Keputusan Dan Rekomendasi Rapat Pimpinan Rumah Sakit-Rumah Sakit Anggota PERDHAKI Kupang, 10 – 13 Agustus 2017

Keputusan Dan Rekomendasi Rapat Pimpinan

Rumah Sakit-Rumah Sakit Anggota PERDHAKI

Kupang, 10 – 13 Agustus 2017

 

Rapat Pimpinan rumah sakit-rumah sakit anggota Perdhaki telah berlangsung di Hotel Aston, Kupang, Nusa Tenggara Timur, tanggal 10 – 13 Agustus 2017. Rapat tersebut dihadiri oleh 206 orang perwakilan dari rumah sakit-rumah sakit anggota Perdhaki. Setelah mendengarkan masukan-masukan dan mengadakan diskusi-diskusi yang mendalam di bawah tema: Strategi Rumah Sakit untuk tetap berkembang di Era JKN, rapat memutuskan dan merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

 

  1. Rumah sakit-rumah sakit anggota PERDHAKI perlu menggalang dana filantropis (kemanusiaan) dari berbagai pihak baik di dalam gereja maupundi luar gereja
  2. Rumah sakit-rumah sakit anggota PERDHAKI harus tetap melakukan misi kemanusiaan namun sehat financial.
  3. Rumah sakit-rumah sakit anggota PERDHAKI perlu tetap mengikut perkembangan teknologi digital dalam pelayanannya.
  4. Komite Medis-Komite Medis rumah sakit-rumah sakit anggota PERDHAKI perlu memberikan dukungan maksimal kepada managemen rumah sakitnya masing-masing.
  5. Rumah sakit-rumah sakit anggota PERDHAKI didorong untuk mulai melaksanakan pengelolaan Rumah Sakit dengan sistem Korporatisasi demi meningkatkan daya saing di era JKN.
  6. PERDHAKI Pusat perlu mengsosialisasikan pentingnya korporasi bagi keberlangsungan pelayanan kesehatan yang dinaungi oleh tarekat atau keuskupan.
  7. PERDHAKI mendorong kerja sama yang lebih intens antara rumah sakit besar dan rumah sakit kecil yang menjadi anggotanya dalam upaya memenuhi kebutuhan tenaga dokter umum, dokter spesialis dan tenaga kesehatan dengan kompetensi khusus lainya melalui penerapan Sister Hospital
  8. Rumah sakit-rumah sakit anggota PERDHAKI didorong untuk merealisasikan kerja sama dengan APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) demi mewujudkan pelayanan kesehatan yang maksimal dan mendukung pengembangan pendidikan katolik.
  9. Rumah sakit-rumah sakit anggota PERDHAKI perlu mulai menyusun Clinical Pathway untuk efisiensi dalam pelayanan pasien.
  10. PT Karya Dharma Utama milik Perdhaki perlu dihidupkan kembali untuk mendukung karya pelayanan kesehatan para anggotanya maupun Perdhaki sebagai organisasi.
  11. PERDHAKI Pusat perlu mengambil peran lebih aktif dalam memfasilitasi kepentingan para anggotanya baik dalam relasi internal (antara para anggotanya) maupun antara para anggota Perdhaki dengan pihak luar, misalnya Pemerintah dalam hal-hal seperti kebijakan JKN, FORNAS, dll.
  12. PERDHAKI Wilayah perlu ditingkatkan perannya agar dapat membantu para anggotanya secara maksimal.

Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS)

Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) yang diperingati pada tanggal 24 Maret setiap tahun
dirancang untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa Tuberkulosis (TBC) sampai saat ini masih menjadi epidemic di dunia. Di Indonesia Tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor satu diantara penyakit menular lainnya.

Pelaksanaan Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2018 dapat dijadikan sebagai
momentum dimana kesadaran masyarakat tentang bahaya TBC meningkat dan dilakukan melalui aksi Gerakan Temukan TBC Obati Sampai Sembuh (TOSS TBC) yang merupakan kegiatan penemuan kasus secara aktif dan masif sekaligus mendorong pasien TBC untuk memeriksakan diri dan menjalani pengobatan sampai tuntas.

Sejalan dengan Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) melalui Program Indonesia Sehat
dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) Indonesia mengambil Tema Peringatan HTBS tahun 2018 yaitu Peduli TBC, Indonesia Sehat dengan aksi Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TBC). Melalui tema dan aksi ini diharapkan seluruh masyarakat lintas program dan lintas sektor dengan mendukung program Pengendalian TBC mampu menempatkan TBC sebagai isu utama di semua sektor.

Upaya pencegahan dan Pengendalian TBC tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan
semata tetapi perlu komitmen multisektoral karena permasalahan Tuberkulosis terbesarnya adalah masalah non teknis. Penyebarluasan informasi tentang TBC kepada masyarakat akan meningkatkan pengetahuan dan kepedulian untuk mencegah penularan TBC. Sehubungan dengan hal tersebut Kemenkes telah membuat materi KIE untuk kampanye Pencegahan Penularan TBC antara lain berupa Spanduk, Leaflet, Postter, dll, seperti terlampir dibawah ini.

Mohon kita semua dapat membantu menyebarluaskan informasi tentang TBC ini kepada masyarakat luas agar aksi TOSS TBC dapat berhasil.

JF

Leaflet TOSS TBC

Poster dan Materi Publikasi Lainnya (silakan klik pada gambar)

 

RAPAT PIMPINAN RUMAH SAKIT-RUMAH SAKIT ANGGOTA PERDHAKI

KEPUTUSAN DAN REKOMENDASI RAPAT PIMPINAN

RUMAH SAKIT-RUMAH SAKIT ANGGOTA PERDHAKI

Kupang, 10 – 13 AGUSTUS 2017

Rapat Pimpinan rumah sakit-rumah sakit anggota Perdhaki telah berlangsung di Hotel Aston, Kupang, Nusa Tenggara Timur, tanggal 10 – 13 Agustus 2017. Rapat tersebut dihadiri oleh 206 orang perwakilan dari rumah sakit-rumah sakit anggota Perdhaki. Setelah mendengarkan masukan-masukan dan mengadakan diskusi-diskusi yang mendalam di bawah tema: Strategi Rumah Sakit untuk tetap berkembang di Era JKN, rapat memutuskan dan merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Rumah sakit-rumah sakit anggota PERDHAKI perlu menggalang dana filantropis (kemanusiaan) dari berbagai pihak baik di dalam gereja maupun di luar gereja
  2. Rumah sakit-rumah sakit anggota PERDHAKI harus tetap melakukan misi kemanusiaan namun sehat financial.
  3. Rumah sakit-rumah sakit anggota PERDHAKI perlu tetap mengikut perkembangan teknologi digital dalam pelayanannya.
  4. Komite Medis-Komite Medis rumah sakit-rumah sakit anggota PERDHAKI perlu memberikan dukungan maksimal kepada managemen rumah sakitnya masing-masing.
  5. Rumah sakit-rumah sakit anggota PERDHAKI didorong untuk mulai melaksanakan pengelolaan Rumah Sakit dengan sistem Korporatisasi demi meningkatkan daya saing di era JKN.
  6. PERDHAKI Pusat perlu mengsosialisasikan pentingnya korporasi bagi keberlangsungan pelayanan kesehatan yang dinaungi oleh tarekat atau keuskupan.
  7. PERDHAKI mendorong kerja sama yang lebih intens antara rumah sakit besar dan rumah sakit kecil yang menjadi anggotanya dalam upaya memenuhi kebutuhan tenaga dokter umum, dokter spesialis dan tenaga kesehatan dengan kompetensi khusus lainya melalui penerapan Sister Hospital
  8. Rumah sakit-rumah sakit anggota PERDHAKI didorong untuk merealisasikan kerja sama dengan APTIK (Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik) demi mewujudkan pelayanan kesehatan yang maksimal dan mendukung pengembangan pendidikan katolik.
  9. Rumah sakit-rumah sakit anggota PERDHAKI perlu mulai menyusun Clinical Pathway untuk efisiensi dalam pelayanan pasien.
  10. PT Karya Dharma Utama milik Perdhaki perlu dihidupkan kembali untuk mendukung karya pelayanan kesehatan para anggotanya maupun Perdhaki sebagai organisasi.
  11. PERDHAKI Pusat perlu mengambil peran lebih aktif dalam memfasilitasi kepentingan para anggotanya baik dalam relasi internal (antara para anggotanya) maupun antara para anggota Perdhaki dengan pihak luar, misalnya Pemerintah dalam hal-hal seperti kebijakan JKN, FORNAS, dll.
  12. PERDHAKI Wilayah perlu ditingkatkan perannya agar dapat membantu para anggotanya secara maksimal.
foto-bersama_rapim2.jpg
Foto bersama peserta RAPIM di Kupang

Rapat Pimpinan Rumah Sakit 2017 (RAPIM RS)

Rapat Pimpinan Rumah Sakit 2017 (RAPIM RS) dilaksanakan  pada :
Waktu    :  Kamis s.d. Minggu tanggal 10  – 13 Agustus  2017
Tempat  :  Hotel Aston, Jl. Timor Raya No. 142, Kelapa Lima, Kota Kupang, NTT
Tema      : “Strategi RS untuk tetap tumbuh dan berkembang di era JKN”

Untuk informasi lebih lengkap dapat menghubungi Sekretariat PERDHAKI di no. telephone (021) 3140455, 3909245,
Email : perdhaki@cbn.net.id dan sekretariatperdhaki@yahoo.com

Increasing HIV cases among mothers and babies : what should we do ?

HIV and AIDS is a pandemic that cause health effects   Socio-economic and political.

Cases of people infected with HIV / AIDS in the Islands Province, East Nusa Tenggara (NTT) increased over time, like an iceberg phenomenon, which is troubling the people.

Until the August 2016, person with (PLWHA) most are housewives (IRT), which is 780 people, following the second private sector workers 610 people, farmers 410 people, as well as commercial sex workers (CSWs) 155 people. It was submitted Daily administrators KPA NTT, Gusti Brewon. And   105 babies in East Nusa Tenggara (NTT) was detected suffering from Human Immunodeficiency Virus (HIV) .     Of this amount, most are in the city of Kupang and Belu district, the rest are scattered in other districts in the province based on   these islands.

Cases were first discovered in Belu district in 2004.

HIV-AIDS cases in Belu until the month of August 2016, amounted to 764 cases could be identified. Only data from January 2016 until August 2016, there is the addition of 73 cases, (recorded HIV and AIDS 41 32 total 73).

Noted, the risk of transmission is still dominated housewife, totaling 312 people.             Belu regencies consists of 12 districts. The entire District in Belu had been infected with this deadly disease.

On 7th September, PERDHAKI disseminate HIV / AIDS to the Religious Leaders. These  event, was attended by the Bishop  of  Diocese    Atambua.

At the last event, there are testimonials from people living with HIV   (PLWHA)  One testimonial giver is a child who was 9 years   old. He was still in elementary school. Both the child’s parents have died of HIV / AIDS, when the child was an infant (aged 2 months) He was brought  up and nurtured  by her grandmother.

In an effort to reduce the number of transmission of HIV/ AIDS in Belu  regency  from spreading,need to build intersectoral partnering, among  religious institutions, inter-Social Organization (NGO), together hand in hand, tackling the deadly disease.

Hidh incidence HIV/AIDS  in NTT, especially in the group of  housewives, would threatenfuture generations,  it is  likely  transmit  the virus to the  baby thet will  be born. (gr 4 )

Sekretary of the National AIDS Commission ( KPA) NTT, dr Husein Pancratius said, in the last 10 years ( 2005 – 2015 ) as many as 1062 residents NTT died because of  HIV/AIDS. These  are People  with HIV who were registered while those not recorded, the number are still very much more   numerous than the data that got from the Health Office. Furthermore he said that people with HIV/IDS ( PLWHA), majority  aged between 20 and 35 Years old ( 10 percent of patients with HIV/AIDS  adolesence)

Tnat’s  why  “ sosialization need to be held in schools, villages, groups at risk, community Organization  and religious  institutions.

Now we make the mapping  of the spread  of HIV/AIDS in the Belu Regency, especially among the housewives,  we  would like to strengthen these group   with give them awareness about   the condition and situation, so  they  be able to perform action to  prevent  transmission the HIV virus from others.

We hope,   be able to  eradicate the virus  HIV by the year 2050.

            Cumulative number of cases of HIV /AIDS  in NTT  – 2012 ( in 22 districts) ( graf.1)

The  spread of HIV / AIDS  in NTT is  extremely fast.   In Belu Regency  we can see,  untill August   2016   the number of HIV/AIDS cases  are  949.

                The cumulative  number of  HIV/AIDS cases in Belu Regency   till  August 2016.( graf.2)

gbr-1

Para tokoh Agama peserta sosialisasi HIV AIDS di Keuskupan Atambua.

gbr-2

Para tokoh Agama peserta sosialisasi HIV AIDS di Keuskupan Atambua

gbr-3

(Rasti, 9th) foto bersama Bapa Uskup Mgr. Dominikus Saku dan Sekretaris KPA Prop.NTT, dr.Husein Pancratius

gbr-4

(Rasti, 9th) sedang memberikan testimoni di pandu Sr.Margaretha,FSGM dari Perdhaki Pusat

Rangkuman Hasil Rapim RS Anggota Perdhaki

Rangkuman Hasil Rapim RS Anggota Perdhaki
Palembang, 6-9 Agustus 2015

Rapat Pimpinan RS Anggota Perdhaki dilaksanakan pada tanggal 6-9 Agustus 2015 di Palembang dengan tema mengembangkan upaya inovatif mandiri guna menjawab tantangan JKN melalui penerapan efisiensi dan efektivitas karya kesehatannya dalam rangka menjamin akses penduduk terhadap pelayanan kesehatan tanpa hambatan finansial.

Rapim dihadiri oleh 205 peserta yang terdiri atas unsur pemilik dan pengelola RS anggota Perdhaki, serta manajemen Perdhaki pusat dan daerah. Sesuai tema tersebut, Rapim menyediakan kesempatan memberikan masukan sebagai berikut:
1. Laporan ketua panitia pelaksana Rapim, oleh Dr. Tejo Kuncoro
2. Sambutan Ketua Badan Pengurus Perdhaki Pusat, oleh DR. Dr. Widyastuti Wibisana MSc(PH)
3. Sambutan Kadinkes Provinsi Sumsel oleh Dra. Listy Apt
4. Keterlibatan RS Anggota Perdhaki dalam JKN dan strategi pelaksanaannya oleh Dr. dr. Widyastuti Wibisana MSc(PH), Ketua Badan pengurus Perdhaki Pusat
5. Kebijakan dan Regulasi tentang Alat Kesehatan dan HTA untuk efisiensi di Rumah Sakit oleh Dra. Rully Makarawo Apt, Kasubdit Penilaian Produk Diagnostik dan PKRT, Kemenkes
6. Inovasi yang Mandiri dalam Pelaksanaan JKN di Rumah Sakit oleh DR.Dr. Fathema Djan SpB, SpBTKP (KP) MMR, Direktur Utama RS Pelni
7. Upaya Efisiensi dalam Berbagai Bidang Pelayanan Rumah Sakit oleh Dr. Arifin, Direktur RS Santa Maria Pakanbaru
8. Pengembangan Jejaring Antar Unit Kesehatan Anggota Perdhaki dan dengan instansi lain oleh Dr. Stephanus Indradjaya PhD.
9. Dampak Masyarakat Ekonomi Asean terhadap Rumah Sakit Anggota Perdhaki oleh Drs.Jos Gustama
10. Pelayanan pasien BPJS oleh dr.Ediansah,MARS, Direktur RS An-Nisa
11. Kunjungan lapangan ke Rumah Sakit Charitas Palembang
12. Diskusi Kelompok tentang Rencana Pengembangan Upaya Efisiensi dan Inovasi Mandiri Rumah Sakit
13. Diskusi Kelompok tentang Peran Perdhaki Wilayah Membantu Unit Kesehatan Anggota dalam Pengembangan Upaya Efisiensi dan Inovatif Mandiri.
14. Diskusi kelompok tentang Pemantapan Jejaring Antar Unit Kesehatan Anggota Perdhaki dan dengan Institusi lain.
15. Diskusi Kelompok tentang Revisi AD/ART Perdhaki untuk menyesuaikan dengan perkembangan pembangunan kesehatan di Indonesia.

Setelah membahas masukan tersebut di atas, segenap peserta Rapim RS Anggota Perdhaki mencapai kesepakatan bersama atas hal-hal berikut:
1. JKN sebagai program nasional yang diluncurkan sejak 1 Januari 2014 pada dasarnya adalah gerakan global guna meningkatkan akses penduduk terhadap fasyankes tanpa hambatan finansial. JKN menerapkan prinsip asuransi sosial yang dikelola BPJS-Kesehatan dengan kerjasama fasyankes bagi seluruh penduduk Indonesia. Cakupan awal dengan separuh penduduk secara bertahap akan mencapai cakupan semesta pada tahun 2019. Peningkatan kepesertaan JKN berdampak luar biasa bagi fasyankes pemerintah maupun swasta, termasuk unit kesehatan anggota Perdhaki. Mulai tampak berkurangnya pemanfaatan penduduk atas fasyankes yang belum terlibat dalam program JKN.

2. Visi dan misi karya kesehatan anggota Perdhaki pada hakekatnya sangat sejalan dengan tujuan JKN, namun penyesuaian terhadap sistem baru dalam relasi fasyankes dengan BPJS-Kesehatan yang tidak otomatis dengan fasyankes swasta, memperlambat keterlibatan unit-unit kesehatan anggota Perdhaki dalam penyelenggaraan JKN.

3. Untuk terus meningkatkan kontribusi dalam penyelenggaraan JKN, diperlukan kerjasama erat secara internal di antara pemilik dan pelaksana unit-unit kesehatan anggota Perdhaki, dan relasi inklusif dengan para pemangku kepentingan JKN, khususnya BPJS, Kementerian dan Dinas Kesehatan serta institusi lain sesama fasyankes di setiap tingkat. Ini memerlukan peningkatan kemampuan dalam pengelolaan fasyankes Perdhaki di bidang peningkatan mutu/efektivitas dan tatakelola biaya/efisiensi pelayanan dalam penerapan prinsip-prinsip Kendali Mutu dan Kendali Biaya (KMKB), yang dituntut dalam penyelenggaraan JKN.

4. Pengalaman yang dibagikan oleh beberapa rumah sakit yang sudah terlibat penuh dalam penyelenggaraan JKN menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas unit-unit kesehatan anggota Perdhaki dalam mengembangkan upaya kreatif dan inovatif mandiri, antara lain melalui contoh-contoh sebagai berikut:

4.1 Perubahan secara mendasar dan menyangkut berbagai bidang dalam KMKB pelayanan rumah sakit antara lain dengan menggunakan sistem Gemba dan metode Kaizen serta Lean Management. Sistem dan metode tersebut, sebagaimana yang dijalankan di RS Pelni dan RS An-Nisa ini menjadi gerakan bersama yang disepakati oleh seluruh karyawan dan diterapkan secara konsekuen, dengan mengurangi waste melalui 7 ways and downtime.

4.2 Upaya efisiensi dalam berbagai bidang pelayanan yang dilakukan pada pelayanan farmasi, ruang bedah, rawat inap dan efisiensi pengelolaan tempat tidur, rawat jalan, laboratorium, radiologi serta menimimalkan kesalahan dan risiko. Sebagaimana diungkapkan sebagai pengalaman pada RS St. Maria Pakanbaru yang sukses melakukan efisiensi pelayanan dan memperoleh akreditasi Rumah Sakit.

4.3 Pengembangan jejaring oleh unit kesehatan anggota Perdhaki baik secara internal maupun eksternal harus dilakukan untuk mempertahankan eksistensi organisasi, baik dalam bentuk formal maupun informal. Jejaring tersebut dapat dilakukan melalui kerjasama dalam pengembangan pooled procurement, penerapan Formularium Nasional, Health Technology Assessment, E-Catalog, Clinical Pathway dan Hospital Based Rate untuk costing dan tarif pelayanan serta akreditasi untuk mutu pelayanan. Hal ini akan memberi manfaat kohesif dalam branding dan kesatuan tindak strategis karya kesehatan dalam tubuh Perdhaki serta kemudahan bekerjasama dengan pihak pemerintah, BPJS-Kesehatan, asosiasi rumah sakit/PERSI, dsbnya.

5. Di tengah turbulensi tuntutan pembaharuan manajemen dan sistem pelayanan fasyankes Perdhaki dalam penyelenggaraan JKN, diperlukan juga kewaspadaan atas berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean/MEA pada Januari 2016.
Esensi MEA adalah pentingnya meningkatkan daya saing yang akan berdampak terhadap fasyankes, termasuk unit fasyankes anggota Perdhaki. Meski tersedia aturan yang menyaring masuknya tenaga kesehatan asing, namun tiada upaya yang dapat menghambat pasien Indonesia mencari pengobatan keluar negeri. Daya saing perlu dipahami sebagai upaya untuk memberikan hasil yang lebih baik dan membangun mutu, efisiensi dan brand karya kesehatan Perdhaki sebagai unsur sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.

6. Revisi AD/ART Organisasi Perdhaki. Perkembangan sosial-politik dalam pembangunan kesehatan yang dipengaruhi oleh banyak faktor kemajuan iptek kedokteran dan kesehatan serta kebijakan JKN dan MEA, memerlukan penyesuaian baru dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Perdhaki sebagaimana sudah dikemukakan sebagai rekomendasi dalam rakorwil beberapa tahun terakhir. Untuk itu, Rapim mengusulkan agar Badan Pengurus Perdhaki Pusat membentuk Tim Penyusun Draft Perubahan AD/ART Perdhaki yang terdiri dari Badan Pengurus Pusat ditambah ahli hukum terkait, dengan koordinasi dan konsultasi Perdhaki Daerah/Wilayah. Diharapkan draft final pasca konsultasi Wilayah sudah rampung selambat-lambatnya Februari 2016, untuk disahkan pada RPA tahun 2016.

Ringkasan Rapat Pimpinan Perdhaki beserta hasil-hasil diskusi kelompok menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Rangkuman ini.

Demikian kesepakatan peserta Rapim RS Perdhaki untuk dicermati dan ditnidaklanjuti manajemen dan unit kesehatan anggota Perdhaki dengan seksama, hingga penilaian pelaksanaannya dilaporkan manajemen pusat dan daerah pada RPA 2016.

Palembang, 9 Agustus 2015
Segenap peserta Rapim RS Perdhaki