Pesan Paus Fransiskus untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-23 (11 Februari 2015)

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA 11 FEBRUARI 2015
(Dialihbahasakan oleh Peter Suriadi darihttp://w2.vatican.va/content/francesco/en/messages/sick/documents/papa-f… atau kunjungi blog :http://katekesekatolik.blogspot.com/2014/12/pesan-paus-fransiskus-untuk-…)

Sapientia Cordis

“Aku menjadi mata bagi orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh” (Ayb 29:15)

Saudara dan saudari terkasih,

Tentang hal ini, Hari Orang Sakit Sedunia ke-23, yang dimulai oleh Santo Yohanes Paulus II, saya tertuju kepada Anda semua yang terbebani oleh penyakit dan dipersatukan dalam berbagai cara kepada tubuh Kristus yang menderita, serta kepada Anda, para pakar dan para sukarelawan di bidang perawatan kesehatan.

Tema tahun ini mengajak kita untuk merenungkan sebuah kalimat dari kitab Ayub: “Aku menjadi mata bagi orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh” (Ayb 29:15). Saya ingin mempertimbangkan kalimat ini dari sudut pandang “sapientia cordis” – kebijaksanaan hati.

1. “Kebijaksanaan” ini tidak bersifat teoritis, pengetahuan maya, hasil penalaran. Sebaliknya, itu, seperti dijelaskan Santo Yakobus dalam suratnya, “murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik” (3:17). Merupakan sebuah cara melihat hal-hal yang diresapi oleh Roh Kudus dalam pikiran dan hati orang-orang yang peka terhadap penderitaan saudara dan saudarinya dan yang dapat melihat di dalamnya rupa Allah. Maka marilah kita mengambil doa pemazmur: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mzm 90:12). “Sapientia cordis” ini, yang merupakan karunia Allah, merupakan kompendium buah-buah Hari Orang Sakit Sedunia.

2. Kebijaksanaan hati berarti melayani saudara dan saudari kita. Kata-kata Ayub: “Aku menjadi mata bagi orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh”, mengarah kepada pelayanan yang orang benar ini, yang menikmati kekuasaan tertentu dan posisi penting di antara para tua-tua kotanya, tawarkan kepada mereka yang membutuhkan. Keagungan budinya menemukan ungkapan dalam pertolongan yang ia berikan kepada orang miskin yang meminta bantuan dan dalam kepeduliannya bagi para anak piatu dan para janda (Ayb 29:12-13).

Hari ini juga, berapa banyak orang Kristiani menunjukkan, bukan dengan kata-kata mereka tetapi dengan kehidupan yang berakar dalam iman sejati, bahwa mereka adalah “mata bagi orang buta” dan “kaki bagi orang lumpuh”! Mereka dekat dengan orang sakit yang membutuhkan perawatan berkesinambungan dan membantu dalam mencuci, mengenakan pakaian dan makan. Pelayanan ini, terutama ketika itu berlarut-larut, bisa menjadi melelahkan dan memberatkan. Relatif mudah membantu seseorang selama beberapa hari tetapi sulit merawat seseorang selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, dalam beberapa kasus ketika ia tidak lagi mampu mengungkapkan rasa terima kasih. Namun, alangkah agung jalan pengudusan ini! Pada saat-saat sulit kita dapat mengandalkan secara khusus pada kedekatan Tuhan, dan kita menjadi sarana khusus dukungan untuk perutusan Gereja.

3. Kebijaksanaan hati berarti berada dengan saudara dan saudari kita. Waktu yang dihabiskan dengan orang sakit adalah waktu yang suci. Merupakan suatu cara memuji Allah yang menyesuaikan kita dengan rupa Putra-Nya, yang “datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28). Yesus sendiri berkata: “Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan” (Luk 22:27).

Dengan iman yang hidup mari kita memohon Roh Kudus memberikan kita rahmat untuk menghargai nilai kesediaan kita yang sering tak terucapkan untuk menghabiskan waktu dengan saudara dan saudari ini dan saudara-saudara yang, berkat kedekatan dan kasih sayang kita, merasa lebih dicintai dan terhibur. Betapa besar kebohongan, di sisi lain, bersembunyi di balik kalimat-kalimat tertentu yang begitu bersikeras tentang pentingnya “kualitas hidup” sehingga mereka membuat orang-orang berpikir bahwa kehidupan yang terkena penyakit berat bukanlah kehidupan yang layak!

4. Kebijaksanaan hati berarti pergi keluar dari diri kita menuju saudara dan saudari kita. Kadang-kadang dunia kita melupakan nilai khusus waktu yang dihabiskan di samping tempat tidur orang sakit, karena kita sedemikian terburu-buru; terjebak ketika kita berada dalam hiruk-pikuk melakukan, hiruk-pikuk menghasilkan, kita lupa tentang memberi diri kita secara cuma-cuma, peduli pada orang lain, bertanggung jawab bagi orang lain. Di balik sikap ini sering ada iman yang suam-suam kuku yang telah melupakan kata-kata Tuhan: “Kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).

Karena alasan ini, saya ingin sekali lagi menekankan “prioritas mutlak ‘pergi keluar dari diri kita menuju saudara dan saudari kita’ sebagai salah satu dari dua perintah utama yang mendaratkan setiap norma moral dan sebagai tanda yang paling jelas untuk kearifan pertumbuhan rohani dalam menanggapi karunia cuma-cuma Allah” (Evangelii Gaudium, 179). Sifat misioner Gereja adalah sumber “amal dan kasih sayang yang ampuh yang memahami, membantu dan menggalakkan” (Evangelii Gaudium, 179).

5. Kebijaksanaan hati berarti menunjukkan kesetiakawanan dengan saudara dan saudari kita seraya tidak menghakimi mereka. Amal membutuhkan waktu. Waktu untuk merawat orang-orang sakit dan waktu untuk mengunjungi mereka. Waktu berada di sisi mereka seperti sahabat-sahabat Ayub: “Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorang pun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya” (Ayb 2:13). Namun sahabat-sahabat Ayub memendam penghakiman terhadap dirinya: mereka berpikir bahwa kemalangan Ayub adalah hukuman dari Allah atas dosa-dosanya. Amal yang benar adalah berbagi yang tidak menghakimi, yang tidak menuntut pertobatan orang lain; bebas dari kerendahan hati yang palsu itu yang, jauh di lubuk hati, mencari pujian dan berpuas diri berkenaan apa yang baik yang dilakukannya.

Pengalaman penderitaan Ayub menemukan tanggapannya yang tulus hanya dalam salib Yesus, tindakan tertinggi kesetiakawanan Allah dengan kita, benar-benar cuma-cuma dan berlimpah belas kasih. Tanggapan kasih untuk drama rasa sakit manusia ini, khususnya penderitaan orang tidak bersalah, tetap untuk selama-lamanya membekas pada tubuh Kristus yang bangkit; bilur-bilur-Nya mulia adalah sebuahskandal bagi iman tetapi juga bukti iman (bdk. Homili untuk kanonisasi Yohanes XXIII dan Yohanes Paulus II, 27 April 2014).

Bahkan ketika sakit, kesepian dan ketidakmampuan membuatnya sulit bagi kita untuk menjangkau orang lain, pengalaman penderitaan dapat menjadi sarana istimewa penyaluran rahmat dan sumber untuk mendapatkan dan menumbuhkan sapientia cordis. Kita tiba untuk memahami bagaimana Ayub, pada akhir pengalamannya, dapat mengatakan kepada Allah : “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (42:5). Orang-orang yang tenggelam dalam misteri penderitaan dan rasa sakit, ketika mereka menerima ini dalam iman, dapat menjadikan diri mereka sendiri saksi-saksi hidup dari iman yang mampu merangkul penderitaan, bahkan tanpa bisa memahami maknanya yang penuh.

6. Saya mempercayakan Hari Orang Sakit Sedunia ini kepada perlindungan keibuan Maria, yang mengandung dan melahirkan Sang Kebijaksanaan yang menjelma: Yesus Kristus, Tuhan kita.

Ya Maria, Takhta Kebijaksanaan, antarailah sebagai Bunda kami semua orang sakit dan mereka yang merawatnya! Anugerahilah itu, melalui pelayanan kami kepada sesama kami yang menderita, dan melalui pengalaman penderitaan itu sendiri, kami dapat menerima dan membina kebijaksanaan hati yang benar!

Dengan doa untuk Anda semua ini, saya memberikan berkat apostolik saya.

Dari Vatikan, 3 Desember 2014
Pesta Santo Fransiskus Xaverius

FRANSISKUS

Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-22 (11 Februari 2014)

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS
UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA Ke-22
11 Februari 2014

Iman dan Kasih : “Kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. (1Yohanes 3:16)

Saudara-saudari terkasih,
1. Pada Hari Orang Sakit Sedunia Ke-22, yang tahun ini bertema: Iman dan Kasih : “Kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1Yohanes 3:16), saya ingin memberi perhatian khusus kepada orang sakit dan semua orang yang membantu dan merawat mereka. Gereja melihat di dalam diri Anda, orang-orang sakit, suatu kehadiran istimewa Kristus yang menderita. Ini benar. Penderitaan kita – dan sesungguhnya dalam penderitaan kita, adalah penderitaan Kristus sendiri; Dia menanggung beban penderitaan ini bersama kita dan Dia menunjukkan maknanya. Ketika Putera Allah bergantung di kayu salib, Dia musnahkan kesepian derita dan memberi terang atas kegelapan penderitaan itu. Dengan demikian kita dapat menemukan diri kita berada di hadapan misteri kasih Allah, yang memberi kita harapan dan keberanian: harapan, karena di dalam rencana kasih Allah, bahkan malam gelap penderitaan menghasilkan terang Kebangkitan (Paskah); dan keberanian, yang memampukan kita menghadapi setiap penderitaan bersama Dia dan dalam persatuan dengan-Nya.

2. Penjelmaan Putera Allah tidak menghapus penyakit dan penderitaan dari pengalaman manusia tetapi Dia sendiri memikulnya, mengubahnya dan memberinya makna baru. Makna baru, karena penyakit dan penderitaan bukanlah kata terakhir, sebaliknya, memiliki makna hidup baru dan berkelimpahan; mengubahnya, karena di dalam persatuan dengan Kristus, penyakit dan penderitaan tidak lagi bermakna negatif tetapi positif. Yesus adalah jalan, dan bersama Roh-Nya, kita dapat mengikuti-Nya. Sebagaimana Bapa telah memberi kita Putera-Nya karena kasih, dan Putera memberikan diri-Nya kepada kita karena kasih yang sama, maka kita pun dapat mengasihi sesama sebagaimana Allah telah lebih dahulu mengasihi kita, saling memberikan hidup kita satu sama lain. Iman kepada Allah menghasilkan kebaikan, iman kepada Kristus yang tersalib menjadi kekuatan untuk mengasihi sesama sampai selama-lamanya, bahkan musuh-musuh kita. Bukti iman yang otentik kepada Kristus adalah penyerahan diri dan menyebarkan kasih kepada sesama kita, khususnya kepada mereka yang nasibnya kurang beruntung, kepada mereka yang menderita dan kepada mereka yang tersingkirkan.

3. Berkat Sakramen Baptis dan Penguatan, kita dipanggil untuk meneladani Kristus, yang adalah “seorang Samaria” yang baik hati bagi semua orang yang menderita. “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1Yoh.3:16). Ketika kita mendekati orang-orang yang membutuhkan perhatian, dengan kasih yang lembut, kita membawa harapan dan senyum Allah kepada dunia yang penuh dengan kontradiksi. Ketika bakti diri kita bagi orang lain menjadi ciri khas dari tindakan-tindakan kita, itu berarti kita membuka jalan bagi Hati Kristus dan kita tinggal di dalam kehangatan hati-Nya; dengan demikian kita berperan serta dalam mewujudkan Kerajaan Allah.

4. Agar tumbuh dalam kasih yang lembut dan rasa hormat serta kemurahan hati yang peka, kita memiliki teladan Kristiani yang tepat untuk direnungkan: yaitu Maria, Bunda Yesus dan Bunda kita, yang selalu memperhatikan Suara Allah dan aneka kebutuhan serta kesulitan-kesulitan anak-anaknya. Maria, didorong oleh belas kasih Allah yang menjadi manusia di dalam dirinya, tanpa memperitungkan dirinya segera bergegas dari Galilea ke Yudea untuk bertemu dan membantu saudarinya Elizabeth. Maria meminta Putera-nya pada pesta perkawinan di Kana tatkala ia melihat di sana kekurangan anggur. Dia menyimpan di dalam hatinya, sepanjang peziarahan hidupnya, kata-kata Simeon di usia senja-nya yang meramalkan bahwa sebuah pedang akan menembus jiwanya, dan dengan tegar berdiri di kaki salib Yesus. Maria mengetahui jalan yang harus ditempuh, dan karena itu ia menjadi ibu bagi semua orang yang sakit dan menderita. Kepadanya kita dapat berpaling dengan yakin dan berbakti kepadanya sebagai anak-anaknya, dengan keyakinan bahwa ia akan menolong kita, mendukung kita dan tidak akan meninggalkan kita. Maria adalah Bunda Kristus yang tersalib dan bangkit: ia berdiri di sebelah salib-salib kita dan mendampingi kita dalam perjalanan menuju kebangkitan dan kepenuhan hidup.

5. Santo Yohanes, murid yang berdiri bersama Maria di bawah salib, mengantar kita kepada sumber-sumber iman dan kasih, mengantar kita kepada hati Allah yang adalah “kasih” (1Yoh.4:8.16). Ia mengingatkan kita bahwa kita tidak dapat mengasihi Allah bila kita tidak mengasihi saudara dan saudari kita. Mereka yang berdiri bersama Maria di bawah salib, belajar mengasihi seperti yang Yesus lakukan. Salib adalah “kepastian kasih setia yang Allah miliki untuk kita. Kasih yang begitu agung masuk ke dalam dosa kita dan mengampuninya, masuk ke dalam penderitaan kita dan memberi kita kekuatan untuk menanggungnya. Inilah kasih yang masuk ke dalam alam maut untuk mengalahkannya dan untuk menyelamatkan kita… salib Kristus mengundang kita juga untuk membiarkan diri kita dikuasai oleh kasih-Nya, yang mengajar kita selalu memandang orang lain dengan belaskasih dan lemah-lembut, khususnya mereka yang menderita, mereka yang membutuhkan pertolongan” (Jalan Salib Bersama Kaum Muda, Rio de Janeiro, 26 Juli 2013)

Saya mempercayakan Hari Orang Sakit Sedunia Ke-22 ini kepada doa-doa Maria. Saya memohon dia untuk menolong orang yang sakit agar mampu menanggung penderitaan mereka dalam persekutuan dengan Yesus Kristus dan mendukung semua orang yang mempedulikan mereka. Bagi semua orang yang sakit, dan bagi semua karyawan perawat kesehatan dan sukarelawan yang membantu mereka, dengan tulus hati saya memberikan Berkat Apostolik saya.

Dari Vatican, 6 Desember 2013
Paus Fransiskus

Pesan Bapa Suci Paus Benedictus XVI untuk Hari Orang Sakit Sedunia Ke-21

PESAN BAPA SUCI PAUS BENEDICTUS XVI
UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA Ke-21
11 Februari 2013 *

“Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Lukas 10:37)

Saudara-saudari terkasih,

1. Pada tanggal 11 Februari 2013, perayaan liturgis Peringatan Bunda kita dari Lourdes, Hari Orang Sakit Sedunia Ke-21, akan dirayakan secara meriah di Gua Maria Altotting. Hari ini dipersembahkan bagi orang sakit, para perawat kesehatan, umat beriman dan bagi semua orang yang berkehendak baik “waktu yang khusus untuk berdoa, syering, mempersembahkan penderitaan setiap orang demi kebaikan Gereja. Demikian juga, hari ini merupakan panggilan bagi semua orang untuk mengenali wajah-wajah saudara-saudari yang menderita Wajah Kristus sendiri yang sedang menderita, wafat dan bangkit kembali, yang telah membawa keselamatan bagi umat manusia” (Yohanes Paulus II, Surat untuk lembaga Hari Orang Sakit Sedunia, 13 Mei 1992,3). Pada kesempatan ini saya merasa sangat dekat sekali dengan Anda, para sahabatku yang terkasih, yang pada saat ini sedang dirawat di pusat-pusat perawatan kesehatan (rumah sakit, red) atau di rumah, yang sedang bergulat dengan pencobaan yang disebabkan oleh penyakit dan aneka penderitaan. Semoga Anda sekalian diteguhkan oleh kata-kata penghiburan dari Bapak-bapak Konsili Vatikan II : “Anda tidak sendirian, dipisahkan, ditinggalkan atau seolah-olah tidak berguna. Anda semua telah dipanggil oleh Kristus dan Anda adalah hidup dan gambaran Diri-Nya secara nyata” (Pesan untuk Orang yang Miskin, Sakit dan menderita).

2. Dengan tetap memandang Anda sebagai sahabat dalam peziarahan rohani yang menghantar kita dari Lourdes, suatu tempat yang melambangkan harapan dan anugerah, menuju Gua Altotting, saya ingin mengusulkan untuk refleksi Anda suatu contoh gambaran tentang Orang Samaria yang baik hati (bdk. Luk.10:25-37). Perumpamaan Injil yang diceritakan kembali oleh St. Lukas adalah bagian dari serangkaian peristiwa dan kejadian-kejadian yang diambil dari kehidupan sehari-hari yang digunakan oleh Yesus untuk membantu kita memahami betapa dalam kasih Allah bagi setiap umat manusia, terutama mereka yang didera oleh penyakit atau penderitaan. Dengan kata-kata penutup dari perumpamaan Orang Samaria yang baik hati, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Lukas 10:37), Tuhan juga menunjukkan sikap yang harus dimiliki oleh setiap murid-Nya terhadap sesamanya, terutama mereka yang berkekurangan. Kita perlu menarik dari kasih Allah yang tanpa batas, lewat hubungan yang mendalam dengan-Nya dalam doa, kekuatan untuk menghayati hidup sehari-hari dalam bentuk perhatian yang kongkrit, seperti yang dilakukan oleh Orang Samaria yang baik hati, bagi mereka yang menderita baik secara jamani maupun rohani yang membutuhkan pertolongan kita, tidak perduli apakah kita mengenal mereka atau tidak dan bahkan mereka yang miskin sekalipun. Hal ini berlaku, tidak hanya bagi para pekerja pastoral atau perawat kesehatan, tetapi juga bagi setiap orang, bahkan bagi si penderita sakit itu sendiri, yang dapat mengalami kondisi seperti ini dari sudut pandang iman: “bukan dengan menghindar atau melarikan diri dari penderitaan kita menjadi sembuh, melainkan terutama oleh kemampuan kita menerima situasi tersebut, mendewasakan diri melalui penderitaan dan menemukan maknanya melalui persatuan dengan Kristus, yang rela menderita dengan kasih-Nya yang tak terbatas.” (Spe Salvi, 37).

3. Banyak Bapa Gereja melihat Yesus sendiri di dalam diri Orang Samaria yang baik hati; dan melihat Adam di dalam diri orang yang jatuh di tangan para perampok, jati diri kita yang terluka dan tersesat oleh karena dosa (bdk. Origenes, Homili pada Injil Lukas XXXIV,1-9; Ambrosius, Komentar terhadap Injil St. Lukas, 71-84; Augustinus, Khotbah 171). Yesus adalah Putera Allah, yang menghadirkan kasih Bapa, kasih yang setia, abadi dan tanpa batas. Tetapi Yesus juga berkenan menanggalkan pakaian keilahian-Nya, yang meninggalkan status Illahi-Nya untuk mengambil rupa manusia (bdk. Filipi 2:6-8), yang rela menderita sama seperti manusia, bahkan rela turun ke alam maut (neraka), sebagaimana yang kita daraskan dalam Syahadat, agar Dia membawa harapan dan terang. Dia tidak mempertahankan kesetaraan dengan Allah (bdk. Filipi 2:6) tetapi, dipenuhi dengan belarasa, Dia melihat luka bagaikan jurang yang sangat dalam dari penderitaan manusia agar Dia berkenan menuangkan minyak penghiburan dan anggur pengharapan.

4. Tahun Iman yang sedang kita rayakan adalah kesempatan yang tepat untuk mengintensifkan pelayanan kasih di dalam jemaat-jemaat gerejani kita, supaya setiap orang di antara kita dapat menjadi Seorang Samaria yang baik hati bagi sesamanya, khususnya bagi mereka yang berada di sekitar kita. Di sini saya ingin mengingat kembali tokoh-tokoh yang tak terhitung banyaknya dalam sejarah Gereja yang telah menolong orang-orang sakit untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan rohani dari penderitaan mereka, sehingga mereka boleh melayani sebagai teladan dan semangat bagi yang lain. Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus dan dari Wajah Kudus, “seorang pakar dalam scientia amoris (ilmu cinta)” (Novo Millennio Ineunte, 42), mampu mengalami “persatuan yang mendalam dengan Penderitaan Kristus” yaitu suatu penyakit yang menghantar dia “kepada kematian melalui penderitaan yang amat hebat” (Pidato pada saat Audiensi Umum, 6 April 2011). Venerabilis (yang pantas dihormati) Luigi Novarese, yang masih hidup dalam ingatan banyak orang, melalui seluruh pelayanannya menyadari betapa pentingnya doa bagi dan bersama dengan orang sakit dan yang menderita, dan dia sering mendampingi mereka ke tempat-tempat ziarah Maria, terutama ke Gua Maria di Lourdes. Raoul Follereau, tergerak oleh kasih terhadap sesama, mengabdikan hidupnya untuk merawat orang-orang yang menderita penyakit Hansen, bahkan di belahan dunia yang paling jauh sekalipun, mempromosikan Hari Lepra Sedunia sebagai salah satu dari berbagai inisiatif yang dilakukannya. Beata (yang terberkati) Teresa dari Calcuta, selalu mengawali hari-harinya dengan perjumpaan dengan Yesus di dalam Ekaristi, setelah itu dia akan pergi ke jalan-jalan, dengan Rosario di tangannya, untuk menemukan dan melayani Tuhan di dalam diri orang-orang yang sakit, terutama mereka yang “tidak dikehendaki, tidak dicintai dan tidak diperhatikan”. Santa Anna Schäffer dari Mindelstetten, juga mampu memberi teladan mempersatukan penderitaan-penderitaan dirinya dengan penderitaan Kristus: “Tempat tidur pada saat dia sakit menjadi sel biara dan penderitaannya menjadi pelayanan misioner. Dikuatkan oleh komuni harian, dia menjadi pendoa yang tidak mengenal lelah dan cermin kasih Allah untuk mereka yang mencari bimbingannya” (Homili Kanonisasi , 21 Oktober 2012). Di dalam Injil, Santa Perawan Maria adalah seorang yang teguh-setia mengikuti Putera-nya yang menderita menuju puncak pengorbanan-Nya di Golgota. Ia tidak kehilangan harapan di dalam kemenangan Tuhan atas kejahatan, penderitaan dan kematian-Nya, dan ia memahami bagaimana menerima dalam rangkulan iman dan kasih, Putera Allah yang lahir di kandang Betlehem dan wafat di Salib. Imannya yang teguh dalam kuasa Allah diterangi oleh kebangkitan Kristus yang menawarkan harapan kepada mereka yang menderita dan memperbaharui kepastian akan kedekatan dan penghiburan Tuhan.

5. Akhirnya, saya ingin menyampaikan sepatah kata sebagai ungkapan terima kasih yang hangat dan dukungan kepada lembaga-lembaga perawatan kesehatan Katolik dan masyarakat sipil, kepada keuskupan-keuskupan dan komunitas-komunitas kristiani, kepada tarekat-tarekat religius yang terlibat di dalam pastoral perawatan orang sakit, kepada para pekerja perawatan kesehatan, kepada mitra-mitra dan para relawan. Semoga mereka semua menyadari secara penuh bahwa “Gereja saat ini menghayati suatu aspek fundamental dari misinya dalam menyambut setiap umat manusia dengan penuh kasih dan murah hati, terutama mereka yang lemah dan sakit” (Christifideles Laici, 38).

Saya mempercayakan Hari Orang Sakit Sedunia Ke-21 ini kepada perantaraan Bunda kita Penuh Rahmat, yang dihormati di Altotting, semoga dia senantiasa mendampingi mereka yang menderita dalam pencariannya akan penghiburan dan harapan yang mantap. Semoga dia membantu semua orang yang terlibat di dalam kerasulan belas kasih, supaya mereka menjadi orang-orang Samaria yang baik hati bagi saudara dan saudari mereka yang didera oleh penyakit dan penderitaan. Kepada mereka semua, dengan sepenuh hati saya berikan Berkat Apostolik saya.

*Pesan Bapa Suci Paus Benedictus XV. Disampaikan dalam Hari Orang Sakit Sedunia ke-21
Dari Vatican, 2 Januari 2013

Caritas In Veritate

Caritas In Veritate:
Kabar Baik bagi Pelayanan Kesehatan Integral

PENGANTAR
Peter Kardinal Kodwo Turkson
Ketua Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian
pada pembukaan Konferensi Internasional XXV
Para Karyawan Dewan Kepausan untuk Pelayanan Karya Kesehatan
18-20 November 2010 di Vatikan

Kepada Anda semua, saya dari Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian, menyampaikan salam dan doa, bagi keberhasilan Konferensi ini!
Saya juga merasa sangat terhormat dan berbahagia dapat bersama Anda semua di awal Konferensi Internasional yang ke dua-puluh-lima yang sangat menjanjikan ini, yang diselenggarakan oleh Dewan Kepausan untuk para Karyawan Pelayanan Kesehatan, dengan tema: “Menuju ke Pelayanan Kesehatan yang Serasi dan Manusiawi dalam Cahaya Ensiklik Caritas in Veritate”. Entah dengan menengok kembali, tentu dengan penuh syukur, ke keberadaan Dewan Kepausan untuk Karya Kesehatan yang sudah berusia 25 tahun ini; entah dengan melihat Anda semua, para utusan dan peserta yang berasal dari enam puluh negara di seluruh dunia dengan kekayaan pengalaman yang Anda bawa serta; entah dengan memandang ke depan, kepada tantangan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih sesuai dengan martabat manusia dan panggilannya yang luhur?tetaplah merupakan suatu rahmat yang berasal dari penyelenggaraan ilahi bahwa kita mengangkat gagasan Caritas in Veritate dan merenungkan bersama kepentingannya bagi bermacam-macam pelayanan yang diasuh oleh Dewan Kepausan ini. Semoga Konferensi ini menjadi ungkapan syukur yang cocok bagi berkat yang tak-terbilang banyaknya selama dua-puluh-lima tahun yang silam dan sekaligus juga menjadi suatu permohonan yang mendesak kepada bantuan Allah untuk memajukan bukan saja kesehatan yang baik, melainkan juga segenap kesejahteraan pribadi manusia ? laki-laki dan perempuan serta anak-anak?kelompoknya masing-masing dan bahkan segenap umat manusia (bdk. Caritas in Veritate, 18).
Caritas in Veritate, sebuah ajaran Paus [1]
Dicanangkan pada tahun 2007 untuk memperingati 40 tahun ensiklik Paus Paulus VI Populorum Progressio (1967) dan 20 tahun ensiklik Paus Yohanes Paulus II Sollicitudo Rei Socialis (1987), Caritas in Veritate semula dimaksudkan sebagai perayaan peringatan akan kedua ensiklik tersebut tadi, terutama untuk pembahasannya atas masalah pengembangan manusia yang sejati. Oleh karena isu sosial yang mendominasi gagasan perkembangan pada jaman Paus Paulus VI dan Paus Yohanes Paulus II sekarang ini sungguh-sungguh sudah jadi mengglobal, maka Caritas in Veritate ini semula dimaksudkan untuk membahas pengembangan manusia dalam situasi dunia yang baru, yakni dunia yang sedang mengalami globalisasi yang serba cepat itu.
Dampak dari krisis ekonomi pada tahun 2008-2009 yang sangat membingungkan itu telah menjadi pendorong bagi Sri Paus untuk membahas secara sangat men-detail arti-makna dan etika ekonomi dalam kaitan dengan pengembangan diri manusia. Hal ini sedikit banyak menunda pencanangan ensiklik itu, tetapi, pada tanggal 29 Juni 2009 (pada hari raya St Petrus dan Paulus), Paus menandatangani ensiklik yang ditujukan “kepada semua orang yang berkendak baik” itu dan mempromulgasikannya pada tanggal 7 Juli (bulan Santo Benediktus), tepat sebelum dimulainya pertemuan G-8 di L’Aquila, Italia.
Caritas in Veritate adalah sebuah ensiklik sosial, seperti banyak ensiklik-ensiklik sosial yang lain sebelumnya, mulai dari Rerum Novarum dari Paus Leo XIII (1891) [2]. Di dalamnya, pandangan teologi, filsafat, ekonomi, ekologi dan politik dikemas secara serempak dan kompak guna mengartikulasikan suatu ajaran sosial yang menempatkan pribadi manusia?pengembangan dirinya secara utuh dan dengan demikian juga kesehatannya yang konkret?pada pusat segala sistem dunia yang membahas pemikiran dan kegiatan manusia. Penyelamatan setiap manusia itu juga yang menjadi pusat dari perutusan dan pelayanan Yesus Kristus, yakni sebagai pewahyuan cinta-kasih Bapa (Yoh. 3:16) dan kebenaran dari penciptaan manusia sebagai gambaran citra Allah serta panggilannya yang transenden kepada kekudusan dan kebahagiaan bersama Allah. Inilah tatanan terpadu dari kedua gagasan kasih dan kebenaran [3], yang menjadi ilham dari ensiklik ini. Kasih dan kebenaran bukan saja menjadi dasar dari jantung perutusan dan pelayanan Yesus; tetapi juga berpadanan dengan sifat hakiki dan kegiatan hidup manusia di dunia ini. Pribadi manusia adalah suatu “anugerah dan kasih dari Allah” yang dipanggil oleh Allah juga, untuk “menjadi suatu anugerah dan kasih” sendiri pula. Dinamika kasih yang diterima sebagai anugerah inilah yang telah melahirkan Ajaran Sosial Gereja, yang adalah juga Kasih dalam Kebenaran dalam masalah-masalah sosial” [4].
Masalah-masalah sosial atau masyarakat manusia, yang menjadi konteks dan acuan dari Ajaran Sosial Gereja itu, dari tahun ke tahun mengalami perubahan, dari penderitaan para buruh selama revolusi industri dan keadaan darurat sebagai akibat Marxisme (yang dihadapi Paus Leo XIII), depresi besar-besaran pada tahun 1929 (yang dihadapi Paus Pius IX), pembebasan dari penjajahan dan munculnya dunia ketiga (seperti dialami Paus Yohanes XXIII dan Paulus VI), pergolakan politik di Eropa Timur menjelang dan sesudah runtuhnya Tembok Berlin (Paus Yohanes Paulus II) dan sekarang, Paus Benediktus XVI yang berhadapan dengan arus globalisasi, keterbelakangan serta pelbagai ancaman krisiskeuangan, perekonomian, kesusilaan dan kemanusiaan [5]. Dalam pelbagai perubahan situasi yang bergejolak tadi, ensiklik sosial para Paus itu secara terus-menerus telah membawakan prinsip-prinsip dasar ajaran sosial Gereja secara up to date dan dengan penerapannyasecara baru. Dengan demikian, “Ajaran Sosial Gereja itu, dengan terang cahaya yang tak pernah berubah, telah memberi pencerahan kepada masalah-masalah baru yang selalu saja timbul” [6]; dan justru inilah yang diupayakan hendak dilaksanakan untuk zaman kita sekarang ini oleh Ensiklik Caritas in Veritate ini.

Oleh karena itu Paus Benediktus ini benar-benar seia dengan Ajaran Sosial Gereja tentang pribadi mansuia yang sudah berusia lebih dari satu abad itu. Caritas in Veritate menyapa pelbagai kondisi yang kompleks dari perkembangan manusia secara utuh, di dalam semua dimensi dan bentuknya, termasuk penyakit dan penyembuhannya, termasuk juga tantangan ideologis yang secara mengglobal menjadi hal-ikhwal dunia kita sekarang ini. Sambil masuk secara sepenuhnya ke dalam ajaran-ajaran sosial para Paus pendahulunya itu, Paus Benediktus XVI ini terutama mengacu kepada Gaudium et Spes (1965) dari Konsili Vatikan II, kepada Populorum Progressio (1967) dari Paus Paulus VI dan kepada Sollicitudo Rei Socialis (1987) dari Paus Yohanes Paulus II:

• untuk menggarisbawahi keterpusatan manusia dalam kepribadiannya, dalam kesejahteraan dan perkembangannya yang menyeluruh, dalam segala kegiatannya sebagai seorang pribadi (manusia);
• untuk mengajarkan, bahwa kegiatan manusia dengan mana dia membangun kota dunia ini, adalah antisipasi dari kota Allah yang universal tatkala pekerjaannya, kini diilhami oleh kasih dan keadilan, mengupayakan kesejahteraan pribadi manusia secara utuh dan menyeluruh.
Inilah Kabar Gembira paling sentral dari Ensiklik Caritas in Veritate, yang menjadi konteks dari setiap panggilan manusia sebagai pribadi, termasuk panggilan untuk memberikan pelayanan kesehatan, baik secara medis maupun secara pastoral.

Caritas in Veritate sebagai Kabar Gembira
Izinkanlah sekarang saya memberikan ilustrasi bagaimana Caritas in Veritate menjadi Kabar Gembira juga bagi yang menderita karena terinfeksi HIV-AIDS dengan kisah nyata tentang Rosanna. Sekretaris pribadi saya sebagai fungsionaris Justice and Peace di Sand Calistro, Rm. Michael Czerny SJ, menjabat juga sebagai Direktur dari Program Tarekat Yesuit untuk HIV-AIDS di Nairobi. Beliau meng-sharing-kan kisah ini kepada saya, dan saya yakin, bahwa kisah ini dapat menjadi model bagi tema kita, yakni memajukan pelayanan kesehatan yang otentik dan integral dalam terang ensiklik Caritas in Veritate.
Kisahnya begini. Rosanna, berusia menjelang tigapuluh tahunan, adalah seorang ibu yang ditinggalkan suami karena kedapatan positif HIV-AIDS, dan harus memperjuangkan hidup di suatu perumahan kumuh di Nairobi. “Enam tahun sudah,” katanya, “Keluargaku, baik mama, kakak-adik dan suamiku sendiri, tidak mau menerima aku. Aku juga kehilangan pekerjaan karena aku terdeteksi positif HIV-AIDS.” Karena penyakit itu pula ia juga kehilangan anak perempuannya yang masih bayi. Tetapi anak laki-lakinya yang berusia 10 tahun, yang dikandungnya sebelum Rosanna terinfeksi, kedapatan negatif HIV-AIDS. Jomo, nama anak itu, adalah seorang anak yang cerdas dan sehat, senang menggambar dan sepak-bola. Mamanya sangat mengharapkan bahwa dia akan tetap sehat begitu. “Aku mau melihat anakku bertumbuh dengan sehat”, kata Rosanna.
Sesekali, Rosanna diminta oleh Yayasan-yayasan Katolik bagi para korban AIDS, untuk berbicara kepada kelompok-kelompok asuhan mereka, sambil menceriterakan kepada mereka sukarnya hidup yang harus dihadapi seseorang yang positif HIV-AIDS sambil memberi dorongan kepada mereka untuk seterusnya menghindari melakukan kesalahan seperti yang telah membuat mereka terinfeksi itu. Rosanna bersyukur sudah dibantu, tetapi ia mau lebih. “Aku masih muda. Aku ingin mempunyai masa depan, meskipun aku tidak tamat SMP. Terutama aku mau anakku kelak sungguh-sungguh ‘menjadi orang’.” Karena tidak bisa melakukan pekerjaan yang menuntut kekuatan fisik, Rosanna hanya mengandalkan kesempatan ketika orang mau menyewanya saja. Namun baru-baru ini ia mendapatkan gagasan untuk menjadi pengusaha: banyak tuan-tanah di perkampungan kumuhnya itu menolak memberi pasokan air dan menyuruh para penyewa tanah yang miskin itu mengupayakan sendiri air mereka. Maka, dengan bantuan sebuah Yayasan Katolik, Rosanna membeli sebuah tangki penampung air dan sebuah pompa. Dan mulailah dia berbisnis air. Usahanya berjalan lancar dan dia dapat membayar kembali modal pinjamannya sebanyak 2% setiap bulan.
Ketika secara kebetulan mampir dan kemudian berkenalan dengan Rosanna, Direktur Yayasan Yesuit itu mulai bertanya dalam hatinya, entahkah Caritas in Veritate mempunyai makna bagi Rosanna dan anaknya, Jomo. Maka imam itu memberinya sebuah rangkuman yang hanya setebal empat halaman saja dari seluruh Ensiklik yang sangat panjang itu. Sejam kemudian Rosanna kembali dan mengatakan dengan gamblang bagaimana Ensiklik itu telah menyapa Jomo dan dirinya.
Rosanna dan Paus Benediktus XVI mencintai kehidupan dan melihat masyarakat dengan cara yang sama. “Aku tahu, ensiklik ini sebenarnya mengenai seluruh dunia,” kata Rosanna, “tetapi ketika aku membacanya, kata-kata Bapa Suci itu sepertinya berbicara tentang Kenya, bahkan tentang perkampungan kumuhku. Bapa Suci berbicara bahwa pasar tidak boleh menjadi “Tempat di mana si kuat mengalahkan si lemah. Tetapi kenyataannya begitu.” Berjuta-juta dari kita ini hidup bertetangga satu sama lain dalam suatu perkampung global ?atau suatu perkampungan kumuh global??tetapi kenyatannya sama sekali tidak ada rasa persaudaraan sedikitpun. Pemerintah Kenya memandang kaum miskin sebagai masalah dan berusaha untuk mengusir mereka masuk ke pedalaman. Para politisi kami merasa mendapat dukungan oleh bantuan luar negeri dan dengan demikian malah memanfaatkan kaum miskin”. Maka dari itu bantuan luar negeri malah disalah-arahkan dan dibagi-bagikan secara buruk. Bantuan itu malah menyebabkan ketergantungan, menyebabkan korupsi, melecehkan kaum miskin dan tidak menyelesaikan apa-apa. “Tanpa moral, kita semua berantakan”.
Bapa Suci “berpikir dalam jalur yang benar,” kata Rosanna, “tetapi kebanyakan kita malah berkecil hati dan, terus terang saja, malas. Terbius oleh pidato-pidato muluk-muluk dan slogan-slogan ideologis, gambaran lokal dan global dunia kita ini tampak begitu kusut dan sukar dipahami. Sambil menyerah kepada dunia yang terpecah-pecah ini, kita malah membiarkan orang lain (yakni “pasar”) menentukan nasib kita. Dari pada menggali lebih dalam isi Ensiklik itu dan memikirkan apa arti itu semua, dengan enteng kita lebih suka mengatakan: Ensiklik itu terlalu panjang dan terlalu berat.”
Sebaliknya, Paus Benediktus XVI nampaknya tiada letih-letihnya berusaha untuk menemukan jalan ke masa depan. Tanpa berkhotbah, tetapi menunjukkan kepada kita bagaimana, Bapa Suci mengajak kita semua untuk memikirkan masyarakat (kita) dan perekonomian (kita). Beliau menunjukkan kepada kita bagaimana berpikir secara teratur dengan menempatkan segala sesuatu pada tempat yang sebenarnya. Ilmu sosial mencari fakta dan memeriksa gejala-gejala. Politik sosial mendukung keputusan-keputusan pemerintah tentang tindakan-tindakan kita; tetapi kita sendirilah (orang-orang yang bisa percaya dan berpikir) dapat mempertimbangkan mana yang pro dan mana yang kontra. Hanya kitalah dapat menentukan sendiri makna dan karya dasar terbaik yang dapat kita buat di bawah perlindungan Allah dan bagi segenap umat manusia.
Misalnya, ketika Paus Benediktus XVI menunjukkan, bahwa menghormati kehidupan dan mempertanggungjawabkan seksualitas adalah mutlak perlu bagi kemajuan, Rosanna sangat menyetujuinya. Ketulusan dan kasih yang sejati tidak dilahirkan hanya dari keinginan yang pilih-pilih dan sentimentil; melainkan tergantung dari gambaran utuh manusia yang memang berasal dari Allah. Kata-kata Bapa Suci ini: “Dalam memajukan perkembangan, iman kristiani tidak bersandar pada hak-hak istimewa atau kedudukan dalam kekuasaan, melainkan hanya di dalam Kristus,” oleh Rosanna diberi tambahan berikut ini: “Maka saya mendesak Gereja untuk menunjukkan kepada kami, apa artinya menjadi seorang Kristiani. Bukankah itu berarti “mengasihi sesama” dan “mengasihinya dengan tulus” artinya “dalam kebenaran”?”
Jantung dari Ensiklik ini adalah pemberian dan syukur, kerelaan dan rasa bersyukur. Kata “pemberian” dan “(rasa) syukur” muncul dalam Ensiklik itu sebanyak empat-puluhan kali. Sedang kata “kerelaan” adalah kata dari Rosanna. Untuk mengakui berlimpahnya anugerah yang kita terima itu, seharusnya hati kita dipenuhi dengan rasa syukur. Hal itu juga menjadi kebenaran fundamental dalam lingkungan hidup kita. Sebenarnya kita ini hanya ciptaan saja?sebelum kita menjadi investor, majikan atau orang upahan. Memang masing-masing kita adalah pribadi-pribadi, tetapi secara mengakar kita saling terkait satu sama lain. Kita bertanggung-jawab, tetapi tidak sepenuhnya terwajibkan, dan ketimbang melaksanakan apa saja semau gue, seperti yang diiming-imingkan kepada kita oleh budaya global ini, kita bertindak tanpa keterarahan sedikit pun baik kepada umat manusia ataupun kepada Allah, segala sesuatunya akan menjadi lebih baik, apabila kita masing-masing secara murah-hati dan penuh ketulusan mengupayakan diri kita, yakni budi, hati. harta-benda, waktu serta tenaga bagi pelayanan kepada yang sakit, yang lanjut-usia, yang cacat dan lain sebagainya.
Dengan demikian Caritas in Veritate ini akan sungguh-sungguh menjadi Kabar Gembira bagi masyarakat, dalam hal yang diingatkan oleh Bapa Suci kepada umat beriman kristiani dan mereka yang berkehendak baik tentang apa artinya kita menjadi manusia, untuk bersyukur kepada Allah atas begitu banyak cara dengan mana Dia melimpahkan rahmat-Nya kepada kita setiap hari, dan untuk menggunakan segala anugerah dan talenta, yakni sumber daya kita, entah besar entah kecil, sebagai anugerah bagi orang lain dan untuk membuat dunia ini tempat tinggal yang lebih baik.

Oleh karena itu, sebagaimana Caritas in Veritate telah memberikan pencerahan kepada tuntutan dan keinginan Rosanna ke depan, saya yakin, bahwa kisah Rosanna ini membuka beberapa peluang terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan yang integral kepada manusia, kadang-kadang secara langsung, tetapi lebih sering secara tidak langsung juga mengenai pengembangan dan kesejahteraannya. Seperti Rosanna, kita juga mau menerapkan Ensiklik itu pada situasi dan tantangan-tantangan yang kita hadapi.

Globalisasi yang melanda kita ini serentak mendekatkan manusia satu sama lain, tetapi secara ironis dia juga membuat kita ini menjadi asing satu sama lain (seperti juga dinyatakan oleh Rosanna). Kendatipun ada penemuan-penemuan dan kemajuan teknologi, namun berjuta-juta orang (sekitar seper-enam dari seluruh penduduk bumi) setiap malam pergi tidur dengan perut lapar [7]. Kendatipun ada pelbagai tatanan keuangan secara internasional, dengan kemajuan dan diplomasinya, namun peperangan, kelaparan dan penyakit tetap saja berkecamuk.

Hidup adalah Landasan Dasar
Ketika Bapa Suci menuliskan visinya tentang pengembangan manusia, beliau merefleksikan perlunya secara fundamental penghargaan kepada hak untuk hidup.
Keterbukaan bagi kehidupan adalah pusat dari perkembangan yang sejati. Apabila ada masyarakat yang mengarah kepada penyangkalan ataupun pengekangan pada kehidupan, maka masyarakat itu tidak akan dapat lagi menemukan motivasi dan energi yang dibutuhkan untuk mengupayakan kesejahteraan manusia yang sejati (CiV, 28).
Patut disayangkan, bahwa ada ideologi-ideologi yang berpandangan sempit dan mementingkan diri sendiri yang katanya akan meringankan penderitaan, tetapi kenyataannya malah menyerang hidup itu sendiri dan memperkosa bahkan unsur yang paling fundamental dari martabat manusia, mana bisa mereka mau mengupayakan kesehatan dan kebahagiaan manusia yang lestari.
Ada beberapa organisasi non-pemerintah yang dengan giat bekerja terutama di negara-negara miskin untuk mempromosikan aborsi, kadang-kadang malah menganjurkan sterilisasi, dan tidak jarang bahkan tanpa memberitahukan hal yang sebenarnya kepada para perempuan yang menjadi korbannya. Tambahan pula kita memiliki alasan yang kuat untuk mencurigai, bahwa bantuan-bantuan pengembangan yang diberikan kadang-kadang dikaitkan dengan policy pelayanan kesehatan tertentu, yang de facto sebenanrya adalah penerapan praktek pembatasan kelahiran (birth control) yangsemena-mena! Tidak lama sebelum kunjungan Paus ke Inggris dan Wales, Kementerian Kerajaan Inggris yang mengurusi Bantuan Internasional memberitahukan, bahwa Inggris bermaksud untuk “mengaitkan” permintaan keterangan tentang kesehatan reproduksi yang di dalam bingkisan-bingkisan bantuan yang dikirimkannya. Alasan-alasan lain yang juga memprihatinkan kita adalah adanya undang-undang yang mengizinkan euthanasia, seperti juga halnya dengan tekanan dari kelompok-kelompok pe-lobby baik di tingkat nasional maupun internasional, yang mengupayakan pengesahan secara yuridis-legal bagi hal-hal itu … (CiV, 28).

Kebenaran tentang pribadi manusia menuntut, bahwa orang-orang yang beriman dan yang berkehendak baik mengakui hal-hal untuk apa itu sebenarnya diperuntukkan?kebencian tetaplah kebencian, pembunuhan adalah pembunuhan, ketidakadilan adalah ketidakadilan. Motif-motif politik serta ideologi tidak dapat dipergunakan sebagai alasan untuk menjawab masalah-masalah kemanusiaan ini. Proses yang panjang dan menyakitkan dari penyembuhan dan rekonsiliasi di dalam keluarga-keluarga, di antara sahabat-sahabat dan di antara negara-negara serta bangsa-bangsa barulah dapat dimulai apabila kebenaran memang sudah ditegakkan. Benih-benih konflik senantiasa ditaburkan di mana kebenaran ini dikaburkan atau apabila balas-dendam menguasai pemikiran dan tindakan kita, baik secara orang-perseorangan maupun secara komunitas bersama-sama. Hanya apabila hak asasi untuk hidup itu dihargai dapatlah tuntutan-tuntutan keadilan ini mulai dipenuhi.

Pelayanan Kesehatan bersifat baik jasmani maupun rohani
Caritas in Veritate sangat menekankan point bahwa perkembangan manusia tidak boleh diturunkan hanya sampai pada perkembangan yang bersifat material dan teknologis saja. Bagi Bapa Suci “perkembangan seseorang, baik itu secara pribadi maupun secara kemasyarakatan haruslah ditempatkan di suatu tempat yang tinggi, apabila kita beranggapan bahwa dimensi batin itu harus ada agar perkembangan sedemikian adalah sungguh-sungguh otentik. Begitu juga, pelayanan kesehatan dan kesejahteraan pribadi manusia tidak boleh dibatasi hanya sampai kepada yang jasmani saja, sebab hal itu hanya merupakan bagian yang jasmani saja dari pribadi itu. Maka harus diperhitungkan juga baik psyche maupun unsur batiniah dari pribadi itu. Dan justru di sinilah Bapa Suci melampaui petunjuk-petunjuk MDG (Millennium Development Goals) dan NEPAD (New Partnership for Africa’s Development) tentang pengendalian penyakit dan mendapatkan pelayanan kesehatan, tentang good governance, stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, tentang pengentasan kemiskinan dan tersedianya pangan yang pasti. Inilah jalan yang harus ditempuh oleh benua Afrika untuk maju dan sejahtera, untuk menarik perhatian pada “hati manusia, yang menjadi sumber dari segala sesuatu yang menggoncangkan Benua ini”. Dengan cara demikian inilah Caritas in Veritate menyarankan, bahwa pelayanan kesehatan yang diberikan juga harus mencakup moralitas dan pelayanan bagi roh/jiwa: itulah penyakit jiwa.

Menyembuhkan Penyakit Batin
Akhirnya kita dapat melukiskan kabar gembira dari ensiklik ini sebagai penyembuhan roh manusia dan pembebasan budaya manusia itu.
Tidak lama sesudah ensiklik Caritas in Veritate dipromulgasikan, pada bulan Oktober 2009 itu Bapa Suci memimpin Sinode Afrika. Dalam homili pada perayaan ekaristi pembuka sinode itu Bapa Suci mengajak Afrika dan Gereja di Afrika untuk memupuk warisan budaya dan semangat bangsa Afrika, “yang lebih dibutuhkan oleh umat manusia daripada bahan-bahan mentah material lainnya.” ”Dari sudut pandang ini”, Bapa Suci melanjutkan, “Afrika menjadi sebuah paru-paru rohani raksasa bagi umat manusia yang nampaknya sedang berada dalam krisis iman dan harapan.” Bapa Suci dengan sangat mengajak Afrika untuk memastikan bahwa paru-paru rohani ini terjamin tidak terinfeksi dengan “dua patologi yang sangat berbahaya,” yakni fundamentalisme religius yang dikaitkan dengan kepentingan politik dan ekonomi, dan, sebuah penyakit yang sudah menyebar luas di dunia barat, yakni “materialisme praktis yang dikaitkan dengan gagasan-gagasan yang bersifat relativis dan nihilistis”. Bapa Suci menyebut yang terakhir ini sebagai suatu “penyakit jiwa” dan “kebal terhadap obat-penawar rohani” yang disebar-luaskan oleh yang disebut “dunia pertama” dan dengan demikian telah menjangkiti bangsa-bangsa dari benua-benua lain.

Justru pada bulan Mei yang lalu, pada kesempatan Sidang Umum oleh Akademi Kepausan Bidang Ilmu-ilmu Sosial, para cendekiawan dan para pakar terkemuka melukiskan penyebab-penyebab teknis dari krisis zaman ini di bidang ekonomi, teknologi dan kemasyarakatan, tetapi mereka juga menengarai adanya penyebab-penyebab tak langsung (‘remote causes’) yang penting. Mereka mengidentifikasikan penyebab-penyebab tak langsung ini sebagai yang bersifat spiritual dan moral [8]. Meskipun tidak terlacak secara kuantitatif, namun faktor spiritual ini ada, dan mendistorsikan setiap tindakan manusia [9]. Dengan demikian Akademi Kepausan itu ternyata memberi peneguhan kepada apa yang dikatakan Paus Yohanes Paulus II, bahwa “dosa berserta dengan struktur dosa itu bukan merupakan kategori yang sering diterapkan orang kepada situasi dunia zaman sekarang ini. Namun orang tidak dapat dengan mudah memahami secara mendalam realitas yang kita hadapi secara langsung, tanpa mengidentifikasikan akar dari kejahatan yang menimpa kita itu” [10].

Oleh karena itu, ketika memberi sambutan pada Sidang Paripurna para Uskup Italia (27 Mei), Paus Benediktus XVI juga menunjuk kepada keseriusan krisis ekonomi yang sedang berlangsung itu sambil menegaskan juga adanya suatu krisis yang tidak kalah seriusnya, yakni krisis spiritual dan kultural [11], yang tidak boleh disama-ratakan begitu saja. Bagi Bapa Suci, krisis spiritual dan kultural ini menyangkut manusia, meskipun pernyataannya bisa ada di bidang ekonomi, pasar, perdagangan dan bisnis, di bidang teknologi, ekologi dan poliitk, namun semua itu akhir-akhirnya mengenai manusia juga.

Maka hal-hal itulah, yang pada akhirnya, menurut Bapa Suci, menjadi tempat di mana krisis dewasa ini harus ditempatkan, yakni di dalam manusia, dalam “penyakit rohnya”, dalam budaya dan spiritualitas-nya, semuanya terinfeksi dengan “gagasan-gagasan baru dan modern” yang disebutnya “penolak racun spiritual” dan “patologi”. Oleh karena itu, budaya zaman kita sekarang ini, kata Bapa Suci menegaskan, “mempunyai beban dari padanya dia harus dibebaskan dan bayang-bayang gelap dari mana dia harus keluar” (CiV, 59); dan Kabar Gembira-nya adalah bahwa di dalam Inkarnasi Yesus, kasih Bapa dan Sabda Allah (Logos) yang mahatinggi, dalam budaya manusia, setiap budaya manusia, termasuk budaya zaman kita sekarang ini, ditawarkan sarana pembebasan yang diperuntukkan bagi pelayanann kesejahteraan manusia.

Caritas in Veritate menyuarakan sarana pembebasan ini; hal itu dapat dipandang sebagai sebuah tawaran suatu ajaran sosial, yang berakar dan berasal dari pelayanan Yesus, yang membebaskan segala sesuatu, dan terus membebaskan budaya manusia, alam pemikirannya dan kebatinannya dari beban-beban, dan membantunya keluar dari bayang-bayang gelap dari yang disebut “gagasan-gagasan baru dan modern” yang mengecilkan pandangan manusia atas kebenaran dan menurunkan rasa disembuhkan itu hanya sebatas pada kesembuhan organ-organ tubuhnya saja.

Salah satu pernyataan dari penyakit kejiwaan itu adalah munculnya salah pengertian terhadap pribadi manusia, suatu pemahaman yang keliru tentang manusia. Bapa Suci menganalisis konsep yang dominan tentang manusia yang dalam lima puluh tahun terakhir ini telah dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi manusia. Atas nama ilmu pengetahuan, bidang yang sebenarnya berpotensi membawa kebaikan itu telah menyerah kepada suatu ideologi menyesatkan, yang mengajarkan bahwa manusia tidak lain hanyalah produk dari suatu budaya, dan bahwa dia berkembang/membentuk dirinya secara independen dari kodrat manusiawinya dan dari hukum universal mana pun yang terikat dengan keberadaannya. Manusia, secara keliru, memandang dirinya sendiri sebagai penciptanya, pembuat dan tuan dari hdupnya dan juga dari masyarakatnya (CiV 34). Manusia begitu merasa bisa mencukupi dirinya sendiri; dengan demikian manusia bukan saja mengabaikan dan mengasingkan Allah, melainkan bahkan membuang Allah sama sekali.
Akibat penyakit ini adalah: manusia beranggapan bahwa dirinya tidak berhutang kepada siapapun selain kepada dirinya sendiri, dan dia yakin bahwa hanya dia sendirilah yang memiliki hak (CiV 43) sedang kententuan-ketentuan lain serta tanggungjawab sama sekali tidak ada. Dengan demikian maka setiap inividu adalah tuan bagi keberadaannya sendiri dan dia juga menjadi penentu bagi arti-makna keberadaannya itu.
Memang, di dalam hal-hal ini semua, hadirlah sekarang ini suatu dinamika keliru yang sedang berkerja di dalam adanya tuntutan yang terus-menerus diajukan untuk mendapatkan hak-hak yang lebih banyak, untuk menyingkirkan segala macam pembatasan-pembatasan, dalam semakin meluasnya pandangan terhadap tindakan manusia, bahkan sampai ke membayangkan gagasan tentang reproduksi-dirinya sendiri. Pada kenyataannya memang dinamika ini, sementara ia mengurung manusia di dalam kungkungan reproduksi diri yang egoistis, ia juga menghalanginya untuk menerima kewajiban-kewajiban, tanpa mana semua hak akan terhisap ke dalam putaran spiral egosentris yang mencabut sampai ke akar-akarnya semua arti-makna [12]. Inilah persis seperti yang juga menjadi pengamatan Bapa Suci: bahwa himbauan-himbauan dibuat terhadap hak-hak yang dideklarasikan, atas dasar dugaan dan yang pada hakekatnya tidak bersifat esensial, disertai oleh tuntutan bahwa mereka diakui dan didukung oleh struktur-struktur publik, sementara, di lain pihak, hak-hak yang elementer dan dasariah tidak diakui dan bahkan dilanggar di banyak kawasan di dunia (CiV 43). Sering terlihat adanya kaitan antara tuntutan atas suatu “hak untuk bertindak secara kelewatan”, bahkan untuk melakukan pelanggaran dan kejahatan, dalam suatu masyarakat yang maju, dan kekurangan makanan, air minum, pendidikan dasar dan pelayanan kesehatan dasar di kawasan-kawasan dunia yang belum berkembang serta daerah-daerah pinggiran dari pusat-pusat kota-kota metropolitan yang besar-besar (CiV 43).
Terputus seperti itu dari kesejahteraan bersama dan dari dimensi universal hukum moral yang objektif (hukum kodrat yang terpatri di dalam hati manusia), orang lalu mencari di dalam pandangan mayoritas, meskipun hal itu barangkali sangat rapuh, suatu dasar bagi kepastian moralitas dari hukum itu. Hal ini telah membawa orang sampai pada suatu deregulasi moral dan antropologis, sambil memberi kesan, bahwa norma-norma diciptakan hanya oleh kesepakatan. Hukum moral, instansi paling tinggi dari regulasi semua perundangan-undangan lalu disekularkan dan diganti dengan hukum sipil, hokum sipil ini lalu diberi nilai moral, berdasar kenyataan, bahwa hal itu telah ditetapkan oleh kesepakatan yang menjadi klaim dari pemerintah yang telah dipilih secara demokratis. Hal ini telah melahirkan banyak sekali aspek totalitarian baik di dalam pandangan, posisi maupun ideologi; dan yang menjadi korban pertama adalah justru manusia itu sendiri. Karena disangkal dalam dirinya sendiri sebagai sebuah realitas, maka pribadi manusia menjadi semakin dipandang sebagai yang menciptakan dirinya sendiri dan menjadi produk budaya.

Ada juga ideologi keliru lain yang membawa orang kepada suatu utopia yang keliru tentang kembalinya manusia ke keadaan asali yang semula. Hal ini melepaskan kemajuan dari penilaiannya secara moral dan juga dari tanggungjawab manusia (CiV 14). Hal itu juga menyingkapkan adanya suatu kerinduan untuk merombak konsepsi-konsepsi tentang pribadi manusia dan kelembagaannya (laki-laki, perempuan, keluarga, perkawinan, anak-anak dan pendidikan mereka, dlsb.). Kalau demikian maka kebenaran tentang manusia akan dibebaskan dari semua model dan pencetakannya. Orang tidak akan dideferensiasikan lagi dengan cara apapun. Semua akan menjadi setara dan semua akan menjadi sama. Hal ini akan memasukkan kita ke dalam kamar-depan dari teori yang disebut general theory itu.

Kesehatan Ekologis dan Kesehatan Manusia secara Integral

Dalam tahun-tahun terakhir ini suatu dimensi yang sama sekali baru tentang kesehatan dan penyakit telah terbuka bagi kesadaran manusia dan kini menuntut perhatian mendesak. Kita menyebutnya lingkungan hidup atau ekologi, dan itu ada kaitannya dengan kesehatan dan kelestarian habitat kita, yakni bumi ini. Sampai sekarang secara luas terabaikan, masalah-masalah, ?atau bahkan krisis,? yang muncul tentang lingkungan hidup sebagai “Unsur-unsur baru yang signifikan dalam gambaran perkembangan bangsa-bangsa dewasa ini dalam banyak hal menuntut solusi-solusi yang baru. Ini harus ditemukan bersama, dengan menghormati hukum-hukum yang layak untuk setiap elemen dan di dalam terang pandangan manusia seutuhnya, yang mencerminkan aspek-aspek yang berbeda dari manusia, yang dilihat melalui lensa yang dimurnikan oleh kasih CiV 32). Dalam bertindak cepat untuk menghadapi kebutuhan-kebutuhan mendesak ini, beberapa pemikiran dan perencanaan agak kelewatan, yakni dengan mengangkat alam melebihi manusia dan memandang manusia sebagai ancaman terhadap alam. Dengan caranya yang senantiasa seimbang, Paus Benediktus menyambut ekologi di dalam gambaran yang lebih luas dari Penciptaan dan Sang Penciptanya, yang adalah Bapa kita sendiri. Perhatian yang cerdas dari pihak kita “dituntut, dalam hal manapun juga, berdasarkan keadaan kesehatan ekologis dari bumi kita ini, terutama ini dituntut oleh krisis budaya dan moral manusia, yang gejala-gejalanya telah sangat jelas nampak di seluruh dunia selama beberapa waktu ini” (CiV 32).
Dalam diskusi-diskusi Anda selama konferensi ini, isu-isu ekologis tentang pencemaran, kurangnya persediaan air minum, lingkungan pertanian yang dirusakkan oleh eksploitasi sumber daya yang tak diperhitungkan baik-baik, serta isu-isu khas lain tentang lingkungan hidup, akan menampilkan diri sebagai syarat yang penting dan sungguh dasariah bagi kesehatan manusia, khususnya mereka yang miskin dan terpinggirkan.

Kesehatan Psiko-spiritual
Seakan-akan seperti mau membantu kita untu menempatkan semua pertimbangan-pertimbangan tadi ke dalam konteksnya yang lebih luas, menjelang akhir ensiklik itu Bapa Suci menyapa apa yang mungkin dapat kita sebut sebagai ancaman yang semakin memuncak bagi kesehatan manusia, yakni penyakit mental kolektf yang lahir dari ideologi-ideologi palsu dan perkembangan palsu yang mengancam kesejahteraan kita sebagai manusia. Marilah kita mendengarkan sebuah kutipan yang agak panjang dan kita perhatikan, bagaimana Paus Benediktus menyatukan begitu banyak aliran pengembangan manusia itu ke dalam satu peritmbangan ini tentang kesehatan dan kesejahteraan “seluruh umat manusia dan dari setiap orang” (Paus Paulus VI)
“Satu aspek pemikiran teknologis dewasa ini adalah kecenderungan untuk memandang masalah-masalah dan emosi-emosi kehidupan batin hanya dari sudut pandang psikologis melulu, bahkan sampai pada titik mereduksikannya secara neurologis saja. Dengan cara ini, kehidupan batin manusia dikosongkan dari maknanya dan sedikit demi sedikit kesadaran kita tentang kedalaman ontologis jiwa manusia seperti yang dibuktikan oleh para orang kudus, menjadi hilang. Masalah perkembangan berkaitan secara erat dengan pengertian kita akan jiwa manusia, sejauh seperti kita sering menurunkan diri kita sendiri sampai ke psyche saja, dan mencampur-adukkan kesehatan jiwa dengan kesejahteraan emosional. Penyederhanaan- penyederhanaan yang berlebihan ini berasal dari kegagalan yang mendalam untuk memahami kehidupan spiritual, dan hal itu mengaburkan kenyataan bahwa perkembangan individu-individu serta bangsa-bangsa sebagiannya tergantung pada penetapan masalah-masalah yang bersifat rohani. Perkembangan harus melibatkan tidak saja pertumbuhan jasmani, tetapi juga pertumbuhan rohani (serta kesehatan), sebab pribadi manusia adalah “kesatuan antara tubuh dan jiwa”, yang lahir dari kasih Tuhan sang Pencipta dan diperuntukkan bagi kehidupan kekal. Manusia berkembang ketika ia bertumbuh secara rohani, ketika jiwanya sampai pada pemahaman tentang dirinya dan kebenaran-kebenaran yang telah Allah tanamkan dalam-dalam di dalam dirinya, ketika ia masuk dalam dialog dengan dirinya sendiri dan Penciptanya. Ketika ia jauh dari Allah, manusia tidak tenang dan tidak nyaman. Keterasingan sosial dan psikologis dan banyaknya penyakit syaraf yang menimpa masyarakat-masyarakat maju sebagiannya disebabkan oleh faktor-faktor spiritual.

Suatu masyarakat yang makmur, yang telah sangat berkembang dalam hal materi tetapi berbeban berat dalam jiwanya, tidak dengan sendirinya menjadi kondusif bagi perkembangan yang otentik. Bentuk-bentuk baru dari ketergantungan terhadap obat-obatan dan tiadanya harapan ke mana banyak orang jatuh, dapat dijelaskan bukan hanya dengan pemahaman-pemahaman yang bersifat sosiologis dan psikologis, tetapi juga dalam pemahaman-pemahaman yang secara hakiki bersifat spiritual. Rasa kekosongan (atau malaise) di mana jiwa merasa ditinggalkan, kendatipun tersedia terapi yang tak terhitung banyaknya bagi tubuh dan jiwa, membuat orang menderita. Tidak mungkin ada perkembangan yang menyeluruh dan kesejahteraan bersama yang universal, kecuali bila kesejahteraan manusia secara spiritual dan moral diperhitungkan, dan dilihat dalam totalitasnya sebagai tubuh dan jiwa (CiV).

Penutup
Kabar Gembira bagi pelayanan kesehatan secara integral yang diberi pendasaran dalam Caritas in Veritate itu, paling bagus dapat dirangkum denan kata-kata Bapa Suci ini: “Di dalam setiap kebenaran senantiasa ada sesuatu yang lebih dari pada yang mungkin kita harapkan; di dalam kasih yang telah kita terima senantiasa ada bagi kita suatu unsur kejutannya. Kita tidak boleh berhenti mengagumi hal-hal ini. Dalam semua pemahaman dan dalam setiap tindakan kasih, jiwa manusia mengalami sesuatu “yang melampaui dan yang ada di atas”, yang kelihatannya seperti suatu hadiah yang kita terima, atau suatu tempat tinggi ke mana kita diangkat.
Begitu pula dengan perkembangan individu-individu dan orang-orang, juga ditempatkan di suatu ketinggian apabila kita memperhitungkan dimensi spiritual yang harus ada, untuk menjadikan perkembangan itu sungguh-sungguh otentik. Dibutuhkan mata yang baru dan hati yang baru, yang mampu mengangkat mengatasi suatu pandangan yang bersifat meterialistik terhadap peristiwa-peristiwa manusiawi, yang mampu melihat di dalam perkembangan “yang lebih jauh” dari yang dapat diberikan oleh teknologi. Dengan mengikuti jalan ini menjadi mungkinlah kita mengejar perkembangan manusia secara integral, yang mengambil arahnya dari daya-dorong kasih dan kebenaran (CiV 77).
Izinkanlah sekarang saya menutup sambutan ini secara seperti tadi saya memulainya. Bagi Rosanna, dengan mengampuni kaum-kerabatnya, dengan hidup bagi Jomo dan masa depannya, dengan mengajar kaum muda untuk bertanggungjawab terhadap AIDS, dengan membimbing sekelompok kecil pendukung bagi perempuan-perempuan yang positif-HIV, dengan menjual air bagi para tetangganya, semua membantu mempersiapkannya untuk membaca dan menghargai setinggi-tingginya Caritas in Veritate. Saya yakin, bahwa Rosanna telah membantu kita juga untuk menukik ke dalam Ensiklik itu. Pesannya ada di dalam judul: PIKIRKANLAH! KASIHILAH! Kita harus melaksanakan kedua-duanya, apabila Rosanna dan Jomo dan kita semua memang mau memiliki secara otentik pengembangan manusia dan kesehatannya.

PETER Kardinal KODWO TURKSON
Ketua
Dewan Kepausan untuk Keadilan dan Perdamaian, Tahta Suci

Catatan akhir
[1] Animo umum untuk menerima ensiklik ini sungguh sangat besar, karena ensiklik ini membuka kemungkinan kepada setiap orang untuk mendapatkan identifikasi dirinya di sana. Selama sebulan setelah diumumkan, menurut Radio Vatikan, sudah ada sebanyak 4500 artikel yang ditulis dalam bahasa Inggris, Perancis, Italia, Portugis dan Spanyol. Menurut Meltwater Group yang memperluas jangkauan penelitiannya ke bahasa-bahasa lain tercatat sebanyak 6000 tulisan tentang ensiklik ini (lih. Gianpaolo Salvini, SJ, “Enciclica Caritas in Veritate”, dalam La Civita Catholica, #3822, 19 Setember 2009, hlm. 458.
[2] Dengan memperhitungan juga Surat Kongregasi untuk Konsili kepada Msgr. Liénart, Uskup Lille, pada tanggal 5 Juni 1929; Gaudium et Spes dan Dignitatis Humanae dari Konsili Vatikan II; Bagian kedua dari Deus Caritas Est, serta Instruksi Apostolik Dignitatis Personae, tentang beberapa masalah bioetika, yang diterbitkan oleh Kongregasi untuk Ajaran Iman, tetratnggal 8 Desember 2008; orang dapat menghitung sebanyak 22 dokumen tentang ajaran sosial Gereja di bidang ini (bdk. Les Discourses Social de l’?glise Catholique: de Léon XIII à Bénoit XVI, Bayard Montrouge, 2009).
[3] Kata Pengantar untuk Ensiklik ini secara khusus menerangkan kedua arti kata Caritas dan Veritas, kaitannya satu sama lain, pengakarannya di dalam kehidupan Allah Tritunggal, pewahyuannya kepada manusia melalui Kristus dan penyelewengannya oleh manusia di dalam sejarah manusia. Yesus yang mewahyukan dan menganugerahkannya kepada manusia, Dialah juga yang melepaskan dan membebaskan pemahamannya dari penyelewengan manusiawi itu.
[4] Caritas in Veritate, n. 5.
[5] Bdk. Ibid., no 75.
[6] Bdk. Ibid., no 12; Sollicitudo Rei Socialis, n. 3.
[7] Perserikatan Bangsa-bangsa, 2009, Laporan Tentang Kelaparan Dunia.
[8] Semuanya itu ada kaitannya dengan ketamakan dan praduga-praduga ideologis dan teoretis.
[9] Demikian pembahasan-pembahasan tentang umat manusia dan tentang panggilannya kehilangan pandangan tentang hakekat dan karakteristik rohaninya: tentang roh (jiwa) dan tubuh, tentang yang jasmani dan yang rohani, yang kesemuanya adalah ciri-ciri karakteristik manusia (bdk. Sollicitudo Rei Socialis, no 29). Demikian juga kehidupan ekonomi dan perdagangan diselewengkan dengan pengandaian tentang ketidak-dapat-sesatan teolri-teori ekonomi yang palsu, sementara, karena keserakahan, kerja manusia di tengah-tengah ciptaan, diganti dengan kegiatan finansial, yang dijalankan bukan sebagai Konsep Ajaran”. Sidang Umum Akademi Kepausan untuk Ilmu-ilmu Pengetahuan Sosial, Kota Vatikan, 1 Mei 2010.
[10] Sollicitudo Rei Socialis, no. 36.
[11] “… una crisi cultural e spiritual, altrettanto seria di quealla economica”. Dan beliau melanjutkan: “Sarebbe illusorio ?questo vorrei sottolinearlo,? pensare di constatarel’una, ignorando l’altra” (Benediktus XVI). “Discorso al-lassemblea della Conferenza Episcopale Italiana, 27 Mei 2010.
Sumber: Dolentium Hominum N. 76-2011 halaman 15-20. Alih bahasa: Romo G. Widyo Soewondo, MSC – Dokpen KWI.

Pesan Bapa Suci Pada Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia ke-20

“Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Luk 17:19)

Saudara-saudari yang terkasih,

Pada kesempatan Hari Orang Sakit Sedunia, yang akan kita peringati pada tanggal 11 Februari 2012, bersamaan dengan peringatan Penampakan Santa Perawan Maria di Lourdes, saya ingin memperbaharui kedekatan saya secara rohani dengan semua orang yang sakit, yang berada di tempat-tempat perawatan, atau yang dirawat oleh keluarganya di rumah, untuk menyatakan perhatian dan kasih dari segenap warga Gereja kepada masing-masing dari mereka. Dalam menyambut kehidupan setiap manusia dengan penuh cinta dan kemurahan, terutama mereka yang hidup dalam sakit dan kelemahan, seorang Kristen mengungkapkan sebuah aspek penting dari kesaksiannya terhadap Injil, mengikuti teladan Kristus, yang menghampiri dan melawati penderitaan fisik maupun spiritual manusia untuk menyembuhkan mereka.

1. Tahun ini, yang melibatkan persiapan untuk Hari Orang Sakit Sedunia yang akan diperingati di Jerman pada tanggal 11 Februari 2013 dan akan berfokus pada figur Injil Orang Samaria Yang Baik Hati (bdk. Luk 10 : 29-37), saya ingin menekankan mengenai yang disebut sebagai “sakramen penyembuhan”, yaitu sakramen Tobat dan Pengakuan Dosa serta sakramen Pengurapan Orang Sakit, yang keduanya mencapai kepenuhannya di dalam Komuni Ekaristi.

Perjumpaan Yesus dengan sepuluh orang kusta, yang dikisahkan dalam Injil Santo Lukas (bdk. Luk 17 : 11-19), dan khususnya kata-kata yang ditujukan oleh Tuhan kepada salah seorang dari mereka, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (ay.19), membantu kita untuk menyadari pentingnya iman bagi mereka yang, dalam keadaan terbeban oleh penyakit dan penderitaan, mendekat kepada Tuhan. Dalam perjumpaan mereka dengan Dia, mereka sungguh mengalami bahwa ia yang sungguh percaya, tak pernah sendirian! Sungguh, Tuhan, di dalam Putera-Nya, tidak mengabaikan kita dalam kepedihan dan penderitaan kita, tetapi Ia dekat pada kita, menolong kita untuk menanggung semua itu, dan rindu untuk menyembuhkan kita di kedalaman batin kita (bdk. Mark 2:1-12).

Iman penderita kusta yang seorang itu, setelah menyaksikan bahwa dirinya telah disembuhkan, ia dipenuhi dengan rasa takjub dan sukacita, dan tidak seperti para penderita kusta lainnya, ia segera kembali kepada Yesus untuk mengungkapkan rasa syukurnya, memampukan kita untuk meyakini bahwa kesehatan yang diperoleh kembali adalah suatu tanda dari sesuatu yang lebih berharga daripada sekedar kesembuhan fisik, hal itu adalah tanda keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita melalui Kristus; tanda itu ditemukan di dalam kata-kata Yesus: imanmu telah menyelamatkan engkau. Orang yang di dalam penderitaan dan sakitnya berdoa kepada Tuhan merasa pasti bahwa cinta Tuhan tidak akan meninggalkan dia, dan juga bahwa cinta Gereja, yang menjadi perpanjangan dari karya keselamatan Tuhan, tak akan pernah gagal. Kesembuhan fisik, sebagai sebuah tanda keselamatan yang terdalam yang nampak dari luar, menyatakan kepada kita pentingnya iman yang dimiliki orang itu, dengan segenap tubuh dan jiwanya, kepada Tuhan. Masing-masing sakramen, untuk keperluan itu, menyatakan dan menjadikan aktual kedekatan Tuhan sendiri, yang, sungguh secara cuma-cuma diberikan, “menyentuh kita melalui hal-hal material….yang Ia gunakan dalam pelayanan-Nya, membuat hal-hal itu menjadi instrumen dari perjumpaan di antara kita dan Diri-Nya” (Homily, Chrism Mass, 1 April 2010). “Kesatuan di antara ciptaan dan penebusan telah dijadikan nyata. Sakramen itu adalah suatu ekspresi fisik dari iman kita, yang menjangkau keseluruhan keberadaan orang yang sakit itu, baik badan maupun jiwanya” (Homily, Chrism Mass, 21 April 2011).

Yang pasti, tugas yang utama dari Gereja adalah mewartakan Kerajaan Allah,” Namun pewartaan ini haruslah merupakan sebuah proses penyembuhan: ‘merawat orang-orang yang remuk hati’ (Yes 61:1)” (ibid.), menurut wewenang yang dipercayakan Yesus kepada para murid-Nya (bdk. Luk 9:1-2; Mat 10:1,5-14; Mrk 6:7-13). Rangkaian dari kesehatan fisik dan pembaharuan setelah sembuh dari luka jiwa itu membantu kita untuk mengerti lebih baik mengenai “sakramen-sakramen penyembuhan.”

2. Sakramen Pengakuan Dosa telah seringkali menjadi pusat refleksi dari Para Imam Gereja, terutama karena begitu pentingnya sakramen ini dalam perjalanan hidup Kristiani, mengingat bahwa “Seluruh kukuatan Sakraman Pengakuan Dosa ialah bahwa ia memberi kembali kepada kita rahmat Allah dan menyatukan kita dengan Dia dalam persahabatan yang erat”. (Katekismus Gereja Katolik, 1468). Gereja, dalam terus menerus menyerukan pesan Yesus akan pengampunan dan rekonsiliasi, tak pernah berhenti untuk mengundang segenap umat manusia untuk bertobat dan percaya kepada Injil. Gereja menjadikan miliknya sendiri, panggilan dari Rasul Paulus: “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah (2 Kor 5:20). Yesus, selama hidupnya di dunia, mewartakan dan menghadirkan belas kasihan Allah Bapa. Dia datang bukan untuk menghakimi melainkan untuk mengampuni dan menyelamatkan, untuk memberi harapan dalam kegelapan yang paling pekat dari dosa dan penderitaan, dan untuk memberikan hidup yang kekal; oleh karena itu dalam sakramen Tobat, di dalam “pengobatan pengakuan”, pengalaman akan dosa tidak merendahkan manusia kepada keputusasaan, namun membuatnya berjumpa dengan Sang Cinta yang selalu mengampuni dan mengubahkan (bdk. Yohanes Paulus II, Post-Synodal Apostolic Exhortation Reconciliatio et Paenitentia, 31).

Allah, “yang penuh dengan belas kasihan” (Ef 2:4), seperti figur ayah di dalam kisah perumpamaan dalam Injil (bdk. Luk 15:11-32), tidak menutup hati-Nya terhadap siapapun dari anak-anak-Nya, melainkan menunggu mereka kembali, mencari mereka, menjangkau mereka, di mana penolakan mereka terhadap persekutuan memenjarakan mereka dalam keterpisahan dan perpecahan, dan Ia memanggil mereka untuk berkumpul di sekeliling meja-Nya, dalam sukacita pesta pengampunan dan rekonsiliasi. Satu penderitaan, yang dapat membuat seseorang menjadi begitu rapuh sehingga merasa kecil hati dan tak punya pengharapan, dapat kemudian diubahkan menjadi suatu kesempatan rahmat yang memungkinkan ia kembali kepada dirinya, dan seperti si anak hilang dalam perumpamaan Injil, untuk berpikir baru tentang kehidupannya, mengenali kesalahan-kesalahan dan kegagalannya, untuk merindukan pelukan kasih Bapa, dan mengikuti jalan pulang menuju ke rumah-Nya. Dia, dalam cinta-Nya yang begitu besar, selalu dan di mana-mana Ia memelihara hidup kita dan menantikan kita, menawarkan kepada setiap anak-Nya yang kembali kepadaNya, suatu karunia rekonsiliasi dan sukacita yang penuh.

3. Dari sebuah bacaan Injil tampak dengan jelas bahwa Yesus selalu menunjukkan keprihatinan khusus kepada orang yang sakit. Ia tidak hanya mengutus para murid-Nya untuk merawati luka-luka mereka (bdk. Mat 10:8; Luk 9:2;10:9) tetapi juga memberikan kepada mereka sebuah sakramen yang khusus: Pengurapan Orang Sakit. Surat Yakobus memuat kesaksian telah hadirnya tindakan sakramental ini dalam komunitas jemaat Kristen perdana (bdk. Yak 5:14-16): melalui Pengurapan Orang Sakit, disertai doa-doa dari para penatua jemaat, segenap Gereja menyerahkan umat yang sakit kepada penderitaan Kristus dan kemuliaan-Nya, sehingga Ia dapat mengangkat penderitaan mereka dan menyelamatkan mereka; Gereja sungguh mendorong mereka untuk menyatukan diri mereka secara rohani kepada sengsara dan wafat Kristus yang pada gilirannya berperan memberikan sumbangan kebaikan kepada segenap Umat Tuhan.

Sakramen ini membawa kita untuk merenungkan dua misteri dari Bukit Zaitun, di mana Yesus menemukan diri-Nya secara dramatis dihadapkan dengan jalan yang telah ditunjukkan Bapa kepada-Nya, mengenai sengsara-Nya, sebuah tindakan kasih yang tertinggi; dan Ia menerimanya. Dalam momen-momen kepedihan itu, Dia adalah Sang pengantara, “menanggung dalam diri-Nya, mengambil baginya penderitaan dan sengsara dunia ini, mengubahnya menjadi sebuah jeritan kepada Allah, membawanya ke hadapan Allah dan ke dalam tangan Allah sehingga sungguh membawa semua itu kepada momen penebusan” (Lectio Divina, Meeting with the Parish Priests of Rome, 18 February 2010). Namun, “Taman Getsemani adalah juga suatu tempat di mana Ia naik kepada Bapa, dan maka menjadi suatu tempat penebusan…..dua buah misteri Bukit Zaitun itu juga selalu “bekerja” di dalam minyak sakramen Gereja…tanda kebaikan Tuhan yang menjangkau kita untuk menyentuh kita” (Homily, Chrism Mass, 1 April 2010).. Dalam Pengurapan Orang Sakit, materi sakramental dari minyak diberikan kepada kita, menceritakan “sebuah pengobatan dari Tuhan…yang kini menjamin kita akan kebaikan-Nya, menawarkan kepada kita kekuatan dan penghiburan, dan dalam waktu yang sama, menunjukkan melampaui saat-saat sakit penyakit kepada kesembuhan yang menetap dan nyata, yaitu kebangkitan (bdk. Jas 5:14)” (ibid)

Sakramen ini layak mendapat perhatian yang lebih besar hari ini, baik dalam refleksi teologi maupun dalam pelayanan pastoral bagi orang sakit. Lewat apresiasi yang pantas yang terkandung dalam doa-doa liturgi yang diadaptasi dalam berbagai situasi kehidupan manusia yang berkaitan dengan penyakit, dan tidak hanya ketika seseorang berada pada akhir hidupnya (bdk. Katekismus Gereja Katolik, 1514), Pengurapan Orang Sakit selayaknya tidak dianggap sebagai suatu “sakramen yang minor (kurang penting)” dibandingkan dengan sakramen-sakramen lainnya. Perhatian dan pelayanan pastoral bagi orang sakit, sementara pada satu sisi, adalah sebuah tanda dari kebaikan Tuhan kepada mereka yang menderita, di sisi lain juga membawa perkembangan rohani kepada para imam dan segenap komunitas Gereja, dalam kesadaran bahwa apa yang diperbuat kepada orang yang paling kecil, sesungguhnya diperbuat kepada Yesus sendiri (bdk. Mat 25:40)

4. Sehubungan dengan “sakramen penyembuhan”, Santo Agustinus menyatakan: “Tuhan menyembuhkan semua penyakitmu. Maka, jangan takut, semua sakit penyakitmu akan disembuhkan….Engkau hanya harus mengijinkan Dia untuk menyembuhkanmu dan engkau tidak boleh menolak tangan-Nya” (Exposition on Psalm 102, 5; PL 36, 1319-1320). Ini adalah sebuah instrumen berharga dari rahmat Tuhan yang membantu seorang yang sakit untuk menempatkan dirinya secara lebih penuh kepada misteri wafat dan kebangkitan Kristus. Bersama dengan kedua sakramen ini, saya juga ingin menekankan pentingnya Ekaristi. Diterima pada saat menderita sakit, sakramen ini memberikan dalam satu cara yang tunggal untuk mengerjakan sebuah transformasi, menghubungkan orang yang mengambil bagian dalam Tubuh dan Darah Kristus, kepada persembahan yang Ia buat sendiri kepada Allah Bapa untuk keselamatan semua manusia. Seluruh komunitas eklesial, dan komunitas paroki khususnya, harus memberikan perhatian sebagai jaminan kemungkinan menerima Komuni Kudus secara teratur, untuk mereka yang, demi alasan kesehatan atau usia lanjut, tak dapat pergi ke gereja. Dengan cara ini, saudara dan saudari ini diberikan jalan untuk memperkuat relasi mereka dengan Kristus, yang disalibkan dan bangkit, mengambil bagian, melalui hidup mereka yang dipersembahkan demi cinta kepada Kristus, di dalam misi utama Gereja. Dari sudut pandang ini, adalah penting bahwa para imam yang mempersembahkan pekerjaan mereka yang tidak menyolok di rumah sakit-rumah sakit, di rumah-rumah jompo dan rumah-rumah perawatan bagi orang sakit, merasa bahwa mereka adalah sungguh “pelayan-pelayan orang-orang sakit”, tanda dan instrumen belas kasihan dari Kristus yang harus menjangkau setiap orang yang ditandai oleh penderitaan.” (Message for the XVIII World Day of the Sick, 22 November 2009).

Selaras dengan Misteri Paskah Kristus, yang juga dapat dicapai melalui praktek Komuni secara rohani, mengambil arti yang sangat khusus ketika Ekaristi diberikan dan diterima sebagai Viaticum. Pada tahap kehidupan itu, kata-kata Tuhan bahkan terasa lebih berbunyi: “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh 6:54). Ekaristi, khususnya sebagai Viaticum, adalah – menurut definisi Santo Ignasius dari Antiokia – “obat dari kefanaan, obat penawar untuk kematian” (Letter to the Ephesians, 20: PG 5, 661); sakramen yang menjadi jalan dari kematian kepada hidup, dari dunia ini kepada Bapa, yang senantiasa menantikan setiap orang dalam Yerusalem Baru.

5. Tema dari Pesan untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-20, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau”, juga mengharapkan kedatangan Tahun Iman yang akan dimulai pada tanggal 11 Oktober 2012, sebuah kesempatan berpotensi dan berharga untuk menemukan kembali kekuatan dan keindahan dari iman, untuk mengevaluasi muatannya, dan untuk menjadi saksi terhadap iman itu di dalam kehidupan sehari-hari (bdk. Apostolic Letter Porta Fidei, 11 October 2011). Saya berharap untuk dapat menyemangati semua orang yang sakit dan menderita untuk selalu menemukan pelabuhan yang aman dalam iman, yang disegarkan melalui mendengarkan Firman Tuhan, lewat doa pribadi dan lewat sakramen-sakramen, dan sementara itu saya juga mengundang para pastor untuk semakin selalu siap sedia untuk merayakan sakramen-sakramen itu bagi para penderita. Mengikuti teladan sang Gembala Yang Baik dan sebagai pemandu kawanan yang dipercayakan kepada mereka, para imam harus selalu dipenuhi oleh sukacita, penuh perhatian kepada mereka yang paling lemah, paling miskin dan sederhana, dan para pendosa, mengekspresikan belas kasihan Tuhan yang tak terbatas dengan kata-kata pengharapan yang memberikan rasa aman. (bdk. Saint Augustine, Letter 95, 1: PL 33, 351-352).

Bagi mereka yang bekerja di bidang kesehatan, dan bagi para keluarga yang melihat dalam diri kerabat mereka wajah penderitaan Tuhan Yesus, saya memperbarui rasa terima kasih saya dan Gereja, karena, dalam keahlian profesi mereka dan dalam keheningan, sering bahkan tanpa menyebut nama Kristus, mereka mewujudnyatakan Dia dengan cara yang nyata (bdk. Homily, Chrism Mass, 21 April 2011).

Kepada Bunda Maria, Bunda Belas Kasihan dan Kesembuhan Orang Sakit, kami menaikkan pandangan penuh percaya dan doa kami; kiranya belas kasih keibuannya, yang terwujud saat ia berdiri di sisi Puteranya yang menjelang ajal di Kayu Salib, menyertai dan menguatkan iman dan harapan setiap orang yang sakit dan menderita dalam perjalanan menuju kesembuhan luka-luka tubuh dan jiwa!

Saya mengingat Anda semua dalam doa-doa saya, dan saya memberikan berkat atas masing-masing dari Anda, sebuah Berkat Apostolik.

Dari Vatikan, 20 November 2011, Peringatan Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus, Raja Semesta Alam
Bapa Paus Benediktus XVI

Sumber: http://www.vatican.va/holy_father/benedict_xvi/messages/sick/documents/h…

Terjemahan di atas adalah terjemahan tidak resmi (un-official translation) yang dilakukan oleh Katolisitas.org

Pesan Bapa Suci Paus Benediktus XVI untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke 19

UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA KE-19

11 Februari 2011

“OLEH BILUR-BILURNYA KAMU TELAH SEMBUH” (1 Pet 2:24)

Saudara saudari terkasih,
Setiap tahun, Gereja memperingati Hari Orang Sakit Sedunia pada Peringatan Santa Perawan Maria dari Lourdes , yang biasanya dirayakan pada setiap tanggal 11 Februari. Hal ini, sebagaimana diharapkan oleh Venerabilis Paus Yohanes Paulus II, merupakan kesempatan yang baik dan tepat untuk merenungkan misteri penderitaan, terutama untuk mengajak komunitas-komunitas gerejani dan masyarakat sipil lainnya lebih peka terhadap saudara-saudari kita yang sakit. Jika setiap orang adalah saudara, terlebih lagi orang yang lemah, yang menderita dan yang membutuhkan perhatian, maka mereka harus menjadi pusat perhatian kita, sehingga tak seorangpun dari mereka merasa dilupakan atau dipinggirkan. Karena sesungguhnya: “Tolok ukur kemanusiaan pada dasomya ditentukan oleh kaitan antara penderitaan dengan si penderita. Hal ini berlaku baik bagi individu maupun masyarakat. Suatu masyarakat yang tak mampu menerima para penderita dan tak mampu berbagi derita dengan mereka dan berbelas-kasih terhadap mereka, adalah masyarakat yang bengis dan tidak manusiawi” (Ensiklik “Spe Salvi”, No. 38). Semoga aneka inisiatif yang dirancang oleh masing-masing keuskupan pada peringatan ini menjadi suatu pendorong dan semakin efektif dalam memberi perhatian kepada mereka yang menderita, termasuk dalam konteks peringatan akbar yang akan dilangsungkan di tempat peziarahan gua Maria di Altotting, Jerman pada tahun 2013 nanti.
1. Saya masih ingat ketika dalam serangkaian kunjungan pastoral ke Turin, saya dapat berhenti sejenak dalam refleksi dan doa saya di depan kain Kafan Suci, di hadapan Wajah yang menderita, yang mengundang kita untuk merenungkan Diri-Nya, yang mau menerima beban derita manusia dari setiap jaman dan tempat, bahkan penderitaan kita, kesulitan-kesulitan kita, dosa¬dosa kita. Betapa banyak orang beriman sepanjang sejarah telah mengunjungi kain kafan, yang digunakan untuk membungkus tubuh seorang yang disalibkan, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Injil yang telah disampaikan kepada kita tentang penderitaan dan wafat Yesus! Merenungkan hal ini adalah suatu undangan untuk merefleksikan apa yang ditulis oleh St. Petrus : “Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh” (1 Petrus 2:24).

Putera Allah telah menderita, la telah wafat, tetapi la telah bangkit kembali. Memang benarlah demikian karena melalui peristiwa-peristiwa tersebut luka-lukaNya menjadi tanda penebusan, pengampunan dan perdamaian kembali kita dengan Bapa. Namun demikian peristiwa derita, wafat clan kebangkitan tersebut sekaligus juga menjadi ujian iman bagi para Murid dan iman kita. Setiap kali Tuhan berbicara tentang penderitaan dan wafat-Nya, para murid tidak dapat mengerti, mereka menolaknya dan menyangkalnya. Bagi mereka, sama dengan bagi kita, penderitaan itu selalu penuh dengan misteri, sulit untuk kita terima dan kita tanggung. Sebab peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di Yerusalem dalam hari-hari itu, membuat dua orang Murid dari Emaus berjalan dengan hati sedih, dan hanya ketika Dia yang bangkit berjalan bersama dengan mereka, maka terbukalah mereka terhadap pemahaman yang baru (bdk. Lukas 24:13-31). Bahkan Rasul Thomas sendiri menunjukkan kesulitannya untuk meyakini jalan penebusan melalui penderitaan : “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya don sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh.20:25). Namun sebelum Yesus menunjukkan luka¬luka-Nya, jawaban-nya (rasul Thomas) telah berubah menjadi sebuah pernyataan iman yang mengharukan: “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28). Apa yang pada awalnya merupakan halangan besar, sebab hal ini merupakan tanda kegagalan Yesus yang nyata, menjadi bukti cinta yang begitu kuat, berkat perjumpaan dengan Dia yang telah bangkit: “Hanya Allah yang mengasihi kita sampai berani menanggung bagi diri-Nya luka-luka don penderitaan kita, khususnya penderitaan yang bukan karena kesalahan-Nya sendiri, Allah semacam itulah yang pantas diimani” (Pesan Urbi et Orbi, Paskah 2007).

2. Saudara-saudari yang sedang sakit dan menderita, alangkah baik sekali bahwa melalui penderitaan Kristus kita dapat melihat, dengan mata pengharapan, semua kejahatan yang menimpa umat manusia. Berkat kebangkitan-Nya, Tuhan tidak menyingkirkan penderitaan dan kejahatan dari dunia, melainkan Dia telah menaklukan derita dan kejahatan itu dari akarnya. Keangkuhan kejahatan Dia lawan dengan keagungan kasih-Nya. Oleh karena itu, la menunjukkan kepada kita bahwa jalan menuju kedamaian dan sukacita adalah Kasih: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh.13:34). Kristus, sang Pemenang atas maut, hidup dan tinggal di tengah-tengah kita. Dan bersama St. Thomas kita berkata : “Ya Tuhanku don Allahku!” Marilah kita mengikuti Tuhan yang selalu siap untuk mempersembahkan hidup kita bagi saudara¬-saudara kita (1Yoh.3:16), menjadi pembawa kabar sukacita tanpa takut akan penderitaan. Inilah sukacita Kebangkitan.
St. Bernardus pernah mengatakan: “Allah tidak dapat menderita, tetapi la dapat menderita bersama.” Allah, yang adalah Kebenaran dan Kasih dalam diri manusia, berkenan menderita bagi clan bersama dengan kita. la menjadi manusia supaya dapat menderita bersama dengan manusia dalam arti yang sebenarnya, dalam darah dan daging. Oleh karena itu, Dia telah masuk dalam diri seorang Manusia untuk berbagi dan menanggung derita bagi setiap penderitaan manusia. la menawarkan pengiburan terhadap semua penderitaan, suatu penghiburan karena keterlibatan kasih Allah, yang membuat bintang pengharapan bersinar (bdk. Ensiklik “Spe Solvi” 39).
Saya ulangi sekali lagi pesan ini kepada kamu, Saudara dan Saudari, supaya kamu menjadi saksi akan hal ini melalui derita, hidup dan imanmu.

3. Sambil menanti pertemuan di Madrid, Agustus 2011, pada perayaan Hari Kaum Muda Sedunia, saya juga akan menyampaikan suatu refleksi khusus bagi kaum muda, terutama mereka yang pernah mengalami penderitaan penyakit. Seringkali, Penderitaan dan Salib Yesus menyebabkan ketakutan, karena seolah-olah menjadi penyangkalan terhadap kehidupan. Kenyataannya justru sangat berlawanan! Salib adalah Jawaban “ya” dari Allah bagi umat manusia, suatu ungkapan tertinggi clan terdalam kasih Allah, cumber yang mengalir untuk kehidupan kekal. Dari hati Yesus yang terluka, hidup ilahi mengalir. la sendiri sanggup membebaskan dunia dari kejahatan dan menjadikan Kerajaan-Nya: kerajaan keadilan, perdamaian dan kasih tumbuh, kerajaan yang kita semua cita-citakan. (bdk. Pesan untuk Hari Kaum Muda Sedunia 2011, no. 3).

Kaum muda yang terkasih, belajarlah “melihat” dan “menjumpai” Yesus di dalam Ekaristi, di mana la hadir bagi kita secara nyata, yang menjadikan diri¬Nya makanan untuk perjalanan kita, tetapi ketahuilah bagaimana mengenal dan melayani Dia, yaitu di dalam diri saudara-saudara yang miskin, sakit, menderita dan dalam kesulitan, juga yang membutuhkan bantuanmu (bdk. Ibid, no. 4). Bagi kamu semua hai kaum muda, baik yang sakit maupun yang sehat, saya ulangi lagi undangan untuk membangun jembatan kasih dan solidaritas, supaya tidak seorangpun merasa sendirian, melainkan dekat dengan Allah dan menjadi bagian dari keluarga besar anak-anak-Nya (bdk. Audiensi Umum, 15 November 2006)

4. Ketika merenungkan bilur-bilur Yesus, kita arahkan pandangan kita kepada Hati-Nya yang Mahakudus di mana kasih Allah dinyatakan dengan cara yang paling agung. Hati Tersuci adalah Kristus yang tersalib, dengan lambung-Nya tertembus oleh tikaman tombak, dari sanalah darah dan air mengalir (bdk. Yoh. 19:34): “simbol Sakramen-sakramen Gereja, sehingga semua orang yang ditarik kepada hati Sang Juru Selarnat, boleh minum dari sumber air keselamatan abadi” (Missa Romawi, Prefasi Hari Raya Hati Kudus Yesus). Khususnya kamu semua yang sedang menderita sakit, hendaknya merasakan betapa dekatnya dengan Hati Kudus Yesus yang penuh kasih dan ambilah air dari mata air ini dengan iman dan sukacita, sambil bercloa : “Air lambung Kristus, bersihkanlah aku. Sengsara Kristus, kuatkanlah aku. 0 Yesus yang baik, dengarkanlah aku. Dalam luka-luka-Mu, sembunyikanlah aku” (doa St. Ignatius Loyola).

5. Mengakhiri pesan saya untuk Hari Orang Sakit Sedunia ini, saya ingin mengungkapkan kasih saya bagi setiap orang, sambil merasakan keterlibatan saya di dalam penderitaan dan pengharapanmu sehari-hari dalam persekutuan dengan Kristus yang tersalib dan bangkit, hingga la memberimu damai dan kesembuhan batin. Semoga bersama Kristus yang telah wafat dan bangkit, Santa Perawan Maria yang kepadanya kita mohon dengan penuh iman, selalu menjagamu karena gelarnya adalah Pelindung orang sakit dan Penghibur orang yang menderita. Di bawah kaki salib, terpenuhilah di sana nubuat Simeon: hatinya sebagai Ibu tertembus pedang (bdk. Luk. 2:35). Dari jurang penderitaannya, karena partisipasinya dalam penderitaan Puteranya, Maria dimampukan menerima misi barunya: menjadi ibu Kristus di dalam anggota-anggota (Gereja-Nya). Pada saat penyaliban, Yesus menyerahkan kepada Maria setiap murid-Nya: “Inilah anakmu” (bdk. Yoh. 19:26-27). Kasih keibuan Maria bagi Putera-nya menjadi kasih keibuan bagi setiap orang di antara kita dalam penderitaan kita sehari¬hari (bdk. Khotbah di Lourdes, 15 September 2008).

Saudara-saudari terkasih, pada Hari Orang Sakit Sedunia ini, saya juga mengundang para penguasa untuk lebih menginventasikan lagi sistem-sistem kesehatan yang dapat menyediakan bantuan dan dukungan bagi yang menderita, terlebih mereka yang paling miskin dan yang paling membutuhkan. Dan bagi semua keuskupan, saya menyampaikan salam kasih kepada para uskup, para imam, kaum religius, para seminaris, para petugas kesehatan, para sukarelawan dan semua orang yang membaktikan dirinya dengan kasih untuk merawat dan meringankan luka-luka setiap saudara-saudari yang sakit, di rumah-rumah sakit atau di panti-panti perawatan, maupun dalam keluarga. Dalam wajah-wajah orang-orang yang sakit itu, ketahuilah bagaimana agar dapat melihat Wajah di antara wajah-wajah itu: Wajah Kristus sendiri.

Saya kenangkan kamu semua dalam doa saya, seraya memberikan berkat khusus apostolik kepada kamu masing-¬masing.

Dari Vatikan, 21 November 2010
Pada Pesta Kristus Raja Semesta Alam
Benediktus XVI

Terjemahan: Karya Kepausan Indonesia, Jl Cut Mutia 10 Jakarta

Pesan Paus untuk Hari Orang Sakit Sedunia ke-18

PESAN PAUS BENEDIKTUS XVI
UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA Ke-18
11 Februari 2010

Saudara-saudari terkasih,

Hari Orang Sakit Sedunia ke-18 akan dirayakan di Basilika Vatikan pada tanggal 11 Februari yang akan datang dengan liturgi peringatan Bunda Maria dari Lourdes. Selain bertepatan dengan ulang tahun ke-25 Lembaga Dewan Kepausan untuk Tenaga Pelayanan Kesehatan (DKTPK) alasan lain adalah untuk bersyukur kepada Tuhan atas pelayanan DKTPK selama ini di bidang pastoral pelayanan kesehatan. Saya dengan sungguh-sungguh berharap bahwa peristiwa ini akan menjadi kesempatan untuk memberi lebih banyak dorongan kerasulan untuk melayani orang-orang sakit dan mereka yang merawat orang sakit.

Dengan peringatan Hari Orang Sakit Sedunia setiap tahun, Gereja bermaksud untuk melaksanakan tugas tersebut seluas-luasnya, yaitu meningkatkan kesadaran komunitas-komunitas Gerejani akan pentingnya pelayanan pastoral dalam dunia pelayanan kesehatan. Pelayanan ini merupakan bagian integral dari peran Gereja yang terukir dalam misi keselamatan Kristus sendiri. Dia, Sang Tabib Ilahi, “berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis (Kis. 10:38). Dalam misteri Sengsara, Wafat dan Kebangkitan-Nya, penderitaan manusia menemukan makna dan cahaya kepenuhannya. Dalam surat Apostoliknya Salvifici Doloris, abdi Allah, Paus Yohanes Paulus II memberikan pesan-pesan yang mencerahkan dalam surat tersebut. “Penderitaan manusiawi, telah mencapai puncaknya dalam kesengsaraan Kristus”, tulis beliau . “Dan pada saat yang sama telah memasuki dimensi yang sama sekali baru dan suatu tatanan baru : penderitaan ini berkaitan dengan kasih … dengan kasih yang menciptakan kebaikan, juga kasih yang menyingkirkan kejahatan melalui penderitaan, karena kebaikan tertinggi dari Penebusan dunia berasal dari Salib Kristus. Salib Kristus telah menjadi suatu sumber bagaikan sungai-sungai yang mengalirkan air hidup” (N.18).
Pada Perjamuan Malam Terakhir, sebelum kembali kepada Bapa, Tuhan Yesus berlutut untuk mencuci kaki para Rasul, mengantisipasi tindakan kasih paling agung di Salib. Dengan tindakan ini Dia mengundang para Murid untuk masuk ke dalam pemahaman kasih yang sama yang diberikan khususnya kepada yang paling hina dan membutuhkan (bdk. Yoh.13:12-17). Dengan mengikuti teladan-Nya, setiap orang Kristen dipanggil untuk menghidupkan kembali, di dalam konteks yang berbeda dan selalu baru, perumpamaan orang Samaria yang baik hati, yang sedang melewati seorang pria yang ditinggalkan oleh perampok setengah mati di pinggir jalan, “dia melihatnya dan tergeraklah hatinya oleh belas kasihan, lalu menghampirinya dan membalut luka-lukanya, menyiraminya dengan minyak dan anggur; kemudian dia menaikkannya ke atas keledai tunggangannya dan membawa dia ke penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: “Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.” (Bdk. Luk.10:33-35).

Di akhir perumpamaan itu, Yesus berkata : “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk.10:37). Kata-kata ini juga Yesus tujukan kepada kita. Yesus mendesak kita untuk membungkuk kepada begitu banyak saudara-saudari kita yang luka secara fisik dan mental yang kita temui di jalan-jalan raya dunia. Dia membantu kita mengerti bahwa dengan rahmat Tuhan, menerima dan bertahan dalam hidup kita sehari-hari, pengalaman sakit dan menderita tersebut dapat menjadi sekolah harapan. Sebenarnya, seperti saya katakan di dalam Ensiklik Spe Salvi, “Bukan dengan mengelak atau melarikan diri dari penderitaan kita sembuh, tetapi lebih oleh kemampuan kita untuk menerimanya, menjadi dewasa melaluinya dan menemukan makna melalui persatuan dengan Kristus, yang menderita dengan kasih yang tak terhingga” (N. 37).

Konsili Ekumenis Vatikan II telah menyadarkan kembali tugas penting Gereja untuk memperhatikan penderitaan manusia. Di dalam Konstitusi dogmatik Lumen Gentium kita membaca bahwa “Kristus diutus Bapa “untuk membawa Kabar Baik kepada orang-orang miskin … menyembuhkan hati yang menyesal (Luk.4:18), untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk.19:10) … Dengan cara yang sama, Gereja melayani dengan kasihnya semua orang yang sedih karena kesengsaraan manusia dan dia mengenali di dalam orang-orang yang miskin dan menderita, gambaran kemiskinannya dan penderitaan Sang Pendiri. Gereja melakukan semua itu dengan kekuatannya untuk meringankan kebutuhan mereka dan di dalam mereka dia berusaha melayani Kristus” (N.8). Tindakan kemanusiaan dan rohani komunitas Gerejani bagi orang-orang sakit dan menderita telah ditunjukkan selama berabad-abad dalam banyak bentuk dan struktur pelayanan kesehatan, termasuk ciri khas kelembagaannya. Di sini saya ingin mengingatkan kembali komunitas-komunitas yang langsung dikelola oleh keuskupan-keuskupan dan mereka yang lahir dari kemurahan hati berbagai lembaga religius. Ini adalah “warisan” yang berharga yang berhubungan dengan kenyataan bahwa “kasih… perlu diorganisir sebagai syarat untuk pelayanan bersama secara teratur” (Ensiklik Deus Caritas Est, N. 20). Pembentukan lembaga Dewan Kepausan untuk Tenaga Pelayanan Kesehatan 25 tahun yang lalu adalah untuk memenuhi keprihatinan Gereja bagi dunia kesehatan. Dan saya harus mengatakan lebih lanjut bahwa dalam sejarah dan kebudayaan, saat ini kita rasakan bahwa begitu besar kebutuhan akan kehadiran Gereja yang penuh perhatian dan berjangkauan luas untuk mendampingi mereka yang sakit, dan juga kehadiran Gereja dalam masyarakat yang dapat secara efektif menyampaikan nilai-nilai Injili yang melindungi kehidupan manusia dalam semua tahapnya, dari pembuahan hingga kematian secara alamiah.

Di sini saya akan menyampaikan Pesan untuk orang-orang Miskin, Sakit dan Menderita yang oleh Bapak-bapak Konsili ditujukan kepada dunia di penghujung Konsili Ekumenis Vatikan II : “Kamu semua yang merasa berbeban Salib berat,” kata mereka “kamu yang menangis… kamu korban-korban penderitaan yang tak dikenal, tabahkanlah hatimu. Kamulah anak-anak Kerajaan Allah yang terpilih, Kerajaan harapan, kebahagiaan dan hidup. Kamu adalah saudara-saudara Kristus yang menderita, dan bersama Dia, jika kamu berkenan, kamu dapat menyelamatkan dunia” (Dokumen-dokumen Vatican II, Walter M. Abbot, SJ). Dengan hangat saya berterima kasih kepada mereka yang setiap hari “melayani orang-orang sakit dan menderita”, agar “kerasulan belas kasih Tuhan menjadi semakin efektif menanggapi harapan-harapan dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat” (Bdk. Yohanes Paulus II, Konstitusi Apostolik Pastor Bonum, Art. 152).

Dalam Tahun Imam ini, pikiran saya tertuju secara khusus kepada Anda, para Imam terkasih, “Duta orang-orang Sakit”, tanda dan sarana belas kasihan Kristus yang harus menggapai setiap orang yang didera oleh penderitaan. Saya menghimbau Anda, para Uskup terkasih, untuk bekerja keras dalam memberi mereka perhatian dan penghiburan. Semoga waktu yang dihabiskan untuk berada di samping mereka yang sedang menjalani pencobaan melahirkan buah-buah rahmat untuk semua orang, itulah dimensi lain dari pelayanan pastoral. Akhirnya saya ingin berbicara kepada kalian, orang-orang sakit terkasih dan saya minta kalian berdoa dan mempersembahkan penderitaan kalian untuk para imam, supaya mereka boleh melanjutkan untuk setia pada panggilan mereka dan pelayanan mereka menjadi kaya dengan buah-buah rohani demi kepentingan seluruh Gereja.

Dengan perasaan yang mendalam, saya memohon, untuk orang-orang sakit, juga untuk semua yang merawat mereka, perlindungan keibuan Bunda Maria Salus Infirmorum, dan saya dengan sepenuh hati memberi Berkat Apostolik kepada mereka semua.

Dari Vatikan, 22 November 2009,
pada Hari Raya Kristus Raja
Benediktus PP XVI
Disebarluaskan oleh :
BN Karya Kepausan Indonesia
Jl. Cut Meutia 10, JAKARTA 10340
Telp./Fax.: 021-31924819
Email : kki-kwi@kawali.org