Corona Virus Expert Help Desk

Corona Virus Expert Help Desk

PERDHAKI sedang meluncurkan Expert Help Desk sebagai bagian dari Satgas COVID-19

PERDHAKI sedang meluncurkan Expert Help Desk sebagai bagian dari Satgas COVID-19 yang akan menjadi sumber informasi bagi Unit Kesehatan Katolik dalam menghadapi COVID-19 sebagai komunitas pelayanan. Fokus utama adalah (a) standard operating procedures: penatalaksanaan dan pengobatan; (b) prevensi dan mitigasi; (c) menyalurkan bantuan alkes dan supply chain lainnya; (d) pemahaman tentang risiko; (e) membangun ketangguhan sistem pelayanan kesehatan dalam masa tanggap darurat COVID-19. Fokus lain akan ditambahkan sesuai dengan perkembangan situasi.

Expert Helpdesk PERDHAKI terdiri atas: Dr. Sugiharto (RKZ, Surabaya); Dr. Paulus Susilo (RS Karitas, Palembang), Dr. Arifin (RSSt. Maria, Pekan Baru

Maklumat COVID-19

Di bawah ini beberapa catatan bagaimana PERDHAKI menanggapi wabah ini:

  • Menjaga jarak (social distancing) dalam rangka menjamin kesehatan dan keamanan kita bersama: tidak bersalaman ketika bertemu cukup menganggukkan kepala, tidak berkerumun.
  • Tetap tangguh (resilient) dalam menjalankan layanan, seraya berdoa mohon perlindungan dan kerahiman ilahi dalam menjalankan tugas.
  • Menjaga hygiene dan kebersihan lingkungan: cuci tangan pakai sabun selama 20 detik, pakai sarung tangan steril, masker (jika memungkinkan N-95), dan Alat Pelindung Diri jika bersentuhan dengan PDP dan OPD.
  • Mendorong kesetiakawanansosial dengan menggalang dana solidaritas untuk disumbangkan pada Unit Kesehatan Katolik yang melayani penderita COVID-19.

Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2030

Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2030

Rabu, 29 Januari 2020  Sr. Margaretha, FSGM mewakili PERDHAKI untuk menghadiri  undangan  Kegiatan Kunjungan Kerja Kesehatan Presiden RI dalam rangka “Gerakan bersama menuju Eliminasi TBC  tahun 2030”  di  Cimahi Techno Park, Kota Cimahi.

PRESIDEN RI, Joko Widodo secara resmi mencanangkan Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2030 yang berlangsung di Gedung Cimahi Technopark Jalan Baros, Kota Cimahi. Dihadiri bersama dengan 34 orang Gubernur, 119 orang Bupati dan Walikota se-Indonesia serta sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju. Sebelum memberi sambutan, Presiden yang akrab disapa Jokowi ini sempat mengajak tamu untuk melakukan gerakan TOSS dengan mengangkat tangan kanan ke arah depan. TOSS adalah kepanjangan dari “Temukan Obati Sampai Sembuh”.

Dalam sambutannya  Pak Presidan mengatakan “Saya datang ke sini karena sehat, termasuk bapak dan ibu yang hadir di sini juga sehat, dan saya harapkan seluruh masyarakat juga sehat, karena lima tahun kedepan kita ingin memiliki SDM unggul, makanya harus sehat semua”

“Saya ingin mendukung kegiatan ini. Percuma kalau masyarakatnya enggak sehat, karena bisa merembet ke mana-mana. Oleh karena itu saya sangat menghargai, baik puskesmas, yayasan, dan kader yang bergerak dalam penanggulangan TBC” jelasnya.

Eliminasi TBC  th 2030  perlu diupayakan  lintas sektoral.  Perlu kerja keras  dari semua pihak,  bukan  hanya  sektor  kesehatan. Memerangi  persoalan  TBC  ini  bukan  persoalan  yang  gampang.  TBC  merupakan  permasalahan  global.

Keberhasilan  memberantas  TBC  adalah kolaborasi  semua elemen,  yaitu Pemerintah,  masyarakat  dan  swasta.  Pembangunan rumah sehat  bagi  masyarakat   dengan  rumah  tak layak huni  menjadi tantangan  dalam  eliminasi   TBC  di  Indonesia.

Fokus   kita  bukan hanya  pada segi  kurative  saja,  akan tetapi  segi  preventive  atau pencegahan  penyakit  sangat  penting“  kata Pak Jokowi.

Sedangkan  Menteri Kesehatan, Bapak  Terawan Agus Putranto juga  memberikan sambutannya. Beliau    antara lain  mengatakan  :  “  Pembrantasan  TBC  menjadi  prioritas  pembangunan  kesehatan  selain  menurunkan AKI / AKB,  STUNTING  dan  JKN.

Bapak Arifin  Panigoro, Anggota Dewan  Pertimbangan Presiden sekaligus Ketua Forum  STBPI,

dalam sambutannya antara lain mengatakan “Memang  mengatasi TBC  perlu dukungan banyak  sektor. Terutama dari segi infrastruktur,  sebab kuman  TBC  semakin melayang – melayang  ditempat  yang lembab, apabila  kurang cahaya matahari  yang masuk  dan kurang ventilasinya. Kepadatan lingkungan juga mempermudah penularan  antar  individu “ pungkasnya.

Pak Presidan juga berkenan  berbincang   dengan   2  (dua) orang kader masyarakat. Dan seperti biasa : mereka mendapat hadiah  masing-masig  1 buah  sepeda dan  album kenangan  foto mereka ketika bincang-bincang  dengan  Pak Jokowi.

Sebagai  penutup acara  sambil  ”TOSS ”  menempelkan  telapak tangan pada gambar  yang telah disiapkan;  Bapak Presiden secara resmi  mencanangkan   Gerakan  bersama  menuju  Eliminasi  TBC  tahun 2030.

Presiden sedang berbincang dengan Kader
Bapak Jokowi sedang berbincang dengan Kader
Kegiatan Kunjungan Kerja Kesehatan Presiden RI
Sr. Margaretha, FSGM di Cimahi mengikuti kegiatan Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2030

Bimbingan Teknis Assessment Menuju Klinik Pratama

Bimtek Assessment Klinik Pratama Pulitoben – Adonara
Kunjungan Tim Pendamping Persiapan Akreditasi Klinik Pratama
di Klinik Pratama Pulitoben – Witihama, Flores Timur – NTT

Bimtek Assessment Klinik Pratama Santo Fransiskus Asisi – Ratedosa tgl 20-22 September 2019
Kunjungan Tim Pendamping Persiapan Akreditasi Klinik Pratama Santo Fransiskus Asisi – Ratedosa milik Yayasan Mere Marie Joseph

 

Bimtek Assessment Klinik Pratama St. Rafael – Lahurus
Kunjungan Tim Pendamping Persiapan Akreditasi Klinik Pratama ke
Klinik Pratama St. Rafael Lahurus, Desa Fatulotu Kec. Lasiolat, Kab. Belu

Bebas Malaria di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

BEBAS MALARIA DI HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
(Lomba Cerdas Cermat Desa Bebas Malaria – UKBM Desa Mbotulaka – Kabupaten Ende)

Sejalan dengan Inovasi Gerakan Desa Bebas Malaria yang dirancang oleh SR Perdhaki Wilayah Keuskupan Agung Ende – Program Malaria Perdhaki. UKBM Desa Mbotulaka dengan dukungan Pemerintah Desa Mbotulaka dan SSR Kevikepan Ende, melaksanakan Perlombaan Cerdas Cermat Desa Bebas Malaria.
Kegiatan ini melibatkan semua kelompok masyarakat dan secara khusus kelompok-kelompok inovasi dampingan UKBM seperti Kader Cilik, Mama Mala dan Tim Malaria Desa Mbotulaka.
Kegiatan ini dilaksanakan untuk memeriahkan Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74. Karena itu, penghargaan kepada seluruh peserta cerdas cermat serta seluruh tim penggerak Desa Bebas Malaria dirayakan bersamaan dengan Apel 17 Agustus 2019.

Dengan semangat “BEBAS MALARIA DI HARI KEMERDEKAAN”, Desa Mbotulaka siap menjadi Desa Bebas Malaria. Bersama kita bisa!!!!

PERDHAKI Ajak Umat Lebih Berperan Aktif Dalam Gerakan Masyarakat Sehat

Banten – Kasus stunting di Lebak, Banten tergolong cukup tinggi. Hal ini menjadi fokus Pemerintah Banten dan juga Kementrian Kesehatan (KEMENKES) Republik Indonesia untuk melakukan upaya-upaya dalam menurunkan angka kasus stunting.

Tentulah KEMENKES tidak berjalan sendiri namun juga mengajak kerjasama antar multi sektor  untuk terlibat aktif dalam program ini agar gaung gerakan Indonesia Sehat dapat diinformasikan ke seluruh masyarakat. Perlu penanganan yang komprehensif dengan melibatkan berbagai komponen mulai dari Kepala Daerah, Dinas Kesehatan, petugas medis, posyandu, tokoh agama dan masyarakat.

Peserta terlibat dalam diskusi kelompok

Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (PERDHAKI) pun ikut andil dalam menjalin kemitraan dengan KEMENKES dalam upaya mengedukasi pencegahan stunting serta menggemakan Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) dalam karya pelayanannya di bidang kesehatan.

PERDHAKI yang merupakan wadah koordinasi Rumah Sakit dan Klinik Katolik di Indonesia yang mengupayakan nilai-nilai Kristiani senantiasa menjiwai pelaksanaan karya kesehatan ini mengadakan Pertemuan Orientasi Gerakan Masyarakat Sehat yang diadakan di Hotel Bumi Katineung, Rangkasbitung, Lebak-Banten pada tanggal 26-28 Agustus 2019.

Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk meningkatkan peran serta Gereja dalam mendukung gerakan masyarakat hidup sehat. Diharapkan dalam pertemuan ini, para peserta yang hadir dapat mengetahui dan mengenal Germas, stunting dan imunisasi.

Dalam pertemuan ini pula para peserta yang merupakan umat Katolik di Paroki Santa Maria Tak Bernoda-Rangkasbitung serta Umat stasi Parung Panjang ini diajak dan disiapkan menjadi fasilitator yang terjun langsung ke masyarakat untuk memberikan edukasi dan mendorong agar masyarakat dapat memulai menjalankan gerakan hidup sehat.

Edukasi Mengenai Kesehatan

Pada hari pertama pertemuan, para peserta diajak untuk memahami tentang apa itu stunting, imunisasi serta Germas, materi tersebut diberikan oleh Mahmud, SE, MKES yang merupakan anggota Dinas Kesehatan Provinsi Banten. Lalu dilanjutkan dengan materi mengenai kemitraan antara PERDHAKI dan KEMENKES dalam program Germas yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif PERDHAKI pusat yaitu dr. Felix Gunawan.

kemitraan antara PERDHAKI dan KEMENKES dalam program Germas yang disampaikan oleh Direktur Eksekutif PERDHAKI pusat yaitu dr. Felix Gunawan

Pada hari kedua lebih banyak diisi dengan praktek seperti cara berkomunikasi dalam mempromosikan kesehatan kepada masyarakat yang dibawakan oleh Theresia Irawati dari Direktorat Promosi Kesehatan-KEMENKES, ada juga praktek memasak makanan yang bergizi seimbang yang dibawakan oleh perwakilan dari RS Misi Lebak, Dina Yolanda S,Gz.

Lalu dilanjutkan dengan materi mengenai metode penyuluhan berdasarkan proses komunikasi yang dibawakan oleh Medawati Silalahi yang merupakan perwakilan dari PERDHAKI pusat, dalam materi ini para peserta dibagi per-kelompok dan ditugaskan untuk mempraktekan secara langsung bagaimana proses komunikasi yang nantinya akan menjadi bekal ketika terjun ke dalam masyarakat. Peserta-pun diajak untuk menyusun Rencana Tindak Lanjut yang nantinya akan dijalankan dan diaktualisasikan secara konsisten sesuai dengan peranan mereka sebagai WKRI, Petugas Kesehatan, OMK dan agen penyuluhan di masyarakat.

Peran Gereja Dalam Upaya Germas

Mgr Paskalis Bruno Syukur turut memberikan materi mengenai peran Gereja dalam upaya gerakan masyarakat sehat yang dibawakan pada hari ketiga. Uskup Keuskupan Bogor tersebut menekankan 3 prinsip dasar dalam pelayanan masyarakat yang antara lain adalah;

Pertama, Iman akan Yesus Kristus mestilah menjadi sebuah gerakan kepentingan manusia. Iman harus menjadi sebuah gerakan. Iman akan membuat kita terdorong melakukan sesuatu dengan berlandasakan cinta kasih terhadap makhluk ciptaan-Nya

Kedua, Antropologi Kristiani yang sehat yaitu dengan memandang manusia secara holistik. Artinya, dalam melakukan pelayanan kesehatan kita perlu memperlakukan manusia lain atas dasar kemanusiaan dan cinta kasih, bukannya melihat manusia lain sebatas pada orientasi agama, suku atau ras yang dimiliki. Jika memiliki cara pandang yang keliru maka ini bertentangan dengan apa yang menjadi prinsip iman dalam karya pelayanan.

Ketiga, Kosmologi Kristiani yang sehat yaitu ekologi holistik. Dalam konteks ini adalah kita memiliki prinsip bahwa jika manusia sehat, maka lingkungan juga sehat. Hal ini merujuk kepada peran ekosistem yang juga perlu kita perhatikan. Dengan menjaga lingkungan hidup seperti merawat alam, mengupayakan sanitasi yang bersih serta menjamin kelangsungan makhluk hidup lainnya maka terjadi keseimbangan dan harmonisasi.

Mgr Paskalis juga menekankan akan pelayanan Gereja dalam gerakan hidup sehat yang sifatnya menyeluruh haruslah bercorak promotif dengan mempromosikan pola hidup sehat. Selain promotif, ada pula corak yang preventif yaitu upaya pencegahan agar orang tidak sakit. Corak kuratif yaitu perawatan untuk penyembuhan. Serta bercorak rehabilitatif yang berfokus pada pemulihan badan dan pendampingan rohani terhadap pasien.

Umat Diharapkan Dapat Lebih Berperan Aktif

Ignatius Daria, Anggota PERDHAKI

Ignatius Daria, selaku perwakilan PERDHAKI Wilayah Jabar-Banten yang turut hadir dalam pertemuan berharap agar umat di Keuskupan Bogor dapat lebih berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan khususnya di bidang kesehatan.

Setelah pertemuan ini, para peserta secara langsung akan terjun ke masyarakat untuk memberikan penyuluhan mengenai Germas, imunisasi dan stunting. Pelaksaan akan dilakukan di Parung Panjang pada hari Kamis (29/8/2019) dan di Rangkasbitung pada hari Jumat (30/8/2019)

(tulisan RD David Lerebulan dari website Keuskupan Bogor)

Rekomendasi RAPIM RS PERDHAKI, Makassar 25 – 28 Juli 2019

Rekomendasi RAPIM RS PERDHAKI

Makassar, 25 – 28 Juli 2019

  1. Perdhaki sebagai wadah persatuan karya kesehatan katolik perlu meningkatkan peran lebih aktif dalam memfasilitasi UKK, baik dalam bentuk koordinasi internal (contoh: pengadaan logistik secara kolektif untuk mendapatkan harga yang lebih murah), konsultasi, pendampingan manajemen dll, maupun relasi dengan pihak luar, mis: pemerintah (Kebijakan JKN,  akreditasi, dll).
  2. Komitmen pemilik (Uskup/tarekat/yayasan/perkumpulan) mendukung RS – nya untuk berubah dalam menghadapi tantangan di era disruptif.
  3. Cara menghadapi situasi disruptif (terkait BPJS Kesehatan, Akreditasi, revolusi industri 4.0, tranformasi digital dll) :
    • Digitalisasi/IT/ Smart Hospital
    • Mencari terobosan baru dalam menembus pasar  di luar penjaminan biaya BPJS
    • Mencari model bisnis baru, misal: kerja sama lintas platform (Halodoc, akubisa.com dll)
    • Crowd Funding sebagai alternatif pendanaan oleh filantropis.
    • Pelayanan unggulan yang selaras dengan cinta kasih (High Tech – High Touch)
  4. Leadership dan kaderisasi
  1. Perdhaki pusat sebagai wadah “persatuan pemilik UKK” perlu meningkatkan peran lebih aktif dalam memfasilitasi UKK, baik dalam bentuk koordinasi internal, konsultasi, pendampingan manajemen dll, maupun relasi dengan pihak luar, mis: pemerintah (Kebijakan JKN, Fornas dll).
    • Peranan Perdhaki adalah sebagai fasilitator, dan koordinator
    • Pembentukan sekretariat forum kerja sama di Perdhaki Pusat sebagai pusat data dan informasi (contoh: Mapping semua sumber daya dimiliki UKK)
    • Koordinasi dan kerja sama antar Perdhaki dan UKK bisa berupa bantuan langsung atau koordinasi, dalam implementasi yang paling mudah dan sederhana adalah dengan WA grup (medsos) dan media formal (Telegram).
    • Dukungan kepada UKK yang membutuhkan bisa dalam skala strategis maupun teknis. dan Pembentukan Forum Komunikasi antar UKK di dalam Regio.
    • Realisasi dukungan/bantuan dilaksanakan secara berjenjang oleh Wilayah/Regio/Pusat (contoh: pendampingan persiapan akreditasi oleh surveiyor internal, SDM terutama dokter spesialis, pelatihan YPMK)
    • Capacity Building di bidang manajemen UKK (lihat pada paparan “Strategi RS Dalam Era Disruptif”, Sistem Infrastruktur Manajemen).
    • Perdhaki kembali mengaktifkan PT KDU (pengadaan obat, alkes, vendor SIM RS)

Geliat PERDHAKI Wilayah Keuskupan Atambua, Dalam Kebangkitan

Geliat Kegiatan di PERDHAKI Wilayah Keuskupan Atambua

Dalam Kebangkitan

I.      Perdhaki Wilayah Keuskupan Atambua mengalami beberapa peristiwa Kasih Tuhan, mendapatkan motivasi hidup pasca sosialisasi Pelatihan Enumerator di Kantor PERDHAKI Wilayah Keuskupan Atambua, 24 April 2019. Pertemuan sosialisasi diawali dengan doa dan lagu Hymne PERDHAKI yang sudah lama tidak dilagukan. Peserta yang hadir dari 10 UKK menyimak dan memaknai syair dan lagu tersebut dan mendengarkan sharing sejarah PERDHAKI yang telah dirintis oleh para pendahulu. Seperti lampu ‘dian’ yang redup dan segera harus ditambah minyak oleh generasi sekarang.

Hasil sharing menyatakan bahwa PERDHAKI Wilayah yang aktif hanya segelintir, terpacu untuk melakukan suatu usaha yang berarti,  melompat pada batu yang lebih tinggi dan berjalan lebih jauh.  Merealisasi rencana pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Resusitasi Neonatus dimantapkan saat itu, nekat dilakukan kendati harus mengeluarkan biaya swadaya unit. Kebangkitan kita sekarang adalah satu kebutuhan dan menyatakan ‘lukisan’ dalam wujud nyata  tujuan pendirian PERDHAKI, kedalam hati masyarakat.

Kita berbenah diri dalam latihan dan sharing, maka semua setuju untuk melaksanakan pelatihan BHD dan Resusitasi di SVD Noemeto.

Bersamaan dengan kegiatan Focus Group Discusion (FGD), disepakati untuk dilaksanakan pada tanggal 20 s.d. 21 Mei 2019, terintegrasi dengan evaluasi Program Malaria.

Dalam kegiatan pemetaan di PERDHAKI Wilayah Keuskupan Atambua

II.      Pada tanggal 20 Mei 2019 sore acara pembukaan FGD di Keuskupan Atambua dihadiri oleh Para Pemimpin Unit Karya Kesehatan (UKK) dan pelapor atau petugas administrasi UKK. Acara yang indah ini dihadiri oleh dr. Herly sebagai Ketua PERDHAKI Regio NTT dan juga Sdr. Apri (enumerator dari PERDHAKI Wilayah Keuskupan Kupang). Dr. Herly membawakan sejarah PERDHAKI; dahulu dan sekarang, maksud dan tujuan FGD, sekaligus membuka acara. Sungguh mengharukan melihat sejarah berdirinya PERDHAKI.

Dengan 24 peserta maka dibagi dalam 2 kelompok untuk membahas topik 1 s/d 3. Kelompok 1 (satu) adalah para pelapor/administrasi dan kelompok 2 (dua) adalah para Pemimpin UKK.  Setiap kelompok membahas kondisi PERDHAKI sekarang sampai, acara berlangsung hingga jam 21.00 WITA. ‘Memang kita harus bahas sungguh-sungguh dan bangkit sek” kata kelompok 1 (satu) dan kelompok 2 (dua). Kwalitas kita berangkat dari kelemahan kita.

Pada tanggal 21 Mei pagi, kedua kelompok bergabung, peserta, terutama pimpinan UKK berkomitmen untuk berpartisipasi aktif dalam segala bentuk pelatihan dan pertemuan serta membangun jejaring dengan para mitra strategis dan para kompetitor. FGD berlangsung bagus karena kelompok 1 (Pimpinan) mendengarkan kelompok 2 yang adalah anggota-anggotanya. Kegiatan FGD hari kedua ini berlangsung jam 08.00 – jam 10.00 WITA. Semua merasa lega karena bisa  berbicara dengan fokus.

III.       Tanggal 5 s/d 6 Juni 2019 berlangsung kegiatan pelatihan BHD dan resusitasi Neonatus oleh HIPGABI (tim Himpunan Perawat Gawat Darurat Dan Bencana Indonesia), sedangkan pemateri lain oleh dr. Lely, Sp.Og dan dr. Putu, Sp.A. Acara pembukaan pelatihan oleh Sr. Lidya, FSE; Sebagai pengurus PERDHAKI Wilayah Keuskupan Atambua dan Ketua Panitia Pelatihan BHD. Peserta yang hadir 34 orang dari 13 UKK termasuk 1 (satu) dari RSUD Kefamenanu dan 2 (dua) dari Puskesmas Nunpene. Hari pertama adalah pre test dan materi, hari kedua adalah hari praktek, ujian praktek dan post test serta acara penutupan. Para peserta aktif dan semangat belajar terutama praktek BHD. Acara ini ditutup pada jam 18.00 WITA oleh Pak Thomas Laka atau yang mewakili Dinas Kesehatan Kabupaten Timor Tengah Utara.  

IV.    Keesokan harinya tepat jam 08.30 ada kegiatan UKK dalam kegiatan Komisi Keluarga Keuskupan Atambua dalam animasi bagi para pendamping KBA Paroki-Paroki se Keuskupan Atambua, dengan Tema Kesetaraan Perempuan dan Laki-Laki dalam Keluarga sebagai Citra Allah. Kegiatan ini dihadiri oleh 80  pasutri dan para Suster dari UKK di  Keuskupan Atambua yang biasa mendampingi Akseptor KBA dan pemberi kursus persiapan nikah di Paroki-paroki. Pasutri aktif karena berbicara dari pengalamannya sebagai akseptor dan sebagai pendamping. Ada yang aksepor KBA 16 tahun, ada yang 22 tahun dan para Suster juga membagi pengalaman mendampingi keluarga /akseptor KBA yang bertujuan mendapatkan anak. Kegiatan ini berakhir jam 15.00 WITA setelah makan siang. Berakhir dengan doa penutup oleh Sr. Yosepha, SSpS sebagai koordinator KBA Keuskupan Atambua. Berdasarkan pengalaman dari kegiatan-kegiatan diatas nampak bahwa UKK dan PERDHAKI Wilayah Keuskupan Atambua ada harapan untuk berkembang untuk menjadi lebih baik. Oleh karena itu dari hati yang ikhlas kami mengucapkan limpah terima kasih dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan caranya telah memberikan kesempatan seperti ini. Api cinta Kristus tetap menyala di dalam hati masyarakat/Umat Keuskupan Atambua. Salam dan semangat …..

Kefamenanu, 13 Juni 2019                                                                  Sr Yosepha Lia,SSps

Weaving Home Industry

Weaving Home Industry

I. Preface

Weaving is a tradition in NTT, including  in Belu district.

It is inherited from their ancestor, but now the young people disregard it. The young people prefer to use modern wear, which is produced by modern machine and the clothes had to be bought from outside their villages/districts.

The weaving program, will concerve and revitalize this tradition and also it could become an income generating program by selling the products to the tourist, who are increasingly coming to this area.

Through this activities we encourage the young women in Belu district, to learn and practice the weaving, so they can produce a good quality products.

The products could be used for traditional ceremony , but could also be used for daily clothes,  in their home and for their daily activities outside their home.

The weaving products is expecting to be  the income generating program, because the price of the products is very high and it is highly interested by the tourist.

Beside weaving, the women were also trained  in knitting/crochet, so they can produce and sell it too.

II. The activities

The training was given to 20 women, member of  “Eco Laudata Si” women group of   Kuneru parish.

The fascilitators are the weaving expert either from the district and from Jakarta.

The training was conducted in FSGM Sister Convent in Kuneru village, on March 6-10, 2018 (5 days).

After the training, they starting to make weaving products. The yarn was supplied by friend of Sister Margaretha FSGM in Denpasar/Bali.

 

III. The result.

The weaving products were showed and presented during Atambua diocese’s festival on October, 4 – 6, 2018. Their products were sold in that event. In that event, each member could earn IDR 50,000 to 250,000.

They also tried to put their offer through internet and the people in the city of Jakarta have interested on it and some have ordered it by online.

IV. Future action:

1. The weaving activities need dilligency and hard working people. So the group should be able maintain this spirit.

2. The weaving activities need time and do it patiently. The group should also be able to maintain this persistent attitude.

3. The weaving activities need yarn, which should be bought from outside the district. The group should collaborate with other group from outside the district to get the good quality yarn with low price.

4. The manufacture of weaving need a market. So the group should collaborate with other group outside the district to ensure the market for selling the products. The online marketing should be encouraged, since this type of marketing is an for opportunity  for selling the product worldwide.

V. Sustainablity.

The program will be sustainable, since the program is benefit for the group member and also for their parish community. They have collaboration with other group outside the district, for supplying the yarn and for marketing their products.

The accompaniement by FSGM sister will be continued, since the FSGM sister convent is located in Kuneru village, Belu district, NTT Province.

Kegiatan membuat kain tenun oleh ibu rumah tangga
Membuat kain tenun
Perkumpulan ibu-ibu pembuat kain tenun

Sorgum Farming

Sorgum Farming

I. Preface

Several villages in Belu district, usually suffer from  shortage  of food, several months in a year, due to lack of local food, such as rice or cassava and yam.

This shortage of food will cause the the young people to seek work outside their province, even going abroad.

The FSGM Sister community in Kuneru village, Belu district, NTT province, collaborate with PERDHAKI  through  “Eco Laudato Si“ women empowerment group, encourage the parish community to cultivate the sorgum in their beglected land. The Sorgum farming will increase their food stock in their villages.

II. The program :

  1. Socialization seminar on sorgum plantation.

The sosialization seminar was conducted on :

a. Time : November 4, 2018.

b. Place : In the FSGM convent house, Kuneru village, Belu district, NTT province.

c. Participant : 20

d. Fascilitator : Father Firminus Dai Koban Pr, a sorgum farmer from East Flores district.

e. Purpose :

    • To give information on how to grow sorgum plantation.
    • To encourage people to use their neglected land for plant and growing sorgum, for their food stock.
    • To inform the people that a lot of healthy foods could be made from sorgum, either consuming for their main food or for increasing their health.

 2. Planting of the sorgum.

The participants got sorgum seed from Father Firminus Gai Koban, to be planted in the month of  December  2018 to January 2019. The group member planted it on the neglcted land near to their house.

III. The result.

The sorgum was harvested after 3 months. The harvest was quite a lot : every member who planted 0,5 kg sorgum seed, was  harvesting   about  40 kg  of sorgum.

Although the quantity is big, however the quality is low: the grain/cereal was thin. It was because of  too many water on the farm ,during that months, due to rainny season.

They could make a lot of foods, from the sorgum, such as main food (to replave rice), sorgum porridge, sorgum cake, etc. They found out that it was all delicious food.

IV. Future action.

The second planting will be done on next March-April 2019.  They hope more sorgum will be harvested and with good quality.

After the next harvest, the group is planning to  share the sorgum seed to other poor house hold in the parish , so the poor household in their parish will have suficient food in the future.

They also plan to share the sorgum seed to all poor household in other parishes, in Belu district, NTT Province. So the poor people in this district will have enough food.

V. Sustainablity.

The program will be sustainable since it is benefitting the group member to prevent the shortage of food.

The accompaniement by FSGM Sister will be continued, since the FSGM Sister live and stay in Kuneru village, Belu district, NTT Province.

Ladang sorgum, makanan pengganti
Inilah sorgum
Panen sorgum
Wanita di ladang sorgum