illness, underweight and malaria. One baby of nine month had an eyes inflammation. One eye could not be opened. This can easily happen during the dry season because of dust and viruses. Eye trouble also easily occurs because the people live in a houses with poor lighting. YW