You are hereGambaran Pengetahuan Ibu Mengenai Tanda-Tanda Bahaya pada Kehamilan, Persalinan dan ISPA di Pangkalpinang, Ketapang dan Sumba Barat

Gambaran Pengetahuan Ibu Mengenai Tanda-Tanda Bahaya pada Kehamilan, Persalinan dan ISPA di Pangkalpinang, Ketapang dan Sumba Barat


By administrator - Posted on 07 April 2010

Tahun 2010 dunia sangat berharap agar peningkatan kesehatan ibu dan anak semakin meningkat, terutama untuk mengejar pencapaian millenium development goals (MDGs). Berbagai upaya intervensi dilakukan melalui program-program yang langsung kepada ibu dan anak, ataupun secara tidak langsung melalui kelompok masyarakat dan kepedulian. Intervensi dilakukan selain upaya kuratif di Klinik (upaya pengobatan dalam gedung), juga promotif dan preventif. Intervensi promotif dan preventif inilah yang perlu dilakukan bersama organisasi/lembaga non kesehatan lain.

Untuk melihat hasil upaya intervensi pelayanan kesehatan baik karena adanya program kesehatan ibu dan anak (KIA) ataupun hasil pelayanan Unit-unit dalam memberikan pelayanan kesehatan, maka dilakukan survei bagi ibu untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan mengenai kehamilan, persalinan dan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Survei dilakukan sebagai data awal untuk pelaksanaan intervensi yang akan dilakukan dalam program KIA yang didukung oleh CORDAID.

Gambaran lokasi dan sampel survei
Survei untuk mengetahui gambaran awal mengenai pengetahuan ibu hamil dan ibu balita dilaksanakan di tiga lokasi: Bangka Belitung (4 Unit Kesehatan), Ketapang (4 Unit Kesehatan) dan Sumba Barat (4 Unit Kesehatan). Keseluruhan sampel berjumlah 1959 responden, yaitu ibu hamil dan ibu balita yang berada di:
1. Pangkalpinang, Bangka
Sampel meliputi 1443 responden: dari Unit RS Bhakti Wara /BW (Kelurahan Asam dan Kramat), BP/RB BW II Belinyu (Kelurahan Kuto Panji dan Air Jukung), BP/RB BW III Muntok (Kelurahan Sungai Baru dan Tanjung), BP/RB BW IV Koba (desa Koba dan nibung).
2. Ketapang, Kalimantan Barat
Sampel berjumlah 200 responden: dari lokasi RS Fatima Ketapang (Desa Mulia Baru), RB Desideria Sandai (Desa Tumbang Pauh dan Sandai Kanan), BP/BKIA Mutiara Tanjung (Desa Runjai, Tanjung Kota, Pangkalan Pakit) dan BP/BKIA Ria Rantai I Menyumbung (Sengkuang, Senduruhan, Menyumbung Kota).
3. Sumba Barat, NTT
Sample berjumlah 316 responden: dari lokasi RS Karitas Weetebula (Desa Langga Lero, Weetebula), BP Hombakaripit (Desa Hombakaripit dan Hoho Wungo), BP/RB Katikuloku (Desa Mata Wonga dan Kabela Wuntu), BP/RB Elopada (Kalembu Dara Mane dan Omba Rade).

Survei ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu mengenai :
a. Tanda-tanda bahaya pada kehamilan
b. Tanda bahaya pada persalinan
c. Tanda-tanda mengenai ISPA pada balita

Informasi yang disurvei adalah :
1. Data umum mengenai ibu, yaitu usia, status, pendidikan terakhir, kemampuan membaca, pekerjaan, usia suami, pendidikan suami, kemampuan suami membaca, pekerjaan suami, siapa yang mencari nafkah, dan jumlah balita ibu.
2. Paritas ibu, yaitu usia saat melahirkan anak pertama dan anak terakhir, jumlah kelahiran hidup, kelahiran mati, jumlah keguguran yang pernah dialami, jumlah anak yang hidup, jumlah kelahiran yang jaraknya kurang dari 2 tahun.
3. Kepemilikian buku KIA/KMS (kartu menuju sehat), yaitu yang pernah memiliki, status buku KIA/KMS dan mengapa tidak memiliki buku KIA/KMS.
4. Pengetahuan ibu hamil tentang kegawatan persalinan dan resiko tinggi
5. Pengetahuan ibu balita tentang kondisi ISPA berat pada balita

Hasil survei :
1. Pangkal Pinang
a. Survei mengenai pengetahuan ibu hamil tentang kegawatan persalinan dan resiko tinggi:
• Sebagian besar ibu (91,8%) dianggap mempunyai pengetahuan yang kurang mengenai tanda-tanda bahata pada kehamilan.
• Pengetahuan ibu mengenai tanda bahaya pada persalinan juga kurang (96,2%).
• Pengetahuan ibu mengenai keadaan berbahaya pada ibu bersalin setelah melahirkan, sebanyak 90% kurang, dan hanya 10% memiliki pengetahuan cukup.
• Pengetahuan ibu mengenai resiko tinggi pada kehamilan juga kurang, sebesar 97,7%
b. Survei pengetahuan ibu mengenai kondisi ISPA berat pada balita
• Sebanyak 48,3% ibu yang memiliki balita dalam 1 bulan terakhir batuk. Jumlah balita yang mengalami batuk pilek dalam 1 bulan terakhir sebanyak 45%.
• Sebanyak 97,5% ibu mencari pertolongan ke tenagan kesehatan, dan yang memberi pertolongan adalah dokter. Sedangkan ibu yang memberi pertolongan sendiri sebesar 2,5%.

2. Ketapang
a. Pengetahuan seputar kehamilan. Ternyata 59 % responden tidak tahu menjelaskan arti tanda bahaya pada ibu hamil. 9 % dan 16 % responden tidak dapat menyebut keadaan yang mungkin berpengaruh terhadap timbulnya kesulitan kehamilan dan persalinan, serta membahayakan atau mengancam jiwa ibu dan janin ( tanda-tanda RISTI/risiko tinggi )
b. Pengetahuan seputar pos partum. 5 % dan 9 % responden ternyata tidak dapat menyebut tanda bahaya setelah melahirkan dan tidak dapat menyebutkan tanda-tanda bayi baru lahir sakit.
c. Mengenai ISPA: dari 200 responden 23 % pernah mengalami batuk dalam 1 bulan terakhir, dari jumlah tersebut ternyata 29 % mengalami batuk disertai susah bernafas/ bernafas lebih cepat dari biasanya.

3. Sumba
• Sebesar 24% - 42% responden memiliki pengetahuan kegawatan persalinan dan resiko tinggi, lebih banyak ibu tidak memiliki pengetahuan sebesar 76%.
• Pengetahuan resiko tinggi selama persalinan dan setelah persalinan masih rendah yaitu 11% - 29%. Sebanyak 3-20% ibu tidak bisa menjawab dengan benar tanda-tanda resiko tinggi kehamilan.
• Ibu balita yang memiliki pengetahuan tentang ISPA berat cukup rendah yaitu yang tahu 16% dan yang tidak tahu 84%.

Gambaran dalam survei awal yang dilakukan pada bulan Januari – Febuari 2009 di 3 lokasi program KIA, menunjukkan masih banyaknya ibu hamil yang kurang memahami tentang resiko tinggi kehamilan dan persalinan, juga kurang pengetahuan mengenai ISPA pada balita.

Hasil survei akan menjadi informasi awal untuk melakukan intervensi kepada masyarakat, bukan pengobatan dalam klinik. Upaya yang dilakukan antara lain melalui kelas ibu hamil, kelas tumbuh kembang dan kepedulian masyarakat dalam bentuk core group baik dalam kelompok masyarakat yang ada ataupun melalui stasi/paroki.

Peningkatan pengetahuan ibu mengenai kehamilan dan persalinan, juga kesehatan balita merupakan gambaran hasil dan performance /kinerja tenaga kesehatan. Gambaran pengetahuan ibu juga mencerminkan gambaran performance pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang menjadi tantangan dan harapan peningkatan pelayanan kesehatan kita. (aii).

Tags