Rapat Pimpinan Rumah Sakit 2017 (RAPIM RS)

Rapat Pimpinan Rumah Sakit 2017 (RAPIM RS) dilaksanakan  pada :
Waktu    :  Kamis s.d. Minggu tanggal 10  – 13 Agustus  2017
Tempat  :  Hotel Aston, Jl. Timor Raya No. 142, Kelapa Lima, Kota Kupang, NTT
Tema      : “Strategi RS untuk tetap tumbuh dan berkembang di era JKN”

Untuk informasi lebih lengkap dapat menghubungi Sekretariat PERDHAKI di no. telephone (021) 3140455, 3909245,
Email : perdhaki@cbn.net.id dan sekretariatperdhaki@yahoo.com

Increasing HIV cases among mothers and babies : what should we do ?

HIV and AIDS is a pandemic that cause health effects   Socio-economic and political.

Cases of people infected with HIV / AIDS in the Islands Province, East Nusa Tenggara (NTT) increased over time, like an iceberg phenomenon, which is troubling the people.

Until the August 2016, person with (PLWHA) most are housewives (IRT), which is 780 people, following the second private sector workers 610 people, farmers 410 people, as well as commercial sex workers (CSWs) 155 people. It was submitted Daily administrators KPA NTT, Gusti Brewon. And   105 babies in East Nusa Tenggara (NTT) was detected suffering from Human Immunodeficiency Virus (HIV) .     Of this amount, most are in the city of Kupang and Belu district, the rest are scattered in other districts in the province based on   these islands.

Cases were first discovered in Belu district in 2004.

HIV-AIDS cases in Belu until the month of August 2016, amounted to 764 cases could be identified. Only data from January 2016 until August 2016, there is the addition of 73 cases, (recorded HIV and AIDS 41 32 total 73).

Noted, the risk of transmission is still dominated housewife, totaling 312 people.             Belu regencies consists of 12 districts. The entire District in Belu had been infected with this deadly disease.

On 7th September, PERDHAKI disseminate HIV / AIDS to the Religious Leaders. These  event, was attended by the Bishop  of  Diocese    Atambua.

At the last event, there are testimonials from people living with HIV   (PLWHA)  One testimonial giver is a child who was 9 years   old. He was still in elementary school. Both the child’s parents have died of HIV / AIDS, when the child was an infant (aged 2 months) He was brought  up and nurtured  by her grandmother.

In an effort to reduce the number of transmission of HIV/ AIDS in Belu  regency  from spreading,need to build intersectoral partnering, among  religious institutions, inter-Social Organization (NGO), together hand in hand, tackling the deadly disease.

Hidh incidence HIV/AIDS  in NTT, especially in the group of  housewives, would threatenfuture generations,  it is  likely  transmit  the virus to the  baby thet will  be born. (gr 4 )

Sekretary of the National AIDS Commission ( KPA) NTT, dr Husein Pancratius said, in the last 10 years ( 2005 – 2015 ) as many as 1062 residents NTT died because of  HIV/AIDS. These  are People  with HIV who were registered while those not recorded, the number are still very much more   numerous than the data that got from the Health Office. Furthermore he said that people with HIV/IDS ( PLWHA), majority  aged between 20 and 35 Years old ( 10 percent of patients with HIV/AIDS  adolesence)

Tnat’s  why  “ sosialization need to be held in schools, villages, groups at risk, community Organization  and religious  institutions.

Now we make the mapping  of the spread  of HIV/AIDS in the Belu Regency, especially among the housewives,  we  would like to strengthen these group   with give them awareness about   the condition and situation, so  they  be able to perform action to  prevent  transmission the HIV virus from others.

We hope,   be able to  eradicate the virus  HIV by the year 2050.

            Cumulative number of cases of HIV /AIDS  in NTT  – 2012 ( in 22 districts) ( graf.1)

The  spread of HIV / AIDS  in NTT is  extremely fast.   In Belu Regency  we can see,  untill August   2016   the number of HIV/AIDS cases  are  949.

                The cumulative  number of  HIV/AIDS cases in Belu Regency   till  August 2016.( graf.2)

gbr-1

Para tokoh Agama peserta sosialisasi HIV AIDS di Keuskupan Atambua.

gbr-2

Para tokoh Agama peserta sosialisasi HIV AIDS di Keuskupan Atambua

gbr-3

(Rasti, 9th) foto bersama Bapa Uskup Mgr. Dominikus Saku dan Sekretaris KPA Prop.NTT, dr.Husein Pancratius

gbr-4

(Rasti, 9th) sedang memberikan testimoni di pandu Sr.Margaretha,FSGM dari Perdhaki Pusat

Rangkuman Hasil Rapim RS Anggota Perdhaki

Rangkuman Hasil Rapim RS Anggota Perdhaki
Palembang, 6-9 Agustus 2015

Rapat Pimpinan RS Anggota Perdhaki dilaksanakan pada tanggal 6-9 Agustus 2015 di Palembang dengan tema mengembangkan upaya inovatif mandiri guna menjawab tantangan JKN melalui penerapan efisiensi dan efektivitas karya kesehatannya dalam rangka menjamin akses penduduk terhadap pelayanan kesehatan tanpa hambatan finansial.

Rapim dihadiri oleh 205 peserta yang terdiri atas unsur pemilik dan pengelola RS anggota Perdhaki, serta manajemen Perdhaki pusat dan daerah. Sesuai tema tersebut, Rapim menyediakan kesempatan memberikan masukan sebagai berikut:
1. Laporan ketua panitia pelaksana Rapim, oleh Dr. Tejo Kuncoro
2. Sambutan Ketua Badan Pengurus Perdhaki Pusat, oleh DR. Dr. Widyastuti Wibisana MSc(PH)
3. Sambutan Kadinkes Provinsi Sumsel oleh Dra. Listy Apt
4. Keterlibatan RS Anggota Perdhaki dalam JKN dan strategi pelaksanaannya oleh Dr. dr. Widyastuti Wibisana MSc(PH), Ketua Badan pengurus Perdhaki Pusat
5. Kebijakan dan Regulasi tentang Alat Kesehatan dan HTA untuk efisiensi di Rumah Sakit oleh Dra. Rully Makarawo Apt, Kasubdit Penilaian Produk Diagnostik dan PKRT, Kemenkes
6. Inovasi yang Mandiri dalam Pelaksanaan JKN di Rumah Sakit oleh DR.Dr. Fathema Djan SpB, SpBTKP (KP) MMR, Direktur Utama RS Pelni
7. Upaya Efisiensi dalam Berbagai Bidang Pelayanan Rumah Sakit oleh Dr. Arifin, Direktur RS Santa Maria Pakanbaru
8. Pengembangan Jejaring Antar Unit Kesehatan Anggota Perdhaki dan dengan instansi lain oleh Dr. Stephanus Indradjaya PhD.
9. Dampak Masyarakat Ekonomi Asean terhadap Rumah Sakit Anggota Perdhaki oleh Drs.Jos Gustama
10. Pelayanan pasien BPJS oleh dr.Ediansah,MARS, Direktur RS An-Nisa
11. Kunjungan lapangan ke Rumah Sakit Charitas Palembang
12. Diskusi Kelompok tentang Rencana Pengembangan Upaya Efisiensi dan Inovasi Mandiri Rumah Sakit
13. Diskusi Kelompok tentang Peran Perdhaki Wilayah Membantu Unit Kesehatan Anggota dalam Pengembangan Upaya Efisiensi dan Inovatif Mandiri.
14. Diskusi kelompok tentang Pemantapan Jejaring Antar Unit Kesehatan Anggota Perdhaki dan dengan Institusi lain.
15. Diskusi Kelompok tentang Revisi AD/ART Perdhaki untuk menyesuaikan dengan perkembangan pembangunan kesehatan di Indonesia.

Setelah membahas masukan tersebut di atas, segenap peserta Rapim RS Anggota Perdhaki mencapai kesepakatan bersama atas hal-hal berikut:
1. JKN sebagai program nasional yang diluncurkan sejak 1 Januari 2014 pada dasarnya adalah gerakan global guna meningkatkan akses penduduk terhadap fasyankes tanpa hambatan finansial. JKN menerapkan prinsip asuransi sosial yang dikelola BPJS-Kesehatan dengan kerjasama fasyankes bagi seluruh penduduk Indonesia. Cakupan awal dengan separuh penduduk secara bertahap akan mencapai cakupan semesta pada tahun 2019. Peningkatan kepesertaan JKN berdampak luar biasa bagi fasyankes pemerintah maupun swasta, termasuk unit kesehatan anggota Perdhaki. Mulai tampak berkurangnya pemanfaatan penduduk atas fasyankes yang belum terlibat dalam program JKN.

2. Visi dan misi karya kesehatan anggota Perdhaki pada hakekatnya sangat sejalan dengan tujuan JKN, namun penyesuaian terhadap sistem baru dalam relasi fasyankes dengan BPJS-Kesehatan yang tidak otomatis dengan fasyankes swasta, memperlambat keterlibatan unit-unit kesehatan anggota Perdhaki dalam penyelenggaraan JKN.

3. Untuk terus meningkatkan kontribusi dalam penyelenggaraan JKN, diperlukan kerjasama erat secara internal di antara pemilik dan pelaksana unit-unit kesehatan anggota Perdhaki, dan relasi inklusif dengan para pemangku kepentingan JKN, khususnya BPJS, Kementerian dan Dinas Kesehatan serta institusi lain sesama fasyankes di setiap tingkat. Ini memerlukan peningkatan kemampuan dalam pengelolaan fasyankes Perdhaki di bidang peningkatan mutu/efektivitas dan tatakelola biaya/efisiensi pelayanan dalam penerapan prinsip-prinsip Kendali Mutu dan Kendali Biaya (KMKB), yang dituntut dalam penyelenggaraan JKN.

4. Pengalaman yang dibagikan oleh beberapa rumah sakit yang sudah terlibat penuh dalam penyelenggaraan JKN menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas unit-unit kesehatan anggota Perdhaki dalam mengembangkan upaya kreatif dan inovatif mandiri, antara lain melalui contoh-contoh sebagai berikut:

4.1 Perubahan secara mendasar dan menyangkut berbagai bidang dalam KMKB pelayanan rumah sakit antara lain dengan menggunakan sistem Gemba dan metode Kaizen serta Lean Management. Sistem dan metode tersebut, sebagaimana yang dijalankan di RS Pelni dan RS An-Nisa ini menjadi gerakan bersama yang disepakati oleh seluruh karyawan dan diterapkan secara konsekuen, dengan mengurangi waste melalui 7 ways and downtime.

4.2 Upaya efisiensi dalam berbagai bidang pelayanan yang dilakukan pada pelayanan farmasi, ruang bedah, rawat inap dan efisiensi pengelolaan tempat tidur, rawat jalan, laboratorium, radiologi serta menimimalkan kesalahan dan risiko. Sebagaimana diungkapkan sebagai pengalaman pada RS St. Maria Pakanbaru yang sukses melakukan efisiensi pelayanan dan memperoleh akreditasi Rumah Sakit.

4.3 Pengembangan jejaring oleh unit kesehatan anggota Perdhaki baik secara internal maupun eksternal harus dilakukan untuk mempertahankan eksistensi organisasi, baik dalam bentuk formal maupun informal. Jejaring tersebut dapat dilakukan melalui kerjasama dalam pengembangan pooled procurement, penerapan Formularium Nasional, Health Technology Assessment, E-Catalog, Clinical Pathway dan Hospital Based Rate untuk costing dan tarif pelayanan serta akreditasi untuk mutu pelayanan. Hal ini akan memberi manfaat kohesif dalam branding dan kesatuan tindak strategis karya kesehatan dalam tubuh Perdhaki serta kemudahan bekerjasama dengan pihak pemerintah, BPJS-Kesehatan, asosiasi rumah sakit/PERSI, dsbnya.

5. Di tengah turbulensi tuntutan pembaharuan manajemen dan sistem pelayanan fasyankes Perdhaki dalam penyelenggaraan JKN, diperlukan juga kewaspadaan atas berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean/MEA pada Januari 2016.
Esensi MEA adalah pentingnya meningkatkan daya saing yang akan berdampak terhadap fasyankes, termasuk unit fasyankes anggota Perdhaki. Meski tersedia aturan yang menyaring masuknya tenaga kesehatan asing, namun tiada upaya yang dapat menghambat pasien Indonesia mencari pengobatan keluar negeri. Daya saing perlu dipahami sebagai upaya untuk memberikan hasil yang lebih baik dan membangun mutu, efisiensi dan brand karya kesehatan Perdhaki sebagai unsur sistem pelayanan kesehatan di Indonesia.

6. Revisi AD/ART Organisasi Perdhaki. Perkembangan sosial-politik dalam pembangunan kesehatan yang dipengaruhi oleh banyak faktor kemajuan iptek kedokteran dan kesehatan serta kebijakan JKN dan MEA, memerlukan penyesuaian baru dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Perdhaki sebagaimana sudah dikemukakan sebagai rekomendasi dalam rakorwil beberapa tahun terakhir. Untuk itu, Rapim mengusulkan agar Badan Pengurus Perdhaki Pusat membentuk Tim Penyusun Draft Perubahan AD/ART Perdhaki yang terdiri dari Badan Pengurus Pusat ditambah ahli hukum terkait, dengan koordinasi dan konsultasi Perdhaki Daerah/Wilayah. Diharapkan draft final pasca konsultasi Wilayah sudah rampung selambat-lambatnya Februari 2016, untuk disahkan pada RPA tahun 2016.

Ringkasan Rapat Pimpinan Perdhaki beserta hasil-hasil diskusi kelompok menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Rangkuman ini.

Demikian kesepakatan peserta Rapim RS Perdhaki untuk dicermati dan ditnidaklanjuti manajemen dan unit kesehatan anggota Perdhaki dengan seksama, hingga penilaian pelaksanaannya dilaporkan manajemen pusat dan daerah pada RPA 2016.

Palembang, 9 Agustus 2015
Segenap peserta Rapim RS Perdhaki

Seminar Pastoral Care “Revolusi Mental”

SEMINAR PASTORAL CARE “REVOLUSI MENTAL”
Ketapang, 18, 19 & 20 April 2015

Latar Belakang
Kehadiran utama Sr. Caroline, PBHK yang sudah berusia kebalikan dari 57 tahun ini di kota ale-ale Ketapang, Kalimantan Barat sebagai fasilitator pelatihan Pastoral Care bagi para suster Ordo Santo Augustinus selama 8 hari, tanggal 8 – 15 April 2015. Ketua Yayasan Pelayanan Kasih Agustinian Sr. Felisitas melihat bahwa kehadiran Sr. Caroline sebuah anugrah yang sangat luar biasa. Sr. Felisitas langsung berkoordinasi dengan dewan kongregasi untuk mengadakan negosiasi dengan Sr. Caroline, PBHK untuk diminta kesediaanya memberikan seminar kepada karyawan/karyawati yang tergabung dalam karya Kesehatan dan karya pendidikan. Harapan tersebut direspon positif oleh Sr. Caroline, PBHK. Mengingat karyawan/karyawati tersebut jumlahnya cukup besar, disepakati bahwa seminar Pastoral Care dibagi menjadi tiga kelompok dengan pembagian waktu untuk kelompok pertama tanggal 18 April 2015 peserta 108 orang staff, kelompok kedua tanggal 19 April 2015 peserta 110 orang staf bertempat di gedung SD Santa Monika, sedangkan kelompok ketiga dilaksanakan tanggal 20 April 2015 peserta 103 orang staf bertempat di ASC (Agustinian Spirituality Center)
Tujuan Seminar:
• Mengenal lebih dalam diri sendiri agar kita dapat mengenal orang lain.
• Mempunyai tujuan hidup yang berarti bagi diri sendiri dan orang lain
• Setiap peserta mengetahui penyebab, akibat dan cara mengobati luka batin

Seminar sehari yang setiap harinya peserta berbeda-beda orangnya dimulai jam 08.00 – dan ditutup jam 17.00 dengan misa penutupan. Dikatakan oleh Sr. Caroline, PBHK bahwa setiap manusia merindukan dan membutuhkan healing agar bisa hidup secara penuh sebagai manusia yang merdeka dan bebas. Masih banyak diantara kita tidak menikmati hidup, karena kita masih membawa dan menyimpan luka tanpa berusaha menyembuhkannya. Konsekuensinya, kita menjadi pribadi – pribadi yang cepat tersinggung, menderita tekanan batin, merasa minder, hidup dalam ketegangan dan ketakutan, cemas, was-was, cepat marah, menyimpan dendam, merasa diri tidak berati, sulit mengampuni.
Oleh karena itu, kunci proses healing adalah kalau kita berani menghadapi dan menerima luka kita, mengolahnya terus menerus selama hidup ini agar kita dapat berkembang sebagai manusia, akan tumbuh menjadi utuh kembali, akan dapat menikmati hidup kembali dan makin menjadi diri yang sebenarnya tidak lagi lifestopping tetapi lifegiving. Namun healing merupakan suatu proses yang membutuhkan waktu yang agak lama. Tetapi proses itu sendiri akan membuat kita menjadi lebih matang, lebih utuh, lebih sungguh menjadi diri sendiri yang bebas dan terintergrasi. Perasaan aman, damai dan tentram dalam diri dan keluarga akan menghasilkan manusia yang produktif di tempat kerja, dimasyarakat dan dimana saja.

Marilah kita mulai dari diri sendiri melatih untuk mengampuni terus menerus, mengampuni dan bertobat supaya hidup kita lebih efektif, supaya kita mampu melayani dengan penuh kasih, supaya tindakan kita nyata dalam kata, sikap dan perbuatan terutama pelayanan kepada mereka yang terdekat dengan kita seperti keluarga, sepekerjaan, lingkungan gereja dan siapa saja yang kita jumpai. Demi profesionalisme dan prestise diperlukan gelar sarjana, namun untuk melayani hanya dibutuhkan sekeping hati yang mengasihi dan sebuah jiwa yang dipenuhi dengan cinta. – Daduanto

Pelatihan Kaderisasi Kepemimpinan Pelayanan Kesehatan Katolik

PELATIHAN KADERISASI KEPEMIMPINAN
PELAYANAN KESEHATAN KATHOLIK
Perdhaki KAJ melalui Forum Kerja Sama 6 RS Katolik
wilayah Jakarta, Tangerang, dan Bekasi
Di RS Sint Carolus Jakarta, 17-18 April 2015

Perkembangan pelayanan kesehatan katolik sudah mulai tumbuh sejak dimulainya kedatangan para penyiar agama katolik/misionaris dari luar negeri. Seiring dengan karya keagamaan dilakukan maka karya kesehatan pun mulai dimunculkan. Dan seperti kita lihat sekarang ini bahwa pelayanan kesehatan katolik sudah sangat berkembang, baik secara kuantitas maupun kualitas. Beberapa contoh RS katolik yang telah mampu membuktikannya selama berpuluh tahun seperti RS Sint Carolus Jakarta, RS St. Elisabeth Semarang, RS Karitas Palembang dan masih banyak lagi.
Namun dengan bukti tersebut ternyata sebenarnya masih terdapat kekhawatiran dari sisi tongkat estafet kepemimpinan. Seperti sudah menjadi hal yang biasa terjadi di layanan kesehatan katolik ketika harus mengalami pergantian pimpinan seakan menjadi suatu kegalauan. Pada banyak pengalaman owner hanya menggantungkan pada sosok tertentu sebagai pemimpin, belum ada figur lain yang siap sebagai pengganti. Institusi dibayangi dengan stagnasi kondisi dan ide-ide pengelolaan. Institusi seakan tidak siap untuk melahirkan suksesorpimpinan. Tongkat estafet pimpinan sulit bergulir dikarenakan institusi tersebut tidak mengkaderisasi calon pemimpin penerusnya, mungkin karena terlena pada pemimpin yang itu-itu saja, atau mungkin tidak ada orang lagi yang mau menjadi pemimpin di institusi tersebut dikarenakan berbagai alasan.
Pada dua dekade terakhir dapat kita lihat mulai banyak tumbuh rumah sakit swasta profit yang semakin variatif dan canggih/modern dalam penyajian pelayanannya. Lalu hal ini menjadi pertanyaan, dapatkah pelayanan kesehatan katolik mampu menandingi persaingan ini? Kita ketahui bersama bahwa sudah menjadi hukum yang tidak bisa dirubah bahwa model pengelolaan rs katolik harus seturut dengan nilai-nilai ajaran Gereja Katolik. Bagaimanakah dengan para pimpinan yang dipercaya untuk mengelolanya? Mampu dan siapkah para pimpinan ini mengelola karya kesehatan katolik yang dipimpinnya untuk tetap survife dan tidak tergilas oleh layanan kesehatan swasta profit yang semakin menjamur? Sebab ketika seorang pimpinan memiliki manuver pengelolaan untuk meningkatkan layanan kesehatan yang dikelolanya sudah terbayang “pagar” yang harus ditaati. Adanya nilai-nilai katolik ini jelas tidak memungkinkan pimpinan institusi kesehatan katolik berkompetisi secara “head to head” dengan rs swasta profit. Dan belum ditambah lagi dengan semakin derasnya regulasi pemerintah yang belakangan ini muncul yang semakin menambah tantangan pengelolaan institusi kesehatan.
Dengan adanya kondisi-kondisi tersebut, maka Perdhaki wilayah Keuskupan Agung Jakarta melalui Forum Kerja Sama 6 Rumah Sakit wilayah Jakarta, Tangerang, Bekasi berinisiatip untuk mengadakan suatu acara yang bertajuk PELATIHAN KADERISASI KEPEMIMPINAN PELAYANAN KESEHATAN KATHOLIK pada tanggal 17-18 April 2015 di RS Sint Carolus Jakarta. Para peserta yang hadir adalah para dokter, perawat dan karyawan non medis yang bertindak sebagai perwakilan ke-6 RS katolik tersebut. Para delegasi mewakili rumah sakit yang berasal dari RS Sint Carolus Jakarta, RS St. Elisabeth Bekasi, RS Atma Jaya Jakarta, RSIA Carolus Summarecon Serpong Tangerang, RSB St Yusup Jakarta dan RSB Panti Nugraha Jakarta. Disamping itu juga hadir perwakilan dari balai kesehatan/klinik pratama yang ada di Jakarta dan wakil dari Perdhaki Pusat.
Para pembicara yang bertindak sebagai narasumber antara adalah Rm. DR. Petrus Canisius Aman OFM, Rm. Greg Soetomo SJ dan Rm. DR. Sudarminta SJ, serta dr. Markus Waseso Suharyono, MARS (Ketua Perdhaki KAJ/Direktur Utama RS Sint Carolus) sebagai keynote speaker. Dr. Markus mengawali acara dengan penyampaian paparannya mengenai kepemimpinan katolik dengan segala hal yang menyertai para pimpinan itu seperti peluang, ancaman, kelebihan dan kekurangan yang ada di institusinya sendiri. Selain itu yang disampaikan adalah perlunya dipikirkan bagaimana melahirkan pemimpin katolik yang visioner dimana memiliki pula kehandalan dan kompetensi yang baik dan sesuai. Rm. Piter Aman dalam materinya tentang dasar biblis layanan kesehatan katolik disampaikan bahwa nilai-nilai ajaran dalam Injil Gereja katolik adalah hal yang fundamental bagi para pekerja kesehatan ini berkarya di RS katolik. Sudah menjadi hal yang demikian harus dipahami bahwa nilai-nilai katolisitas ini akan selalu menjadi rujukan dalam setiap tindakan, misalnya keputusan untuk melakukan tindakan medis tertentu, atau model hospitality dalam menjamu pasien yang dalam hal ini pasien adalah ibarat tamu Ilahi. Rm. Greg Soetomo SJ dalam paparannya tentang leading menyampaikan bahwa dalam memimpin di karya kesehatan katolik hendaknya memiliki elemen-elemen seperti strategi, taktik dan hati. Dengan menggabungkan seluruh elemen tersebut diharapkan akan mampu meningkatkan performa layanan sehari-hari. Topik lain yang disampaikan oleh Rm. Greg yaitu tentang followership, yang di dalam penyampaiannya tersebut ditunjukkan tentang berbagai tipe manusia yang berkarya di layanan kesehatan haruslah orang-orang yang tepat sehingga tidak menimbulkan masalah ke depannya, hal ini perlu pemetaan SDM yang baik. Sedangkan Rm. Sudarminta memberikan paparan tentang bagaimanakah pemimpin yang ideal dalam mengelola organisasi. Pemimpin yang berhasil salah satunya adalah pemimpin yang mampu menyiapkan penerusnya agar organisasi tetap dapat berjalan sesuai harapan dan semakin berkembang. Seluruh peserta mendengarkan dengan begitu antusias, karena para pembicara mampu memberikan paparannya dengan cukup menarik.
Selain diisi dengan mendengarkan materi-materi, pada acara tersebut juga dikemas dengan diskusi kelompok. Dengan adanya diskusi ini muncul ide-ide segar yang nantinya dapat menjadi cikal bakal workshop kepemimpinan katolik lebih lanjut dengan materi yang lebih ditingkatkan.
Hasil pelatihan selama dua hari ini menghasilkan suatu komitmen bersama dengan berbagai masukan dan rekomendasi seperti :
1. Mewujudkan karya pelayanan kesehatan di rumah sakit sebagai karya pelayanan kasih, yang dapat terlihat dari ciri-corak semangat: solider, peduli, murah hati, toleran, preferential option for the poor.
2. Membuat program yang mumpuni bagi kaderisasi tenaga-tenaga medis dan non medis, meningkatkan kompetensi dan “up date” pengetahuan dan keterampilan profesional tenaga medik secara berkala.
3. Melakukan Pemetaan Potensi karyawan.
4. Dibutuhkan “tata kelola” (manajemen) yang partisipatif dan transformatif. Partisipatif : membuka ruang dan peluang agar semua mengambil bagian, disambut dengan baik, diberi kesempatan; transformatif : tidak stagnan, tidak mempertahankan status-quo, tidak pasif, tetapi dinamis, kreatif dan aktif menuju pembaharuan, serta menemukan terobosan-terobosan baru dalam kehadiran dan pelayanan.
5. Menjamin bahwa nilai-nilai dan prisip kristiani tetap menjiwai visi dan misi karya kesehatan serta apa yang menjadi tujuan dan strategi pencapaiannya.
6. Menjamin bahwa nilai-nilai Kristiani terkait dengan layanan kesehatan tidak menjadi luntur oleh arus sekularisme dan materialisme yang menggerus iman dan melemahkan kasih terhadap sesama yang menderita.
7. Melaksanakan Kepemimpinan yang bersifat melayani, memberdayakan, berbelarasa, penuh integritas didasari iman, harapan dan kasih.

Selanjutnya ke depannya diharapkan dapat dibuat workshop serupa dengan materi yang berbeda seperti :
1. KOMUNIKASI YANG EFEKTIF
2. PROBLEM SOLVING
3. ANALISA BEBAN PEKERJAAN
4. LEAN HOSPITAL

Setelah acara pelatihan kaderasi ini setiap Rumah Sakit juga memiliki tugas yang wajib dilakukan antara lain :
1. Melakukan pemetaan karyawan sesuai kompetensi.
2. Melakukan In House Training untuk peningkatan kemampuan SDM.
3. Melakukan kaderisasi dengan memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mendapatkan kepercayaan sebagai pemimpin dan melakukan pendampingan dan monitoring.

Sebenarnya ada cita-cita tersendiri dari Pengurus Perdhaki KAJ yaitu semoga dari acara pelatihan kaderisasi ini dapat menelurkan suatu modul kaderisasi kepemimpinan katolik sebagai acuan untuk mencetak pemimpin katolik di masa depan. Harapan ini nampaknya terkesan tinggi, namun dengan melihat semangat para pengurus Perdhaki KAJ dan Forum Kerja Sama 6 RS hal ini bisa saja terealisasi. Mereka merasa optimis bahwa hal apa pun yang sedang terjadi dalam kepemimpinan pada institusi kesehatan katolik dapat diatasi bersama, jika saling bahu-membahu dan menguatkan satu sama lain. Akan menjadi suatu kebahagiaan apabila modul kepemimpinan katolik ini bisa terwujud dan berguna sebagai panduan bagi sesama anggota Perdhaki di seluruh Indonesia.
Kontributor :
dr. Antonius Yudianto, MARS
RS St. Elisabeth Bekasi
Jl. Raya Narogong 202 Kemang Pratama Bekasi – Jawa Barat

Pertemuan IBSI

PERTEMUAN IBSI

Sabtu, 21 Maret 2015, 25 Tarekat Biarawati berkumpul bersama mendiskusikan tanggapan tarekat dalam perkembangan isu sistem jaminan sosial nasional bidang kesehatan dan konsekuensinya terhadap unit pelayanan kesehatan. Catatan berikut adalah sebuah notulen yang kami harapkan bisa menjadi sebuah pengingat bagi kita bersama.

Pertemuan ini dihadiri oleh 54 Suster, terdiri dari 2 orang Suster sebagai Panitia dan 52 Suster sebagai Peserta dan berasal dari 25 tarekat, yaitu : TMM, KYM, OSA, PIJ, CP, JMJ (Prop Makasar dan Manado), Fdcc, OP, SND, Misc, CIJ, SPC, PI, PRR, FSGM, SFS, CB, FCh, SFD, SCMM, KSSY, SSpS, ADM, SFIC, HK.

Topik yang dibahas :
1. Kesiapan unit kesehatan di bawah Tarekat menghadapi penerapan Jaminan Kesehatan Nasional (kesediaan untuk terlibat sebagai provider JKN)
2. Langkah –langkah yang perlu dilakukan oleh Tarekat untuk terlibat sebagai provider JKN
3. Isu kepesertaan anggota Tarekat dalam JKN (merupakan topic tambahan karena ada kebutuhan yang terlontar dalam diskusi untuk dibahas)

Hasil :
Para perwakilan tarekat memahami bahwa sebagai amanat UUD, JKN menjadi program yang akan terus berproses hingga seluruh penduduk (termasuk warna Negara asing yang tinggal di Indonesia)menjadi peserta JKN. Oleh karena itu, unit kesehatan tak mungkin bisa lari dari penerapan system JKN. Selain itu, karena pelayanan orang miskin akan ditangani melalui system JKN maka sebagai institusi yang “option to the poor”, keterlibatan dalam JKN menjadi keharusan agar bisa tetap melayani yang miskin (menjalankan visi awal keberadaan unit pelayanan kesehatan). Keterlibatan dalam JKN mengandung konsekuensi karena system JKN mengharuskan unit kesehatan memenuhi persyaratan tertentu. Konsekuensi ini terkadang menuntut perbaikan/perubahan sikap/cara kerja/infrastruktur/SDM/fasilitas. Inilah yang harus siap dihadapi Tarekat demi keberlangsungan pelayanan kesehatan yang masih menjalankan visi “option to the poor”. Mengenai keterlibatan anggota tarekat sebagai peserta JKN, perlu dilihat dalam prinsip gotong royong sebagai warga Negara dan mempertimbangkan biaya resiko sakit/perawatan yang tinggi.

Pembelajaran yang diperoleh berdasarkan pengalaman beberapa tarekat :
1. Pembelajaran dari tarekat SFS (pengalaman dari RS Mardi Lestari)
Pengalaman sebagai provider BPJS :
a. Proses persetujuan dari BPJS utk jadi provider lama.
b. Peraturan dari BPJS sering berubah-ubah sehingga menyulitkan koordinasi internal unit. Proses komunikasi yang intensif dari tiap bagian unit RS menjadi penting.
c. Kurangnya sosialisasi dari BPJS tentang teknis penerapan JKN di unit kesehatan dan masyarakat sehingga RS sering menerima complaint dari pasien karena mereka tidak bisa dilayani dengan kartu JKN karena tidak memenuhi persyaratan teknis layanan JKN. Ini karena masyarakat hanya mengerti bahwa mereka bisa dilayani apapun, kapanpun oleh RS selama punya kartu JKN padahal pemahaman ini tidak selalu tepat.
d. Penggantian biaya layanan dari BPJS tidak selalu menutup biaya yang dikeluarkan RS sehingga kadang RS terpaksa menawarkan kepada pasien untuk naik kelas (pasien membayar)
2. Pembelajaran dari tarekat JMJ
a. Pelayanan JKN membutuhkan koordinasi dengan seluruh pihak di RS sehingga tiap pagi RS selalu melakukan koordinasi pagi sehingga masalah apapun yang terjadi bisa segera ditanggapi paling lambat 1×24 jam
b. Untuk pembiayaan, memang RS harus melakukan banyak penyesuaian biaya untuk efisiensi supaya bisa sesuai dengan pembiayaan dari BPJS. Untuk itu, RS membuat tim yang merumuskan clinical pathway (CP) 10 penyakit terbesar di RS. CP ini menjadi protap unit dalam melakukan pelayanan.
c. RS juga punya tim verifikator internal yang memastikan proses coding benar sehingga tidak ada klaim yang gagal diterima.
3. Pembelajaran dari tarekat KYM
a. Mengalami proses panjang persetujuan dari BPJS, lebih dari 1 tahun. Baru saja menjadi mitra BPJS di bulan Maret ini. Dari pengalaman, unit harus pantang menyerah untuk terus memproses persetujuan menjadi provider JKN. Perlu pendekatan informal agar unit lebih dikenal oleh BPJS setempat.
b. Advokasi ke BPJS harus dibarengi dengan pendekatan ke stakeholder lainnya baik formal maupun informal, misal Dinkes, dokter lokal.
c. Untuk memenuhi persyaratan SDM, bisa kerjasama part time dengan SDM lokal.

Diskusi Kelompok :
Bahan diskusi :
1. Apakah akan ikut serta ambil bagian sebagai pemberi layanan program BPJS? Langkah-langkah apa yang akan kita buat?
2. Apakah kita akan menjadi peserta BPJS?
3. Asuransi mana yang mau diambil? Sosial atau komersial?

Hasil diskusi kelompok :
1. Seluruh tarekat menyetujui untuk berproses menjadi provider JKN. Mereka sadar bahwa hal ini juga adalah hal yang tak terelakkan mengingat system JKN memang akan berkembang secara nasional
Langkah-langkah yang akan ditempuh untuk memprosesnya :
a. Mendalami regulasi tentang BPJS dan aturan setempat.
b. RS memproses akreditasi dan BP/RB diproses menjadi Klinik
c. Menjalin kerja sama dengan Dinas kesehatan
d. Terus belajar dan tidak putus asa ketika menemukan kendala
e. Menjalin komunikasi dengan dengan pihak BPJS, dan ketika kesulitan untuk melakukan PKS tetap terus menindaklanjuti. Dengan dikenal BPJS, inisiatif kadang datang dari BPJS. Ada RS yang mempunyai BOR tinggi, tetapi terus didatangi oleh BPJS untuk PKS; sehingga saat ini mulai melakukan persiapan dan sosialisasi untuk melayani BPJS yang akan dimulai 20 Mei 2015
f. Studi banding ke RS provider BPJS
g. Melakukan sosialisasi terhadap dokter untuk penggunaan obat sesuai Fornas
h. Melakukan pemisahan obat umum dan fornas
i. Berhati-hati, pelajari, dan siap menghadapi sidak maupun temuan BPK.
j. Menyiapkan tenaga dengan membentuk tim (dr, perawat, tenaga rekam medik, keuangan, laboratorium, farmasi, dan tenaga lain yang dibutuhkan).
k. Menyiapkan fasilitas ( misalnya konter/tempat pendaftaran, tempat kerja tim, jaringan yang diperlukan, dll)
l. Menyiapkan tenaga untuk memonitor dalam hal kendali biaya dan kendali mutu. Membentuk case manager/tim kendali sebagai kontrol
m. Mengajukan penetapan kelas RS dari D ke C (salah satu ijin untuk menjadi provider)
n. Mengusahan untuk menyediakan dokter spesialis dasar (dalam, anak, kebidanan, bedah)
o. Mengurus STR dokter dan perawat.
p. Perlu ada tanda tangan persetujuan apabila ada pasien yang mau naik kelas atau minta obat-obat yang paten.
q. Hati-hati supaya tidak membuat kesalahan / fraud.
Terkait persiapan menjadi provider BPJS, ada beberapa tantangan/masalah :
a. Ada klinik yang mau bekerja sama dan sudah memenuhi syarat tetapi pihak BPJS belum bersedia. Dan sebaliknya di pedasaan peluang ada tetapi tidak sanggup memenuhi persyaratan.
b. Masyarakat belum seluruhnya memahami aturan-aturan.
c. Pasien menumpuk ketika sudah jadi provider BPJS (RS menjadi crowded)
d. Kendala kesulitan untuk melakukan coding
e. Khusus untuk perawat, di beberapa daerah terjadi kehilangan dokumentasi, sehingga sulit pengurusan STR.

Solusi yang sempat tercetus dalam diskusi untuk tantangan/masalah di atas :
a. Provider membentuk team BPJS dan berkomunikasi dengan BPJS center, juga memberi info hak dan kewajiban pasien BPJS melalui banner, serta inform consent yang jelas.
b. Sosialisasi tentang peraturan PBJS kepada pasien dan keluarga .
c. Mengundang BPJS untuk mensosialisasikan tentang pelayanan BPJS kepada karyawan.
d. Untuk mengurangi crowded; maka membagi 2 loket pendaftaran (BPJS dan Umum), atau menentukan pelayanan BPJS untuk waktu tertentu (misal Senin-Jumat)
e. Perlu mempunyai coder lebih dari 1 orang
f. Pengurusan STR perawat dapat meminta rekomendasi dari PPNI kabupaten kota untuk menerbitkan SIK/SIPP sementara untuk praktik mandiri (yang berlaku untuk 3 bulan). Diminta tindak lanjut Perdhaki pusat kepada PPNI pusat untuk membantu penyelesaian hal ini. Dan jika memungkinkan untuk pengurusan STR dapat ditangani di tingkat provinsi, seperti yang sudah terjadi di beberapa daerah dapat diterbitkan STR sementara.

2. Kesediaan tarekat menjadi anggota BPJS
Semua Tarekat yang hadir menyatakan akan menjadi peserta BPJS. Bahkan ada yang sudah menjadi peserta dan yang lain sudah memprosesnya. Ini sesuai dengan visi misi keberpihakan kepada kaum kecil dan miskin dalam semangat gotong royong. Selain itu, biaya kesehatan cukup tinggi, sehingga BPJS dirasa sangat menolong dalam hal biaya kesehatan.

Pengalaman para suster yang telah ikut BPJS dengan biaya (60 juta/tahun untuk setarekat) jauh lebih kecil dibanding biaya pengobatan beberapa suster yang mencapai ratusan juta/tahun. Ada tarekat yang telah ikut BPJS di provinsi (induk)/sentralisasi dengan premi kelas ITarekat lainnya ada yang telah mengikutkan seluruh anggota yang kaul kekal menjadi anggota BPJS kelas 3 ataupun kelas 2.
Kesepakatan :
a. Setiap piko mendaftarkan anggotanya ke BPJS Kesehatan
b. Setiap komunitas menanggung anggotanya. Jika anggotanya pindah; komunitas akan melanjutkan pembayarannya
c. Mengundang tim BPJS (secara tertulis) untuk sosialisasi ke komunitas

3. Seluruh tarekat memilih asuransi sosial BPJS karena memang wajib untuk seluruh penduduk dan nilai preminya terjangkau.

Demikian beberapa catatan yang bisa kami bagikan. Ucapan terimakasih sebesar-besarnya pada para pengurus IBSI yang telah terbuka untuk bekerjasama dengan PERDHAKI Pusat dalam pembinaan unit kesehatan Katolik melalui komunikasi dan sosialisasi para pimpinan tarekat.

Ucapan terimakasih pula kami sampaikan pada dr. Stephanus Indrajaya dan dr. Widyastuti yang menyediakan waktu untuk menjadi narasumber sekaligus fasilitator diskusi kali ini. -ib-

Aksi Gizi 10 Mei 2015

Mari dukung Aksi Gizi yang akan diadakan tanggal 10 Mei 2015 di Parkir Timur Monas yang diselenggarakan oleh Wahana Visi Indonesia

1000 hari pertama adalah masa penting dimana anak sejak di kandungan hingga usia 2 tahun perlu mendapatkan asupan gizi yang seimbang guna menunjang tumbuh kembang anak.

Info ini mengajak masyarakat untuk dapat hadir dalam kampanye tersebut. Apabila tidak bisa hadir maka dukungan dapat diberikan dengan cara foto bersama-sama teman dengan menunjukkan 10 jari yang menandakan kita mendukung 1000 hari pertama kehidupan.
Foto 10 jari dapat dikirimkan melalui email ini: mardea_mumpuni@wvi.org / petry_purenia@wvi.org s.d. 15 Mei 2015

Terima kasih atas doa dan dukungannya. Semoga semakin banyak anak-anak Indonesia yang dapat melampaui 1000 hari pertama kehidupan dengan sehat.