You are herePERINGATAN HARI ORANG SAKIT SEDUNIA (HOSD) KE - 18

PERINGATAN HARI ORANG SAKIT SEDUNIA (HOSD) KE - 18


By administrator - Posted on 23 December 2010

POLIKLINIK PANTI BAHAGIA, Rembang

Pada dasarnya dalam rangka memperingati setiap HOSD, secara rutin diadakan kegiatan “pengobatan gratis” tetapi memang tidak dilaporkan. Tahun ini kegiatan dilaksanakan pada hari Jumat, 12 Februari 2010 dari pukul 08.00 – selesai (sekitar pukul 12.00), berhubung pada tanggal 11 Februari 2010 ada acara lain. Yang dilayani BP Panti Bahagia adalah masyarakat menengah ke bawah. Sebagai daerah minus, pada umumnya mata pencaharian penduduk Rembang adalah nelayan dan petani garam.

BP Panti Bahagia: Rembang, HOSD 2010BP Panti Bahagia: Rembang, HOSD 2010

Masyarakat umum di sekitar Rembang menyebut Poliklinik Panti Bahagia “KATOLIKAN”. Poliklinik mudah dijangkau dengan menggunakan transportasi umum : bus, angkot, motor maupun becak dengan mengatakan turun di Katolikan. Pengobatan gratis ini ditujukan untuk menjangkau kalangan umum, baik Katolik maupun non Katolik. Mereka memerlukan perhatian baik berupa fisik maupun psikis, karena orang sakit pada umumnya butuh perhatian lebih dari sesamanya.
Salam. Terima kasih.
Rembang, Maret 2010
Sr. M. Mikaila, SND

POS OBAT ELISABETH, PAROKI ST. FRANSISKUS XAVERIUS MAKBUSUN, DISTRIK MAYAMUK, KABUPATEN SORONG

AKSI NYATA MENANGGAPI HARI ORANG SAKIT SEDUNIA

Menanggapi ajakan Sri Paus Yohanes Paulus II, Pos Obat Elisabeth tergerak untuk mengadakan aksi di Paroki St. Fransiskus Xaverius Makbusun, Distrik Mayamuk - Kabupaten Sorong. Maka kami mengajak para suster lain dan beberapa umat untuk merealisasikan kegiatan ini dalam rapat pada tanggal 3 Desember 2009. Dalam rapat ini terbentuklah panitia Hari Orang Sakit Sedunia XVIII, yang beranggotakan para suster CB Komunitas Elisabeth, beberapa anak asrama putri Elisabeth, dan bapak mantri setempat, serta beberapa umat yang rela berkorban tanpa mengharap upah. Satu hal yang mendorong sehingga kegiatan ini sungguh terealisasi dengan baik adalah karena para anggota panitia merasa bahwa kegiatan seperti ini baru pertama kali diadakan dan mereka sungguh antusias untuk ikut terlibat mewujudkan dan mempublikasikannya pada masyarakat.

BP Sang Timur: SumenepBP Sang Timur: Sumenep

Dengan dasar percaya pada penyelenggaraan Illahi, panitia yang mulai bekerja tanpa modal awal memutuskan beberapa bentuk pelayanan dalam rangkaian peringatan Hari Orang Sakit Sedunia. Yakni berupa penyuluhan kesehatan di TK Elisabeth dan SMPN IV yang berjarak 200 m dari pos obat, kunjungan orang sakit dan pengobatan. Pada kesempatan ini Pastor Yosef Wiharjono sebagai pelindung sekaligus Pastor Paroki mengingatkan agar panitia memperhatikan orang – orang yang terkucil dari masyarakat. Dalam rapat disepakati daerah yang akan menjadi sasaran kunjungan adalah desa Makbusun (tempat Pos Obat Elisabeth berada), desa Klasmelek, desa Klamalu, dan Intimpura. Untuk kunjungan sekaligus akan dilaksanakan di Modan II, Klamono V dan Segun yang letaknya jauh dari Pos Obat Elisabeth dan sulit dijangkau. Untuk ke Klamono V dan Segun, harus melewati jalan darat dilanjutkan dengan naik perahu / ketinting dengan biaya yang cukup mahal.

RB/BP Sang Timur: YogyakartaRB/BP Sang Timur: Yogyakarta

PELAKSANAAN PROGRAM KEGIATAN HARI ORANG SAKIT SEDUNIA
A. PENYULUHAN
1. TK ELISABETH (14 Desember 2009): Penyuluhan tentang higiene perseorangan, khususnya kebersihan gigi dan mulut.
2. SMPN IV (22 Januari 2010): Penyuluhan tentang bahaya merokok, khususnya pada usia pertumbuhan.

B. KUNJUNGAN ORANG SAKIT
1. Desa Makbusun
Makbusun adalah desa tempat Pos Obat Elisabeth berada. Semua anggota panitia tinggal di sini. Untuk memudahkan kegiatan kunjungan ini, tim pengunjung mendatangi Ketua RT menyampaikan maksud kunjungan sekaligus mendapatkan informasi tentang warganya yang sakit. Di desa ini tim berhasil mengunjungi 82 orang yang sedang sakit dan lanjut usia. Pada kesempatan kunjungan ini tim menyapa yang sedang sakit, mendengarkan keluhan dan memberikan hiburan. Ungkapan perasaan yang keluar dari hati pasien ini menjadi masukan yang sangat berguna untuk kerja tim pengobatan. Untuk desa ini diberikan pengobatan tanpa bayar kepada 38 pasien.

BP/RB Mardi Lestari: Grobogan - JatengBP/RB Mardi Lestari: Grobogan - Jateng

2. Desa Mariat Pantai, Jl. Intimpura
Pada hari Minggu, 3 Januari 2010 kami tim pengunjung dengan ojek menuju desa ini. Jarak dari Pos Obat Elisabeth kira – kira 14 km. Jalan sudah mulus sehingga perjalanan lancar. Hari ini dipilih supaya mudah melaksanakan kunjungan karena warga banyak berkumpul untuk beribadat. Setelah ibadat selesai, tim yang berjumlah 8 orang berpisah menjadi 4 kelompok berjalan menuju ke tempat orang yang sakit. Di bawah terik matahari dengan dipandu warga setempat, tim telah mengunjungi, menyapa, mendengarkan serta mendoakan yang sakit. Sebelas orang telah disapa, dari anak – anak sampai yang lanjut usia. Tak lupa kami memberikan tawaran kepada mereka yang sakit maupun lanjut usia untuk mengikuti peringatan hari raya orang sakit yang akan dilaksanakan pada tanggal 14 Februari 2010. Ajakan ini disambut dengan penuh semangat karena mereka merasa bahwa baru kali ini mereka mendapat sapaan dan ajakan untuk Perayaan Ekaristi bersama umat pada hari Minggu tersebut.

3. Desa Klamalu SP I
Pada hari Minggu, 10 Januari 2010 kami menuju desa ini naik ojek. Jalan sudah mulus sehingga perjalanan lancar. Seperti kunjungan ke Jl. Intimpura, hari ini dipilih untuk memudahkan pelaksanaan kunjungan karena banyak warga yang berkumpul untuk mengikuti Perayaan Ekaristi. Sesudah perayaan Ekaristi, dipandu perawat yang berasal dari daerah setempat, kami mengunjungi warga yang sakit maupun lanjut usia dengan berjalan kaki di bawah terik matahari. Kami merasakan betapa mereka yang sakit begitu senang didatangi. Bukan hanya yang sakit tetapi anggota keluarga yang lain juga ikut berkumpul. Di desa Klamalu ini kami berhasil mendatangi dan menyapa 11 orang sakit maupun lanjut usia. Kepada mereka ditawarkan juga untuk mengikuti peringatan Hari Orang Sakit Sedunia yang akan dilaksanakan pada tanggal 14 Februari 2010. Mereka menyambut gembira ajakan ini.

C. PENGOBATAN
1. DI MODAN III
Pada 13 Desember 2009, kami bersama Sr. Emi CB dengan dibantu 3 anak asrama yang sudah dilatih menuju desa Modan III untuk mengadakan pengobatan. Desa Modan berjarak kira – kira 45 km dari Pos Obat Elisabeth. Perjalanan ditempuh dengan naik mobil sewaan, maklum kami belum memiliki kendaraan beroda empat. Karena pada saat ini belum mendapat dana yang cukup untuk mengadakan pengobatan gratis, maka diputuskan

Perjalanan: Kunjungan Orang sakitPerjalanan: Kunjungan Orang sakit

untuk mengadakan pengobatan murah dengan biaya Rp 5.000,-/orang. Pengobatan dilakukan setelah ibadat. Meskipun tanpa pemberitahuan sebelumnya, sambutan warga sangat cukup hangat. Pada kesempatan ini, diadakan juga pemeriksaan laboratorium (kolesterol, gula darah sewaktu, dan asam urat). Hal ini dilakukan karena mengingat transport untuk menuju tempat pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta cukup jauh dengan biaya yang mahal. Ternyata tidak meleset dari dugaan, karena banyak yang memeriksakan darahnya dan stik untuk 3 jenis pemeriksaan yang dibawa nyaris kurang. Perlu diketahui bahwa penduduk setempat hampir semua adalah karyawan perusahaan kelapa sawit. Di tempat ini kami melayani 21 orang.

2. DI KLAMONO V
Meskipun Klamono V sudah terpisah dari Paroki Fransiskus Xaverius Makbusun, desa ini tetap menjadi perhatian kami. Tempat ini jauh dari kota dan sulit dijangkau. Untuk mencapainya, dari Pos Obat Elisabeth Makbusun harus naik kendaraan darat dilanjutkan naik perahu / ketinting. Untunglah kami mengikuti jadwal pastor paroki yang berkunjung ke sana, sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi.
Pada 16 Januari 2010 bersama rombongan yang dipimpin P. Vincent Nuhuyanan, Pr , kami berangkat menuju Klamono V. Pukul 09.00 berangkat dari Makbusun dengan mobil sampai di Klamono Kota. Perjalanan ini menghabiskan waktu satu jam. Rombongan berhenti di Klamono Kota beberapa saat, menunggu perahu sambil menikmati suasana dermaga kecil dengan panorama yang indah di sekitarnya. Kemudian dilanjutkan dengan naik perahu selama 2 jam. Rombongan tiba di Klamono V pada pukul 14.00. Setibanya di Klamono V, rombongan disuguhi minuman dan makanan ringan ala kadarnya. Setelah itu dilanjutkan dengan pengobatan gratis sampai pukul 18.30, kemudian Ekaristi bersama. Setelah perayaan Ekaristi, diadakan pertemuan bersama pastor pra paroki St. Bernadus dan umat setempat, kami diundang pula untuk mengikuti pertemuan tersebut. Sesudah makan malam bersama dilanjutkan dengan pengobatan sampai pukul 01.00. Keesokan harinya saat rombongan berkemas untuk pulang, beberapa pasien masih datang minta dilayani. Akhirnya kami mengalah untuk melayani lagi beberapa pasien. Sesudahnya baru kami kembali ke Makbusun. Dikatakan mengalah, karena untuk berlayar kembali, semuanya dengan perhitungan pasang dan surutnya air. Jadi kalau meleset, bisa – bisa harus bermalam lagi. Begitulah situasinya.
Di tempat ini tercatat 41 orang mendapat pengobatan gratis. Dan karena sendiri, saya dibantu voluntir dari Perancis yang menjadi asisten saat pengobatan berlangsung.

3. DI SEGUN
Seperti Klamono V, Desa Segun juga daerah yang jauh dari kota dan sulit dijangkau. Perjalanan ke sana dilakukan dengan jalan darat sampai di tempat yang bernama Kurnia lalu dilanjutkan dengan naik perahu / ketinting. Pada 24 Januari 2010, kami bersama 3 orang anak asrama putri Elisabeth yang sudah mendapat pelatihan mengadakan kunjungan ke Segun. Pukul 15.00, rombongan berangkat dari Makbusun naik mobil sampai di Kurnia kemudian dilanjutkan dengan perahu / ketinting. Berangkat dari Kurnia Pk. 20.00 sampai di Segun Pk. 23.00. Mengapa perjalanan malam hari, karena kami mengikuti pasang surutnya air. Perjalanan cukup lama karena aliran sungai yang berkelok – kelok, di celah pohon – pohon besar, sehingga beberapa kali sang juragan memberi komando “merunduk”, dan kamipun merunduk. Suatu saat sang juragan berteriak “tiarap”, itu berarti harus merunduk sedalam mungkin / setengah tiarap karena ada sebuah kayu besi yang melintang menyeberangi sungai mungil yang dilewati, sehingga bila tidak benar – benar merunduk, bisa – bisa leher melayang. Hal ini dilakukan dengan canda tawa sehingga perjalanan menjadi rekreasi. Bagi saya, yang sangat menakjubkan adalah sepanjang perjalanan selain diterangi sinar rembulan, kami juga ditemani kunang – kunang yang begitu indah sepanjang perjalanan. Sungguh luar biasa keajaiban dan keagungan Tuhan. Pada saat seperti itu tiada kata yang terucap, hanyalah diam dan kagum menikmati ciptaan Sang Pencipta. Hanya yang mengalami dapat merasakan. Agar bisa selamat sampai di Segun, perahu berjalan pelan menyusuri anak sungai Segun. Sesampai di Segun, kami menginap di rumah seorang bidan. Pagi hari pukul 06.30, langsung diadakan pengobatan gratis untuk 23 orang. Pukul 11.00 rombongan kembali dan melanjutkan pengobatan di Kurnia.

4. DI KURNIA
Setelah pengobatan di Segun, rombongan langsung mengadakan perjalanan menuju Kurnia. Perjalanan pulang tidak melewati anak sungai menuju Kurnia karena air surut, sehingga tidak dapat dilewati. Tetapi melalui Modan, perjalanan menjadi lebih cepat (dua jam) karena sungainya cukup lebar dan dalam. Dari Modan kami menuju Kurnia. Di sini, masyarakat sendiri yang minta agar mereka pun diberi pelayanan pengobatan, sehingga kami mampir di tempat ini untuk pelayanan tersebut. Pengobatan gratis di Kurnia, melayani 16 orang yang memanfaatkan kesempatan ini. Pukul 15.00 rombongan pulang ke Makbusun dengan selamat.

D. PUBLIKASI
Karena kegiatan ini merupakan kegiatan perdana di tempat ini, maka berbagai cara dilakukan untuk memperkenalkan kepada masyarakat tentang Hari Orang Sakit Sedunia. Kegiatan yang dilakukan antara lain: sosialisasi melalui khotbah pada Perayaan Hari Minggu di stasi – stasi, sosialisasi pada saat kunjungan dan pengobatan massal kepada masyarakat, mempublikasikan kegiatan ini melalui siaran RRI Kota Sorong oleh Sr. Ancilla, CB, surat kabar setempat, buletin Keuskupan Manokwari – Sorong, pemasangan spanduk, dan penyebaran brosur yang dibuat panitia di beberapa stasi.

PERAYAAN EKARISTI SEBAGAI PUNCAK PERINGATAN HARI ORANG SAKIT SEDUNIA
Karena tempat tinggal orang sakit cukup jauh, panitia menyediakan jemputan dengan bus. Pk. 07.00 kami mulai berjalan dari gereja menuju Desa Mariat Pantai Jl. Intimpura. Dari jauh tampak satu dua orang sudah menunggu. Syukur kepada Allah dalam waktu yang tidak lama orang sakit yang dijemput mulai berdatangan di pinggir jalan. Dari desa ini, ada seorang anak yang tidak bisa datang karena terganggu mentalnya. Tapi ibunya berangkat dengan penuh semangat untuk mendoakan anaknya dari jauh. Setelah semua naik, bus meluncur menuju Desa Klamalu. Kami datang agak terlambat, menyebabkan orang – orang sakit yang berasal dari desa ini berinisiatif menyewa mobil sendiri. Mereka mengira sudah ditinggalkan penjemput.

Pukul 08.00 sudah banyak orang sakit serta umat yang hadir di Gereja. Satu hal yang lain dibandingkan dengan hari Minggu biasa, orang sakit secara khusus diperhatikan dengan cara diberi setangkai bunga mawar dan Rosario serta snack ala kadarnya. Lalu mereka diantar ke dalam gereja, di tempat yang telah disiapkan panitia. Setiap pasien ditandai juga dengan pita yang disematkan di dada. Tampak indah, terlihat betapa mereka senang.

Pukul 08.40 perayaan Ekaristi dimulai. Terdengar koor yang merdu mengiringi langkah misdinar, lektor dan dua imam. Perayaan ini dipimpin oleh Pastor Yoseph Sena, Pr dan Pastor Paul Titit, OSA yang berkarya di Seminari Petrus van Diepen dan Postulat OSA. Dalam pengantarnya, Pastor Yoseph menyambut gembira acara yang penuh syukur ini. Selaras dengan seruan Sabda Tuhan yang dibawakan pada hari itu. Sementara itu di homilinya, Pastor Paul Titit menegaskan kepada seluruh umat yang hadir untuk “mengandalkan kekuatan Tuhan” dalam menghadapi kehidupan. Ketika kita membuka diri terhadap kehadiran Allah dan mengandalkan kekuatan Allah, maka hidup kita menjadi lebih bermakna. Kita sungguh dikuatkan dan menjadi pribadi yang lebih berkembang bersama Tuhan yang bangkit mulia.

Dalam perayaan ini, terdapat dua hal yang dirasakan berbeda oleh umat. Yang pertama, pada awal perayaan orang sakit dan umat diperciki air suci. Yang kedua sebelum berkat penutup, orang yang sakit mendaptkan penumpangan tangan dari kedua imam. Sungguh pengalaman yang membahagiakan bisa merasakan sentuhan Allah dari hamba – hambaNya. Pada kesempatan lain, Pastor Simon Cipto Suwarna, SJ mengharapkan agar kegiatan ini tidak hanya berhenti di sini, tetapi menjadi gerakan yang terus – menerus. Beliau juga mengharapkan agar semakin banyak orang yang terlibat dalam perhatian terhadap orang yang sakit. Tak terasa kegiatan pada hari itu selesai, umat dan pasien pulang ke rumah masing – masing. Tentu saja pasien diantar bus dengan oleh – oleh setangkai bunga mawar dan rosario.
Hormat kami,
Sr. Annunsianes, CB

Tags