KONDISI PENYAKIT TIDAK MENULAR DI INDONESIA

KONDISI PENYAKIT TIDAK MENULAR DI INDONESIA

Penyakit tidak menular (PTM) sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat secara global, regional,nasional dan lokal. Global status report on NCD World Health Organization (WHO) tahun 2010 melaporkan bahwa 60% penyebab kematian semua umur di dunia adalah karena PTM. Di negara-negara dengan tingkat ekonomi rendah dan menengah, dari seluruh kematian yang terjadi pada orang-orang berusia kurang dari 60 tahun, 29% disebabkan oleh PTM, sedangkan di negara-negara maju, menyebabkan 13% kematian. Proporsi penyebab kematian PTM pada orang-orang berusia kurang dari 70 tahun. Data WHO menunjukkan bahwa dari 57 juta kematian yang terjadi di dunia pada tahun 2008, sebanyak 36 juta atau hampir dua pertiganya disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular.
Di Indonesia transisi epidemiologi menyebabkan terjadinya pergeseran pola penyakit, di mana penyakit kronis degeneratif sudah terjadi peningkatan. Dalam kurun waktu 20 tahun (SKRT 1980–2001), proporsi kematian penyakit infeksi menurun secara signifikan, namun proporsi kematian karena penyakit degeneratif (jantung dan pembuluh darah, neoplasma, endokrin) meningkat 2–3 kali lipat. Penyakit stroke dan hipertensi di sebagian besar rumah sakit cenderung meningkat dari tahun ke tahun dan selalu menempati urutan teratas. Dalam jangka panjang, prevalensi penyakit jantung dan pembuluh darah diperkirakan akan semakin bertambah.

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA Ke-22 11 Februari 2014

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS
UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA Ke-22
11 Februari 2014

Iman dan Kasih : “Kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. (1Yohanes 3:16)

Saudara-saudari terkasih,
1. Pada Hari Orang Sakit Sedunia Ke-22, yang tahun ini bertema: Iman dan Kasih : “Kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1Yohanes 3:16), saya ingin memberi perhatian khusus kepada orang sakit dan semua orang yang membantu dan merawat mereka. Gereja melihat di dalam diri Anda, orang-orang sakit, suatu kehadiran istimewa Kristus yang menderita. Ini benar. Penderitaan kita – dan sesungguhnya dalam penderitaan kita, adalah penderitaan Kristus sendiri; Dia menanggung beban penderitaan ini bersama kita dan Dia menunjukkan maknanya. Ketika Putera Allah bergantung di kayu salib, Dia musnahkan kesepian derita dan memberi terang atas kegelapan penderitaan itu. Dengan demikian kita dapat menemukan diri kita berada di hadapan misteri kasih Allah, yang memberi kita harapan dan keberanian: harapan, karena di dalam rencana kasih Allah, bahkan malam gelap penderitaan menghasilkan terang Kebangkitan (Paskah); dan keberanian, yang memampukan kita menghadapi setiap penderitaan bersama Dia dan dalam persatuan dengan-Nya.

Info RPA

Tahun 2014 akan diadakan Rapat Paripurna Anggota Perdhaki yang direncanakan berlangsung pada :
Tanggal : 28 – 31 Agustus 2014.
Tempat : Hotel Red Top, Jakarta
Topik : Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Informasi lebih lanjut hubungi Sekretariat PERDHAKI
Telp. 021.3140455, 3909245,
Email : perdhaki@cbn.net.id dan sekretariatperdhaki@yahoo.com

Pedoman Gereja Katolik Mengenai Vaksin

Pedoman Gereja Katolik Mengenai Vaksin

Latar Belakang Vaksinasi
Ditemukan oleh Edward Jenner (vaksinasi untuk penyakit cacar (smallpox) pada tahun 1700-an. Vaksin Polio ditemukan pada 1950-an. Untuk mencegah berjangkitnya penyakit menular, vaksin nasi sangat cost-effective (cost saving), sehingga sesuai dengan tujuan preventive medicine. Vaksinasi merupakan satu-satunya tindakan medik yang paling berkontribusi dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian secara global. ( JAMA 2002;288:3155-58)

Efektivitas Vaksin
Cacar dan polio berhasil diberantas di Amerika Serikat, sedangkan insidens beberapa penyakit lain seperti campak dan batuk rejan dapat ditekan sebesar 98-99% dibandingkan dengan data dasar. Vaksin dapat melindungi individu dan masyarakat. Namun masih ada sekitar 50.000 orang per tahun di Amerika meninggal akibat penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin. (Ann Intern Med 2007;147:735-7)

Vaksinasi dewasa ini
Vaksinasi bayi dan anak yang direkomendasikan misalnya : BCG, campak, gondong, rubella, cacar air, polio, difteria, tetanus, pertussis, haemophilus influenza type B, pneumococcus, hepatitis B, rotavirus, dan HPV. Vaksinasi dewasa yang direkomendasikan misalnya : campak, gondong, rubella, tetanus, difteria, cacar air, hepatitis B, hepatitis A, influenza, dan pneumococcus.

Mengapa orang menolak vaksinasi ?
- Hak individu dan tidak percaya pada pemerintah
- Tidak percaya ilmu kedokteran, dan percaya pada penyembuhan alamiah atau “natural healing”
- Efek samping vaksinasi yang faktual
- Nyeri pada lengan, demam, flu-like illnesses, Guillain-Barre Syndrome (1.8 kasus/juta )
- Vaksin pertussis yang lama sering menyebabkan anak demam, menangis, lemas dan kadang-kadang kejang
- Terinfeksi virus yang ada dalam vaksin - the Cutter incident
- Efek samping yang belum terbukti
- sudden infant death syndrome (SIDS), autism, multiple sclerosis, kelainan syaraf
- Vaksin mengandung bahan berbahaya dan dibuat dari janin korban aborsi

PEMBEKALAN “ REMAJA BERTANGGUNG JAWAB “ di KOMUNITAS ANAK BELAJAR

PEMBEKALAN “ REMAJA BERTANGGUNG JAWAB “
di KOMUNITAS ANAK BELAJAR

Informasi yang benar sebagai pembekalan bagi remaja saat ini sangat penting dan dibutuhkan, komunitas anak anak dipinggir kota ( Cakung ), yang orang tuanya pemulung dan bercocok tanam dipinggiran kota juga mendapat perhatian dari Ibu Debby Maitimu (sebagai koordinator). Kelompok ini merasa bahwa anak anak ini perlu mendapatkan dasar nilai kehidupan yang baik, agar menjadi pribadi yang luhur, bijaksana dan kreatif menyikapi kehidupannya. Pembekalan dengan tema “Remaja Bertanggung Jawab“ menjadi topik pertemuan yang dilaksanakan pada hari Sabtu 7 Desember 2013 di Rumah Belajar – Cakung Timur.

Perdhaki Pusat telah membantu memfasilitasi dengan menurunkan 2 dokter ( dr. Agung dan dr. Elisabeth ) dan 1 psikolog ( Ibu Elia Widhi ). Direncanakan peserta yang akan hadir sekitar 29 orang tetapi sayang sekali pada kesempatan ini yang hadir hanya 15 orang. Materi diberikan banyak dengan permainan dan tanya jawab agar mudah dipahami. Meskipun waktunya sangat terbatas, namun di akhir pertemuan semua peserta menyadari dan merencanakan untuk berperilaku menjaga diri dalam pergaulan karena sudah mengetahui akibatnya bila salah melangkah.