Piagam Penghargaan

Piagam Penghargaan

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memberikan apresiasi serta ucapan terima kasih kepada relawan yang telah mengabdi dalam penanggulangan krisis kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pada acara Hari Kesehatan Nasional telah dberikan piagam penghargaan secara simbolis kepada perwakilan lembaga. Dr. Felix Gunawan mewakili PERDHAKI, hadir sebagai salah satu penerima piagam yang diberikan pada Kamis, 8 November 2018 bertempat di Indonesian Convention Exhibition (ICE BSD) Jl. BSD Grand Boulevard No. I, BSD City, Tanggerang, Banten.

Piagam penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI
Iklan

Workshop Bagi Pimpinan Unit Dalam Persiapan Akreditasi Klinik

Workshop Bagi Pimpinan Unit Dalam Persiapan Akreditasi Klinik

Untuk meningkatkan pelayanan sarana kesehatan dasar khususnya pelayanan Klinik kepada masyarakat, dilakukan berbagai upaya peningkatan mutu dan kinerja antara lain dengan pembakuan dan pengembangan sistem manajemen mutu dan upaya perbaikan kinerja yang berkesinambungan baik pelayanan klinis, program dan manajerial.

Akreditasi Klinik merupakan salah satu mekanisme regulasi yang bertujuan untuk mendorong upaya peningkatan mutu dan kinerja pelayanan Klinik yang dilakukan oleh lembaga independen yang diberikan kewenangan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Dalam pelaksanaan akreditasi dilakukan penilaian terhadap manajemen Klinik, penyelenggaraan program kesehatan, dan pelayanan klinis dengan menggunakan standar akreditasi Klinik yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Agar Klinik dapat memenuhi standar akreditasi dibutuhkan pendampingan oleh fasilitator yang kompeten agar Klinik dapat membangun sistem pelayanan klinis serta penyelenggaraan program, yang didukung oleh tata kelola yang baik dan kepemimpinan yang mempunyai komitmen yang tinggi untuk menyediakan pelayanan yang mutu, aman, dan terjangkau bagi masyarakat secara berkesinambungan.

Workshop ini bertujuan agar Pimpinan Klinik memahami kebijakan manajemen dan kebijakan akreditasi Klinik, yang meliputi :

  1. Standar akreditasi Klinik, Instrumen penilaian akrediasti Klinik,  Ketentuan penilaian dan  kelulusan akreditasi Klinik,  Langkah persiapan akreditasi Klinik,  Penyusunan dokumen akreditasi Klinik,  Tata naskah penulisan dokumen dan pengendalian dokumen.
  2. Dapat melaksanakan identifikasi dan menyiapkan dokumen-dokumen yang dipersyaratkan oleh Standar Akreditasi Klinik.
  3. Dapat melakukan Self-Assesment dengan menggunakan Instrumen Penilaian Akreditasi Klinik.

Peserta mulai check in di Aston Hotel, Kupang tanggal 23, acara berlangsung dari 24 s.d 25  September  2018 . Kegiatan Workshop dilaksanakan atas kerjasama dengan Perdhaki Wilayah Regio NTT.

Peserta yang hadir dari 24 Pimpinan UPK dan 4 Ketua Perdhaki Wilayah, sbb :

  1. Peserta dari UPK :
  • 1 orang Pimpinan BP/RB St Melania, Larat – Maluku
  • 1 orang Pimpinan Klinik St. Maria Lourdes, Kupang – Timor Barat
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Yoseph Merdeka, Kupang – Timor Barat
  • 1 orang Pimpinan Klinik Ratu Rosari, Eban – TTU, Timor Barat
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Elisabeth, Kiupukan – TTU, Timor Barat
  • 1 orang Pimpinan Klinik St.Rafael, Lahurus – Belu, Timor Barat
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Yoseph, Kefamenanu – TTU, Timor Barat
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Antonius Padua, Betun – Malaka, Timor Barat
  • 1 orang Pimpinan Klinik Karitas Homba Karipit – SBD
  • 1 orang Pimpinan Klinik Karitas Elopada, Sumba Barat
  • 1 orang Pimpinan Katitas Katikoloku, Sumba Tengah
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Yoseph, Labuan Bajo – Manggarai Barat
  • 1 orang Pimpinan BP/BKIAWejang Asi, Mano – Manggarai Timur
  • 1 orang Pimpinan Klinik Pratama Panti Nirmala, Karot – Manggarai
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Fransiskus, Aeramo – Nagekeo
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Yosef Raja, Ende
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Fransiskus Asisi, Mauara
  • 1 orang Pimpinan Klinik St Elisabeth, Dekotogo – Ende
  • 1 orang Pimpinan BP Kartini, Ndona – Ende
  • 1 orang Pimpinan Klinik Pratama Martin de Porres, Ende
  • 1 orang Pimpinan BP St Rafael, Watubala – Sikka
  • 1 orang Pimpinan Klinik Pratama St. Theresia, Tabali – Larantuka
  • 1 orang Pimpinan Klinik Ratu Rosari, Kalikasa – Lembata
  • 1 orang Pimpinan Klinik Pratama Pulitoben, Adonara
  1. Peserta dari PERDHAKI WILAYAH :
  • 1 orang dari Perdhaki Wilayah Keuskupan Agung Kupang
  • 1 orang dari Perdhaki Wilayah Keuskupan Agung Atambua
  • 1 orang dari Perdhaki Wilayah Keuskupan Agung Ende
  • 1 orang dari Perdhaki Wilayah Keuskupan Weetebula

Nara Sumber :

  • 1 orang Nara Sumber dari PERDHAKI Pusat
  • 1 orang Nara sumber dari PERDHAKI Regio NTT
  • 1 orang Nara Sumber Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi

Materi yang dipresentasikan oleh Nara sumber cukup menarik sehingga membuat peserta semangat dan penuh minat untuk mengajukan pertaanyaan. Detail apa saja yang perlu dipahami dan dipersiapkan untuk langkah selanjutnya.

Sesi diskusi yang dibagi kelompok Tarekat / wilayah untuk menyusun rencana tindak lanjut, kemudian tiap kelompok menyajikan hasil diskusi.

Output

  1. Semua peserta ( 24 UPK ) akan melakukan persiapan sesuai input yang diterima, dengan RTL yang sudah di buat dalam workshop.
  2. Lima ( 5 ) Klinik akan mencoba mengajukan bimbingan teknis pada tahun 2018
  3. Sembilan belas (19) Klinik akan mengajukan bimbingan teknis pada tahun 2019
  4. Perdhaki Wilayah Kupang, Atambua, Weetebula dan Ende akan mendampingi unit yang ada di wilayah kerjanya.
  5. Survei Akreditasi 21 UPK akan dilakukan pada tahun 2019 dan 3 UPK pada tahun 2020

Catatan :  Sesuai informasi dari Dinas Kesehatan ropinsi NTT, hingga akhir Desember 2018, tim akreditasi baik kabupaten maupun Propinsi masih sibuk untuk melakukan survei akreditasi pada Puskesmas. Jadi ada kemungkinan untuk Klinik swasta baru dilakukan pada tahun 2019

Dengan semua pimpinan klinik membuat RTL sesuai langkah langkah tahapan persiapan akreditasi yang disampaikan oleh Nara sumber dari Dinas Kes Provinsi dan kesepakatan  bersama yang akan ditindak lanjuti, maka proses workshop ini  adalah sebagai awal   pembekalan  bagi  Pimpinan UPK untuk menyiapkan proses akreditasi klinik.

Foto bersama dengan peserta dan narasumber
Narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi memberikan materi

Melayani untuk Kehidupan

Gempa dengan kekuatan 6,4 SR mengguncang Lombok pada hari Minggu 29 Juli lalu. Meski tidak sampai terjadi tsunami, ratusan bangunan roboh, akses jalan terputus karena longsor, dan jatuh banyak korban luka hingga meninggal dunia. Gempa yang terjadi pukul 05.47 WIB ini juga dirasakan di Bali dan sekitarnya.

Tanpa membuang waktu, RS Katolik St. Vincentius a Paulo (RKZ Surabaya) menyiapkan tim medis untuk “turun” ke lapangan. Hanya berselang 2 (dua) hari, di hari Selasa tgl 31 Juli, tim medis RKZ sudah berada di Lombok siap mengulurkan tangan untuk meringankan penderitaan sesama yang terkena bencana. Tim perdana ini terdiri dari 2 (dua) orang dokter, 4 (empat) perawat dan 1 (satu) asisten apoteker, bekerja sama dengan RS Katolilk St. Antonius – Ampenan, memberikan pelayanan kesehatan selama lima hari di beberapa Posko di kecamatan Sembalun yang merupakan area terdampak berat. Setiap pagi tim berangkat ke Posko dan kembali untuk beristirahat di RS Katolik St. Antonius saat menjelang tengah malam.

Melihat situasi mereda, manajemen RKZ menunda keberangkatan tim berikutnya. Namun kemarahan alam rupanya belumlah reda. Minggu malam, tanggal 5 Agustus, gempa lebih besar mengguncang lagi, dengan korban makin banyak. RKZ Surabaya segera mengirimkan tim baksos yang ke dua, mendarat di Lombok tanggal 8 Agustus. Sesuai kebutuhan, tim terdiri dari 1 dokter IGD, 1 perawat Kamar Bedah, 1 perawat anastesi, 2 perawat Rawat Luka.

Selain membantu pelayanan korban di RS Katolik St. Antonius Ampenan, tim ke dua ini Ikut berpartisipasi aktif dalam pelayanan di Rumah Sakit Umum, di Kamar Operasi maupun di tenda-tenda perawatan. Selama di Lombok, tim ini mengalami sendiri gempa-gempa susulan yang datang silih berganti. Satu kali ketika terjadi gempa susulan yang cukup kuat, satu tim operasi termasuk anggota tim medis RKZ terpaksa harus bertahan melanjutkan operasi yang sudah berjalan separuh. Gempa tersebut menyebabkan ruang operasi di Rumah Sakit Umum selanjutnya tidak bisa digunakan lagi, sehingga didatangkanlah container-container untuk operasi. Di saat-saat terakhir sebelum kembali ke Surabaya, tim masih harus bertugas di kamar operasi maupun perawatan korban.

Gempa terus berlanjut, maka berangkatlah tim medis RKZ yang ke tiga pada tanggal 16 Agustus, terdiri dari 1 dokter spesialis orthopedi, 1 perawat anastesi dan 2 perawat lain. Tim ini mengerjakan tindakan operasi sampai pelayanan kesehatan ke posko-posko yang saat itu belum terjangkau bantuan seperti di Gangga yang lokasinya cukup menantang. Malam terakhir sebelum pulang, tim ke tiga RKZ mendapat “bonus” pengalaman gempa 6,5 SR yang seakan menjadi puncak kisah bakti sosialnya. Dalam kegelapan (karena PLN dimatikan dan genset belum berani dinyalakan) mengevakuasi pasien Rumah Sakit ke area parkir dan menjaga pasien semalaman dalam kejutan-kejutan gempa susulan, menjadi pengalaman yang tak mudah terlupakan.

Sampai tulisan ini diturunkan, RKZ Surabaya belum mengirimkan tim medis berikutnya, namun berbagai bantuan dikoordinasikan bersama RSK St. Antonius. Saat-saat baksos menjadi saat-saat berahmat bukan saja bagi mereka yang dilayani, namun semua anggota tim menyatakan bahwa kegiatan pelayanan baksos ini benar-benar memberikan pengalaman yang berharga yang tak terlupakan. Melayani mereka yang menderita sungguh membangkitkan rasa syukur atas segala anugerah yang boleh diterima dan memperkuat rasa persaudaraan serta empati dengan para korban sebagai sesama anak-anak Allah.

Peduli Korban Gempa Lombok

Musibah gempa bumi yang terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB) atau yang lebih dikenal dengan gempa Lombok, masih menyisakan duka bagi korban yang terdampak. Trauma pun menghinggapi mereka karena hingga saat ini masih banyak orang yang tinggal di tempat pengungsian. Tak heran, jika banyak pihak tergugah hatinya untuk memberi bantuan dalam berbagai bentuk, hal ini merupakan wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap nasib para korban.

Sikap berbela rasa juga ditunjukkan oleh RS Atma Jaya, Jakarta dan RS Panti Rapih, Yogyakarta yang mengirimkan tim kesehatan ke Lombok. Berikut laporannya.